Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Iqbal sakit


__ADS_3

Setelah kemarin. Aku pikir, Iqbal tidak akan menampakkan dirinya di rumahku. Tapi, ketika aku sudah siap pergi sekolah. Aku melihat Iqbal bersama motornya sedang berada di depan rumahku dari balik jendela. Dia menungguku.


Sebenarnya aku ingin sekali pergi ke sekolah bareng dia. Ingin rasanya aku memeluknya lagi. Aku juga merindukannya sama halnya dengan dirinya. Aku juga terus memikirkan keadaan Iqbal. Jujur, aku tidak akan bisa melupakannya begitu saja dan menghapus saat-saat terbaik aku miliki bersama Iqbal.


Ini membuatku tertekan, merasa begitu tidak berdaya, merasa gelisah, bingung, dan selalu bertanya-tanya apakah aku akan kembali bersama Iqbal?. Aku tahu, aku sudah tidak pacaran lagi dengannya. Tapi, aku masih berharap setidaknya aku masih bisa melanjutkan kebersamaan dengan dia hanya sebagai seorang teman. Dan mungkin itulah yang sedang dilakukan Iqbal. Berharap bisa menjadi temanku.


Iqbal,


Maaf, bukan aku tidak ingin menemuimu, aku hanya butuh waktu untuk semua ini.


Aku mengambil sepatu ku yang ada dirak dan kemudian aku pergi ke kamar Andi. Untung saja pintu kamarnya tidak dikunci. Aku langsung masuk. Aku lihat Andi masih tidur dengan posisi tengkurap. Aku duduk di tepi tempat tidurnya.


"Andi." ucapku sambil menggoyangkan badannya.


"Andi bangun." ucapku. Andi tetap dengan posisinya. Aku memeluk Andi yang masih pulas tertidur.


"Andi." ucapku tepat ditelinganya.


"Hem." ucapnya.


"Anterin aku ke sekolah." ucapku.


"Bukannya kamu dianter sama ayah kamu." ucap Andi dengan mata terpejam.


"Iya, tapi, di luar ada Iqbal, aku gak mau ketemu dia." ucapku. Andi diam.


"Andi." ucapku. Andi hanya diam. Merasa Andi tidur lagi, aku menangis.


"Ck, ya ya." ucap Andi.


"Awas, bangun ris, berat." ucap Andi. Aku mengangkat tubuhku dan Andi pun perlahan bangun. Dia duduk menghadapku.


"Pergi sama ayah kamu aja ya, aku masih ngantuk." ucap Andi ingin tidur lagi.


"Aahh, ayo." ucapku merengek sambil menarik tangannya. Andi mendengus kesal.


"Ck, ya tunggu bentar, aku cuci muka dulu." ucap Andi sambil beranjak pergi.


***


Setelah Andi bersiap-siap. Kami pergi ke dapur untuk minta izin, sebelum pergi ke sekolah. Di sana sudah ada ayah, ibu, nenek, Tante Yuli dan Om Adam, Tante Maya dan Om Arman, Dea, Anggun, Lia, dan Kikky, yang lagi sarapan.


"Pagi semua." sapa Andi.


"Tumben kamu bangun pagi." ucap om Arman.


"Ya pa, rissa mau minta anterin ke sekolah." ucap Andi sambil mengambil roti dari tangan kikky dan memakannya.


"Ih giliran aku yang minta anterin sekolah, kamu gak pernah mau." ucap Dea.


"Kamu itu kalo bangunin aku jangan pake acara pukul aku dengan bantal sambil teriak-teriak segala, belum apa-apa udah bikin orang kesel, kalo rissa kan gak." ucap Andi.


"Pilih kasih." ucap Dea.


"Gak ada yang pilih kasih cerewet." ucap Andi sambil mengacak rambut Dea.


"Ihh." ucap Dea kesal.


"Kalian ini gak pernah berubah." ucap Nenek.


"Hahaha."


"Ayo pergi Andi, nanti telat." ucapku.


"Ya udah ayo." ucap Andi.


"Tapi lewat belakang." ucapku.


"Kenapa?." tanya Ibu.


"Ada Iqbal soalnya di depan, aku gak mau ketemu dia." ucapku.


"Dikelas kalian juga pasti ketemu." ucap Anggun.

__ADS_1


"Temuin aja dulu ris, kasihan." ucap Dea. Aku diam.


"Udah, biarin aja." ucap Ayah.


