
Aku tau, aku harus membuat batasan dengan diriku. Apalagi aku sudah bersama Iqbal. Namun, aku tetap tidak bisa melupakan Dicky, aku merindukannya. Aku pikir, perasaan ini akan hilang begitu saja. Dengan menghabiskan waktu bersama Iqbal, aku akan melupakan sosok Dicky dalam hidupku. Tapi aku salah, perasaan ini semakin dalam. Aku bahkan berkhayal kalau yang saat ini bersama ku adalah Dicky bukan Iqbal. Sikap Iqbal terkadang membuatku ingat pada sosoknya. Sekilas mereka mirip, tapi, aku sadar mereka adalah dua orang jauh sangat berbeda. Aku tidak tahu dengan perasaan ini. Entah bagaimana aku mengekspresikannya. Apa aku senang saat bersama Iqbal dan kemudian bersedih karena mengingat Dicky yang jauh disana.
Selama SMP hubunganku dengan Iqbal adem ayem. Ya, terkadang kami juga berantem seperti orang pacaran pada umumnya. Hal yang menjadi pemicu kami berantem adalah hobinya yang suka berantem. Dia masih saja mengoleksi kasus di sekolah. Entah berapa banyak, mungkin tak terhinggah sangking seringnya dia berkelahi di sekolah.
"Bal, kamu kenapa sih suka banget berantem, kamu tau aku cemas kalo liat kamu berantem apalagi smpe kamu berdarah." ucapku sambil memeluknya di motor.
"Siapa yang suka berantem ris, aku juga gak mau, tapi mereka yang selalu nantangi aku duluan." ucapnya.
"Kalo aku nantang kamu, kamu akan ngajak aku berantem juga." ucapku.
"Gak lah, kamu kan pacar aku." ucapnya.
"Kalo aku bukan pacar kamu." ucapku.
"Ya tergantung, kamu nantang aku apa." ucapnya.
"Aku nantangi kamu saling tonjok, yuk kita baku hantam." ucapku.
"Hahaha." Iqbal ketawa.
"Gimana kalo kita panco aja." ucapnya.
"Kok nawar." ucapku.
"Aku gak mau pukul kamu." ucapnya.
"Dulu, kamu pernah pukul aku." ucapku.
"Mana ada, aku gak pernah pukul kamu, yang ada kamu yang pukul aku." ucapnya. Aku senyum.
"Kenapa kamu gak balas aku." ucapku.
"Aku sayang kamu Ris, aku gak akan pernah pukul kamu." ucapnya. Aku tersenyum.
"Aku juga sayang kamu." ucapku sambil mengeratkan pelukanku.
"Oh ya bentar lagi kita mau SMA, kamu mau daftar SMA mana." tanyaku.
"Sebenarnya aku gak mau lanjut sekolah." ucapnya.
"Kok gitu." ucapku.
"Tapi gak jadi, aku ingat aku punya banyak musuh, gimana kalo kamu digangguin saat aku gak ada." ucapnya.
__ADS_1
"Kamu harus lanjut sekolah, sama aku." ucapku.
"Iya Ris." ucapnya.
"Eh, kerumah aku yuk, makan siang sama mama papa."
"Papa kamu udah pulang dari surabaya?."
"Iya, mau kan main kerumah." ucapnya.
"Mau." ucapku.
Sesampainya di rumah Iqbal. Kami langsung masuk kedalam. Ternyata tante Dewi sedang ngobrol sama Om Hendra, papanya Iqbal di ruang tamu.
"Assalamualikum." ucapku.
"Eeh Rissa, walaikumsalam." ucap tante Dewi. Aku tersenyum dan mencium tangan tante Dewi dan om Hendra. Begitu juga Iqbal.
"Aku ke kamar dulu ya." ucap Iqbal padaku. Aku mengangguk.
"Ayo duduk sini ris sama tante." ucap Tante Dewi.
"Gak terasa ya, dulu kamu kecil, segini, sekarang udah gede, makin cantik pula, pantas Iqbal suka sama kamu." ucap Om Hendra.
"Iya lah, dia calon menantu kita." ucap tante Dewi. Seketika aku ingat dengan Ibu Yanti, ibunya Dicky. Aku jadi rindu Ibu yanti.
"Emang Rissa mau nikah sama Iqbal." ucap Om Hendra.
"Ya mau lah, iya kan Ris." ucap Tante Dewi. Aku hanya senyum.
"Om mau tanya, kenapa kamu suka sama Iqbal." tanya Om Hendra. Disaat bersamaan Iqbal datang dan bergabung bersama kami. Aku diam sebentar sambil memikirkan sesuatu.
"Hem, Iqbal baik." ucapku.
"Anak nakal ini, kamu bilang baik, dia suka berantem, tawuran, om jadi kamu mending pilih cowok lain aja." ucap om Hendra.
"Hahaha."
"Papa ini, anaknya bukan didukung malah kayak gitu." ucap Iqbal.
