
Sekitar jam tujuh malam, aku tengah bersiap-siap untuk makan malam dan merayakan tahun baru bersama teman-temanku dan juga keluarga yang lain. Mereka pasti sudah berkumpul di taman belakang villa.
Aku tidur cukup lama tadi, tidak ada yang membangunkan ku. Iqbal juga tidak. Dia belum menemuiku lagi.
Pikiran ku masih memikirkan semua perkataan Iqbal yang aku dengar sebelum dia pergi. Apa Iqbal masih kesal denganku?. Pertanyaan itu sendari tadi ada dibenak ku. Entahlah aku tidak tahu.
Saat aku menyisir rambut. Aku melihat sebuah kotak kecil aksesoris punya ku, entah kenapa bisa di atas meja rias, aku tidak ingat aku meletakkan itu disana. Dengan perasaan bingung, aku membuka kotak itu, yang berisi semua koleksi jepit rambut saat aku masih SD.
Sekilas kenangan masa-masa sekolah dasar dulu terlintas di otakku. Tak terkecuali kenangan manis ku bersama Dicky, orang yang selalu aku rindu. Begitu senang rasanya mengingat semua itu. Aku yakin Dicky juga masih ingat saat-saat kami bersama.
Mataku tertuju pada jepit rambut bulu ayam berwarna biru, yang kalian juga tahu itu dari Dicky. Lama sekali rasanya, aku tidak pernah memakai jepit rambut itu setelah aku kembali ke rumah nenek.
Ku ambil jepit rambut itu dan mengingat semua kejadian masa laluku. Sampai diriku tersenyum sendiri kala teringat Dicky yang mencium pipiku.
Hah, aku jadi malu!
Aku pun memakai jepit rambut itu. Dan saat cocok dengan bajuku. Aku tersenyum menatap pantulan diriku pada cermin.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dan suara seseorang memanggilku.
"Rissa, kamu sudah bangun." ucapnya.
Itu suara Iqbal, orang yang aku tunggu kedatangannya.
"Iya bal, masuk aja." teriakku dari dalam.
Iqbal pun masuk. Aku tersenyum sambil memperhatikan dia yang berjalan mendekatiku.
"Sedang apa?." tanyanya. Aku tersenyum sambil merapikan rambutku.
"Bagaimana, cantik?." ucapku. Iqbal tersenyum tipis.
"Cantik." ucap Iqbal.
"Hahaha."
"Ayo." ucapku sambil memegang tangannya.
"Tunggu, dimana jaket kamu?." tanya Iqbal.
"Dalam koper." ucapku. Iqbal lalu berjalan ke koperku yang ada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Untuk apa?." ucapku.
"Diluar dingin, nanti kamu masuk angin." ucapnya.
Setelah menemukan jaketku yang berwarna pink. Dia berjalan kearahku dan memakaikan jaket itu padaku.
"Kamu gak boleh sakit." ucap Iqbal. Aku hanya bisa tersenyum.
"Ayo." ucap Iqbal. Aku tersenyum mengangguk. Dan kami pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju taman belakang villa, dimana semua orang telah memulai acara bakar-bakaran.
***
Ditaman belakang villa. Semua orang tua pada sibuk menyiapkan makan dan acara bakar-bakaran. Ayah dan Om Damar, mereka sedang berusaha membuat api unggun.
Di sisi area taman lain, di arah pohon yang aku pasang lampu kecil-kecil tadi siang. Ada teman-teman yang duduk lesehan. Aku dan Iqbal langsung bergabung dengan mereka. Aku duduk disebelah Melyn yang lagi bercerita tentang isah cinta Dodit dan Anis.
"Aku tidak tau, kalo anis sama dodit itu udah pacaran, mereka diam-diam aja." ucap Melyn.
"Kalo aku kasih tau kamu, pasti kamu ngejek aku kan." ucap Dodit.
"Hahaha."
"Untungnya ketemu dicky, baru deh aku tau, kalau mereka pacaran di coblangin sama dia." ucap Melyn. Kul lihat Dicky tersenyum menahan tawa.
"Hahaha."
"Ris, ceritain dong, bagaimana kamu pacaran sama Iqbal." ucap Melyn.
"Iya, aku penasaran, tiba-tiba aja gitu, denger kamu pacaran." ucap Anis.
