
Esoknya, aku pergi sekolah diantar oleh Andi lagi. Iqbal masih sakit, jadi dia tidak masuk sekolah. Aku masuk ke kelas dan duduk di tempatku. Tak lama kemudian datang Wulan, dia teman sebangku ku. Iqbal memang sekelas dengan ku. Tapi, dia duduk di belakang dengan teman-temannya.
"Hai ris." ucap Wulan sambil duduk disebelah ku.
"Hai." ucapnya.
"Bagaimana keadaan Iqbal?." tanya Wulan.
"Mendingan." ucapku.
"Kalian masih pacaran atau sudah putus sih, aku penasaran." ucap Wulan.
"Baru aja balikan kemarin." ucapku.
"Hah, serius kalian baru balikan, berarti benar dong, waktu itu kata Dito kalian udah putus." ucap Wulan.
"Iya, tapi sekarang gak." ucapku.
"Emang berita aku putus itu nyebar ya." ucapku.
"Iya ris, sih Dito yang nyebarin ke anak-anak kalo kamu sama Iqbal putus." ucap Wulan.
"Hem, tapi kan sekarang aku sudah sama Iqbal lagi." ucapku.
"Dito tau kalo kamu balikan sama Iqbal." tanya Wulan.
"Gak tau, kenapa emangnya?." ucapku.
"Gak pa-pa, aku cuman ngerasa Dito itu aneh, dia kayaknya suka sama kamu, tapi kelakukan dia itu aneh ris, jangan deket-deket sama dia ris, aku takut kamu kenapa-napa." ucap Wulan.
"Emangnya ada apa sih." ucapku bingung.
"Kamu inget kan Lina." ucap Wulan. Aku mengangguk.
"Dia pacarnya Dito kan." ucapku.
"Iya, baru satu minggu dia pacaran sama Dito, setelah itu dia berhenti sekolah, kamu ngerasa gak ada yang aneh, Lina itu ceria loh, dia suka banget belajar, tiba-tiba dia berenti, kan aneh." ucap Wulan. Aku diam, berusaha untuk mengerti.
Aku tidak tahu, apa maksud dan hubungannya aku dan Iqbal dengan Dito sama Lina. Yang aku tahu semenjak kabar aku dan Iqbal putus menyebar disekolah. Dia sering sekali menghubungiku dengan nomor lain. Tapi, aku tidak pernah meresponnya.
Bel pun berbunyi, semua anak-anak masuk ke dalam kelas, termasuk Dito. Dia tersenyum padaku. Aku hanya diam melihatnya sekilas. Aku jadi takut dengan apa yang diceritakan Wulan. Emang Dito itu sedikit aneh, dari penampilan sih, biasa aja, rapi. Tapi, saat aku lihat dia berantem sama Iqbal waktu itu, dia seperti orang yang berbeda.
Ah, sudahlah
Mending aku fokus belajar aja. Dari pada pikiran yang tidak jelas. Saat aku sedang belajar. Aku mendengar suara orang yang aku kenal. "Maaf, aku terlambat." katanya. Aku langsung menoleh kearah sumber suara. Betapa senangnya aku yang datang itu adalah Iqbal.
"Iqbal." ucapku pelan.
Iqbal menatap kearah ku sambil tersenyum. Aku pun membalas senyuman itu. Iqbal berjalan ke tempat duduknya melewati ku. Dia memegang tanganku sekilas, lalu duduk ditempatnya. Aku senang dia berada disekolah. Tapi, kondisinya?. Mengapa dia ke sekolah. Nanti aja aku tanya. Sekarang fokus dulu belajar.
***
Saat jam istirahat, hanya ada aku dan Iqbal di kelas. Aku bangun dari tempatku sambil membawa kotak bekal ku. Aku duduk disebelah Iqbal. Wajah Iqbal masih terlihat pucat. Aku terus menatap kasihan padanya.
"Udah sarapan?." tanyaku. Dia senyum.
"Belum." ucapnya.
__ADS_1
"Kok belum sih, ini makan bal, nanti kamu gak sembuh-sembuh." ucapku sambil membuka kotak bekal ku yang berisi nasi goreng spesial buatan ibuku.
"Suapi." ucapnya.
"Mau?." ucapku.
"Iya." ucapnya sambil membuka mulut. Aku senyum sambil menyuapinya.
"Kamu kenapa sekolah, harusnya istirahat di rumah." ucapku.
"Aku rindu sama kamu." ucapnya.
"Hah, gombal."
"Serius, aku rindu kamu."
"Iya deh, aku percaya." ucapku sambil terus menyuapinya.
"Kamu bawa obat kan." ucapku.
"Gak." ucapnya sambil ketawa.
"Ih, kamu nih." ucapku. Iqbal hanya tersenyum sambil mengunyah.
"Minum, seret nih." ucapnya.
"Oh iya, aku beli dulu yah, sekalian aku mau beli batagor." ucapku.
"Suruh orang aja, bentar aku telpon Anjas dulu." ucapnya. Anjas itu temannya Iqbal.
"Aku temani ya." ucapnya.
"Gak usah bal, kamu disini aja, habisin ini, aku pergi ya, sebentar aja." ucapku sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Jangan lama-lama." ucapnya.
