Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Iqbal


__ADS_3

Aku menyembunyikan perasaanku di balik senyuman ku ini. Meski orang yang membuatku tersenyum selalu bersamaku. Tapi, aku selalu menangis saat aku sendirian. Aku merindukan orang yang tak bisa aku lupakan. Aku tersesat di masa lalu, yang seharusnya sudah menjadi kenangan.


Apa gunanya aku terus-terusan seperti ini. Aku akan membuat diriku jatuh lebih dalam. Merindukan seseorang yang belum tentu juga merindukan ku seperti ini. Aku punya Iqbal. Orang yang selalu membuatku merasa kalau aku tidak sendiri, ada dirinya yang akan melindungi ku. Aku harus bisa melupakannya dan menempatkan Iqbal sepenuhnya di hatiku. Aku akan berusaha walaupun itu membutuhkan waktu yang lama.


Sampai akhirnya waktu membawaku ke dalam keadaan yang benar-benar mengerikan. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hal itu terjadi. Iqbal hampir pergi meninggalkanku di dunia ini. Aku benar-benar takut saat itu. Aku belum siap kehilangan orang yang aku sayang begitu saja.


"Kamu gak ikut masuk." ucapku sesaat setelah aku turun dari motornya.


"Nanti aja, aku ada urusan." ucapnya.


"Kamu mau kemana?." tanyaku.


"Pergi." ucapnya.


"Kemana?, aku ikut ya, aku ganti baju dulu, tunggu bentar." ucapku.


"Ris." panggilnya. Aku diam menatapnya.


"Kamu dirumah aja ya, belajar, nanti aja kita perginya, ya." ucapnya.


"Aku mau ikut kamu, emang kamu mau pergi kemana sih, kok gak mau ajak aku." ucapku.


"Nanti kamu bosan, mending di rumah aja, tuh ada dea." ucapnya sambil melambaikan tangannya pada Dea yang lagi main handphone di teras.


"Aku mau ikut kamu, boleh ya, yah." ucapku memohon.


"Nanti aja ya sayang." ucapnya. Aku diam sebentar menatapnya kesal.


"Ya udah deh, Tapi, besok kita jalan-jalan yah, awas nggak, aku akan hukum kamu." ucapku. Dia tertawa.


"Iya sayang." ucapnya. Aku senyum.


"Aku pergi dulu, dah." ucapnya.


"Dah, hati-hati ya." ucapku sebelum dia pergi bersama motornya.


Setelah Iqbal pergi. Aku masuk ke dalam rumah dan melakukan hal biasa yang aku lakukan. Tidak ada kegiatan yang menyenangkan bagiku, selain duduk di ayunan sambil baca majalah favoritku. Aku begitu santai dan menikmati hembusan angin di sore hari. Sampai Dea datang membawa berita yang tidak mengenakan. Dia memberitahuku bahwa Iqbal terlibat tawuran dengan anak STM. Aku kaget, aku cemas.


Tanpa berpikir panjang. Aku segera berlari menuju lokasi dimana Iqbal dan gengnya terlibat tawuran. Dea mengejarku sambil memanggil namaku, tapi aku tidak menghiraukannya. Aku hanya memikirkan keadaan Iqbal. Aku terus berlari tanpa memperhatikan keadaan sekitarku, aku bahkan hampir ditabrak mobil. Tapi, aku tidak peduli hal itu. Aku harus cepat menemui Iqbal.


Suasana lokasi tawuran begitu mencengkam. Mereka saling melempar, memukul dan tak segan-segan menghabisi lawannya dengan senjata tajam yang mereka bawa. Orang-orang disekitar lokasi tidak berani mendekat apalagi melerai. Begitu juga aku, aku takut, sangat takut. Tapi aku harus menemukan Iqbal. Sambil melindungi kepalaku dari lemparan batu yang bisa mengenaliku kapan saja, aku mencari sosok Iqbal diantara mereka.


"Iqbal." teriakku saat aku melihat Iqbal sedang menghajar seseorang.


Dia tampak terkejut melihatku ada disana. Tanpa memikirkan bahaya didepanku. Aku berlari mendekatinya. Semua orang yang melihat ku, mencegahku untuk jangan mendekat. Begitu juga Iqbal.


"Jangan Rissa, jangan kesini." teriaknya.