"Hem, masalah cinta emang sulit di hadapi." ucap Om Adam.


"Hahaha."


"Ayo andi." ucapku.


"Tapi, motorku didepan." ucap Andi.


"Nih." ucap Kikky sambil meletakan kunci motor di meja.


"Pake motor aku, motor aku disamping." ucap Kikky.


"Terus kamu sekolah pakai apa?." tanya Lia.


"Nih, jangan lupa isiin bensinnya." ucap Andi melempar kunci motornya pada Kikky. Kikky pun menangkapnya.


"Ck, iya." ucap Kikky.


"Ayo pergi." ucap Andi sambil mengambil kunci motor Kikky diatas meja.


"Ibu rissa berangkat dulu ya, ayah." ucapku sambil mencium tangan Ayah dan ibu.


"Iya sayang." ucap Ibu. Aku juga mencium tangan nenek, Tante Yuli dan Om Adam, Tante Maya dan Om Arman. Begitu juga Andi.


"Hati-hati ya." ucap Nenek.


"Iya nek." ucapku dan Andi. Kami berdua pun berangkat.


"Jangan ngebut andi." teriak tante Maya.


"Ok mah." ucap Andi.


Dalam hati, aku sebenarnya tidak tega dengan Iqbal. Dia pasti sudah lama menungguku. Tapi, aku malah menghindarinya dan lebih memilih pergi ke sekolah bareng Andi.


Aku merasa bersalah telah meninggalkannya. Dia bahkan tidak tahu kalau aku sudah berangkat kesekolah. Aku terus memikirkan Iqbal sepanjangan jalan. Hingga aku sendiri tak sadar kalau aku sudah sampai di gerbang sekolah.


"Cepet banget." ucapku sambil turun dari motor.


"Ya udah aku cabut ya." ucap Andi.


"Langsung pulang ke rumah kan." ucapku.


"Iya lah, aku mau tidur lagi, masih ngantuk" ucap Andi.


"Hahaha."


"Dah ris." ucap Andi.


"Dah." ucapku. Andi pun berlalu pergi dengan motornya.


Ketika aku ingin berjalan masuk. Tiba-tiba seseorang memegang tanganku dan menarik tanganku menghadapnya. Mataku menangkap sosok orang yang dari tadi ada di pikiran ku. Dia tersenyum menatapku.


"Iqbal." ucapku. Aku harus bagaimana sekarang orangnya sudah berada di hadapanku.


"Ris, kamu udah di sekolah, dengan siapa?." ucapnya.


"Bukan urusanmu." ucapku sambil melepaskan tanganku. Aku pun segera berjalan masuk. Namun, Iqbal menghalangi jalanku.


"Tunggu ris." ucapnya.


"Ada apa lagi?." ucapku.


"Aku cuma mau kasih tau, hari ini ada pemeriksaan atribut sekolah." ucapnya.


"Aku tau." ucapku.


"Dasi kamu mana?." tanyanya.


Aduh, aku lupa lagi. Aku meninggalkan dasiku di kamar Andi. Aku pasti dihukum kali ini.

__ADS_1


"Pakai punyaku." ucapnya sambil melepaskan dasinya yang dia pakai.


"Gak usah." ucapku. Namun, Iqbal tidak menghiraukan ku, dia memakaikan dasi itu padaku.


"Nanti kamu dihukum kalau gak pakai dasi." ucapku.


"Gak pa-pa, yang penting jangan kamu." ucapnya. Aku diam.


"Ayo, masuklah." ucapnya sambil tersenyum.


Aku benar-benar merasa bersalah sama Iqbal. Dengan sikapku kepadanya, dia masih saja peduli padaku. Aku yang jahat sama dia. Dengan perasaan tidak enak dengannya. Aku berjalan masuk dan melewati guru yang sedang melakukan pemeriksaan atribut sekolah. Sementara Iqbal di tahan oleh guru dan disuruh berdiri bergabung bersama anak-anak yang tidak memakai atribut lengkap.


***


Di kelas. Aku tidak bisa tenang. Pikiranku terus ke Iqbal yang belum juga masuk ke kelas. Aku sama sekali tidak bisa fokus belajar. Aku meminta izin ke guru untuk pergi ke toilet. Kalian pasti tahu, aku berbohong. Aku tidak pergi ke toilet. Tapi, aku ke lapangan upacara untuk melihat Iqbal.


