Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Pasar malam


__ADS_3

Sambil nunggu ayah dan ibuku jemput. Aku, Dicky, Ibu dan Ayahnya Dicky mengobrol membahas tentang sekolah, teman-temanku dan masih banyak hal lagi, sampai aku tertidur karena sudah waktunya aku tidur siang.


Aku tidak tau apa yang terjadi selanjutnya. Tau-tau saat aku terbangun, aku melihat ibuku sedang duduk disebelahku sambil tersenyum menatapku.


"Rissa sayang, ayo bangun nak, kita pulang." ucapnya. Aku cuman mengangguk karena aku masih mengantuk saat itu.


Aku duduk dan melihat sekitar, aku berada di kamar ibunya Dicky. Ku lihat jam dinding yang ada disana menunjukkan pukul 9 dan itu sudah malam.


"Mana ayah?." tanyaku.


"Ada diluar." ucap Ibuku.


"Ayo sayang." ucap Ibuku sambil menggenggam tanganku membawaku menemui ayahku.


Kulihat diruang tamu sudah ada ayahku dan ibu dan ayahnya Dicky yang sedang mengobrol. Tapi tidak ada Dicky, mungkin dia juga sudah tidur.


"Eh, Rissa sudah bangun." ucap Ibu Dicky.


Aku mendekati ayah dan langsung memeluknya.


"Uh, anak ayah yang satu ini." ucap Ayahku sambil mencium keningku.


Oh, aku benar-benar masih ngantuk. Aku pun membaringkan kepalaku di pundak Ayah.


"Masih ngantuk kayaknya." ucap Ayah Dicky.


"Iya nih." ucap Ibuku sambil mengelus kepalaku.


"Ya sudah, kita pamit pulang ya." ucap Ayahku beranjak dari sofa sambil menggendongku yang masih setengah sadar.


"Ehh, cepat sekali, nginap disini aja." ucap Ibu Dicky.


"Terima kasih, kapan-kapan kami menginap disini." ucap Ibuku.


"Salam buat Dicky ya." ucap Ibu lagi.


"Ya, nanti disampain, maaf Dickynya udah tidur." ucap Ibu Dicky.


"Gak pa-pa, jeng." ucap Ibuku.


"Eh, barang Rissa gak yang tertinggal kan." tanya Ibunya Dicky.


"Udah semua." ucap Ibuku.


"Rissa, salim ayah ibunya Dicky." ucap Ibuku padaku.


Aku bangun, tapi tetap masih digendongan ayah. Aku mencium tangan ayah dan ibunya Dicky. Lalu aku kembali membaringkan kepalaku dipundak Ayah.


"Uhm, Rissanya masih ngantuk." ledek ibunya Dicky.


"Hahaha." mereka tertawa.


"Kami pulang ya." ucap Ayah.


"Hati-hati dijalan." ucap Ayah Dicky.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Ayah membaringkanku di sofa tengah mobil dan meletakkan tasku di belakang. Ayah dan ibuku didepan. Sebelum pergi, Ayah membunyikan klakson mobilnya, lalu ayah pun menjalankan mobilnya pergi.


Diperjalan pulang, aku memejamkan mataku tapi aku tidak tidur. Aku masih dapat mendengar jelas percakapan Ayah dan Ibuku.


"Mereka sangat menyanyangi putri kita." kata Ibuku. "Dan Rissa juga merasa nyaman bersama mereka."


"Itu bagus banyak yang sayang sama Rissa." kata Ayah sambil fokus menyetir.


"Ibu." panggilku.


"Ya sayang." jawab Ibu.

__ADS_1


"Rissa haus." ucapku.


"Haus." ucap Ibu sambil mencari sesuatu di tempat duduknya.


"Coba lihat di tas Rissa dibelakang, kayaknya ibu tarok botol air minum Rissa disana." ucap Ibu. Aku bangun dan mencari botol air minumku ditasku.


"Ada?." tanya Ibu.


"Ada." ucapku. Lalu aku minum.


Dari jendela kaca mobil aku melihat ada sebuah pasar malam. Banyak sekali pengunjungnya disana. Disana juga ada wahana permainan. Sudah lama aku tidak mengunjungi pasar malam. Terakhir aku mengunjungi pasar malam di kota kelahiranku bersama keluarga besarku.


"Bu Rissa mau kesana." ucapku.


"Udah malem sayang, nanti aja ya." ucap Ibu.


"Rissa mau kesana."


"Nanti aja ya kita kesananya."


"Ayah, bentar aja." ucapku kepada Ayah.


"Rissa." ucap Ibu mulai kesal.


"Ayah." ucapku sambil ingin menangis.


"Ya sudah kita kesana, tapi sebentar aja ya." ucap Ayah.


"Yeaahh."


"Ck, ayah ini." gerutuk Ibu.


Aku tau Ibu melarangku itu demi kebaikan aku. Dan aku seharusnya menuruti apa mau ibuku. Tapi aku ingin kesana dan bermain walau itu sebentar.


