Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Puncak


__ADS_3

Hari itu masih gelap, mungkin sekitar jam empat pagi. Aku tidak begitu ingat, yang jelas saat aku bangun tiba-tiba aku sudah berada di dalam mobil bersama ayah, ibu, Iqbal, Andi, Dea dan Kikky. Entah siapa yang membawaku ke dalam mobil, mengingat diriku kalau sudah tertidur, sulit untuk dibangunkan. Mungkin ayah yang menggendongku, atau mungkin Iqbal, tapi aku rasa Ayah tidak akan mengizinkan Iqbal untuk menggendongku kalau Ayah sendiri ada bersamaku.


Sambil mengerjapkan mataku, aku melihat sekeliling. Aku duduk diantara Iqbal yang lagi tidur dan Andi yang sibuk main ponsel.


"Main hp mulu." ucapku pelan.


"Hem, kamu udah bangun." ucap Andi.


"Dea sama Kikky, mana?." tanyaku.


"Dibelakang." jawab Andi. Aku menoleh dan melihat Dea yang lagi tidur di paha Kikky sebagai bantalnya.


"Enak banget dea." ucapku.


"Ini, tidurlah." ucap Andi sambil menepuk pahanya dengan matanya yang fokus ke ponsel.


"Gak mau." ucapku.


"Ya udah." ucap Andi.


"Tidur sini." ucap Iqbal sambil menyandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tidak mengatakan apapun pada Iqbal. Aku hanya tersenyum dan memajamkan mataku. Sama halnya dengan dirinya.


Entah memakan waktu berapa lama dari jakarta ke bogor. Mengingat saat itu, adalah satu hari sebelum pergantian tahun baru 2017, dan jalan menuju puncak macet parah. Itu sebabnya Ayah sengaja pergi ke puncak pagi-pagi untuk menghindari kemacetan.


Sesampainya di salah satu villa yang ada di puncak. Aku langsung saja ke kamar dan tidur bersama Dea di sana. Aku masih mengantuk dan kepalaku pusing selama perjalanan ke puncak. Aku bahkan tidak tahu kemana perginya Iqbal, dia juga tidak mengantarku ke kamar, mungkin saja Iqbal juga pergi ke kamarnya.


***


Kira-kira pukul sembilan, aku dan Dea dibangunkan oleh ibu untuk pergi sarapan. Aku pun bangun, begitu juga Dea. Sebenarnya aku masih ingin tidur. Tapi, dilarang sama ibu, katanya udah siang. Ibu malah nyuruh aku untuk mandi, ibu juga nyuruh Dea begitu. Dari pada aku dan Dea jadi anak yang durhaka, lebih baik kami segera mandi dan kemudian pergi sarapan bersama yang lain.


Setelah siap-siap, aku dan Dea menuju ruang makan. Aku kaget, mungkin juga Dea sama denganku. Bagaimana tidak kaget, disana sudah ada Dicky, tante yanti, om Rahmad, ada Melyn juga sama orang tuanya, begitu juga ada Anis dan Dodit bersama orang tuanya juga. Aku pikir mereka belum datang, atau terjabak macet. Aku jadi tidak enak mereka semua menungguku dan Dea untuk makan bersama.


"Ayo yak, kita ditungguin kayaknya tuh." ucapku sedikit berbisik.


"Iya, kayak mana jadi, aku gak enak, aku kira gak ada orang cuman kita-kita aja." ucap Dea berbisik.


"Sama." ucapku.


"Rissa, Dea, ayo kesini sayang." ucap Ibuku.


"Iya tante." ucap Dea.


Aku dan Dea segera menghampiri mereka semua. Ku lihat Dicky duduk di sebelah kiri bersama Tante Yanti dan Om Rahmad. Dicky tersenyum menyapaku. Akupun membalas senyuman itu. Mataku sengaja melihat kearah Iqbal yang duduk tepat menghadapku, dia diam sambil menatapku. Kalau Iqbal sudah menatapku seperti itu, berarti tandanya dia tidak suka yang aku lakukan tadi. Iqbal cemburu, aku memahami dengan apa yang dia rasakan.


