
Satu minggu sudah berlalu. Namun, pikiranku terus melayang ke jakarta. Aku masih mengingat dirinya. Selalu. Semuanya masih berbekas dipikiranku dan dihatiku. Mengingatnya saja aku tersenyum sendiri, terkadang aku juga ingin menangis. Tapi, apa dayaku, aku di sini dan dia sana.
Dicky,
Kamu tau, aku rindu kamu! Aku rindu ayah Rahmad dan Ibu Yanti! Aku rindu kalian semua. Bagaimana kabar kalian, aku harap kalian baik dan bahagia ya!
Hari-hari ku disini. Ku jalani seperti biasa. Tidak ada hal yang menyenangkan yang bisa aku lakukan. Selain duduk sambil membaca buku. Namun, aku tidak sendirian, ada Iqbal yang menemaniku setiap hari. Dia sekarang sudah menjadi teman baik ku sekaligus musuh kalau dia membuat masalah disekolah. Entahlah, dia susah sekali dilarang.
***
Saat itu di kelas ku. Aku duduk sendiri ditempat duduk ku sambil membaca sebuah buku cerita rakyat nusantara judulnya raja yang culas, cerita rakyat dari riau. Buku cerita itu dari Iqbal. kemarin lusa aku dan Iqbal mampir ke toko buku di pinggir jalan dekat sekolah. Iqbal juga beli buku di sana. Ku pikir buku itu mau dia baca atau buat tugas sekolahnya sama seperti ku. Tapi, malah dia kasih ke aku. Katanya, "Baca, terus ceritakan ke aku.". Entah apa yang ada di pikirannya. Kenapa dia gak baca sendiri. Dia kan bisa baca.
Saat aku sedang asyik baca buku. Tiba-tiba seseorang datang dan menarik buku ku. Orang itu adalah Kelvin. Dia anak dari salah satu guru disekolahku. Meskipun dia anak guru, tapi dia nakal sama seperti anak lainnya. Kata teman-temanku, dia suka sama aku. Tapi dia sering sekali membuatku jengkel.
"Baca apaan sih." ucapnya sambil melihat buku itu.
"Kembalikan buku aku." ucapku mencoba mengambil buku itu darinya. Tapi dia tidak membiarkanku mengambil buku itu.
"Sini." ucapku kesal.
"Nih." ucapnya. Saat aku ingin mengambilnya dia malah melemparkannya. Aku diam, aku ingin menangis, aku kesal dengannya, aku benci.
Aku nggak suka Kelvin!
Dicky, anak itu sering ganguin aku, dia juga bahkan membuatku menangis. Kalau kau disini, kau pasti akan menghiburku kan!
***
Aku ambil buku itu dan pergi dari sana. Aku berjalan menuju lapangan futsal dan duduk di kursi yang ada disana. Disana ada Iqbal yang sedang latihan futsal untuk turnamen. Aku ingin cerita tentang kejadian tadi, aku tidak tau harus cerita kesiapa lagi selain dengan dirinya.
Dari jauh dia tersenyum melihatku dan menghampiriku.
"Ris, kenapa disini?." tanyanya.
"Gak pa-pa." ucapku.
"Ayo masuk ke kelas sana." ucapnya. Aku menggelengkan kepala.
"Kamu mau bolos?." tanyanya lagi tapi aku diam.
"Kenapa, kamu di ganguin Kelvin lagi." ucapnya. Aku mengangguk dan menangis didepannya.
"Hey, jangan nangis." ucapnya sambil duduk di sebelahku.
"Biasanya kamu melawan saat di ganguin orang, kenapa sekarang kamu jadi kayak ini." ucapnya.
"Aku capek berurusan dengannya tiap hari, aku benci dia." ucapku.
"Emang dia ngapain kamu?." tanyanya.
"Aku lagi baca buku dikelas, terus dia ambil, aku minta kembalikan, dia malah lempar bukunya." ucapku.
"Akan aku hajar tuh anak." ucap Iqbal.
"Jangan-jangan." ucapku menahannya pergi. Aku takut Iqbal akan benar-benar melakukan itu.