Aku tidak peduli, aku terus berusaha untuk sampai kepadanya. Langkahku terhenti saat sebuah batu mengenai tepat di dahiku. Aku diam sambil menangis menahan rasa sakit dikepalaku. Ku lihat Iqbal bergegas mendekatiku. Namun, sebelum dia sampai padaku, dia sudah dihantam dengan senjata tajam. Iqbal pun terjatuh dengan bersimbah darah. Aku yang melihatnya seperti itu, terdiam seketika. Aku menangis. Aku segera mendekati Iqbal. Namun, dua orang cowok yang merupakan geng Iqbal datang membawaku menjauh dari sana.

__ADS_1


Ku lihat Iqbal di pukuli, di tendang dengan keadaannya yang sudah terluka parah. Tak ada rasa kasihan dari mereka pada Iqbal. Aku benar-benar takut, aku tak ingin Iqbal dalam bahaya. Aku berusaha melepaskan tanganku dari taman-teman Iqbal. Aku ingin ke Iqbal. Aku ingin bersamanya.


"Iqbal." teriakku sambil menangis.


"Tolongin Iqbal." ucapku sambil menangis pada teman Iqbal.


"Tolongin dia." ucapku sambil menangis.


"Dia bisa mati." ucapku. Teman-temannya Iqbal hanya diam, mereka juga tidak tahu harus melakukan apa kalau sudah seperti itu.


Polisi datang dan mengakhiri aksi tawuran. Aku segera datang menghampiri Iqbal. Aku menangis dan memeluknya. Darah Iqbal terus mengalir di kepala bagian belakangnya. Sambil berteriak minta tolong, aku mencoba membangunkan Iqbal yang sudah tak sadarkan diri. Ambulan datang ke lokasi kejadian, aku tidak tahu siapa yang menelepon ambulan. Tapi ini baik, aku harus membawa Iqbal ke rumah sakit dan menyelamatkan nyawanya.


***


Di rumah sakit. Aku duduk sendirian di ruang tunggu menunggu Iqbal yang sedang di tangani oleh dokter. Kepalaku penuh dengan pertanyaan mengenai keadaan Iqbal. Aku bahkan lupa dengan Dea yang mengejarku tadi, entah kemana dia, mungkin dia pulang dan memberitahu tentang aku yang menyusul Iqbal tawuran kepada ayah dan ibuku.


Sambil menahan air mataku. Aku terus memanjatkan doa untuk keselamatan Iqbal. Rasanya duniaku sedang diselimuti awan gelap. Bagaimana dengan kondisinya, apa dia baik-baik saja. Aku takut, aku belum siap mendengar sesuatu yang akan membuatku hancur bagai tersambar petir.


Ku dengar suara wanita memanggil namaku. Itu suara Ibuku. Ibuku datang bersama ayah dan juga keluarga Iqbal. Mereka mendekatiku. Mereka terdiam menatapku, dengan tidak percaya. Pakaianku berlumur darah Iqbal yang sudah mengering. Aku tidak kuat menahan air mataku lagi. Aku menumpahkan semuanya pada Ibuku. Ibuku juga ikut menangis, begitu juga tante Dewi. Dia memeluk erat diriku. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilayangkan kepadaku mengenai kondisi Iqbal. Aku tidak tahu bagaimana keadaannya.


Hampir 2 jam lebih, kami semua menunggu kabar kondisi Iqbal. Aku sudah membersihkan diriku dan mengganti pakaianku. Om Hendra tak berhenti mondar-mandir di depan ruangan Iqbal diperiksa, dia khawatir dengan kondisi anak semata wayangnya itu. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruangan Iqbal. Kami semua bergegas menghampiri dokter dan bertanya bagaimana keadaan Iqbal. Dokter mengatakan Iqbal dalam keadaan baik, dia sudah melewati masa kritisnya. Namun, dia masih belum sadar. Kabar itu sudah cukup membuat kami semua lega.


Aku meminta izin pada Ayah dan ibuku untuk tinggal dirumah sakit. Aku tak ingin pulang, aku ingin bersama Iqbal, menemaninya hingga dia membuka matanya. Dan ayah pun mengizinkan ku. Aku duduk di kursi sebelah tempat tidur Iqbal. Tante Dewi dan Om Hendra sedang menemui polisi yang meminta keterangan mengenai kejadian tawuran itu.


