Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Kembang api


__ADS_3

Malam semakin larut dan jam sudah menunjukkan jam setengah 12. Udara malam yang dingin membuatku mengantuk. Tapi, tidak dengan yang lain. Dea, Andi, Kikky, Melyn, Anis, Dodit, dan Iqbal menikmati malam pergantian tahun baru dengan menyanyi bersama didepan api unggun. Sementara Dicky duduk di meja taman, sambil ngobrol dengan ayahku, Om Rahmad, tante Yanti, Om Damar, Om Anjas dan tante Tika. Sementara yang lain sudah pada tidur.


Mereka menyanyi bersama dengan alunan gitar dari Kikky.


Oh Tuhan kucinta dia


Kusayang dia, rindu dia, inginkan dia


Utuhkanlah rasa cinta di hatiku


Hanya padanya, untuk dia


Aku sudah mengantuk sekarang. Ingin rasanya aku masuk dan tidur dikasurku yang nyaman. Tapi, aku akan melewati pesta kembang api yang akan mulai sebentar lagi.


"Kamu mengantuk." tanya Iqbal. Aku mengangguk.


"Iya." ucapku. Iqbal melihat jam yang melingkar ditangannya.


"Ikut aku yuk ris." ucap Iqbal.


"Kemana?." tanya ku bingung.


"Kamu juga bakalan tau, yuk." ucap Iqbal.


"Om, izin ya mau bawa rissa jalan-jalan." ucap Iqbal dari jauh.


"Kemana?." tanya Ayah.


"Sekitar sini aja om." ucap Iqbal.


"Jangan jauh-jauh dan jangan lama." ucap Ayah.


"Siap om." ucap Iqbal.


"Yuk." ucap Iqbal padaku. Aku hanya mengangguk.


Dan membiarkan Iqbal membawaku entah kemana.


Iqbal membawaku keluar dari Villa. Dia berjalan ke arah pos satpam Villa dan bicara pada satpam itu, meminjam motornya.


"Kita mau kemana bal." ucapku.


"Ikut aja." ucap Iqbal.


"Yuk naik." ucapnya.


Dengan ragu, aku pun naik ke atas motor matic berwarna biru itu.


"Pegangan." ucapnya. Aku tidak bicara apa-apa dan memeluk erat pinggang Iqbal saja.


"Udah." ucapnya.


"Udah." ucapku.


"Berangkat." ucapnya.


Aku tidak tahu, kemana Iqbal membawaku pergi. Yang aku tahu, aku sudah berada jauh dari Villa. Tapi, Iqbal belum juga menepikan motornya.


Di sepanjang jalan, aku terus bertanya pada Iqbal. Namun, Iqbal ketawa kecil dan hanya mengatakan, pasti kamu akan senang.


Apa yang bikin aku senang bal!


Akhirnya Iqbal memberhentikan motornya. Entah apa nama tempatnya. Aku tidak bertanya pada Iqbal.


"Udah sampe." ucapku bingung.


"Iya." ucapnya.


Aku turun dari motor dan berjalan sedikit. Dari sana aku bisa melihat rumah-rumah penduduk yang bercahaya. Begitu indah dan juga tinggi.


"Wow." ucapku.


"Bagaimana, kamu senang." ucap Iqbal. Aku menoleh dan tersenyum padanya.


"Kayak di film-film." ucapku sambil ketawa kecil.


"Iya kayak drakor yang sering kamu tonton itu." ucap Iqbal.


"Hahaha."


"Sekarang aku mirip gak dengan, hem siapa itu namanya." ucap Iqbal sambil berusaha mengingat sesuatu.


"Lee min ho." ucap Iqbal.


"Hahaha."

__ADS_1


"Kamu gak mirip sama Lee Min Ho." ucapku.


"Masa ganteng kayak gini gak mirip sama dia." ucap Iqbal.


"Hem, iya sih ganteng, tapi kamu iqbal." ucapku.