"Iya." teriak ku dari luar kelas.
Saat aku berjalan menuju kantin. Aku bertemu dengan Dito. Dia menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Dia lantas menggenggam kuat tanganku. Dia menarik ku membawaku entah kemana. Aku berusaha untuk melepaskan tangannya dari tanganku. Tapi, genggaman begitu kuat, aku merasa sekarang tanganku sudah memerah karenanya.
"Lepasin." ucapku pada Dito.
"IQBAL." teriakku. Aku tidak tahu Iqbal mendengar ku atau tidak. Anak-anak yang mendengar aku teriak hanya melihat kami, mereka tidak berani mencegah Dito. Begitu banyak murid disekolah itu, namun tak ada yang menolongku. Rasanya aku mau menangis sekarang. Kenapa sih Dito. Aku salah apa.
"Dito, lepasin." ucapku sambil memukul tangannya.
"LEPASIN." ucapku sambil tetap berusaha melepaskan diriku. Dito malah menarik dan mendorongku, hingga aku terjatuh ke lantai. Kemudian Dito mendekatiku dan menjambak rambutku dengan kuat. Aku tidak pernah di perlakukan seperti ini. Rasa sakit yang aku rasa tidak sebanding dengan rasa malu aku didepan anak-anak satu sekolah. Aku menangis. Tidak ada yang menolongku. Aku hanya berharap pada Iqbal. Aku ingin Iqbal datang dan menghajar Dito sekarang.
"KENAPA KALIAN BALIKAN, HAH." ucapnya.
"Lepasin." ucapku lirih.
Yang aku harapkan terkabul, ku lihat Iqbal berlari cepat ke arahku. Dia lantas memukul dan menonjok Dito. Dito membalas, namun teman-teman Iqbal juga ikut membantu menahan Dito dan membawanya ke ruang guru. Kemudian Iqbal langsung memelukku.
"Sakit bal." lirihku sambil menangis. Iqbal hanya diam sambil memelukku dengan sangat erat.
***
__ADS_1
Aku dan Iqbal berada di belakang sekolah. Aku duduk diam melamun di kursi taman belakang sekolah. Aku tidak tahu apa yang terjadi di ruang guru. Karena Iqbal yang urus semua. Aku tidak mau bertemu dan melihat wajah terkutuk Dito disana. Aku juga tidak harus menjelaskan apapun. Karena saksi kejadian tadi banyak. Kata Iqbal, Dito akan dikeluarkan dari sekolah. Aku tidak tahu harus senang setelah mendengar itu. Walaupun Dito dikeluarkan dari sekolah, ini tidak akan mengubah apapun yang sudah terjadi padaku.
"Bal, aku salah apa?." tanyaku pelan pada Iqbal yang duduk disebelah ku.
Iqbal merangkulku dan membawaku bersandar dipundaknya. Dia mengelus lembut rambutku yang dijambak kuat Dito.
"Gak ris, kamu gak salah." ucapnya pelan.
"Harusnya aku nurut sama kamu, ini semua gak bakal terjadi." ucapku sambil menangis. Aku merasa pelukan Iqbal semakin erat.
"Kita gak tau kalo dia mau ngelakuin itu, coba aku tau, duluan aku hajar dia." ucapnya.
"Khem, maaf ganggu." ucap Anjas yang baru datang. Aku diam sambil menyembunyikan wajahku di pundak Iqbal.
"Ini bal, pesenan kamu." ucap Anjas. Aku menoleh dan melihat apa yang dibawa Anjas. Ku lihat Anjas memberikan kotak bekalku dan sebotol air mineral.
"Thanks bro." ucap Iqbal pada Anjas.
"Sama-sama, aku pergi dulu, ris." ucap Anjas. Anjas melihat ke arahku. Aku mengangguk pelan.
"Iya." ucap Iqbal. Anjas pun pergi meninggalkan kami berdua.
"Apa itu?." tanyaku.
"Batagor, kamu tadi mau makan ini kan." ucapnya sambil membuka kotak bekal.
"Nasi gorengnya udah aku habisin, sesuai perintah." ucapnya. Aku senyum menatap Iqbal.
"Ayo makan." ucapnya.
"Suapi." ucapku pelan.
"Boleh, tapi sun dulu." ucapnya sambil mengarahkan pipinya ke arahku.
"Ih, kamu nih." ucapku. Iqbal senyum sambil menunjuk pipinya. Aku menoleh kanan kiri memastikan tidak ada seorang pun disana. Mungkin saja saat ini teman-temannya Iqbal sedang bersembunyi dan mengintip kami berdua. Ketika aku yakin tidak orang, dengan cepat aku mencium pipinya.
"Udah." ucapku.
"Kok, gak terasa." ucapnya.
"Ah, Iqbal." ucapku. Iqbal ketawa.
"Aak." ucapnya sambil menyuapiku.
Aku menatap Iqbal sambil mengunyah. Aku sekarang tahu, rasanya punya pacar jagoan yang siap melindungi dari orang jahat macam Dito. Aku merasa jadi wanita beruntung karena Iqbal selalu datang saat aku butuhkan.
Aku senang kita bersama, bal!
--oo--
Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.
Line : rafikaanggraini11
Instagram : rafikaanggraini11
Thank you
__ADS_1