Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Cokelat


__ADS_3

Dirumah, ibu menyuruhku membeli tepung di warung yang tak jauh dari rumah. Saat aku menunggu pesananku. Seseorang yang aku kenal datang. Dia adalah Dicky. Aku hanya tersenyum tipis padanya.


"Beli apa?." tanyanya.


"Tepung, disuruh ibu." jawabku.


"Kamu?." tanyaku.


"Ini." ucapnya mengambil beberapa cokelat.


"Kamu mau." ucapnya sambil menyodorkan coklat itu padaku.


"Gak, terima kasih." ucapku sambil tersenyum.


Pesanan tepung ibu akhirnya datang. Aku segera pulang. Dicky dengan sepedanya berusaha menyusulku. Saat sepadanya sudah sejajar denganku, jalannya melambat.


"Mau ikut?." tanyanya. Aku menoleh dan melihatnya sebentar.


"Gak, udah deket." ucapku.


Dia diam, aku bisa melihat raut wajah kecewanya.


"Kamu duluan aja." ucapku.


"Aku mau temani kamu, kamu tidak tau disini banyak anak nakal, nanti kamu digangguin mereka lagi." ucapnya.


"Oh ya." ucapku. Dia cuman menganggukan kepalanya.


"Sudah berapa lama kamu pindah kesini?." tanyanya lagi.


"Satu minggu, lima hari." ucapku.


"Ohh."


"Bagaimana disini, nyaman?." tanyanya.


"Hmm, lumayan, tidak terlalu buruk, disini aku juga punya teman, jadi tidak membosankan." ucapku.


"Oh ya, kamu habis liburan kemana?." tanyaku.


"Ke bandung, nengok kakak perempuanku, dia kuliah disana." ucapnya.


"Kamu punya kakak, enak ya, aku gak punya kakak, adik pun gak punya."


"Apanya yang enak, kakakku itu ngomel terus, untung aja dia kuliah di bandung, kalau disini dia pasti ngomel-ngomel, kamu juga pasti bisa mendengar suaranya dari rumahmu." ucapnya.


"Haha."


Disepanjangan jalan, kami berdua mengobrol dan bercanda. Tidak ada rasa canggung di antara kami. Di jalan, tanpa sengaja mataku menangkap sosok gadis cantik, sepertinya dia seumuran denganku.


"Itu Nabila." ucap Dicky tiba-tiba. Aku menoleh dan menatapnya.


"Kamu kenal?."


"Ya, dia satu kelas denganku."


"Dia cantik, kamu suka?."


"Gak."


"Kenapa?."


"Udah banyak dikelas yang suka sama dia."


"Ya wajar, dia kan cantik."


"Kamu juga cantik."


Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan. Dia berhasil membuatku tidak bisa berkata apa-apa. Aku diam menatapnya sambil terus berjalan sejajar dengannya. Tak terasa, aku sudah berada didepan rumah.


"Udah sampai." ucapnya


"Mau mampir?." ucapku.


"Lain kali aja." ucapnya.


"Ya udah, aku masuk ya." ucapku. Dia mengangguk dan tersenyum.


Aku berjalan masuk kerumah. Dan dia pun pulang ke rumahnya.


***

__ADS_1


Dirumah, aku mengerjakan tugas sekolahku ditemani cemilan brownis kukus buatan ibu. Sepintas aku teringat akan ucapan Dicky yang bilang aku cantik. Dan itu membuatku senyum-senyum sendiri.


Ahh, mengapa aku memikirkan itu.


Tanpa aku sadari ibu dari tadi memperhatikanku.


"Kenapa kamu senyum-senyum gitu." tanya ibu.


"Hehe, gak pa-pa bu." jawabku.


"Ya udah kalau gak mau cerita sama ibu." ucap ibu sambil memasukan satu loyang kue brownis ke dalam kotak.


"Hehe."


"Ibu pergi sebentar ya nak." ucap Ibu.