"Hahaha."


Tiba-tiba suara kembang api mengejutkan ku dan Iqbal.


"Aw." teriak ku.


"Hahaha."


"Uh astaga." ucapku sambil ketawa kecil.


"Wow, cantik sekali." ucapku saat melihat kembang api menghiasi langit.


Aku dan Iqbal saling menatap dan tersenyum satu sama lain.


"Kalau ini seperti di film-film, kamu tau kan selanjutnya apa." ucap Iqbal. Aku tersenyum.


Jantung seketika berdetak kencang. Darahku seolah berdesir. Aku memejamkan mataku ketika Iqbal perlahan memajukan wajahnya.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah seperti yang terjadi di film-film.


Ah Iqbal!


Kamu membuatku seperti karakter dalam drakor. Aku merasa bahagia melakukannya bersamamu.


"Selamat tahun baru, sayang." ucap Iqbal. Aku tersenyum dan memeluknya.


"Selamat tahun baru, Iqbal." ucapku.


Namun disisi lain, aku juga memikirkan Dicky. Aku tidak tahu, apakah dia merayakan tahun baru dengan bahagia.


***


Aku dan Iqbal kembali ke Villa, jam setengah satu malam. Hanya sebentar kami pergi. Iqbal juga harus menepati janjinya pada ayahku, untuk jangan terlalu lama pergi ke luar. Tapi, walaupun begitu moment pergantian tahun bersama Iqbal sudah berhasil membuat aku terus senyum, setelah dari tempat itu. Aku sulit untuk melupakan apa yang terjadi disana.


Dengan tanganku digenggam oleh Iqbal. Dia membawaku menuju taman belakang, yang dimana teman-teman masih asyik berfoto-foto. Dan disana juga ada Dicky ikut bergabung.


"Kalian berdua dari mana." tanya Dea. Aku dan Iqbal saling menatap.


"Rahasia." ucapku dan Iqbal.


"Malam-malam pergi berdua, kembang api, wow, ris, kalian-." ucap Dea sambil menggerakan kedua tangannya membentuk moncong yang saling diadu.


Aku diam menatap Dea yang lagi mengejekku itu.


"Apaan sih yak." ucapku.


"Aku kasih tau ayah kamu." ucap Dea.


"O-mmm." ucap Dea terpotong, karena aku menutup mulutnya dengan tanganku.


"Jangan." ucapku.


Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan barusan membuat semua mata menatapku.


Aku tersenyum tidak enak, melepaskan Dea. Ku toleh Iqbal yang terlihat sedang menahan tawanya. Aku cemberut menatapnya.


"Hahaha."


"Ciee, ketahuan kan." ucap Dea.


"Hahaha."


"Udah yak, jangan buat mood rissa jelek." ucap Iqbal sambil merangkul diriku.


"Benar kan ris." ucap Iqbal.


Lalu Iqbal mencium pipi kiriku, membuat mata yang melihat terkejut, begitu pun dengan diriku. Aku malu. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku. Aku rasa wajahku memerah seperti tomat.


"Uh, so sweet." ucap Melyn.


"Ah, pengen." ucap Anis.


"Hahaha."


"Ayo sudah kita foto dulu." ucap Melyn.


"Iya ayo." ucap Andi mempersiapkan ponselnya untuk berselfie.


"Eh, mana Dicky." ucap Dodit.

__ADS_1


"Dicky." panggil Melyn sambil mencari sosoknya.


"Tidak ada, kemana dia." ucap Kikky.


"Ya udahlah, mungkin dia lelah, istirahat." ucap Iqbal.


Kenapa Dicky pergi, apa aku sudah membuatnya cemburu. Seharusnya aku bisa menjaga sikap tadi, Dicky tidak akan pergi. Entah kemana Dicky pergi, aku tidak tahu. Rasanya aku ingin pergi mencari Dicky. Tapi, Iqbal.


"Bal." ucapku.


"Hem, apa?." ucap Iqbal.


