Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Pohon mangga


__ADS_3

Esoknya aku bangun pagi. Aku mau pergi sekolah diantar oleh ayah. Aku tidak di bolehkan oleh ibu pergi ke sekolah sendiri. Ibuku takut aku kenapa-napa di jalan. Setelah sarapan, aku pun pergi bersama ayah dengan mobil.


Disekolah, aku punya tiga teman, namanya Melyn, Anis, dan Dodit. Mereka juga tentanggaku, maksudku mereka juga tinggal di komplek tempat aku tinggal.


Melyn satu kelas denganku dan juga teman sebangku ku. Sedangkan, Anis dan Dodit, mereka dikelas sebelah. Walaupun begitu, setiap jam istirahat kami selalu kumpul di kantin.


Dikelas, aku duduk di dekat jendela yang tertuju ke lapangan. Jika aku bosan dengan materi pelajaran, Aku mengalihkan pandanganku melihat anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran olahraga. Terkadang aku ditegur oleh guru dengan sikapku itu. Untung saja aku tidak dipindahkan dari situ.


Saat jam istirahat, aku, Melyn dan Anis berada dikantin. Kami membawa bekal sendiri dari rumah. Sebelum sekolah di jakarta, ibuku selalu membawakanku bekal ke sekolah. Ibu bilang jajanan diluar itu tidak sehat. Padahal sekolahku itu punya kantin sehat khusus, tapi tetap saja ibuku membawakanku bekal.


"Oh ya, dimana Dodit?." tanyaku.


"Katanya nyusul." ucap Anis dengan mulut penuh.


Saat kami sedang menikmati makanan kamu. Tiba-tiba Dodit muncul mengejutkan kami, dia menghentakan keras tangannya di atas meja. Sontak membuat aku, Melyn dan Anis hampir jantungan karenanya.


"DODIT." ucap kompak kami bertiga.


"Ih, kamu ini yaa." ucapku sambil menjewer telinga Dodit.


"Duhh, sakit, sakit." ucap Dodit.


"Rasain kamu dit, makanya jangan jahil." ucap Anis.


"Terus Ris, jangan kasih ampun." ucap Melyn.


"Duh, ampun, aku minta maaf." ucap Dodit. Aku pun melepaskannya.


"Aww." ucap Dodit sambil menggosok telinganya yang memerah karena ku.


"Kamu dari mana aja?." tanya Melyn.


"Dari taman belakang." jawab Dodit sembari duduk di sebelah Anis.


"Oh ya, aku lihat pohon mangga disana, buahnya banyak banget, pulang sekolah kita kesana yuk." ucap Dodit.


"Ayo." jawab Anis.


"Mau ngapain kesana?." tanyaku.


"Ikut aja." ucap Dodit sambil mengambil sandwich punyaku dan memakannya.


***


Sepulang sekolah, kami pun pergi ke taman belakang sekolah. Disana ada pohon mangga, yang buahnya itu banyak banget seperti yang diceritakan Dodit di kantin.


"Siapa yang manjat." ucap Melyn.


"Hei, kalian mau mencuri." ucapku. Aku tidak tau kalau mereka berencana untuk mengambil buah mangga, aku pikir hanya lihat-lihat taman.


"Gak curi, cuman mau ambil." ucap Dodit sambil mulai memanjat.


"Sama aja kalo belum izin yang namanya maling." ucapku.


"Anak-anak yang lain juga pada ambil kok." ucap Anis.

__ADS_1


Pohon mangga itu tidak terlalu tinggi dan juga pendek. Orang dewasa mungkin bisa memetiknya tanpa harus memanjat. Wajar saja kalau anak-anak yang lain juga mengambil buah mangga itu.


Anis pun ikut naik ke atas pohon dan itu membuatku terkejut. Aku tidak tau kalau Anis bisa memanjat dengan tubuhnya yang berisi. Aku hanya bisa diam melihatnya, sementara Melyn menangkap dan mengumpulkan buah mangga yang dilempari Dodit.


"Awas Ris, jangan disitu." teriak Dodit sambil melemparkan buah mangga dan buah mangga itu mengenai kepala ku. Aku yakin Dodit sengaja.


"Dodit." ucapku kesal. Anis dan Melyn tertawa.


"Kan sudah dibilangin jangan disitu." ucap Dodit sambil tertawa kecil. Aku mengepalkan tangan ku, aku kesal dengan Dodit. Ingin rasanya aku melemparkan balik ke arahnya.


Tiba-tiba seseorang datang sambil mengatakan hei. Melyn, Anis dan Dodit tau siapa itu. Dia adalah Dicky, anak yang tersenyum didepan rumahku waktu itu. Aku diam memperhatikannya berjalan ke arah kami.


"Sudah dapet banyak." ucapnya.


Aku menatapnya heran. Aku pikir dia akan menegur kami.


"Belum." jawab Dodit.


"Anis, kamu bisa manjat." ucapnya.


