
Waktu terus berjalan dan mengubah segalanya. Aku tidak pernah lagi bicara pada Dicky. Bahkan hanya untuk saling tersenyum menyapa satu sama lain. Aku masih tidak mengerti dengan sikapnya itu. Perasaan bersalah terus menyelimutiku walaupun aku tidak tau kesalahan apa yang ku lakukan. Apa ini ada hubungannya dengan Nabila waktu itu. Mungkin saja Nabila mengaduhkanku dan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Dicky. Kembali lagi, itu hanya dugaanku saja. Aku tidak bisa menyalahkan seseorang yang belum tentu orang itu yang melakukan apa yang ada dipikiranku.
Hari-hariku disekolah, ku jalani dengan perasaan sepi. Dia yang selalu aku ingin temui, kini seperti orang asing bagiku. Tidak ada lagi orang yang menemuiku di taman belakang sekolah, mengajakku jalan-jalan dengan sepeda, makan ice cream. Terkadang aku lebih suka menyendiri. Seharusnya aku bisa berdamai dengan keadaanku. Aku tahu, hal ini dapat menganggu kesehatanku dan fokusku dalam belajar.
Hingga di akhir penghujung tahun 2010. Aku masih tidak bisa melupakan Dicky. Walaupun aku berusaha untuk bisa melupakannya tetap saja tidak bisa. Beruntung aku masih punya teman yang selalu bersamaku. Aku ingat, satu hari sebelum tahun berganti. Melyn, Anis dan Dodit berencana merayakan pergantian tahun baru di halaman rumahku. Tentu saja aku menyetujuinya begitu juga ayah dan ibuku.
Aku sangat bersemangat karena hal ini. Setidaknya aku sedikit melupakan dirinya. Ya, walau dalam hati aku berharap dia datang dan bergabung bersama kami.
***
Kira-kira pukul tujuh. Melyn datang bersama Ayah dan ibunya. Begitu juga dengan Anis yang datang bersama orang tuanya dan juga adik laki-lakinya, Ridho.
"Kami gak terlambatkan?." tanya tante Sari, ibunya Anis berjalan menghampiri kami. Sedangkan ayah Anis, Om Damar menemui ayah yang lagi ngobrol sama ayah Melyn, Om Anjas diteras.
"Gak kok, baru aja mulai." ucap Ibu.
"Bawa apa?." tanya Tante Tika pada tante Sari yang membawa keranjang makanan.
"Minuman sama snack buat anak-anak." ucapnya.
Tak lama kemudian, Dodit datang bersama Ayah dan ibunya.
"Wah rame banget." ucap Tante Rina (ibunya Dodit).
"Ya, biar tambah seru." ucap Tante Sari (Ibunya Anis).
"Ayo jeng, sini, kita butuh tenaga ekstra nih." ucap ibuku.
"Ya, yah." ucap Tante Rina.
Aku sibuk membakar jagung, sosis, sate dihalaman rumah bersama Ibu, Melyn, Tante Tika (Ibu Melyn), Anis, Tante Sari (Ibu Anis), Ridho (adik Anis), Dodit, dan Tante Rina (Ibu Dodit).
Sedangkan Ayah, Om Anjas (Ayah Melyn), Om Damar (Ayah Anis), dan Om John (Ayah Dodit) main gaple sambil ngopi di teras.
Saat aku sedang mengoles sosis dengan mentega bersama Melyn, aku gak sengaja mendengar ibuku bicara soal tante Yanti, ibunya Dicky. Dari itu aku tau bahwa ibuku juga mengundang tante Yanti untuk malam tahun baruan bersama kami. Tapi, sayangnya tante Yanti berhalangan hadir karena dia ada acara tahun baruan bersama keluarganya. Aku yang tadinya semangat sekarang menjadi tidak bersemangat lagi. Kenapa begitu sulit untuk aku bertemu dengan Dicky. Atau memang Dicky yang tak ingin menemuiku lagi.
"Jangan sedih Ris, kan ada aku dan yang lain." ucap Melyn. Aku senyum.
"Kamu harus bisa lupain Dicky." ucap Melyn. Aku diam.
"Kamu jadi sering murung karenanya, aku gak suka liat kamu seperti itu, aku lebih suka Rissa yang ceria, Rissa yang suka ngomel-ngomelin Dodit." ucapnya. Aku senyum.
__ADS_1
Aku hanya diam. Tidak tau harus mengatakan apa pada Melyn. Yang dikatakan Melyn itu menurutku benar. Aku harus bisa move on dari keadaan ini. Aku tidak ingin orang yang ada disekitarku tau apa yang sedang aku rasakan.