"Aku mau ke toilet." ucapku.


"Kamu mau aku temenin." ucap Iqbal. Aku menggelengkan kepala.


"Ya udah." ucap Iqbal. Aku tersenyum dan pergi. Namun, tujuan bukan ke toilet tapi Dicky.


Aku mencari Dicky di setiap sudut Villa. Tapi, aku masih tidak menemukannya. Entah dimana Dicky, dia membuat ku cemas kalau seperti ini. Bagaimana terjadi sesuatu padanya. Otakku terus berpikir buruk, mengingat kondisi Dicky yang sakit. Aku tetap berusaha untuk menemukan Dicky.


Saat aku melewati arah kolam renang. Tanpa sengaja aku melihatnya sedang duduk di kursi yang ada dipinggir kolam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Dicky." panggilku. Dicky menoleh menatap ke arahku.


"Kamu ngapain disini, nanti kesambet loh, ngapain tadi ngelamun." ucapku sambil berjalan mendekatinya.


"Gak pa-pa, aku cuma mau sendiri." ucap Dicky. Aku duduk dikursi sebelah Dicky.


"Kamu ngapain kesini?." tanya Dicky.


"Cari kamu." ucapku pelan. Dicky diam sambil memalingkan pandangannya.


"Aku kira kamu tidak peduli dengan kehadiranku." ucap Dicky.


"Maaf." ucapku.


"Kenapa kamu minta maaf." ucap Dicky.


"Aku salah, aku sudah buat kecewa." ucapku. Dicky hanya diam.


Tak lama kemudian, terdengar suara Iqbal memanggilku. Mungkin Iqbal mencariku. Aku sudah pergi terlalu lama.


Tiba-tiba Dicky menggenggam tanganku dan membawaku bersembunyi di balik tembok. Alhasil Iqbal tidak bisa melihatku.


"Maaf ris, aku hanya ingin waktu bicara sama kamu." ucap Dicky. Aku diam.


"Iya, gak pa-pa." ucapku pelan. Dicky merubah posisinya menghadapku sambil menatapku intens. Jantungku berdetak kencang, mungkin Dicky bisa merasakannya juga.


"Ris." ucap Dicky.


"Apa?." ucapku.


"Kamu suka aku kan." ucap Dicky. Aku diam sebentar. Lalu aku menganggukan kepala memberi Dicky jawaban.


"Lalu kenapa harus sama Iqbal." ucap Dicky. Aku diam, tidak tahu harus menjawab apa.


"Ris, jawab aku." ucap Dicky.


"Maaf, aku tidak ada jawaban ky." ucapku. Dicky diam menatapku. Lalu Dicky mengelus rambutku dan mengelus wajahku.


"Kamu masih menyimpannya." ucap Dicky. Maksud Dicky jepit rambut bulu ayam biru yang aku pakai.


"Ya, karena dari kamu." ucapku. Dicky tersenyum. Perlahan aku pun tersenyum pada Dicky.


"Boleh ku cium." ucap Dicky.


Seketika nafasku mulai terasa sesak. Aku menelan air liur berapa kali. Darahku seakan mendesir dan jantungku sepertinya akan lepas.


Ini salah!


Aku membenarkan posisi berdiriku sambil melepaskan tangan Dicky yang masih diwajahku.


"Aku sudah punya pacar." ucapku.


"Aku tau." ucap Dicky.


"Iqbal jago berantem, kalau dia tau, dia pasti akan memukulmu." ucapku.


"Biarin." ucap Dicky.


"Dicky." ucapku memohon. Dicky diam.


Dicky bukannya menjauh dari diriku. Dia malah benar-benar menciumiku. Dari ciuman sekilas dibibirku. Lalu selanjutnya adalah dimana aku tidak bisa menolak dirinya.


Sudah cukup Dicky! Jangan buat aku semakin terjebak dengan perasaan ini!

__ADS_1


--oo--


__ADS_2