Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Posesif


__ADS_3

Besoknya. Seperti biasa, setiap hari minggu, aku punya jadwal kursus bahasa Inggris. Aku pergi ke tempat kursus di antar oleh Ayah. Di sana aku punya teman yang cukup akrab, namanya Arya. Dia ganteng dan juga pintar bahasa inggris. Terkadang aku minta bantuan dia saat aku kesulitan mengucapkan kosakata bahasa inggris. Iqbal tahu mengenai Arya, aku sudah cerita sama dia, agar dia tidak salah paham soal pertemanan kami di tempat kursus.


Setelah kursus, aku menunggu Iqbal jemput. Aku nunggu dia di parkiran seperti biasanya. Entah kenapa hari itu Iqbal lama banget datangnya. Aku sudah nelpon dia, katanya dia sudah di jalan. Tapi, lima belas menit aku nunggu, dia juga belum sampai. Aku cemas, apa mungkin Iqbal dalam masalah. Saat aku lagi sibuk menghubungi Iqbal. Arya tiba-tiba datang menghampiriku.


"Belum jemput pacarnya ya." ucap Arya. Aku senyum.


"Iya nih, masih dijalan." ucapku.


"Oh, mau bareng aku aja." ucap Arya.


"Gak pa-pa makasih, bentar lagi Iqbal dateng kok." ucapku.


"Oh ok." ucap Arya.


"Aku temani kamu sampai pacar kamu datang, ya." ucapnya.


"Emang kamu gak ada acara." tanyaku.


"Gak ada." ucapnya.


"Tapi nanti aku jadi ngerepoti, kamu pulang aja, aku gak pa-pa disini." ucapku.


"Santai aja kali Ris, aku cuman nemenin kamu." ucapnya. Aku senyum.


"Ya udah." ucapku.


Sambil nunggu Iqbal, aku bicara banyak sama Arya, bukan hal penting. Tapi, cukup menghiburku. Ngobrol sama Arya berasa waktu bergulir dengan cepat. Aku bahkan tidak tahu Iqbal sudah datang dengan motor ninjanya.


"Tuh, pacarnya udah dateng." ucap Arya. Aku senyum.


"Ya udah aku pergi ya." ucap Arya.


"Dah." ucapku sebelum Arya pergi.


Aku segera menghampiri Iqbal. Aku tersenyum pada Iqbal. Tapi dia gak balas senyumanku. Dia cuma diam menatapku dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Kenapa sama dia?." tanyanya sedetik setelah aku didepannya.


"Dia cuman nemenin aku." ucapku.


"Ya, kenapa harus sama dia, temen kamu yang lain kan ada." ucapnya.


"Gak ada bal, mereka udah pulang." ucapku.


"Kamu kenapa sih." ucapku.


"Minggu depan kamu gak usah kursus lagi." ucapnya. Aku kaget.


"Kok kamu gitu sih bal." ucapku.


"Ya kenapa, gak harus dia kan yang nemenin kamu tadi." ucapnya dengan tegas.


"Bal, aku udah bilang sama kamu Arya itu cuman temen." ucapku.

__ADS_1


"Itu kamu, gimana kalo dia gak, dia pasti nganggep kamu lebih dari temen, aku gak pernah suka dia." ucapnya.


"Kamu kenapa sih, kok gitu sama aku, kamu gak percaya sama aku." ucapku.


"Gak gitu ris, aku cuma gak mau liat kamu deket-deket sama dia." ucapnya. Aku diam.


"Ok." ucap Iqbal sambil menenangkan dirinya.


"Maaf Ris, aku gak bermaksud seperti itu sama kamu." ucapnya. Aku diam.


"Maaf." ucapnya sambil memegang tanganku.


"Iya." ucapku pelan.


"Kita pulang ya." ucapnya. Aku hanya mengangguk.


Itulah sikap Iqbal yang lebih dibilang posesif daripada cemburuan. Kalau kalian sadar, sikap posesif Iqbal itu sudah sejak SD. Semua anak cowok dikelasku saja tidak berani mendekati aku, walaupun hanya untuk menanyakan pekerjaan rumah. Termasuk Kelvin yang saat itu suka sama aku. Dia gak pernah lagi muncul didepan aku, apalagi menggangguku. Dan Riko, apa kesalahan dia, dia cuma melambaikan tangan padaku dan respon Iqbal waktu itu berlebihan.


Saat SMP pun sama, aku gak punya temen cowok selain dirinya. Bahkan untuk kumpul sama temen-temen aku yang cewek, harus ditemenin sama dia. Menurutku itu wajar, aku pacarnya. Siapa sih yang gak cemburu kalau lihat pacarnya lagi sama orang lain. Gak ada kan.