Aku tau Iqbal seperti apa. Pukul memukul dia jagonya. Dia juga bahkan ikut tawuran. Dia selalu membuatku ketakutan saat mendengar dia berantem dengan teman sekelasnya.
"Jangan berantem." ucapku pelan.
"Tadi kamu bilang benci sama dia." ucapnya.
__ADS_1
"Ya, tapi kan, gak usah berantem." ucapku sambil menangis.
"Nanti kamu dihukum sama guru bagaimana, aku gak mau kalau kamu sampai di skorsing gara-gara aku." ucapku.
"Sudah, jangan nangis lagi." ucapnya sambil menghapus air mataku. Seketika aku teringat pada Dicky saat menghapus air mataku saat itu. Iqbal terlintas terlihat seperti Dicky. Tapi, aku sadar mereka berbeda.
"Sudah, nangisnya." ucapnya.
"Aku tidak akan menonjok Kelvin, walaupun aku ingin melakukannya." ucapnya.
"Janji ya." ucapku sambil mengacungkan jari kelingkingku.
"Apaan ini." ucapnya.
"Ih, janji dulu." ucapku.
"Iya-ya, aku janji." ucapnya sambil mengaitkan jari kelingkingnya.
"Sudah." ucapnya. Aku cuman senyum menatapnya.
"Sana masuk kelas." ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku.
"Gak mau, aku mau disini." ucapku.
"Aku traktir es krim pulang sekolah, mau." ucapnya sambil tersenyum. Aku senyum mengangguk.
"Tapi, kamu masuk kelas, jangan bolos." ucapnya. Aku diam.
"Pulang nanti aku jemput kamu di kelas, biar Kelvin gak ganguin kamu lagi." ucapnya.
"Baiklah." ucapku.
"Nah gitu dong." ucapnya.
Aku pun kembali ke kelas. Ku lihat Kelvin tersenyum jahil padaku. Aku menatap tajam dirinya sambil duduk dikursi ku yang berada di belakangnya. Sejujurnya aku ingin bolos pelajaran kali ini. Aku malas sekali melihat Kelvin dikelas apa lagi dia duduk didepan ku. Aku benar-benar risih, ingin rasanya aku pindah duduk. Kalau saja aku diberi pilihan oleh Iqbal tadi. Mending aku ke kantin atau ke UKS pura-pura sakit, agar aku bisa istirahat.
***
Setelah pelajaran telah usai dan bu guru juga sudah keluar. Aku bersiap untuk pulang. Saat aku ingin pergi. Namun Kelvin yang masih ada dikelas menarik tasku dan membuatku tertarik ke belakang.
Arghh!.
"Kamu kenapa sih, ganguin aku terus." ucapku.
"Hahaha, kenapa gak boleh." ucapnya. Aku diam, lebih baik aku segera dari sini. Tapi lagi-lagi Kelvin mengangguku. Dia menjambak rambutku kuat. Dan itu benar-benar sakit. Ini sudah kelewatan.
"Aww, sakit." ucapku.
"WOI." ucap Iqbal.
Aku terkejut, Kelvin juga. Tenyata Iqbal sudah berdiri di depan pintu dan melihat semua yang dilakukan Kelvin padaku. Kelvin pun melepaskan ku dan aku segera menahan Iqbal yang berjalan mendekati Kelvin.
"Ayo pulang." ucapku sambil memegang tangan Iqbal.
"Nanti." ucapnya.
"KAU INI KENAPA GANGGU RISSA TERUS." tegas Iqbal.
"APA URUSANNYA DENGAMU." ucap Kelvin.
"Ck!." Iqbal ingin menonjok Kelvin. Tapi aku menahannya.
__ADS_1
"Iqbal udah." ucapku. Kelvin tidak ingin mau kalah, dia juga ingin memukul Iqbal. Perkelahian tidak bisa di hindarkan. Sekuat tenaga aku berusaha melerai mereka. Aku takut kalau ada guru yang datang, Iqbal dalam masalah.
"Udah Iqbal, stop." ucapku sambil melerai mereka berantem.
"AWAS KAU MASIH GANGGU DIA, HABIS KAU." tegas Iqbal.
Aku manarik tangan Iqbal dan segera pergi dari sana. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan.