Aku pun berjalan ke arah kursi kosong yang ada disebalah Iqbal. Saat aku ingin duduk, Dea terlebih dahulu duduk disana.


"Yak, ini kursi rissa." ucap Iqbal.


"Oh." ucap Dea.


"Duduk disini aja rissa." ucap Ibu yanti padaku. Dia menyuruhku duduk disebelah Dicky. Entah kenapa kursi kosong itu ada disana. Sebelumnya tidak ada.


Aku diam sambil melihat ke arah Iqbal. Iqbal hanya diam membelakanginku sambil menikmati makanannya.


"Ayo sayang, duduk disini, ibu mau ngobrol sama kamu." ucap Ibu Yanti.

__ADS_1


"Rissa, ibu mertua kamu manggil tuh." ucap tante Rina, ibunya Dodit.


"Hahaha." semua orang ketawa, kecuali aku, Andi, Dea, Kikky dan Iqbal. Sedangkan Ayah dan Ibu tersenyum.


"Ibu mertua." ucap Andi seolah mengejek.


"Ayo duduk sana sayang." ucap Ibuku. Dengan perasaan terpaksa, akhirnya aku duduk di antara Dicky dan Ibu Yanti.


"Kayaknya jadi nih besanan." ucap tante Tika, ibunya Melyn. Aku hanya diam sambil melihat ke arah Iqbal.


"Kira-kira kapan nih rencana lamarannya." ucap Om Damar, ayahnya Anis.


"Anak bapak dulu lah, kapan Anis dilamar Dodit." ucap om Anjas, ayahnya Melyn.


"Gampang itu mah." ucap om Damar sambil ketawa.


"Benar itu, anak kita mah udah ada kabar, pacaran maksudnya." ucap om John, ayahnya Dodit.


"Nah kabar Dicky sama Rissa kayak mana sekarang." ucap om John.


"Besok langsung nikah kayaknya." ucap Melyn.


"Hahaha." yang lain ketawa kecuali aku, Andi, Dea, Kikky dan Iqbal. Ayah dan Ibu hanya bersikap sepantasnya saja.


"Nanti mau dibicarakan dulu." ucap Om Rahmad, ayah Dicky sambil ketawa.


"Bagaimana pak dimas, tawaran saya kemarin, bisa di panjer dulu kan." ucap Om Rahmad pada Ayah.


Ku lihat tersenyum sambil melirik ke arah Iqbal yang hanya diam dari tadi. Aku rasa Ayah bingung harus mengatakan apa pada Om Rahmad, mungkin takut perkataannya akan membuat Iqbal merasa tersinggung.


"Tante tiya, aku sudah selesai, aku boleh ke kamar." ucap Iqbal datar.


"Iya sayang." ucap Ibuku. Iqbal pun langsung pergi. Aku hanya bisa diam sambil memperhatikan Iqbal yang berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya. Aku bingung, rasanya aku ingin mengejar Iqbal, namun aku tidak bisa.


"Apa tadi nak, Rissa udah apa?." tanya Ibu Yanti, ibunya Dicky.


"Maaf pak rahmad, bu yanti, sepertinya kalian terlambat, rissa udah di panjer sama orang lain." ucap Ayahku sambil ketawa. Maksud ayah biar suasana tidak menengang. Namun, salah semua terkejut.


"Hah."


"Maksudnya Rissa udah ada yang lamar?." tanya Om Anjas, ayah Melyn.


"Iya om, itu yang pergi tadi pacarnya." ucap Andi.


"Yah, kalian terlambat pak rahmad." ucap Om Damar, ayahnya Anis.


"Duh, kita gak beruntung." ucap Om Rahmad.


