Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Masih Peduli


__ADS_3

Kepalaku terasa sakit saat aku membuka mata. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh pagi. Akhirnya aku bisa tidur, setelah Kikky datang saat waktu subuh ke kamarku. Dia menemaniku sambil menceritakan tentang hal lucu sampai aku tertidur. Walaupun aku tidur hanya tiga jam, tapi cukuplah buat mata, pikiran dan perasaan ini untuk istirahat sebentar.


Ku lihat Dea sudah tidak ada di sebelahku. Mungkin dia sudah pergi untuk sarapan. Perlahan aku bangun. Namun, kepalaku terasa sakit. Aku segera pergi ke meja makan untuk sarapan.


Di sana. sudah ada Ayah, Ibu, Dea, Kikky, Andi dan Iqbal.


"Eh udah bangun." ucap Ibuku. Aku tersenyum, lalu aku duduk di sebelah Andi. Baru saja, aku duduk. Iqbal tiba-tiba saja berdiri.


"Aku sudah selesai tante." ucapnya pada Ibu.


"Iya." ucap Ibu. Lalu Iqbal pergi. Aku diam.


Sungguh menyakitkan hatiku dengan sikap tidak peduli dari Iqbal. Aku tidak ingin Iqbal terus-terusan bersikap dingin seperti itu padaku. Tapi, bagaimana caranya, aku mendapat maaf Iqbal kembali. Iqbal bahkan tak ingin melihatku. Tersenyum pun tidak. Rasanya aku gak kuat berada disana. Aku ingin menangis.


"Ayah juga sudah, ayah ada kerjaan di kantor sini." ucap Ayah.


"Ayah pergi dulu." ucap Ayah.


"Iya, ayah." ucap Ibu, mencium punggung tangan Ayah. Lalu Ayah mencium kepalaku saat melewati ku.


"Ayah pergi kerja dulu nak." ucap Ayah padaku.


"Iya." ucapku.


"Hati-hati om." ucap Andi.


"Iya."


Lalu ayah pergi.


***


Sekitar jam 1 siang. Aku duduk di teras, menyendiri sambil menikmati kesunyian dan perasaan hati ini. Aku tidak punya kesempatan untuk bicara sama Iqbal. Dia selalu menghindar dariku. Harapanku seketika runtuh, saat Iqbal menutup pintu kamarnya didepan ku. Dia seolah-olah tidak peduli lagi padaku. Dea dan Kikky pun sudah mencoba membantu, tapi tidak ada hasil.


Andi kemudian datang dan duduk disebelahku. Aku gak tahu Andi sudah tahu apa belum tentang masalahku. Tapi, aku rasa Dea dan Kikky sudah cerita semua padanya.


"Rissa." panggil Andi. Aku diam.


"Kamu gak pa-pa ris." tanya Andi. Aku menggelengkan kepalaku.


"Kikky sama Dea udah cerita ris." ucap Andi.


"Menurut aku, kamu gak usah lagi berhubungan sama Iqbal, dan Dicky kamu juga harus lupain dia, gara-gara mereka kamu jadi gak bisa tidur semalam kan, nangis mulu." ucap Andi.


"Terus aku gimana?." ucapku.


"Ada aku kan, ada Kikky juga, kita kan bisa jaga kamu, buat kamu seneng." ucap Andi.


"Sampai kapan?." tanyaku.


"Hmm, sampai nanti." ucap Andi. Aku cuma tersenyum.


"Dari pada cuma duduk kayak gini, kita main aja yuk." ucap Andi.


"Main apa?." ucapku.

__ADS_1


"Kejar-kejaran." ucap Andi.


"Gak mau, lagi males, aku mau duduk aja." ucapku.


"Gimana, kita makan bakso." ucap Andi. Aku menggelengkan kepalaku.


"Kepalaku sakit ndi." ucapku.


"Sakit, istirahat sana." ucap Andi. Aku diam sambil menyenderkan kepalaku di bahu Andi.


"Aku jahat ya sama Iqbal." ucapku. Andi diam.


"Dia kecewa sama aku." ucapku lagi.


"Udah, gak usah dipikirin lagi, tadi katanya sakit kepala." ucap Andi.


Kemudian aku lihat Iqbal mau pergi. Entah mau kemana.


"Iqbal, mau kemana?." kataku. Iqbal diam. Lalu dia pergi.


"Mau ikut." ucapku. Aku pun pergi mengikutinya.


"Rissa." panggil Andi. Tapi, aku tidak menghiraukannya. untungnya Andi tidak sampai mengikuti aku.