Di jalan pulang. Seperti yang dikatakan Iqbal, dia mentarktirku ice cream. Sebelum pulang kami mampir ke toko ice cream deket sekolah. Seperti biasa, favorit ice cream ku rasa Strawberry. Setelah beli ice cream kami pun pulang. Jarak ke sekolah ke rumah ku cukup dekat. Jadi aku dan Iqbal selalu pulang berjalan kaki. Sebenarnya bisa saja aku membawa sepeda ke sekolah. Tapi ibu melarangku, sementara Iqbal, dia memang tidak mau membawa sepedanya ke sekolah. Katanya, nanti sepedanya rusak, dipinjem main anak-anak disekolah.
Sambil makan ice cream. Aku memikirkan kejadian tadi. Untung saja tidak ada guru yang mendengarnya. Namun, ada satu hal yang aku cemaskan. Kelvin anak guru. Aku takut kalau Kelvin mengadu kejadian tadi pada ibunya yang seorang guru. Iqbal pasti dalam masalah, mengingat sudah banyak kasus juga yang dibuat oleh Iqbal.
"Kamu jangan begitu terus, dikit-dikit berantem, dikit-dikit mukul." ucapku.
"Kenapa kalau aku berantem, kan gak ada ruginya di kamu." ucapnya santai sambil makan es krim. Aku menghentikan langkahku.
"Aku takut kamu dikeluarkan dari sekolah." ucapku.
"Biarin, sekolah lain banyak." ucapnya.
"Kalau kamu keluar dari sekolah, terus aku dengan siapa." ucapku. Dia diam menatapku.
"Aku gak punya temen lain selain kamu." ucapku menahan air mataku yang ingin keluar.
"Sekarang kamu jadi cengeng ya, dikit-dikit nangis." ucapnya mengolok-olokku.
Aku pun tidak bisa menahan air mataku. Aku merasa semua yang aku lakukan padanya tidak ada gunanya. Padahal aku seperti ini, karena takut dia dalam masalah.
"Tuh kan, nangis lagi." ucapnya. Aku tetap menagis menatapnya.
"Ya sudah, aku minta maaf." ucapnya sambil senyum.
"Stop nangis ya Rissa cantik." ucapnya sambil menghapus air mataku.
"Aku tidak akan berantem lagi, tapi aku gak janji." ucapnya.
"Apalagi kalau ada yang ganggu kamu kayak tadi, aku saja gak pernah narik rambut kamu." ucapnya. Aku hanya diam.
"Ya sudah, ayo pulang, panas." ucapnya sambil menarik tanganku pergi.
"Aku punya PR, nanti ajarin aku ya, aku gak ngerti." ucapnya sambil berjalan menggandeng tanganku.
"Iya." ucapku tidak bersemangat.
"Kok jawabnya gitu, lemas banget."
"Iyaaa." ucapku keras.
"Hahaha." dia ketawa dan itu membuatku tersenyum.
Terkadang sikap Iqbal mengingatkanku akan dirinya. Ku kira itulah yang bikin sulit buatku untuk melupakannya. Tapi kalau terus dipikirkan hanya akan membuat ku jadi lebih buruk. Dan aku tidak bisa menjalani hidupku dengan terjebak di masa lalu.
Mungkin Dicky juga akan melakukan hal yang sama. Dan mungkin sekarang dia punya pacar dan sudah senang dengan kehidupan barunya.
Tak bisa dipungkirin aku juga menyukai Iqbal. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku juga tak keberatan, jika memang Iqbal lah yang akan bersamaku.
Walaupun setiap hari bersama dengan Iqbal. Namun, aku tidak pernah bisa melupakan Dicky. Dirinya masih terlintas di ingatan ku. Aku tau sulit memang untuk melupakan orang yang kita sayangi dalam hidup ini. Tapi, kembali lagi. Aku harus bisa keluar dari masa lalu dan menjalan hidupku dengan bahagia. Walau begitu bukan berarti aku melupakan kenangan masa lalu bersama Dicky begitu saja. Kenangan bersama Dicky akan aku simpan jauh dilubuk hatiku.
Dicky,
Kamu yang aku rindu!
__ADS_1
--oo--