Aku diam. Aku bingung mau cerita dari mana, sementara ada Dicky yang dari tadi memperhatikanku.
"Biar aku yang ceritain." ucap Andi.
"Begini, jadi rissa itu terpaksa nerima iqbal, karena rissa diancam mau diculik sama iqbal." ucap Andi bercanda.
Iqbal mendengarnya, lantas mengambil batu kecil dan melemparkannya pada Andi.
"Mana ada kayak itu." ucap Iqbal.
"Hahaha." semua ketawa, aku juga. Tapi, Dicky hanya tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ngawur nih emang si andi, bukan kayak gitu, aku aja yang cerita." ucap Dea.
"Ok baiklah guys, jadi begini ceritanya." ucap Dea.
"Kayak mana." ucap Melyn, penasaran.
Dea pun menceritakan kisah aku dan Iqbal. Walaupun tidak begitu detail, tapi itulah yang Dea tahu.
Ku lirik Dicky yang terlihat tidak menyukai dengan cerita Dea. Itu wajar sih, bagaimana pun Dicky juga masih mempunyai perasaan yang sama untuk ku.
"Terus, semenjak rissa sudah kembali lagi ke rumah nenek, hubungan rissa sama iqbal jadi dekat, terus pas smp mereka pacaran deh sampai sekarang." ucap Melyn.
"Oh gitu, berarti Iqbal dulu yang suka rissa, baru Dicky, wajar aja kalo Iqbal pacarnya rissa." ucap Dodit.
Seketika semua terdiam setelah mendengar Dodit bicara seperti itu. Ku lihat mereka saling melirik satu sama lain. Aku tahu mungkin mereka merasa tidak enak dengan Dicky. Sementara Dicky dan Iqbal hanya diam mematung.
"Anak-anak ada yang mau bakso bakar gak." ucap tante Tika, memecah keheningan kami.
"Mau." teriak kompak Dea, Kikky, Andi, Melyn, Anis dan Dodit.
"Ayo sini." ucap tante Tika.
Dea, Kikky, Andi, Melyn, Anis dan Dodit segera berdiri dan pergi meninggalkan aku diantara Iqbal dan Dicky.
Aku diam sambil memperhatikan Iqbal dan Dicky yang hanya diam. Suasana canggung dan asing sangat terasa. Aku tidak tahu, harus bagaimana mencairkan suasana itu. Haruskah aku berbicara! Tapi apa yang mau aku katakan pada mereka! Sedangkan mereka saja tidak saling menyapa!
"Selamat ya untuk kalian." ucap Dicky tiba-tiba.
Dengan bingung, aku menatap Dicky yang tersenyum tipis. Dicky mengulurkan tangannya pada aku dan Iqbal. Iqbal dengan kasar menjabat sekilas tangan Dicky.
"Terima kasih." ucap Iqbal ketus. Dicky hanya tersenyum menerima perlakuan Iqbal padanya.
Dicky juga mengulurkan tangannya pada aku. Ku lihat Dicky sebentar, menatap dirinya yang sedang menunggu. Perlahan, aku gerakan tanganku untuk menerima uluran tangannya. Tapi, kenapa rasanya begitu berat untuk berjabat tangan dengan Dicky. Sangat berat, sampai aku kembali menyimpan tanganku.
Dicky perlahan menurunkan tangannya. Aku hanya diam dengan perasaan sedih didalam hatiku. Iqbal memegang tanganku. Aku menoleh dan menatap Iqbal.
"Kamu mau bakso bakar, ayo." ucap Iqbal. Aku diam. Iqbal lantas berdiri sambil menarik tanganku untuk berdiri. Aku diam sambil melihat Dicky. Dengan raut wajah sedih, aku menggerakkan kepalaku menandakan padanya bahwa aku mau izin pergi. Seolah Dicky mengerti, dia mengerakkan kedua matanya padaku.
"Ayo ris." ucap Iqbal. Aku hanya mengangguk. Iqbal memegang tanganku dan membawaku pergi menjauh dari Dicky.
Kalau boleh jujur, aku ingin bicara dengan Dicky, walaupun sebentar. Tapi, rasanya itu tidak mungkin karena aku harus menjaga perasaan Iqbal.
__ADS_1
Maaf Dicky!
--oo--