"Rissa udah punya pacar?." tanya Ibu Yanti. Aku menoleh dan menatap Ibu Yanti yang terlihat kecewa. Aku hanya mengangguk.


Ku lihat Ibu Yanti sedih, begitu juga Dicky, dia hanya diam saja. Suasana canggung mulai terasa. Melyn hanya diam menatapku. Mungkin dia juga kecewa, kenapa aku tidak memberitahunya soal ini.


"Ibu." panggilku kepada Ibuku.


"Iya." ucap Ibu.

__ADS_1


"Rissa mau ke iqbal ya." ucapku.


"Makan dulu sayang." ucap Ibuku.


"Nanti aja." ucapku sambil beranjak pergi.


Aku langsung saja berlari menaiki tangga menuju kamar Iqbal. Aku tahu Iqbal pasti marah dengan yang terjadi di meja makan tadi. Tapi, Iqbal tidak salah, siapa sih yang tidak marah kalau diposisi Iqbal.


Aku mengetuk pintu kamarnya sambil memanggil Iqbal. Namun tidak ada jawaban. Aku mencoba membuka pintu kamar Iqbal, syukurlah pintunya tidak terkunci. Saat aku membuka pintu, ku lihat Iqbal duduk di pinggir tempat tidur membelakangiku.


"Iqbal." panggilku. Namun, Iqbal diam saja.


Aku berjalan pelan menghampirinya. Perlahan aku memegang bahu Iqbal. Iqbal menoleh sekilas menatapku sebelum dia kembali diam.


"Iqbal." ucapku pelan. Iqbal berdiri dan berjalan pergi menjauhiku.


"Pergilah ris, temui calon mu itu." ucapnya.


"Gak bal." ucapku sambil berjalan mendekatinya.


"Aku minta maaf ya bal, seharusnya aku bilang sama mereka kalau aku udah punya pacar." ucapku.


"Kamu gak salah, lagian mereka gak nanya kamu udah punya pacar atau belum kan." ucapnya. Aku diam. Iqbal menghela nafas kasarnya dan kembali duduk.


"Bal." ucapku sambil berlutut didepannya.


"Jangan kayak gini, maafin aku ya, ayah juga sudah bilang sama mereka." ucapku. Iqbal diam menatapku.


"Jadi, kamu pilih siapa, aku tau dia." ucapnya. Aku diam, tidak tahu menjawab apa. Aku bingung, disisi lain aku ingin bersama Iqbal tapi disisi lain aku juga ingin menemani Dicky yang sedang sakit.


"Sudahlah ris, tinggalin aku sendiri." ucapnya.


"Gak bal." ucapku.


"Aku gak mau." ucapku sambil memeluknya. Namun, Iqbal hanya diam.


"Bal." ucapku. Namun Iqbal diam. Rasanya aku ingin menangis kalau Iqbal diam seperti ini.


"Tolong bal, katakan sesuatu, jangan diam." ucapku. Iqbal tetap diam. Air mataku yang aku tahan, akhirnya keluar juga, aku mendekapkan wajahku ke dada Iqbal. Aku menangis sambil terus meminta maaf. Tak lama kemudian aku merasakan sebuah tangan mengelus kepala. Aku tahu itu tangan Iqbal.


"Aku sayang sama kamu ris." ucapnya.


Kata-kata yang sering keluar dari mulut Iqbal itu. Entah kenapa membuatku bertambah sedih, aku merasa bersalah dengan perasaanku ini dan apa yang aku lakukan. Aku juga sayang sama Iqbal, tapi tak di pungkiri perasaan sayang itu masih ada untuk Dicky. Saat bersama Dicky aku bahkan melupakan sosok Iqbal yang selalu bersamaku saat ini. Aku merasa bingung perasaan sayangku kepada Iqbal apa memang benar tulus adanya atau hanya aku tidak ingin sendiri.


Bal, aku harus apa!


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line : rafikaanggraini11


Instagram : rafikaanggraini11


Thank you

__ADS_1


__ADS_2