Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Ada apa dengan Dicky


__ADS_3

Esoknya, aku datang sedikit terlambat dari jam biasa aku datang. Aku tidak bisa tidur, karena memikirkan kejadian kemarin. Rasanya pipi ku masih panas sampai sekarang. Oh, aku masih tidak percaya dengan Dicky yang berani mencium pipiku.


Dikelas, sudah ada Melyn dan teman-teman yang lain. Ku lihat Melyn sedang sibuk membaca buku cerita tentang putri duyung. Aku berjalan mendekatinya dan duduk ditempatku.


"Keknya seru banget bacanya." ucapku.


"Iya nih, lagi seru."


"Tumben datang siang?." tanya Melyn.


"Iya, macet dijalan."


"Oh pantes."


"Ris, Dicky tadi kesini, nyari kamu." ucap Melyn.


"Ada apa?." tanyaku.


"Gak tau." ucapnya.


"Dia bilang sesuatu gak sama kamu?."


"Nggak, dia cuman bilang, mana Rissa, aku jawab belum datang, setelah itu dia pergi." ucap Melyn.


"Kapan di kesini."


"Hem, sekitar 10 menit yang lalu."


Segera aku berdiri dan pergi. Sebelum aku keluar dari kelas Melyn memanggilku.


"Mau kemana?." tanya Melyn.


"Ke kelas Dicky." ucapku.


Aku berniat untuk pergi segera menemui Dicky saat itu juga. Tapi, bel masuk terlebih dulu berbunyi.


"Udah bel." ucap Melyn.


Aku mendengus kesal. Ya sudahlah, Aku akan menemui Dicky saat jam istirahat saja. Semoga dia ada dikelas nya.


***


Pada waktu jam istirahat, dengan ditemani oleh Melyn. Aku pergi ke kelas Dicky untuk menemuinya. Sesampai dikelas Dicky. Aku tidak menemukan dirinya, dia tidak berada dikelas, Entah kemana. Ku lihat hanya ada Nabila yang sedang duduk dikursi Dicky. Aku heran kenapa Nabila duduk di tempat Dicky, tempat duduknya kan langkah satu kursi ke depan Dicky.


"Ngapain Nabila sendirian dikelas." ucap Melyn. Aku cuman diam sambil melihatnya dari balik pintu.


Ku lihat Nabila mengambil sebuah kotak dari lacinya Dicky. Dia membukanya dan tersenyum sendiri.


"Apa yang dia ambil." ucap Melyn lagi.


"Hei." teriak Melyn. Nabila seketika terkejut dan berdiri saat melihat kami.


"Ngapain?." tanya Melyn. Nabila diam sambil menyembunyikan sesuatu dibelakangnya.


"Kalian ngapain kesini?." ucapnya.


"Cari Dicky." cetus Melyn.


"Kamu lihat Dicky?." tanyaku.


"Dia tadi keluar." ucapnya.


"Kemana?." tanyaku.


"Ya aku gak tau, emang aku harus tau ya dia kemana." ucapnya sedikit kasar.


"Biasa aja dong ngomongnya." ucap Melyn.


"Udah biasa." ucap Nabila.

__ADS_1


Aku tidak menghiraukan Melyn dan Nabila berdebat. Mataku fokus melihat kotak yang tadi di ambil Nabila dari dalam laci Dicky. Saat melihat banyak aksesoris rambut didalam kotak itu. Aku ingat, kotak aksesoris itu punya kakak perempuan Dicky yang diberikan Ibu Dicky padaku saat aku kerumahnya waktu itu. Mungkin Dicky ingin memberikan itu padaku.


"Ini punyaku." ucapku sambil mengambil kotak itu berserta isinya.


"Ehh, ini punya aku." ucap Anis sambi menarik kotak itu dari ku. Tapi, aku menahannya, kotak aksesoris itu punya aku, kenapa jadi punya dia.


"Hem, enak aja ngaku-ngaku punya kamu, aku lihat kamu ambil ini dari laci Dicky." ucapku.


"Iya, gak tau malu." sahut Melyn.


"Sini." ucapku mengambil kasar dari tangan Nabila. Dia pun melepaskannya.


"Bagaimana bisa itu punyamu." ucap Nabila.


"Ibunya kemarin yang memberikan ini, aku lupa membawanya pulang." ucapku sambil memperhatikan Nabila yang bersikap seperti menyembunyikan sesuatu dibelakang tubuhnya.


"Apa yang dibelakangmu, kembalikan." ucapku. Dia terkejut dan menjadi gugup. Benar yang aku pikirkan.


Aku tau Nabila menyembunyikan satu jepit rambut dibelakangnya. Tapi sepertinya dia tidak ingin mengembalikan itu padaku. Ku lihat dia matanya berlinang seperti ingin menangis. Lebih baik aku ikhlaskan saja jepit rambut itu.


"Kembalikan gak." tegas ku. Nabila terdiam dengan posisinya.


