Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Pernyataanku


__ADS_3

Besoknya, ayah datang ke sekolah bertemu kepala sekolah dan juga orang tua Dito. Ayah marah sekali saat tahu aku diperlakukan kasar seperti itu. Dirinya saja tidak pernah memukul putri kesayangannya, bagaimana bisa Ayah melepaskan pelakunya dengan mudah.


Hanya Ayah dan Iqbal yang masuk kedalam ruang kepala sekolah. Seharusnya aku juga ikut. Tapi, aku tidak mau ketemu setan Dito. Aku benci dengannya. Ayah dan Iqbal tidak memaksa kalau aku tidak mau. Jadi, aku duduk di kursi panjang samping ruang guru sambil berharap cemas Iqbal. Orang tua Dito menuntut Iqbal untuk dipecat dari sekolah juga, karena Iqbal sudah dua kali berantem dengan Dito. Orang tua Dito tidak terima anak mereka dipukulin, dan itu karena aku. Iqbal tidak salah, dia hanya membelaku kalian tahu itu kan.


Entah berapa lama aku duduk disana. Ku lihat Dito dan kedua orang tuanya keluar dari kantor guru. Mereka menatap ke arahku. Aku diam melihat ke arah lain. Mereka pun pergi melewati ku. Dalam hatiku bertanya-tanya, tak ingin kah Dito meminta maaf atas apa yang dia lakukan padaku. Setidaknya orang tua saja yang mewakili kalau dia tidak mau. Tak lama kemudian Ayah dan Iqbal akhirnya keluar. Mereka tersenyum padaku dan menghampiriku. Ayah duduk disebelah ku. Sementara Iqbal berdiri di depanku.


"Bagaimana?." ucapku.


"Iqbal dipecat dari sekolah." ucap Ayah. Aku diam menatap Iqbal.


"Orang tua Dito sama tidak warasnya dengan anaknya, mereka akan menutut pihak sekolah ke pengadilan, kalo Iqbal gak di keluarkan dari sekolah." ucap Ayah lagi. Tidak ada yang bisa aku katakan. Entah bagaimana jadinya aku di sekolah ini tanpa Iqbal kedepannya.


"Kenapa melihatku seperti itu." tanya Iqbal padaku. Aku diam sambil menggelengkan kepalaku. Aku menoleh ke ayah. Dia tersenyum sambil merangkul ku.


"Kamu sama Iqbal masih satu sekolah kok, sekelas lagi." ucap Ayah. Aku menoleh menatap ayah.


"Maksudnya." ucapku.


"Kamu juga ayah pindahkan sekolah." ucap Ayah. Aku tersenyum bahagia.


"Benarkah." ucapku menatap ayah dan juga Iqbal. Mereka berdua tersenyum.


"Iya, sekolah ini gak bagus, mending ayah pindahkan kamu dari sini, ayah gak mau kamu kenapa-napa disini, ada Iqbal aja kamu diganggu orang, apalagi gak ada, masih banyak sekolah yang lebih bagus." ucap Ayah. Aku tersenyum senang menatap Iqbal. Iqbal pun tersenyum padaku.


"Ya sudah, ayah mau ke kantor dulu, nanti om Arman yang urus keperluan kalian berdua pindah." ucap Ayah beranjak dari duduknya.


"Ayah hati-hati ya." ucapku. Aku mencium tangan ayah. Begitu juga Iqbal.


"Iqbal, jaga rissa, awas jangan dibikin nangis, ingat itu." ucap Ayah pada Iqbal.


"Siap om, aku bakal buat rissa bahagia terus." ucap Iqbal dengan tangannya yang seperti memberi hormat pada Ayah. Ayah tersenyum sambil menepuk pundak Iqbal.


"Ayah ke kantor dulu." ucap Ayah padaku. Dia mencium lembut kapalaku.


"Iya ayah." ucapku tersenyum padanya. Ayah pun kemudian pergi meninggalkan kami berdua.