Aku terus mengikuti Iqbal sambil memanggil namanya. Tapi, Iqbal seakan tuli dengan panggilku. Seakan-akan aku ini tidak ada. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan aku yang dibelakangnya. Aku sedih.


Pandanganku menjadi kabur, karena air mataku. Ku rasa kepalaku sudah semakin sakit. Walaupun begitu, aku terus berjalan menyusul Iqbal. Aku harus berbaikkan dengannya. Aku tidak mau berjauhan dengan Iqbal.


"Iqbal, stop." ucapku. Iqbal tetap berjalan.


"Pulang sana ris." ucapnya.


"Ikut." ucapku.


Aku menghentikan langkahku, ketika sakit dikepalaku terasa sangat menyakitkan. Rasanya aku tidak sanggup berjalan lagi. Tak disangka Iqbal pun berhenti. Dia berbalik dan melihat ke arahku.


"Aku mau ikut." ucapku pelan. Iqbal diam melihatku.


Jujur saja, aku sudah gak sanggup berdiri lagi. Kakiku sudah gemetar. Aku pun menjatuhkan tubuhku. Aku terduduk lemas di jalan aspal.


"Rissa." katanya cemas. Iqbal langsung menghampiriku. Tangannya yang dingin memeriksa suhu tubuhku.


"Kamu masih peduli, aku senang." ucapku. Iqbal diam. Lalu sambil tersenyum aku menyentuh wajahnya. Dia pun memelukku erat.


"Maaf." ucapnya. Air mataku seketika jatuh.


"Maaf." ucapku juga. Iqbal tersenyum sambil mengusap wajahku.


"Kita pulang ya." ucapnya. Aku menggelengkan kepala.


"Mau jalan-jalan." ucapku.


"Besok aja ya." ucapnya. Aku diam.


"Besok ya, kita jalan-jalannya, kita pulang dulu, istirahat." ucapnya. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


"Ayo." ucapnya.


Iqbal pun membantuku berdiri. Lalu dia membopongku berjalan pelan menuju rumah.


***


Sesampainya dirumah. Ku lihat Dea, Andi dan Kikky sedang duduk diteras. Mereka cemas melihat aku yang lemas seperti ini. Lantas, mereka bergegas mendekatiku.


"Kenapa rissa?." tanya Dea. Iqbal hanya diam.


"Rissa, kamu gak pa-pa, kok pucat." ucap Kikky cemas.


Lalu, tiba-tiba saja Andi menggendongku ala bridal style. Langsung membawaku ke kamar.


"Ndi, aku gak pa-pa." ucapku. Andi tidak menghirauku.


"Tante tiya, rissa sakit." teriak Andi sebelum masuk ke kamar.


Ku dengar suara ibu dari arah dapur, tapi aku tidak jelas ibu mengatakan apa. Aku rasa Ibu khawatir dengan keadaanku.


Andi membaringkan tubuhku di atas kasur. Dia melepaskan sepatu flatku. Dea, Kikky dan Iqbal pun juga ikut ke kamar. Kemudian Ibu pun datang. Dengan cemas, Ibu memeriksa suhu tubuhku dengan tangannya.


"Rissa kenapa ndi." tanya Ibuku pada Andi.


"Kepalanya pusing katanya." ucap Andi.


"Pusing?." ucap Ibuku ke arahku. Aku mengangguk.


Ibu lalu mengambil minyak kayu putih yang ada di atas meja sebelah tempat tidurku. Ibu pun memijat pelan kepalaku.


"Ibu ambilkan obat sakit kepala ya." ucap Ibu.


"Gak usah bu, rissa mau tidur aja." ucapku. Ibu menghelas nafas.


"Ya udah, sekarang rissa istirahat." ucap Ibu. Aku mengangguk.


Ibu membenarkan posisi kepalaku. Lalu menyelimutiku.


"Tolong temanin rissa ya." ucap Ibu pada semua.


"Iya tante." jawab Kikky. Lalu Ibuku pun pergi.


Iqbal ingin mendekatiku. Namun, Andi menarik Iqbal dan membawa pergi dari kamar. Aku cemas, takut mereka berdua berantem. Tapi, Kikky dan Dea mencegahku.


"Jangan ris." ucap Kikky.


"Nanti mereka berantem." ucapku.


"Gak akan." ucap Kikky. Aku diam.


"Percaya sama aku, ayo tidur, istirahat." ucap Kikky sambil membenarkan selimutku.


Lalu Kikky pun keluar. Sementara Dea naik ke atas tempat tidur, dia berbaring sambil memelukku. Menemaniku dengan pikiran aku yang cemas dengan mereka.


--ooo--

__ADS_1


__ADS_2