Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Bioskop


__ADS_3

Seminggu setelah kejadian tawuran. Malam minggu selanjutnya. Kira-kira pukul setengah tujuh, Iqbal datang ke rumahku. Dia meminta izin sama ayah untuk mengajakku malam mingguan. Ayah mengizinkan kami pergi.


"Jangan pulang malam-malam." ucap Ayahku.


"Siap om." ucap Iqbal.


"Hahaha." aku ketawa.


"Pergi dulu om." ucap Iqbal sambil salim pada Ayah. Aku juga.


"Ayo Ris." ucap Iqbal yang sudah duduk diatas motor.


"Pakai ini." ucapnya sambil memakaikan aku helm. Aku senyum dan kemudian naik ke atas motor.


"Udah." ucapnya.


"Udah." ucapku.


"Pergi dulu ayah, dah." ucapku pada Ayah.


"Assalamualaikum." ucap Iqbal dan aku.


"Walaikumsalam." ucap Ayah.


"Hati-hati." teriak ayah.


"Iya ayah." teriakku.


Aku senang jalan-jalan sama Iqbal naik motor. Apalagi kalau sudah memeluk tubuhnya yang sedikit berotot. Aku gak tahu Iqbal mendapatkan ototnya dari mana, mungkin karena Iqbal sering menghajar seseorang atau dia latihan membentuk otot dirumahnya.


"Kamu ngegym ya." ucapku.


"Gak." ucapnya.


"Kok berotot." ucapku.


"Aku kan cowok pasti berotot." ucapnya.


"Tapi si yanto anak ips 2, dia gak punya otot." ucapku.


"Dia kan cewek bukan cowok." ucapnya.


"Dia cowok." ucapku.


"Iya tapi kayak cewek, masa dia suka sama aku." ucapnya.


"Hahaha."


"Kamu terima?." tanyanya.


"Gak lah, aku kan punya pacar, cantik, cewek asli pula, ngapain sama cewek jadi-jadian." ucapnya.


"Hahaha."


"Gak boleh ngomongin orang." ucapku. Dia diam.


"Tapi si emang dia kayak cewek, apalagi mulutnya itu." ucapku.


"Haha, siapa sekarang ngomongin orang." ucapnya.


"Hahaha."


"Kamu yang mulai sih, jadi aku ikut-ikutan." ucapku.


"Kok jadi aku yang salah." ucapnya.


"Ngalah sama pacarnya." ucapku.


"Iya deh, aku yang salah." ucapnya.


"Gitu dong, hehe." ucapku.


Kami pun akhirnya sampai di salah satu mall. Iqbal memarkirkan motornya. Dan kemudian kami pun masuk menuju bioskop sambil bergandengan tangan. Kami berdua berencana nonton film, tapi kami belum tahu mau nonton film apa.


"Mau nonton apa?." tanyanya saat tiba di bioskop.


"Horor." ucapku.


"Romance aja ya." ucapnya.


"Kenapa, kamu takut." ucapku.


"Gak, aku malah khawatir sama kamu gak bisa tidur setelah nonton film horor." ucapnya.


"Gak, mana ada." ucapku.

__ADS_1


"Kita nonton romance." ucapnya.


"Aku mau nonton film horor." ucapku sambil menunjuk poster Annabelle 2 yang sedang tayang hari itu.


"Yakin mau nonton itu." ucapnya.


"Iya." ucapku.


"Ya udah, aku gak nanggung loh, kalo kamu ketakutan nanti." ucapnya.


"Iya." ucapku.


"Tunggu disini, aku beli tiketnya dulu." ucapnya. Aku mengangguk.


"Ehh, bal, aku beli popcorn sama minuman ya." ucapku.


"Iya, jangan lama-lama, setelah itu kesini lagi, jangan pergi kemana-mana." ucapnya.


"Iya." ucapku.


"Awas ya." ucapnya.


"Iya bawel." ucapku sambil pergi membeli popcorn.


Saat aku membeli popcorn, tanpa sengaja aku melihat Tasya teman saat aku masih SD. Dia bersama pacarnya, Febri. Mereka juga sedang membeli popcorn.


"Tasya." panggilku. Dia diam sambil memperhatikanku.


"Rissa." ucapnya.


"Iya." ucapku sambil senyum.


"Ehh, apa kabar Ris." ucapnya.


"Baik, kamu?." ucapku.


"Baik." ucapnya.


"Hai ris." ucap Febri.


"Hai." ucapku.


"Langgeng ya." ucapku menggoda mereka.


"Hahaha."


"Doain jodoh." ucap Febri.


"Hahaha."


"Amin." ucapku.


"Kamu dengan siapa kesini?." tanya Tasya.


"Biasa." ucapku.


"Iqbal?." ucap Febri. Aku mengangguk.


"Masih sama dia." ucap Tasya.


"Iya." ucapku.


"Dimana dia?." tanya Febri.


"Lagi beli tiket." ucapku sambil membayar popcorn yang aku pesan tadi.


Aku dengar suara Iqbal yang memanggilku dengan suara sedikit keras, aku kaget. Mungkin Tasya dan Febri juga kaget mendengar suara Iqbal.