"Ayo." ucap Iqbal tiba-tiba.


"Kemana?." ucapku bingung.


"Pergi, jalan-jalan." ucapnya.


"Tapi, kita kan harus masuk kelas." ucapku.


"Ngapain masuk kelas, kita kan juga bukan siswa disini lagi." ucapnya. Kupikir ada benar juga yang dikatakan Iqbal. Aku dan dia kan sudah bukan siswa-siswi disekolah itu mulai sekarang.


"Ayo." ucapku bersemangat. Kami segera mengambil tas dan pergi meninggalkan sekolah.


***


Di atas motor. Aku memeluk erat pinggang Iqbal membiarkan angin menyentuh rambutku. Begitu senang rasanya bisa jalan-jalan sama Iqbal seperti ini. Entah aku mau dibawa kemana oleh dirinya. Terserah Iqbal, aku ikut aja.

__ADS_1


"Mau makan es krim?." tanyanya.


"Mau." ucapku.


"Oke, yuk ke taman." ucapnya.


"Kok ke taman, katanya tadi mau makan es krim." ucapku.


"Iya, makan es krimnya di taman, kan disana ada yang jual es krim." ucapnya.


"Oo, terserah kamu dah." ucapku.


"Hahaha."


Kami berhenti di salah satu taman. Di sana ada danau dan juga beberapa wahan bermain anak-anak. Iqbal memintaku untuk menunggunya, dia lagi beli es krim. Aku duduk di kursi taman berwarna coklat, di bawah pohon rindang, menghadap ke arah danau. Saat itu masih jam sepuluh lewat, cuaca cukup panas di area terbuka seperti itu.


"Ini." ucap Iqbal sambil memberikanku es krim cone rasa favoritku, yaitu rasa strawberry.


"Terima kasih." ucapku sambil menerimanya. Iqbal duduk disebelah ku.


"Bagaimana rasanya bolos sekolah?." tanya Iqbal padaku.


"Hem, biasa aja, aku juga pernah bolos sebelumnya." ucapku sambil makan es krim.


"Kapan?." tanyanya.


"Pas kamu keluar kelas." ucapku. Iqbal kaget.


"Kok aku gak tau." ucapnya menatapku.


"Pas kamu keluar, aku juga keluar kelas, tapi aku gak ikuti kamu, aku ketempat lain, kalau kamu tau, kamu pasti nyuruh aku masuk ke kelas lagi, padahal kamu tau aku gak suka pelajaran itu." ucapku.


"Sudah berapa kali kamu bolos." ucapnya.


"Hem." ucapku sambil mikir.


"Mungkin setiap kali pelajaran guru itu, kamu juga tiap hari keluar kelas, masa aku gak boleh sekali-kali." ucapku. Iqbal diam, menggeleng-gelengkan kepalanya, menatapku.


"Hahaha." aku ketawa


"Kamu ini." ucapnya sambil tersenyum tipis. Aku cengengesan sambil makan es krim.


Begitu senang rasanya, kalau makan es krim bersama Iqbal. Apalagi di taman, ya walaupun cuacanya panas. Aku melihat beberapa orang lagi main sepeda. Tiba-tiba aku teringat dengan Melyn yang mengajakku reunian di puncak waktu itu. Aku sudah memberitahu ayah dan ibu soal itu. Kebetulan Ayah juga mau ke Jakarta mengurus pekerjaan kantornya. Jadi aku akan pergi bersama Ayah. Aku berpikir, ini saatnya aku memberitahu Iqbal bahwa aku mau ke Jakarta, merayakan tahun baru di sana. Sebelum dia sendiri memiliki rencana merayakan tahun baru seperti tahun-tahun sebelumnya.


"Bal, aku mau bicara serius sama kamu." ucapku.


"Jangan serius-serius ah, aku gak mau denger." ucapnya sambil ketawa.