***


Setelah dari tempat kursus. Aku di ajak Iqbal ke rumahnya. Dalam hati, aku sudah gak mau pergi kemana-mana lagi. Mood aku hilang begitu saja setelah Iqbal bicara yang tidak-tidak mengenai Arya. Rasanya aku mau pulang saja, kalau aku tidak ingat ada tugas sekolah yang harus dikumpulkan besok. Dengan terpaksa aku ke rumah Iqbal buat kerjain tugas sekolah bareng dia. Sebenernya kalau dia mau, dia bisa nyuruh aku buat kerjain tugas sekolahnya. Tapi, dia gak mau, dia lebih memilih untuk minta aku untuk ajarin dia nyelesain tugas sekolahnya.


"Ehh ada Rissa." ucap tante Dewi saat melihatku datang. Aku senyum.


"Assalamualaikum tante." ucapku sambil mencium tangannya. Iqbal juga.


"Walaikumsalam." ucap tante Dewi.


"Iya tante." ucapku.


"Ya udah mama siapi cemilan buat kalian." ucap tante Dewi. Aku tersenyum sebelum tante Dewi pergi.


"Ayo ris, kita belajarnya di kamar aku aja." ucapnya. Aku mengangguk.


Dikamarnya. Aku dan Iqbal lagi kerjain tugas sambil duduk dilantai dengan ditemani kue, kripik dan sirup jeruk buatan tante Dewi. Disaat aku dan Iqbal lagi sibuk cari jawaban untuk tugas kami. Handphone aku berdering. Itu notifikasi chat dari teman sekelas ku. Dia menanyakan soal tugas sekolah padaku. Sebagai teman yang baik aku pun menanggapinya.


"Lagi chating sama siapa sih." ucapnya.


"Dito, nanya tugas." ucapku.


"Nanya tugas, paling dia modus, biar deket-deket sama kamu." ucapnya.


"Bal, dia temen sekelas kita, kamu tau dia kan." ucapku.


"Sini handphone kamu." ucapnya.


"Kamu mau apa?." ucapku.


"Sini." ucapnya.


"Gak." tegas ku.

__ADS_1


"Siniin gak hp kamu." ucapnya.


"Gak mau bal." ucapku.


"RISSA." bentaknya. Aku diam. Iqbal mengambil paksa handphone dari tanganku.


"Bal, kamu mau apa sih." ucapku. Dia tidak menjawab. Dia memeriksa isi semua chat di handphone aku.


"Gak ada apa-apa bal di hp aku." ucapku. Iqbal tidak menjawab.


Aku kesal, aku langsung ingin merebut handphone dari tangannya. Ya, namanya juga Iqbal, dia tidak mau memberikannya. Aksi rebut merebut handphone pun terjadi.


"Siniin gak." ucapku sambil berusaha mengambil handphone dari tangan Iqbal.


"Gak." ucapnya.


"Siniin bal." ucapku.


"Stop ris, jangan buat aku sampe nyakitin kamu." ucapnya.


"Terus kamu mau aku gimana." ucapku. Seketika aku langsung nangis. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapi sikap posesifnya Iqbal.


"Kok nangis." ucapnya.


"Kamu dari tadi marahin aku terus." ucapku sambil nangis. Iqbal menghela nafasnya dan kemudian dia memeluk ku. Dia mencoba menenangkan aku.


"Duduk sini." ucapnya sambil mendudukkan ku di pinggir tempat tidur. Iqbal berlutut didepan ku sambil menggenggam tanganku. Aku hanya diam menatapnya sambil menangis.


"Aku ngelakuin ini biar kamu gak di gangguin sama cowok yang ingin nyakitin kamu, aku sayang sama kamu." ucapnya.


"Iya, aku tau, tapi gak gini caranya." ucapku.


"Kamu terlalu posesif sama aku." ucapku lagi.


"Maafin aku." ucapnya. Aku diam.


"Maafin aku ya ris." ucapnya.


"Maaf." ucapnya lagi.


"Iya." ucapku pelan. Dia tersenyum dan memelukku lagi. Aku membalas pelukannya.


"Jangan kayak gini lagi bal, aku gak suka." ucapku dalam dekapannya.


"Iya ris." ucapnya.


"Udah jangan nangis lagi." ucapnya sambil menghapus air mataku.


"Sun." ucapnya. Aku senyum sambil memejamkan mata saat bibir Iqbal menyentuh bibirku.


"Hahaha."


"Gitu dong, ini baru Rissa." ucapnya sambil mencubit hidungku.

__ADS_1


Terlebih dari apapun sikapnya sama aku. Iqbal tidaklah jahat, dia tetep pacar yang baik buatku. Semarah-marahnya dia, dia tidak akan pernah kasarin aku. Apalagi kalau aku sudah nangis didepannya. Dia akan berusaha membuat aku ketawa.


--oo--


__ADS_2