***


Dipasar malam itu, aku, ibu dan ayahku berjalan sambil bergandengan tangan, melihat-lihat apa yang ada disana.


Setelah makan, ibuku yang hobi belanja, saat itu dia melihat barang diskon langsung diserbunya, mulai dari baju tidur, kaos, sepatu, tas. Ayahku hanya bisa senyum melihat tingkah ibuku.


"Untung ayahmu ini punya uang." ucap Ayah berbisik padaku.


"Hahaha."


"Rissa mau beli apa?." tanya Ayah.


"Hemm, apa ya." ucapku berpikir.


"Boneka?." ucap Ayah. Aku menggelengkan kepalaku.


"Balon?." ucap Ayah. Aku menggelengkan kepalaku lagi.


"Terus, Rissa mau apa?." tanya Ayah.


"Permen kapas." ucapku.


"Okay."


"Tapi Rissa mau dua." ucapku.


"Baiklah sayang, ayo kita beli." ucap Ayah menggenggam tanganku.


"Bu, kami kesana dulu ya." ucap Ayah pada Ibuku yang sibuk memilih kaos.


"Ya." jawab Ibu.


Aku dan Ayah pergi membeli permen kapas.


"Berapa?." tanya Ayah pada penjual permen kapas itu.


"Satu, sepuluh ribu pak." ucapnya.

__ADS_1


"Beli tiga." ucap Ayah.


"Kok tiga yah, Rissa kan mau dua." ucapku.


"Satunya buat ayah." ucap Ayah.


"Hahaha."


Setelah bayar, kami duduk di kursi taman yang tersedia disana, sambil makan permen kapas, tapi yang dimakan permen kapas punyanya ayah. Permen kapasku tetap masih dua.


"Mau eskrim?." tanya Ayah sambil menujuk penjual es krim walls.


"Tapi nanti ibu marah." ucapku.


"Gak ada ibu disini, ibu masih sibuk belanja." ucap Ayah.


"Hahaha."


"Strawberry." ucap Ayah. Itu rasa es krim favoritku.


"Ya." ucapku.


"Tunggu disini, ayah beli dulu."


"Okay." ucapku sambil menggerakan tanganku.


Tak lama kemudian, ayah kembali demgan membawa dua eskrim cone. Satu untukku dan satu untuk ayah. Sambil makan es krim, aku memperhatikan sekitarku yang sangat ramai. Ku pandang langit malam yang di penuhi bintang. Aku sangat senang hari itu, bisa menikmati pasar malam dijakarta.


"Wah, terbang." ucapku saat melihat balon terbang tinggi di langit.


"Rissa mau balon?." tanya Ayah.


"Nggak, nanti balonnya terbang, kasihan." ucapku. Ayahku hanya tersenyum.


"Besar banget, bonekanya." ucapku saat melihat orang lewat didepanku sambil membawa boneka beruang berwarna coklat besar.


"Ayah, Rissa mau boneka itu." ucapku sambil menunjuk.


"Beli dimana boneka sebesar itu." ucap Ayah. Aku diam karena aku tidak tau orang itu membeli boneka itu dimana.


"Ayo kita kesana." ucap Ayah sambil menunjuk kerumunan orang disalah satu stand.


Aku dan ayah kesana. Aku lihat orang disana sedang bermain lempar gelang ke botol. Permainan ini terlihat mudah. Tapi banyak yang mencoba dan gagal.


Ayah pun ingin bermain lempar gelang ke botol itu. Dia ingin mendapatkan boneka beruang untukku. Dengan lima ribuan, ayah mendapat kesempatan tiga kali melempar. Dilemparan pertama, ayah gagal. Begitu juga yang kedua dan ketiga.


"Ayah kalah." ucapku cemberut.


"Mas, boleh beli boneka aja." ucap Ayah.


"Anakku ingin boneka itu, boleh." ucap Ayah menunjuk boneka beruang berwarna pink muda.


"Boleh pak." ucap orang itu.


Setelah dari sana, aku dan ayah kembali ke kursi taman tempat kami duduk tadi. Aku tersenyum sambil memeluk boneka beruang yang tingginya hampir sama dengan tinggi badanku.


"Bagaimana bonekanya, bagus?." ucap Ayah.


"Bagus, terima kasih ayah." ucapku.


"Selagi ayah punya uang, ayah akan belikan semua yang Rissa suka." ucap Ayah mengelus kepalaku dan mencium kepalaku.


"Rissa ngantuk?." tanya Ayah saat melihatku menguap. Aku mengangguk.


"Ayo kita pulang."


Aku, Ayah dan Ibu pun pulang. Di sepanjangan jalan menuju rumah. Aku hanya tidur dimobil sama boneka yang ayah belikan untukku.


Hari itu adalah hari yang sangat bahagia untukku. Aku bahagia bisa ke rumah baru Dicky, bertemu dengan ayah dan ibunya. Dan aku bisa menikmati pasar malam bersama ayah dan ibuku yang sangat sayang padaku.


--oo--

__ADS_1


__ADS_2