"Kemana?." tanyaku.


"Ke rumah tetangga kita yang baru pulang liburan kemarin, ibu mau silahturahmi aja." ucap Ibu.


"Mau ikut." ucapku saat aku tau yang dimaksud ibu itu adalah rumah Dicky.


"Tumben, biasanya gak mau kalo ibu ajak kerumah tentangga." ucap ibu heran.


"Hehe, boleh kan bu, Rissa mau ikut."


"Ya sudah, ayo."


Dengan penuh semangat. Aku dan Ibu segera pergi ke rumah Dicky. Kami tidak perlu naik kendaraan apapun, hanya dengan beberapa langkah kami pun sampai. Kan rumahnya berada tepat didepan rumahku. Saat sudah berada didepan pintu rumahnya. Aku merasa gugup, gak tau kenapa. Rasanya aku ingin pulang saja. Padahal aku sendiri tadi yang ingin ikut.


"Assalamualaikum." ucap Ibu sambil mengetuk pintu.


Tak lama kemudian seseorang membukakan pintu sambil menjawab salam. Aku yakin itu pasti ibunya Dicky.


"Ehh, ada tetangga baru." ucap Ibu Dicky.


"Iya bu, saya Atiya." ucap ibuku.


"Saya Yanti, eh ini anaknya ya." ucap ibu Dicky.


"Ya bu, ini anak saya." ucap Ibu.


"Namanya siapa sayang?." tanya Ibu Dicky padaku.


"Cantik." ucap Ibu Dicky menoleh ke arah Ibuku. Ibuku tersenyum.


"Bilang apa Rissa." ucap Ibu.


"Makasih tante." ucapku pelan.


"Sama-sama sayang." ucap ibu yanti.


"Oh ya, ayo masuk, ngapain kita ngobrol didepan, ayo-ayo silahkan duduk." ucap Ibu Dicky mempersilahkan kami duduk.


"Bik, siapin air sirup ada tamu." teriak ibu Dicky.


"Gak usah repot-repot bu." ucap Ibuku.


"Ahh gak ngerepoti kok." ucap Ibu Dicky.


"Ini bu diterima." ucap ibu memberikan kotak yang berisi brownis tadi.


"Apa ini?." tanya Ibu Dicky.


"Brownis kukus bu." jawab Ibuku.


"Hmm, kek nya enak nih." ucap Ibu Dicky.


"Maaf bu, kami baru sempat berkunjung kesini."


"Gak pa-pa, kami juga baru pulang liburan, kami juga berencana mau mampir sore ini, ehh gak taunya ibu tiya yang mampir duluan."


"Hehe."


"Ibu, ibu simpan coklat ku dimana." teriak seorang anak. Anak itu tak lain adalah Dicky.


"Sini dulu sayang, ada tante tiya, tentangga baru yang tinggal didepan rumah kita, sini." ucap Ibu Dicky. Dicky pun berjalan mendekat.


"Kenali ini anak saya Dicky." ucap Ibu Dicky. Dicky menundukkan kepalanya memberi hormat pada Ibuku.


"Ganteng ya bu anaknya." ucap ibuku.

__ADS_1


"Siapa dulu ibunya." ucap Ibu Dicky.


"Ini Rissa, anaknya tante tiya." ucap Ibu Dicky memperkenalkan diriku pada Dicky.


"Sudah kenal bu, kan kami satu sekolah." ucap Dicky.


"Oh, kalian satu sekolah, baguslah kalo gitu, kan kamu bisa jaga Rissa disekolah, ya kan jeng." ucap Ibu Dicky sambil mengedipkan matanya pada ibuku, ibuku tertawa.


"Ibu Yanti ini ada-ada saja." ucap Ibuku.


Sementara aku dan Dicky hanya diam memperhatikan orang tua kami yang mengobrol dan ketawa tidak jelas. Dicky menoleh ke arahku. Dia menatapku sambil memberikan kode kalau dia ingin pergi dari sana. Sejujurnya aku juga ingin pergi. Ibuku kalau sudah asik mengobrol, dia lupa padaku. Karena itulah aku tidak mau ikutnya ketemu dengan seseorang.