***
Malam, 2 jam sebelum tanggal 1 Januari 2011. Jagung bakar, sate, sosis bakar sudah siap dan makanan ringan lainnya pun sudah siap untuk disantap bersama.
Kami semua berkumpul duduk di tikar yang sebelumnya digelar oleh ayah di halaman. Selagi menikmati Jagung bakar, sate, sosis bakar. Ayah dan para orang tua yang lain sedang membicarakan keluarga Dicky yang tidak bisa bergabung bersama kami. Ayah juga membicarakan om Rahmad yang ingin menjadikan diriku sebagai menantunya. Dan itu membuatku malu, semua orang jadi tau.
"Oh ya, jadi Rissa udah lamar orang ya." ucap tante Tika (Ibu Melyn). Aku hanya senyum sambil menyembunyikan wajahku.
"Ya kita terlambat, mah." ucap Om John (Ayah Dodit).
"Ya nih, tante juga pengen Rissa jadi menantu tante, eh malah keduluan dilamar pak Rahmad." ucap tante Rina (Ibu Dodit).
"Hahaha."
Semua orang ketawa. Mereka terlihat bahagia malam tahun baru ini. Tapi, mereka tidak tahu hubungan dengan Dicky denganku sekarang begitu jauh. Aku sendiri saja tidak tahu, apakah hubunganku dengannya kembali menjadi dekat atau malah akan semakin jauh. Begitu juga hubungan keluargaku dengan keluarganya. Apakah hubungan ini berdampak juga bagi hubungan keluarga kami. Aku takut hubungan keluarga kami pun ikut menjauh. Dari dalam rumah, terdengar suara telepon berdering, Ibu permisi masuk kedalam rumah untuk menjawab telepon.
"Tumben ya anak-anak masih belum tidur, biasa sudah pada molor." ucap tante Tika.
"Iya nih, apalagi si Melyn ini, abis magrib biasa langsung tidur." ucap Om Anjas.
"Hehe, kan di rumah gak ada temen, jadi mending aku tidur aja." ucap Melyn.
"Hehehe." aku ketawa.
"Rissa." panggil Ibu sambil berjalan mendekati ku.
"Iya bu." ucapku.
"Ibu Yanti nelpon, dia mau ngomong sama Rissa." ucap Ibu.
"Aduh, dapet telepon dari ibu mertua nih." goda Tante Rina (Ibu Dodit).
"Hahaha."
"Ayo sana ibu Yanti nunggu loh." ucap Ibu.
Aku tersenyum dan langsung berlari masuk kedalam rumah dan mulai bicara sama ibunya Dicky.
"Halo." ucapku ditelepon.
__ADS_1
"Selamat tahun baru sayangku." ucap Ibu Yanti.
"Ya, tapi ini belum jam 12 bu masih lama." ucapku.
"Gak pa-pa daripada keduluan sama ayah ibu kamu." ucap ibu Dicky.
"Hehehe."
"Ibu kenapa gak kesini?." tanyaku.
"Maaf sayang, ibu ada acara keluarga, jadi ibu gak ngerayain tahun baru di rumah Rissa, kebetulan Neneknya Dicky juga datang dari Bandung, jadi Dicky seneng banget mau ketemu sama neneknya." ucap Ibu Dicky.
"Dia gak mau ketemu sama Rissa ya Bu." ucapku.
"Gak begitu kok sayang, Dia juga mau ke sana." ucap ibu Dicky. Aku diam.
"Rissa mau bicara sama Dicky boleh Bu." ucapku.
"Boleh, ibu panggil dia dulu." ucap ibu Dicky.
Tak lama kemudian. Ibu Dicky kembali.
"Maaf sayang, Dicky nya tadi pergi keluar sama om nya, beli kembang api katanya." ucap Ibu Dicky.
"Oh." ucapku.
"Rissa mau bicara apa sama Dicky, nanti ibu sampaikan sama dia." ucap Ibu Dicky.
"Gak pa-pa Bu, nanti aja." ucapku.
"Ya udah sayang." ucap Ibu Dicky.
"Eh sayang, ibu tutup dulu ya, nanti kita ngobrol lagi." ucap Ibu Dicky.
"Iya Bu." ucapku.
"Assalamualaikum sayang." ucap Ibu Dicky.
"Walaikumsalam Bu." ucapku.
Malam itu, aku rayakan tahun baru bersama ayah, ibu, teman-temanku dan yang lain dengan perasaan yang tidak bisa aku ekspresikan. Entah aku senang atau sedih. Aku merasa sunyi di antara suara kemeriahan pesta kembang api.
__ADS_1
--oo--