
Sungguh, aku tidak pernah berpikir bahwa aku benar-benar akan putus dari Iqbal. Kamu pasti tahu, aku tidak ingin pergi darinya. Aku sangat mencintainya. Aku sayang Iqbal. Tapi, apa yang terjadi Iqbal lah yang malah ingin putus denganku.
Sekarang aku sendiri dengan perasaan ini. Aku tidak bisa bertemu Dicky ataupun bersama Iqbal lagi. Rasanya duniaku hancur. Yang tadinya langitku berwarna pink cherry bloosom sekarang menjadi hitam kelabu. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang, selain menangisi semua ini.
Aku tahu, ini juga pasti berat buat Iqbal untuk putus dariku. Dia juga mencintaiku, dia juga sayang aku. Aku yakin, sebenarnya dia tidak ingin menyakitiku dengan perkataannya. Dia mungkin terpaksa dan punya alasan yang tidak bisa dia katakan padaku.
Aku pikir, aku masih bisa memperbaiki hubunganku dengan Iqbal. Tapi, tidak sekarang, lebih baik aku tidak bertemu dengan Iqbal dulu. Iqbal masih emosi, dia mungkin tidak bisa berpikir jernih karena hal itu. Tapi, aku sedih. Aku sedih harus pergi dari hidupnya.
***
Aku langsung pulang, setelah Iqbal mengatakan putus dariku. Walaupun jam pelajaran belum berakhir. Aku pulang sendiri dengan berjalan kaki sambil menangis. Aku bisa saja naik angkot, ojek atau taxi. Tapi, aku tidak mau. Aku masih berharap Iqbal akan datang padaku dan mengantarkanku pulang. Meskipun, pada akhirnya itu tidak terjadi.
Cukup jauh jarak dari sekolah ke rumahku. Aku lelah berjalan kaki. Aku pun berhenti dan duduk di salah satu warung makan pinggir jalan. Aku mengambil handphone dan menelepon Andi, sepupuku. Aku memintanya untuk menjemputku. Aku tahu dia pasti bolos bersama teman-temannya. Dia juga nakal sama seperti Iqbal. Tidak dengan Kikky dia anak baik.
Tak lama kemudian Andi datang dengan motornya. Aku langsung naik dan kami pun pergi.
"Kenapa kamu gak pulang sama Iqbal?." tanya Andi. Aku diam.
"Lagi berantem ya." ucap Andi. Aku tetap diam.
"Berantem itu biasa dalam hubungan ris, aku juga sering berantem sama pacar aku, ini aja dia lagi marah sama aku." ucap Andi.
"Kenapa?." tanyaku.
"Biasa, ketahuan jalan sama cewek lain." ucap Andi sambil cengengesan.
"Ihh, kamu ini." ucapku.
"Kamu masih aja kayak gitu, kamu itu punya banyak saudara cewek, coba bayangin, gimana adik kamu lia diselingkuhin sama pacarnya, lia pasti sedih, kamu juga pasti sedih kan liatnya." ucapku.
"Iya, aku tau, ini aku lagi usaha buat berubah." ucap Andi.
"Kamu kenapa sama Iqbal." tanya Andi.
"Iqbal berantem lagi." ucapku.
"Sama siapa?." tanya Andi.
"Dito." ucapku.
"Dito." ucap Andi mengulang perkataanku.
"Oh, Dito, teman sekelas kamu sama Iqbal itu kan, yang pakai kacamata." ucap Andi.
"Iya." ucapku.
"Bagus, emang pantes dia dipukuli, harusnya kamu dukung Iqbal ris." ucap Andi.
"Emang Dito ngelakuin apa sih?, kamu kenal Dito dari mana?." tanyaku.
"Iqbal gak cerita sama kamu." tanya Andi.
"Nggak, aku udah nanya, tapi dia gak mau cerita." ucapku.
"Tunggu Iqbal aja yang cerita, kalo aku yang cerita duluan, Iqbal pasti marah sama aku." ucap Andi.
__ADS_1
Aku bertambah bingung mendengar cerita Andi. Ada masalah apa antara Iqbal dan Dito. Dan Andi, dia tidak satu sekolah denganku. Bagaimana dia bisa kenal Dito. Ini benar-benar membuatku sakit kepala kalau memikirkannya.