"Ih Iqbal dengerin aku." ucapku.


"Mau bicara serius apa sih sayang, mau ngajak nikah." ucapnya.

__ADS_1


"Hahaha."


"Ish, bukan itu." ucapku.


"Terus." ucapnya. Aku diam sebentar, mengambil nafas.


"Aku mau ke Jakarta." ucapku. Ku lihat Iqbal sedikit bingung.


"Ke Jakarta?." ucapnya.


"Iya, aku mau reuni sekalian merayakan tahun baru disana sama teman-teman." ucapku.


"Jadi kamu gak ngerayain tahun baru kali ini sama aku." ucapnya. Aku menggelengkan kepala.


"Gak pa-apa, kita berdua bisa ngerayain tahun baru setelah kamu pulang aja, sama siapa kamu ke Jakarta." ucapnya.


"Ayah." ucapku. Iqbal hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan lanjut makan es krimnya lagi.


"Ada satu lagi bal." ucapku.


"Apa?." ucapnya.


"Aku sayang seseorang selain kamu." ucapku. Iqbal menoleh menatap padaku. Ku lihat dia sangat terkejut dengan pernyataan aku. Kemudian aku menceritakan pada Iqbal semua yang terjadi di Jakarta saat itu.


"Maafin aku bal." ucapku. Iqbal hanya diam menghadap ke danau.


"Bal, jangan diem, aku tau kamu kecewa, kamu boleh marahin aku, pukul aku kalau perlu, tapi jangan diem kayak gini." ucapku.


Iqbal langsung berdiri, dia berjalan pergi menjauh dariku. Aku memanggilnya. Tapi, dia tetap pergi. Aku terdiam, termenung dengan es krim yang mencair di tanganku. Begitu juga dengan air mataku yang jatuh membasahi pipiku. Iqbal marah padaku, dia kecewa. Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Aku menyesal menceritakan tentang Dicky padanya.


Cukup lama aku duduk menangis di sana. Aku tidak tahu sudah Jam berapa sekarang. Tiba-tiba seseorang datang memegang bahuku dari belakang. Aku merasa takut, ku pikir itu adalah orang yang berniat jahat padaku. Aku memberanikan diri menoleh ke balakang. Itu adalah Iqbal. Dia kembali. Aku berdiri dan langsung memeluknya. Begitu dia memelukku dengan sangat erat, seolah-olah dia tidak mau melepaskan aku.


"Kenapa kamu tinggalin aku disini." ucapku sambil menangis. Iqbal hanya diam. Itu membuat bertambah bersalah. Aku terus menangis di pelukan Iqbal sambil sesenggukan hingga bahkan batuk-batuk. Aku merasa kepalaku mulai pusing. Iqbal melepaskan pelukannya. Dia menyentuh wajahku.


"Kamu sakit." ucapnya. Aku menggelengkan kepala. Aku merasa sesuatu keluar dari hidungku, ku pikir itu ingus. Saat aku mengelapnya dengan tanganku, ternyata itu darah bukan ingus.


"Ris, kamu mimisan." ucapnya.


"Panas." lirihku. Aku mendongakkan kepalaku.


"Jangan-jangan, menunduk ris." ucapnya sambil menundukkan pelan kepalaku.


"Mana sapu tangan kamu." ucapnya. Aku diam. Iqbal membuka tasku, mengambil sapu tanganku. Dia memencet pelan hidungku dengan sapu tanganku. Darahnya tetap keluar bahkan bertambah banyak.


"Kita ke klinik ya." ucapnya padaku. Aku hanya mengangguk. Dia mengambil tasku dan menggendong tasku didepannya. lalu dia menggendongku di belakangnya. Segera dia membawaku ke motornya. Dengan cepat dia melajukan motornya menuju klinik terdekat.


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line : rafikaanggraini11

__ADS_1


Instagram : rafikaanggraini11


Thank you


__ADS_2