"Kamu mau bilang aku gendut gitu?." ucap Anis ketus. Kami semua tertawa.


"Aku gak bilang ya." ucapnya.


Kami semua tertawa, tidak dengan Anis, dia kesal. Wajah ketus Anis, benar-benar sangat lucu. Ingin aku mencubit pipinya yang gembul seperti bakpao itu.


Saat tertawa, tanpa sengaja mataku melirik ke arah Dicky, dia tersenyum padaku. Dan aku pun tersenyum tipis kepadanya. Kemudian dia berjalan pergi dan duduk di kursi panjang taman.


Dari kejauhan aku memperhatikannya. Dia duduk bersandar sambil bermain sebuah handphone. Waktu itu sudah ada handphone yang menurutku sudah canggih pada masanya. Aku memutuskan untuk menghampirinya, perlahan aku berjalan mendekatinya.


"Nonton video." ucapanya, dengan matanya yang fokus ke ponselnya.


"Video apa?." tanyaku.


"Hantu, mau nonton." ucapnya sambil menunjukan ponselnya.


"Gak ah, takut." ucapku sedikit mundur darinya.


"Kenapa harus takut, ini cuman film, hantunya juga bohong." ucapnya.


"Aku gak mau." ucapku.


"Ya sudah kalau gak mau." ucapnya. Dia kemudian menyimpan ponselnya ke tasnya.


"Kenapa kamu bawa hp ke sekolah?." tanyaku.


"Gak sengaja ke bawa." ucapnya. Aku diam menatapnya heran.


"Oh ya kita belum kenalan." ucapnya.


"Aku Dicky." ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku. Tanpa ada rasa ragu, aku menerima uluran tangannya.


"Aku Rissa." ucapku sambil tersenyum. Dia pun tersenyum padaku.


Aku menatap dia lekat. Begitu juga dia menatapku. Dia sangat tampan dilihat dari sedekat ini. Aku bahkan bisa melihat lesung pipi di wajahnya. Terdengar suara Anis dan Dodit yang sedang bertengkar. Seketika aku tersadar dan melepaskan tangaku. Aku segera pergi menghampiri mereka.

__ADS_1


"Kenapa?." tanyaku.


"Dodit nih, malah asik makan sendiri, aku gak bisa manjat ke atas sana." ucap Anis.


"Biar aku yang manjat." ucapku sambil meletakan tas yang terus aku gendong dari tadi.


"Emang kamu bisa manjat?." tanya Melyn.


"Bisa." jawabku bersiap memanjat. Aku memanjat dan duduk di dahan di bawa Dodit, aku takut jika terlalu tinggi.


Dulu dirumah nenek aku sering memanjat pohon jambu biji bersama sepupuku. Tapi aku lupa satu hal, aku tidak tau caranya turun dari atas pohon. Entah kenapa aku lupa caranya turun, atau karena sudah lama aku gak manjat. Setiap melihat kebawah kepalaku jadi pusing.


"kayak mana caranya turun?." ucapku.


"Bagaimana kamu ini bisa manjat tapi gak bisa turun." ucap Dodit.


Aku hanya tertawa kecil. Kepalaku pusing. Apa karena aku terlalu tinggi. Dodit turun terlebih dahulu, setelah itu Anis dan aku masih di atas pohon.


"Ayo lompat aja, kami jagain dibawah." ucap Melyn.


Aku tau pohon itu tidak terlalu tinggi. Tapi ada selokan disekitar pohon itu. Bagaimana aku jatuh masuk ke sana.


"Gak ahh, takut." ucapku.


"Kami disini, cepet." ucap Dodit.


"Sini aku bantu." ucap Dicky sambil mengulurkan tangannya.


"Gak ahh, nanti jatuh." ucapku.


"Gak, percaya deh." ucapnya.


Aku menghela nafas, aku menganggukan kepalaku. Tidak ada cara lain lagi. Dia menyuruh Dodit untuk naik sedikit di pohon. Sedangkan dia memunggungiku.


"Kamu pengangan sama Dodit, setalah itu kamu lompat ke aku." katanya.


"Apa, kamu serius." ucapku.


"Iya."


Aku mengikuti apa yang dia katakan. Aku berpegangan pada Dodit dan lompat ke Dia. Entah aku yang berat atau dia yang tidak kuat. Aku dan Dicky pun terjatuh dengan aku yang di atas punggungnya.


"Aww."


"Kamu tidak pa-pa kan?." tanya Dicky sambil membantuku berdiri. Aku menggelengkan kepala. Kami berdua saling menatap dan kemudian tertawa bersama.


"Kalian tidak pa-pa?." tanya Melyn.


"Tidak pa-pa." jawabku dan Dicky kompak. Kami berdua pun tertawa lagi.


"Untung saja Rissa, kalau Anis yang menimpa badanmu, hem, abis kamu." ucap Dodit.


Anis yang tersinggung, langsung memukul Dodit. Dan itu membuat kami semua tertawa.


--oo--

__ADS_1


__ADS_2