Entah apa yang harus aku lakukan melihat orang yang aku sayang seperti ini. Perasaan ini saja sudah sangat menyakitkan untukku. Apalagi dengan keadaan Iqbal yang terbaring di tempat tidur. Aku hanya bisa menangis.


Iqbal,


Hari sudah malam, tapi aku tidak bisa tidur. Aku terus memikirkan kapan Iqbal bangun. Aku ingin memeluknya. Aku meletakkan kepalaku diatas tempat tidur dengan tanganku sebagai bantal. Aku diam sambil memandangi wajah Iqbal. Tante Dewi mengelus kepalaku, menyuruhku untuk tidur. Awalnya aku tidak ingin tidur, meskipun mataku sudah mengantuk. Lama-kelamaan mataku terpejam dan aku pun tertidur.


***


Entah beberapa lama aku tertidur. Aku benar-benar lelah. Aku terbangun karena ada yang memainkan wajahku. Aku membuka mata dan mencari tahu orang yang mengganggu tidurku. Ternyata orang itu adalah Iqbal. Dia sudah sadar.


"Iqbal." ucapku langsung berdiri.


"Tante Dewi, Om Hendra, Iqbal udah sadar." teriakku sambil mencari sosok orang tua Iqbal, namun mereka tidak ada.


"Mereka keluar." ucap Iqbal pelan.


"Hah." ucapku bingung.


"Mama papa lagi keluar." ucapnya.


"Oh." ucapku. Dia senyum.


Aku duduk di pinggir tempat tidurnya. Aku tersenyum sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kamu butuh sesuatu?." tanyaku. Iqbal hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kepala kamu." ucapnya.


"Gak pa-pa." ucapku sambil senyum. Dia juga tersenyum.


"Udah makan?." tanyanya.


"Siapa?." tanyaku balik.


"Aku nanya kamu, kamu udah makan." ucapnya.


"Belum hehe, aku kan baru bangun." ucapku. Dia senyum.


"Ris, maaf." ucapnya. Aku diam.


"Maaf udah buat kamu nangis, maaf udah buat kamu cemas, maaf udah buat kamu luka, maaf aku bohong sama kamu." ucapnya. Aku tersenyum dan memeluk Iqbal. Dia juga membalas pelukanku.


"Jangan diulangi lagi ya, aku takut." ucapku sambil menahan air mataku.


"Maaf." ucapnya. Aku mengangguk sambil tersenyum padanya.


"Ris, kita keluar yuk, jalan-jalan, kamu mau temani aku." ucapnya.


"Gak boleh, kamu harus istirahat, aku temani kamu disini." ucapku.


"Tapi, aku punya janji sama kamu, mau jalan-jalan hari ini." ucapnya.


"Gak pa-pa." ucapku.


"Kata kamu kalo gak jalan-jalan, kamu mau hukum aku." ucapnya.


"Aku gak mau hukum kamu." ucapku.


"Tapi aku gak tepati janji aku ris, aku harus dihukum." ucapnya. Aku diam sambil menatapnya.


"Iya, kamu memang harus dihukum, kamu udah bikin aku jantungan, lari-larian, teriak-teriak, nangis, terus kita batal jalan-jalan hari ini, kamu aku hukum." ucapku


"Iya ris." ucapnya pelan.


"Siap-siap, aku mau hukum kamu." ucapku.


Aku mengangkat tanganku dan melayangkannya ke arah pipi Iqbal. Dia memejamkan matanya. Aku senyum dan langsung mencium lembut pipinya.


"Udah, kamu udah aku hukum." ucapku sambil senyum. Dia terdiam menatapku.


"Kalo kamu ulangi lagi, aku gak akan lagi hukum kamu." ucapku. Dia tersenyum.


"Hahaha."


Itulah hukuman dari ku. Aku gak mungkin hukum dia, apalagi nampar dia yang lagi terluka seperti itu. Aku hanya akan membuat dirinya bertambah sakit. Aku senang bisa tersenyum dan tertawa lagi bersama orang yang aku sayang. Tidak ada yang sangat membahagiakan bagiku untuk ini.

__ADS_1


--oo--


__ADS_2