"Ternyata kamu disini, aku nungguin kamu disana tadi, kamu gak datang-datang, aku kira kamu kenapa-napa." ucapnya kesal.


"Bal." ucapku menenangkannya.


"Rissa gak pa-pa bal, dia sama kami, posesif amat." ucap Febri.


"Iya, pacarnya gak hilang kok." ucap Tasya.


"Kalian disini." ucap Iqbal pada Tasya dan Febri. Febri hanya tersenyum.


"Iya lah, biasa mau malem mingguan sama kayak kalian." ucap Tasya.


"Hahaha."


"Eh bal, aku denger kamu jadi korban tawuran, gimana keadaan kamu sekarang?." tanya Febri.


"Aku baik." ucap Iqbal sambil senyum tipis.

__ADS_1


"Syukur deh kamu baik." ucap Febri.


"Ehh, kita pergi dulu ya, bentar lagi mau nonton." ucap Iqbal.


"Studio berapa, kalo sama barengan aja." ucap Febri.


"Kami studio 3." ucap Iqbal sambil melihat tiketnya.


"Hem, kek kita pisah deh, kami studio 1." ucap Febri.


"Oh, ya udah kami duluan." ucap Iqbal.


"Iya bal." ucap Tasya dan Febri.


"Duluan ya." ucapku.


"Iya ris." ucap Tasya dan Febri.


Aku dan Iqbal pun pergi. Dia menggenggam tanganku sambil membawa popcorn yang aku beli tadi. Bersamanya, kami pergi ke studio 3 karena film akan segera diputar. Aku dan Iqbal duduk di baris F no 9 dan 10. Posisi yang pas untuk menonton film horor.


"Ini popcorn kamu." ucap Iqbal sambil memberikan popcorn padaku.


"Mana minumannya?." tanya Iqbal.


"Hehe, lupa beli." ucapku.


"Aku beli dulu ya." ucapku.


"Gak usah, nanti kan ada juga yang jualan disini." ucapnya.


"Ya udah." ucapku.


"Aku kira kamu kemana, aku nungguin kamu disana." ucapnya.


"Aku gak kemana-mana, aku sama kamu." ucapku.


"Lain kali, jangan lama-lama." ucapnya.


"Mana bisa bal, kan yang beli banyak, aku kan bilang sama kamu aku beli popcorn, kalo aku belum datang, ya kamu susulin aku lah." ucapku.


"Aku udah lakuin itu, aku susul kamu, untungnya kamu ada disana, kalo gak, aku cari kamu dimana, handphone aku ada di tas kamu lagi, gimana aku hubungin kamu." ucapnya.


"Iya deh, aku gak gitu lagi, maaf sayang." ucapku. Iqbal tersenyum sambil mengelus rambutku.


"Eh, filmnya mau mulai." ucapku saat lampu ruangan bioskop dimatikan.


Aku sangat bersemangat nonton film Annaballe 2 ini. Aku deg-degan saat film sudah dimulai, sebenarnya aku takut nonton film horor, tapi aku ingin menontonnya. Aku pikir gak apalah aku nonton film horor karena ada Iqbal. Iqbal ku lihat dia santai saja, dia nonton sambil makan popcorn. Sementara aku, aku takut.


"Ahh." ucapku sambil menutup mata dengan kedua tanganku.


"Filmnya serem." ucapku. Dia tersenyum sambil makan popcorn.


"Namanya juga film horor." ucapnya.


"Aku takut." ucapku.


"Aku udah bilang nonton film romance aja, tapi kamu mau nonton ini, ya udah." ucapnya.


"Nikmati aja filmnya." ucapnya lagi sambil cengengesan. Aku cemberut menatap Iqbal.


"Kamu ini." ucapku. Dia tersenyum.


"Tutup matanya." ucapnya sambil menutup mataku dengan tangannya.


"Udah gak serem kan." ucapnya.


"Iyalah kamu tutup, aku gak bisa liat." ucapku.


"Hahaha." Dia ketawa.


"Ih, jangan ketawa, aku takut." ucapku.


"Sini, liat aku." ucapnya. Aku pun menatapnya. Dia tersenyum sambil mengelus wajahku.


"Kita ke sini mau nonton, bukan saling pandang." ucapku. Dia senyum.


"Aku boleh cium kamu." ucapnya. Aku terdiam menatapnya.


"Disini." ucapnya pelan sambil menyentuh bibirku. Seketika jantungku berdetak kencang mengalahkan rasa takut aku terhadap film horor.


"Boleh?." tanyanya.


Aku senyum sambil menolehkan kepalaku ke arah depan menatap layar. Darahku seperti mengalir cukup deras hingga terasa getaran pada diriku. Sedetik setelah aku membenarkan posisi dudukku. Lalu dengan senyum malu-malu. Aku mengangguk.


Iqbal tahu. Dia sudah mendapat jawabannya. Dan yang selanjutnya terjadi adalah hal yang sulit aku jelaskan.

__ADS_1


Ah Iqbal!


--oo--


__ADS_2