"Kembalikan, itu punya Rissa." ucap Melyn. Nabila diam.


"Biarin mel, gak pa-pa, kita ke kelas aja." ucapku.


Aku dan Melyn pun pergi meninggalkan Nabila sendiri di kelas. Biarkan saja jepit rambut itu, lagian aku punya banyak.


"Kemarin kamu main ke rumah Dicky." tanya Melyn sambil jalan.


"Iya."


"Pantesan, kami kerumah kamu gak ada." ucapnya.


"Hehe, maaf aku lupa ngabarin kalian."


"Iya, nanti aku ajak."


"Baiklah." ucap Melyn.


"Ris, kamu tau gak, Nabila itu suka sama Dicky." ucap Melyn.


"Tau." ucapku santai.


"Tau dari siapa?." tanyanya.


"Kelihatan dari dirinya, kalau dia suka, lagian siapa sih yang gak suka Dicky, kamu juga suka kan." ucapku menatap Melyn.


"Hehehe." Melyn salah tingkah.


"Yuk kita ke kantin." ucapnya.


"Ya, ayo." ucapku.


Di kantin sudah ada Dodit dan Anis yang sedang makan batagor. Aku dan Melyn bergabung bersama mereka.


"Hai." ucapku.


"Ris, tadi Dicky..." ucap Anis terpotong.


"Ada apa, kenapa Dicky." tanya ku menatap Anis.


"Ehh, Ris, kamu lapar." tanya Dodit tiba-tiba.


"Kamu mau batagor juga gak Ris, aku pesani." ucap Melyn.


"Hmm, aku bawa bekal tapi di tas." ucapku.


"Anis, kamu ambilin bekal Rissa." ucap Dodit.

__ADS_1


"Kok aku." ucap Anis.


"Anis." ucap Dodit menatap Anis. Aku menatap mereka heran.


"Ya sudah, aku ambil." ucap Melyn, lalu dia pergi dengan kesal.


"Aku pesan batagor dulu ya." ucap Melyn, lalu dia pergi.


Disana tinggal kami berdua, aku dan Dodit. Aku hanya diam sambil memikirkan Dicky.


Ahh, Kenapa hari ini sulit sekali bertemu Dicky.


"Rissa." panggil Dodit. Aku menatap dia sebentar.


"Kamu kenapa?." tanyanya.


"Tidak apa-apa." jawabku.


"Oh."


"Itu apa?." tanyanya lagi sambil menunjuk kotak aksesoris yang aku bawa.


"Kotak." jawabku.


"Aku tau itu kotak, apa isinya." ucapnya. Sebenarnya aku tak ingin bicara sama Dodit. Tapi, ya sudahlah, aku kasih tau saja biar dia tidak nanya terus.


"Hmm, isinya kuncir sama jepitan." ucapku.


"Dari?." ucapku sebelum Dodit mengatakan sesuatu.


"Dari Dicky." ucapku menjawab ucapan ku sendiri.


"Sudah, ada lagi." ucapku padanya.


"Kamu ketemu Dicky." tanyanya.


"Gak, aku dari tadi nyari dia tapi gak ketemu, kamu tau dimana dia." ucapku.


"Gak tau." ucapnya tanpa menatapku.


"Duh, Dicky kemana sih." gerutukku.


"Eh, kamu mau minum, nih." ucap Dodit menyodorkanku segelas jus punya dia.


"Boleh." ucapku.


"Nih." ucapnya. Aku meminumnya.


"Makasih." ucapku. Dodit tersenyum.


Tak lama kemudian, Anis kembali dengan kotak bekalku, begitu juga Melyn yang datang bersama sepiring batagor yang dia beli.


"Rame banget." ucap Melyn.


"Ya namanya juga kantin, banyak anak yang kelaperan." ucap Anis.


"Eh Ris, kamu sudah bertemu Dicky." ucap Melyn.


"Tidak, kenapa?." tanyaku.


"Aku lihat dia tadi, aku kira kalian sudah ketemu, aku panggil dia, dia cuman senyum terus pergi." ucap Melyn.


Segera aku ingin pergi dan menyusul Dicky sebelum dia hilang lagi. Tapi, Dodit mencegahku. Habiskan makananmu dulu, nanti ibumu marah, katanya.


Aku tidak jadi menyusul Dicky. Aku duduk kembali dan memakan makananku dengan pikiranku yang terus ke Dicky. Setelah jam pelajaran berakhir. Aku segera pergi untuk menemui Dicky, saat aku tiba dikelasnya, ternyata dia sudah pergi. Aku terus berlari ke parkiran berharap Dicky masih berada disana. Tapi aku terlambat, aku melihatnya pergi dengan sepedanya. Dia tidak biasanya seperti ini. Aku bingung dengannya. Dia tadi ingin menemuiku tapi mengapa sekarang dia pergi.


Dicky kamu kenapa?


--oo--

__ADS_1


__ADS_2