Sesampainya dirumah. Aku langsung masuk. Sementara Andi langsung pergi lagi. Saat aku masuk ku lihat Ibu dan Nenek sedang ngobrol di ruang tamu. Aku segera bergegas berjalan menuju kamarku setelah aku mengucapkan salam.
"Rissa." panggil ibu menghentikan langkahku.
"Cepet sekali pulangnya sayang." ucap ibu.
"Iya bu, gurunya rapat." ucapku bohong.
"Oh."
"Iqbalnya gak disuruh masuk." ucap Nenek.
"Langsung pulang nek." ucapku bohong.
"Rissa ke kamar dulu ya." ucapku.
"Iya sayang." ucap Ibu.
Aku pun masuk ke kamar. Mengunci pintu dan duduk di tempat sambil melempar asal tas sekolahku. Aku duduk termenung memikirkan saat Iqbal mengatakan putus dariku. Aku masih tidak percaya aku dan Iqbal putus. Seharusnya aku tadi tidak bertanya mengenai alasan dia berantem sama Dito. Mungkin kami tidak akan berdebat dan pasti saat ini aku dan Iqbal masih pacaran.
***
Sepanjang hari, aku mengurung diriku di kamar. Aku menangis. Tidak tahu mengapa, aku hanya merasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Aku tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan apapun seperti biasanya. Aku bahkan tidak nafsu untuk makan. Ibu sudah berusaha menyuruhku untuk makan siang. Tapi, aku tidak mau. Aku hanya menangis tanpa bersuara sepanjang hari di dalam kamar.
Malamnya. Dari luar kamar, ku dengar Ibu memanggilku sambil mengetuk pintu. Dia memanggilku untuk makan malam bersama keluarga seperti biasanya. Tapi, aku tidak menjawabnya, aku tidak mau makan, aku tidak lapar. Ibuku terus memanggilku. Karena cemas dengan diriku yang tidak menjawabnya, Ibu pun memanggil ayah. Dengan cemas Ayah memanggil namaku sambil mengetuk pintuku dengan keras, dia bahkan ingin mendobrak pintuku. Tapi, aku tetap diam. Di luar tidak hanya suara Ayah yang memanggilku. Nenek, Tante Yuli dan Om Adam, Tante Maya dan Om Arman dan para sepupuku juga ikut memanggilku. Entah bagaimana akhirnya ayah berhasil membuka pintuku.
"Rissa." ucap Ibu sedetik setelah pintu terbuka. Dia segera bergegas menghampiriku yang sedang menangis di tempat tidur. Dia memelukku. Aku tidak henti-hentinya menangis dipelukannya.
"Ayo minum dulu." ucap nenek. Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau minum.
"Kamu kenapa nak, cerita." ucap ibuku.
Aku terus menangis. Bersamaan dengan penglihatanku yang kabur karena air mata. Ku lihat Andi bicara dengan Ayah. Mungkin Andi sudah tahu apa yang terjadi dan dia menceritakan semuanya pada Ayah.
"Yang lain keluar aja, biar aku yang bicara sama Rissa." ucap Ayah setelah selesai bicara dengan Andi. Semua orang pun keluar termasuk Ibu dan nenek. Dan aku mulai cemas dengan diriku. Aku takut Ayah marah, karena telah membuat satu rumah cemas hanya gara-gara aku putus dengan Iqbal.
Ayah berjalan mendekatiku setelah menutup pintu. Di duduk ditepi tempat tidur menghadapku. Aku berusaha tetap diam walaupun air mataku terus keluar.
"Kenapa Rissa nangis." tanya Ayah. Aku hanya menggelengkan kepalaku.
"Rissa mau cerita, atau ayah yang cerita." ucap Ayah. Seketika aku menangis dan langsung memeluk Ayah.
"Rissa sama Iqbal putus." ucapku sambil menangis. Ayah mengelus kepalaku.
"Iqbal marah sama Rissa, dia gak peduli lagi sama Rissa." ucapku.
"Putus itu biasa saat pacaran sayang, setiap hubungan juga pasti berakhir, gak karena berantem, perpisahan atau karena dia bukan jodoh kita." ucap Ayah sambil mengelus rambutku.
