
Aku mohon Dicky, jangan begini! Aku semakin sulit berada diantara kamu dan Iqbal!
Aku sedikit mendorong Dicky, menjauh dariku. Dicky melepaskan pelukannya.
"Maaf ris." ucap Dicky tidak enak denganku.
"Gak pa-pa." ucapku.
Dicky mengambil sebuah kotak kecil di laci mejanya. Dia memberikan kotak itu kepadaku.
"Buat kamu." ucapnya. Lalu aku membukanya, itu berisi gelang rantai berinisial R. Cantik sekali.
"Aku udah lama simpan itu dari kita kecil, ibu yang membelikannya untukmu, aku ingin memberikan itu saat hari ulang tahun kamu, tapi ternyata kamu gak ngeranyain disini, waktu kamu mau berangkat, aku terlambat datang, aku gak sempat kasih itu ke kamu." ucapnya. Aku diam sebentar.
"Gelangnya bagus, mau pakaikan ini." ucapku ke Dicky. Dicky senyum mengangguk.
Dicky diam memperhatikan dua gelang yang melingkar di dua pergelengan tanganku. Aku baru sadar. Aku memakai dua gelang di tangan kanan dan kiriku. Dan kalian tahu, itu semua dari Iqbal.
"Dimana?." tanya Dicky bingung.
Aku diam sebentar, lalu aku melepaskan satu gelang dari Iqbal. Aku terpaksa membuka gelang hadiah pertama Iqbal untukku saat aku masih kecil.
"Disini aja." kataku. Dicky lalu memasangkan gelang pemberiannya di tanganku.
"Bagus banget, aku suka." ucapku. Dicky tersenyum.
"Bisa bantu pasangin ini juga." ucapku. Dicky mengangguk.
"Udah karatan ini ris, kenapa masih dipakai." tanya Dicky sambil memasangkan kaitan gelang itu ditangan lainnya.
"Ini dari Iqbal kecil, hadiah ulang tahunku." ucapku.
"Ternyata aku memang terlambat." ucap Dicky. Aku diam.
Aku mengerti apa maksudnya. Dicky merasa dia terlambat atas segala hal mengenai diriku, termasuk memberi hadiah untukku.
"Ya udah, katanya mau pulang, ayo." ucap Dicky sembari mengambil kunci mobilnya di meja.
"Ky, aku mau jalan-jalan sebentar boleh." ucapku. Dicky tersenyum.
"Mau jalan-jalan kemana?." tanya Dicky.
"Disekitar sini aja, aku lihat didekat sini ada taman bermain anak-anak, kita kesana bentar ya." ucapku. Dicky mengangguk.
"Ayo." ucapnya.
Bersama Dicky, aku pergi ke taman bermain anak-anak dekat rumahnya dengan berjalan kaki, karena jaraknya tidak terlalu jauh. Aku dan Dicky berjalan pelan menikmati angin yang menyentuh lembut rambut kami. Tangan Dicky perlahan menggenggam tanganku.
Aku ingin menyimpan tanganku. Tapi, aku tak bisa bohongin diriku. Tanganku dan tangan Dicky saling menggenggam erat, menyusuri taman yang nampak sepi di tengah hari.
Hari itu cuacanya cukup terik, tak membuatku kehilangan perasaanku untuk Dicky. Ini adalah kesempatan diriku dan Dicky menghabiskan waktu bersama sebelum aku akan pulang ke rumah nenek. Dan aku tidak bisa lagi bertemu dengannya.
Hanya ini yang aku inginkan saat ke Jakarta. Bertemu dengan Dicky kembali. Menghabiskan waktu seperti dulu, walau itu hanya sebentar.
"Kamu mau jadi kecil lagi ris." ucap Dicky. Aku menatapnya sambil tersenyum.
"Mau." ucapku.
"Kamu jaga." ucapku sambil menepuk pundak Dicky. Dicky terdiam melihatku. Lalu aku berlari sambil ketawa.
__ADS_1
"Kamu curang." ucap Dicky, mengejarku.
Aku terus berlari menghindari Dicky sambil ketawa. Aku seperti merasa kembali ke masa lalu. Merasa menjadi Rissa kecil yang dulu, aku bahkan melihat Dicky, sebagai Dicky kecil. Aku dan Dicky melakukan lagi semua yang kami lakukan saat kecil dulu. Permainan yang sering kami mainkan bersama.
Dicky mendorong pelan ayunan yang aku naiki. Aku tertawa bahagia. Begitu sangat bahagia, sampai aku melupakan kondisi kesehatanku yang tidak sama seperti dulu lagi. Seketika aku terjatuh, terbaring di atas rumput.
"RISSA."
Dengan pandangan kabur, aku melihat dua orang berlari ke arahku. Aku pikir itu hanya ilusiku karena kepalaku terasa pusing. Namun, aku salah. mereka memang ada dua, itu adalah Iqbal dan Dicky.
"Rissa." ucap Iqbal mengangkat tubuhku untuk duduk.
"Iqbal." ucapku pelan.
"Kamu kenapa?, hah!." tanya Iqbal cemas. Aku diam, mengatur nafasku yang terasa engap.
"Rissa, kamu gak pa-pa, kan?." tanya Dicky.
"Apanya yang gak pa-pa, kamu lihat, rissa lemes." ucap Iqbal ketus. Dicky diam.
"Aku gak pa-pa." ucapku pelan.
Iqbal memelukku, mengusap keringat yang membasahi dahiku.