Dari jauh ku lihat Iqbal sedang berdiri sambil hormat didepan tiang bendera bersama anak-anak yang lain. Cuaca hari ini saat panas. Aku tahu, Iqbal sering mendapat hukuman seperti ini. Ini sudah biasa baginya. Tapi, kali ini, Iqbal terlihat berbeda. Dia tidak seperti biasanya. Bibirnya pucat. Sepertinya Iqbal kurang sehat. Aku cemas, ini karena aku. Sesekali Iqbal mengelap keringat didahinya.


Tanpa sengaja Iqbal melihatku. Dia tersenyum padaku. Aku cuman diam dan berjalan pergi dari sana. Sesaat aku melangkahkan kaki. Tiba-tiba aku mendengar anak-anak memanggil nama Iqbal. Aku menoleh. Aku terkejut saat melihat Iqbal sudah jatuh.


"Iqbal." ucapku cemas.


Sungguh, rasa bersalah aku begitu besar padanya. Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk mendekatinya saat itu. Selain diam ditempatku sambil melihat dirinya yang dibawa anak-anak ke UKS.


Setelah keberanian ku terkumpul. Saat jam istirahat, aku menemui Iqbal dengan membawa kotak bekalku. Aku ingin memberikannya pada Iqbal sebagai permintaan maaf. Dan mungkin rasa bersalahku akan berkurang.


Perlahan aku membuka pintu UKS. Aku melihat Iqbal lagi duduk bersandar. Lagi-lagi dia tersenyum padaku. Entah kenapa, setiap melihatnya tersenyum hatiku sakit, terasa sesak. Aku begitu jahat didepannya.


"Ris, ayo masuk." ucapnya sambil senyum.


"Iya." ucapku. Aku berjalan pelan mendekatinya.


"Kamu." ucapku ragu.


"Eh, kamu." ucapku.


"Aku gak pa-pa ris." ucapnya sambil senyum.


"Ayo duduk sini." ucapnya menyuruh duduk di tempat tidur. Aku hanya mengangguk dan menurut.


Iqbal terus tersenyum menatapku. Sementara, aku hanya diam sambil menatapnya dengan rasa bersalah. Rasanya aku ingin menangis sekarang juga. Aku benar-benar tidak kuat berada didepannya.


"Kok, diam aja." ucapnya.


"Kamu bawa apa?." tanyanya.


"Roti isi coklat, ibu yang bikin." ucapku sambil membuka kotak bekalku.


"Wow, kayak enak tuh." ucapnya.


"Kamu mau?." tanyaku.


"Mau, asal kamu suapi." ucapnya.


Aku hanya mengangguk. Dengan tanganku yang gemetar. Aku mengambil sedikit roti dan menyuapinya kepada Iqbal.


"Pagi tadi aku ke rumahmu." ucapnya. Aku diam sambil terus menyuapi Iqbal roti.


"Rencana sih, mau ajak kamu pergi bareng ke sekolah, tapi kamunya udah pergi." ucapnya. Aku diam sambil menahan air mataku yang sebentar lagi ingin keluar.


"Kata ayah kamu, kamu pergi dianter andi, kalian lewat mana, kok aku gak liat, padahal pagi-pagi sekali aku sudah di rumahmu." ucapnya.


"KAMU BISA DIAM GAK." tegas ku. Iqbal terdiam. Seketika aku menangis sambil menunduk dihadapannya.


"Maaf." ucapku. Iqbal diam.


"Maafin aku bal." ucapku.


"Kenapa minta maaf, aku ada salah ngomong ya, maafin aku ris." ucapnya. Aku menggelengkan kepala.


"Gak, aku yang salah, aku jahat sama kamu." ucapku sambil nangis.


"Kalo dasi aku gak ketinggalan di rumah, kamu gak akan dihukum kayak tadi, karena aku juga kamu jadi sakit kayak gini, aku jahat sama kamu bal." ucapku sambil nangis. Iqbal lantas memelukku dengan erat.

__ADS_1


Pelukan ini, aku sangat merindukannya. Sangat. Aku senang bisa memeluk dirinya lagi. Begitu senang rasanya sampai aku tidak ingin berakhir. Aku tidak peduli dengan cctv yang ada di ruang UKS. Aku juga tidak peduli, jika tiba-tiba ada guru yang datang dan memergoki kami. Aku cuma peduli dengan pelukan hangat ini tidak akan aku biarkan lepas.


--oo--


__ADS_2