"Ayah tau Rissa sayang sama Iqbal, Iqbal juga sayang sama Rissa, mungkin Iqbal juga sedih sama kayak Rissa, tapi kan sayang kita gak boleh terus-terusan bersedih kek gini, apalagi sampe gak makan, nanti bisa sakit." ucap Ayah.
"Tapi ayah, Rissa sayang sama Iqbal, Rissa gak mau putus sama Iqbal." ucapku.
"Rissa kan cantik, pasti banyak cowok yang suka sama Rissa, ayah yakin Rissa pasti dapat cowok lain yang sayang sama Rissa." ucap Ayah. Aku hanya bisa menangis mendengar ucapan Ayah.
__ADS_1
"Udah ah, nangis terus, Rissa itu udah gede, bukan anak kecil lagi, Rissa kan masih punya pacar satu lagi." ucap Ayah. Aku diam sambil menoleh menatap ayah.
"Siapa?." tanyaku bingung.
"Ayah." ucap Ayah penuh bangga. Aku menangis sambil ketawa. Entah disebut apa aku sedih. Tapi, aku ketawa.
"Nangis atau lagi ketawa itu." ucap Ayah. Aku tetap seperti itu antara menangis dan tertawa.
"Tuh ibu dateng bawa makanan." ucap Ayah saat ibu datang membawa makan malamku.
"Ayo makan dulu." ucap Ibu.
"Biar ayah aja bu yang suapi pacar ayah yang cantik ini." ucap Ayah.
"Ini." ucap Ibu sambil memberikan makananku pada Ayah.
"Cantik kan bu, pacarnya ayah." ucap Ayah pada Ibu.
"Cantik." ucap Ibu. Aku memeluk ayah sambil menyembunyikan wajahku.
"Kasihan bu, pacarnya ayah lagi sedih, dia pengen dimanja." ucap Ayah. Ibu tersenyum.
"Hem, ibu jadi cemburu." ucap Ibu. Aku ketawa. Ayah dan ibu juga ketawa.
"Ya udah ibu kebelakang dulu." ucap Ibu.
"Iya bu." ucap Ayah. Ibu pun pergi dari kamar.
"Ayo sayang, makan dulu, abis itu tidur, besok kan mau sekolah." ucap Ayah.
"Besok Rissa boleh gak izin gak masuk sekolah, Rissa mau dirumah sama Ayah." ucapku. Ayah mengangguk dan tersenyum.
"Iya nak, makan dulu, aak." ucap Ayah sambil menyuapiku. Aku pun memakannya.
Setelah makan, Ayah memberiku beberapa obat. Kata Ayah itu vitamin. Tapi, aku tahu salah satu dari vitamin itu adalah obat tidur yang biasa ayah minum kalau lagi stres dengan pekerjaan kantornya. Mungkin menurut ayah aku harus meminum obat tidur, biar aku bisa tidur nyenyak dan melupakan sejenak kesedihanku.
"Pinter, sekarang pacarnya ayah tidur ya, udah malem." ucap Ayah sambil membantuku berbaring. Dia menyelimutiku dan tidak lupa mencium keningku.
"Selamat malam, pacarnya ayah, mimpi indah." ucap Ayah.
"Ayah." panggilku sebelum ayah pergi dari kamar.
"Iya sayang." ucap Ayah.
"Ayah jangan pergi, temeni Rissa tidur, Rissa gak mau sendiri." ucapku dengan mata yang mulai berat. Mungkin obat tidurnya mulai bekerja.
"Iya sayang." ucap Ayah. Ayah naik ke tempat tidur. Ayah berbaring di sebelahku sambil memelukku. Ayah mengelus kepalaku lembut sekali. Tapi, perasaanku sakit. Aku masih sedih karena hubunganku dengan Iqbal telah berakhir.
"Ayah, kenapa rasanya sakit." ucapku dengan mata terpejam.
"Disini sakit." ucapku sambil memegang dadaku dengan air mata yang tiba-tiba keluar dari mata. Ayah menghapus air mataku dan berkata.
"Ayah janji sayang, ayah janji rasa sakitnya akan hilang." ucap Ayah. Perlahan aku pun tertidur setelah keningku menerima ciuman hangat dari ayah.
--oo--
__ADS_1