Seorang ibu paruh baya datang membawakan minuman. Dia adalah bik Titin. ART di rumah Dicky. Dia sudah bekerja di rumah Dicky sejak Dicky baru lahir dan kakak perempuan Dicky masih berusia 7 tahun.


"Ayo jeng silahkan minum." ucap Ibu Dicky.


"Bik ini, dipotong ya terus bawa kesini." ucap Ibu Dicky memberikan kue brownis yang dibawa ibuku.


"Iya bu." ucap bik Titin.


"Bu, aku pergi main ya." ucap Dicky.


"Ya nak, ajak Rissa main juga, tapi jangan main keluar rumah ya, panas." ucap Ibunya.


"Iya bu."


"Ayo Rissa." ucapnya. Aku menoleh ke arah ibuku memastikan kalau aku diizinkannya. Ibuku mengangguk. Aku dan Dicky pergi dari sana. Dia mengajakku ke dapur. Disana ada bik Titin yang sedang memotong brownis.


"Bik tin, tau gak ibu simpan coklatku dimana." tanya Dicky.


"Coklat, oh bentar ya den bibik ambilin." ucap bik Titin.


Sambil menunggu bik Titin mengambil coklat. Dicky tersenyum padaku. Dia menawarkanku minum. Tapi aku menggelengkan kepala. Itu cukup untuk mengatakan aku tidak haus. Tak lama kemudian bik Titin kembali dengan membawa dua coklat silverqueen.


"Ini den." ucap bik Titin.


"Makasih bik." ucap Dicky.


"Nih, untukmu." ucap Dicky memberikan satu untuku. Aku diam menatapnya.


"Ambil." ucapnya lagi. Aku tidak bisa menolaknya, itu coklat favoritku. Aku pun mengambilnya.


"Makasih." ucapku. Dia tersenyum.


"Kita main ke halaman belakang yuk." ucapnya. Aku mengangguk.


***


Dihalaman belakang rumah Dicky terdapat ayunan. Aku duduk disana bersama Dicky yang duduk dihadapan ku.


"Aku makan ya." ucapku sambil menunjukan coklat yang dia beri tadi.


"Ya makanlah, itukan punya kamu, kenapa harus tanya aku." ucapnya.


"Hehe."


"Aku senang kamu main ke rumahku." ucapnya.


"Aku juga senang kesini, soalnya ibu kamu baik, kalo ibu kamu kayak ibunya Dodit aku bakalan cepet-cepet pulang." ucapku sambil makan coklat.


"Kenapa?." tanyanya.


"Gak tahu, Ibunya dodit suka marah-marah." ucapku.


"Hahaha."


"Gak boleh kayak gitu, tapi sih ibunya Dodit memang kayak gitu, aku, Melyn sama Anis pernah dimarahin sama ibunya." ucapnya.


"Kok bisa." tanyaku.


"Ya, gara-gara kami main sama Dodit sampe magrib, ibunya nyalahin kami bertiga, padahal kan Doditnya yang gak mau pulang." ucapnya.


"Hahaha."


"Terus Doditnya kena marah gak." tanyaku.


"Ya, dia kena jewer." jawabnya.


"Kasihan, tapi ada bagusnya dia dijewer, biar gak nakal lagi." ucapku


"Hahaha."

__ADS_1


Itulah pembicaraan kami yang tidak jelas. Memang tidak sopan membicarakan orang. Tapi jujur aku terhibur dengan cerita itu. Bersamanya bercerita tentang apapun terasa menyenangkan. Tidak untuk aku cepat akrab dengan teman baru apalagi itu adalah teman cowok. Tapi dengannya berbeda, aku selalu ingin bertemu dengannya lagi dan lagi.


--oo--


__ADS_2