"Disini panas." ucap Iqbal. Dia mengangkat tubuhku membawaku ke mobil Ayah yang dia bawa.
Aku di dudukan di kursi tengah mobil. Iqbal menghidupkan mesin mobil dan menghidupkan ac mobil. Lalu dia menghampiriku. Dia mengusap keringat ku dengan tisu.
"Kenapa kamu bawa mobil kantor ayah, emang ayah gak kerja." tanyaku pelan ke Iqbal.
"Ayah udah pulang tadi, jadi aku pinjem buat jemput kamu." ucap Iqbal.
"Udah mendingan?." tanya Iqbal. Aku mengangguk.
Iqbal mengambilnya dari Dicky, lalu memberikannya padaku. Aku meminumnya beberapa tegukan.
"Rissa jadi kayak gini, karena kamu, bukannya antar rissa pulang, malah kamu ajak rissa main lari-larian." gerutu Iqbal.
"Asal kamu tau, rissa, tidak sama seperti dulu, keadaannya sudah beda, dan kamu harus terima kalau kamu tidak bisa jaga rissa." ucap Iqbal. Dicky hanya diam saja.
"Udah bal, jangan marahin Dicky, aku yang salah." ucapku lemas. Iqbal mengelas nafasnya.
"Kamu udah makan?." tanya Iqbal. Aku menggelengkan kepala.
"Kita cari makan dulu, baru kita pulang." ucap Iqbal.
"Dicky ikut kita kan, bal." ucapku. Iqbal diam berpikir. Lalu dia menganggukkan kepalanya.
"Kamu duduk didepan, rissa di tengah, biar dia berbaring." ucap Iqbal ke Dicky. Dicky pun menurut.
Dicky duduk di depan, disebelah Iqbal yang menyetir.
"Kamu tau dari mana kami di sana." tanya Dicky pada Iqbal.
"Tau dari ibu kamu." ketus Iqbal.
"Kamu tadi ke rumah?." tanya Dicky. Iqbal mengangguk.
"Jemput rissa, nanti kamu bawa dia pergi pula." ucap Iqbal.
__ADS_1
Sepanjang jalan, aku hanya mendengarkan celotehan yang membuatku bingung dari mereka, kadang bicara dengan nada biasa, kadang dengan nada tinggi. Aku gak tahu mereka bertengkar atau cuma hanya bicara. Aku hanya ingin Dicky dan Iqbal bisa berteman.
Kami pun mampir di salah satu tempat makan yang ada di pinggir jalan. Di sana menjual soto betawi dan makanan khas jakarta lainnya. Aku dan Iqbal memesan soto betawi, sementara Dicky memesan makanan khusus yang dia request sendiri.
"Kamu bisa makan sendiri?." tanya Iqbal padaku.
"Bisa Iqbal." ucapku.
"Bagaimana makanan jakarta?." tanya Dicky.
"Lumayan, enak juga." jawab Iqbal.
"Kamu makan apa ky, kayaknya enak, aku boleh coba." ucapku. Dicky tersenyum.
"Gak enak ris, gak ada rasanya." ucap Dicky. Aku diam merasa kasihan padanya.
"Tapi, itu sehat untukmu." ucap Iqbal. Dicky tersenyum tipis pada Iqbal.
"Kamu benar." ucap Dicky.
"Ayo makanlah, setelah itu kita pulang." ucap Iqbal.
"Aku mau jalan-jalan bal." ucapku.
"Jalan-jalan lagi, tapi kamu baru aja enakan, nanti kamu lemes lagi." ucap Iqbal.
"Aku mau jalan-jalan bal, bertiga pakai mobil." ucapku.
"Ya ya ris, nanti kita jalan-jalannya, sekarang cepat habiskan sotomu." ucap Dicky. Aku mengangguk tersenyum. Sementara Iqbal menghela nafas kasarnya.
Setelah itu, aku, Iqbal dan Dicky jalan-jalan menikmati suasana pemandangan kota Jakarta menggunakan mobil. Kami bertiga mengobrol, bercanda. Kadang juga kami berhenti untuk membeli makanan dan melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti main layang-layang.
Aku duduk diam di tanah sambil melihat Iqbal dan Dicky bermain layang-layang. Mereka sekarang mulai akrab. Aku senang akhirnya mereka jadi teman. Tapi, aku tidak tau apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Aku hanya berharap bahwa mereka sudah melupakan masalah mereka dan Aku akan berusaha mengendalikan perasaanku diantara mereka.
Tak terasa hari sudah hampir gelap. Kami pun segera pulang.
Sebelum pulang, kami mengantarkan Dicky pulang terlebih dahulu.
"Terima kasih untuk tour-nya hari ini." ucap Iqbal dari dalam mobil. Dicky tertawa kecil.
"Terima kasih juga, sudah ajak aku bergabung sama kalian." ucap Dicky.
"Kita pulang ya, maaf gak mampir." ucap Iqbal.
"Iya gak pa-pa." ucap Dicky.
"Salam buat ibu Yanti ya." ucapku dari dalam mobil. Dicky mengangguk.
"Nyonya rissa, kamu mau tetap di belakang apa pindah ke depan?." tanya Iqbal padaku.
"Hahaha."
"Di belakang aja pak, bisa tiduran." ucapku.
"Hahaha."
"Duluan." ucap Iqbal.
"Dah Dicky." ucapku sambil melambaikan tangan. Dicky tersenyum.
__ADS_1
"Daahh." ucapnya. Lalu aku dan Iqbal pun pergi.
--oo--