"Hahaha."
"Papa bercanda bal." ucap Om Hendra.
__ADS_1
"Rissa udah makan?." tanya tante Dewi.
"Belum lah mah, buat apa aku bawa Rissa kesini, kalo dia udah makan, aku antar dia pulang lah." ucap Iqbal.
"Ya udah, mama siapi makanan dulu, tunggu sebentar." ucap tante beranjak pergi menuju dapur.
"Papa ke atas dulu, kalo udah makanannya udah siap panggil papa." ucap Om Hendra.
"Ok pah." ucap Iqbal.
Setelah om Hendra pergi. Iqbal duduk disebelahku.
"Ris, aku mau nanya." ucapnya.
"Nanya apa?." tanyaku.
"Apa kamu ngelakuin apa yang papa bicarakan tadi, kamu akan milih cowok lain." ucapnya.
"Kalo aku mau udah lama aku lakuin." ucapku. Aku tersenyum sambil menyandarkan kepalaku dipundak Iqbal.
Bersandar di pundak Iqbal adalah hal ternyaman untuk diriku. Rasanya, aku bisa menopang beban perasaan yang aku rasakan saat ini. Namun, aku belum bisa membagi perasaan ini bersamanya. Aku dan Iqbal tak akan bisa menahan perasaan ini bersama. Di tambah dengan perlakuan tante Dewi dan om Hendra yang sangat baik padaku. Aku tak sanggup mengatakan perasaan ini.
"Kenapa?, ada masalah, kok sedih?, cerita sama aku." ucap Iqbal sambil merangkul memelukku. Aku hanya diam.
"Apa tadi ada yang ganggu kamu, siapa orangnya." ucap Iqbal. Aku senyum.
"Jangan berantem terus, udah cukup bal." ucapku tersenyum.
"Iya Ris, tapi aku gak janji." ucapnya. Aku senyum.
***
Di bulan akhir menuju kelulusan. Aku mendaftarkan diri masuk ke SMA Negeri yang aku inginkan. Iqbal pun ikut bersamaku. Seperti sebelumnya aku memaksanya. Dia berencana tidak ingin lanjut sekolah. Entah bagaimana masa depannya kalau dia tidak sekolah. Aku bersikap seperti itu untuk kebaikan dirinya dan untuk masa depannya.
Hari demi hari pengumuman penerimaan segera mendekati. Di papan pengumuman nama Iqbal lah yang justru menjadi tujuan utamaku. Aku berharap Iqbal masuk ke SMA Negeri yang aku tuju. Doa ku terkabul Iqbal diterima, begitu juga aku. Aku senang, benar-benar senang. Sebenarnya Iqbal itu pintar hanya saja dia nakal dan suka buat ulah di sekolah. Tapi, dia bikin ulah karena ada yang memancingnya. Dia juga pernah mukul anak kelas lain, gara-gara aku disindir sama anak cowok. Dia bilang aku cantik tapi sayang bodoh punya pacar yang suka bikin onar, lebih baik pacaran sama dia. Dan alhasil, Iqbal yang juga tersinggung langsung memukulnya tanpa basa basi. Mungkin anak cowok itu belum pernah berhadapan langsung dengan Iqbal. Mereka yang tau Iqbal seperti apa, tidak akan berani pada Iqbal, apalagi coba-coba menyentuhku.
Tiba saat kelulusan SMP. Semua anak saling coret-coret seragam sekolah dengan cat semprot. Sebenarnya aku tak ingin ikut, ini hanya kelulusan SMP bukan SMA. Tapi, aku harus mengawasi Iqbal. Dia ikut coret-coret sama gengnya, yang beranggotakan 10 anak cowok dan semuanya juga pengoleksi kasus di sekolah. Aku khawatir dia mungkin akan melakukan hal yang merugikan dirinya sendiri. Maksudku, dia bilang mau coret-coret, tapi gak taunya dia dan gengnya mau tawuran dengan sekolah lain. itu sebabnya aku pun memutuskan ikut dengannya, awalnya dia menolak, tapi aku paksa dia.
Bukan hanya aku anak cewek yang ikut gabung bersama mereka. Beberapa anak cewek yang merupakan pacar-pacar teman Iqbal juga ikut gabung. Dan yang aku lihat mereka itu juga nakal, itu sebabnya Iqbal tidak pernah memperkenalkan ku ke pacar teman-temannya. Dia takut aku akan terpengaruh jika aku bergaul dengan mereka.
Waktu terus berputar. Sekarang aku sudah SMA. Tapi anehnya perasaanku tetap saja tak berubah. Aku masih merindukannya. Selalu. Aku tetap memikirkannya meskipun aku bersama Iqbal. Aku belum mengerti dengan arti mencintai. Hanya saja dengan perasaan ini aku merasa bimbang, bingung, dilema, sedih. Entah aku harus apa dengan perasaan ini.
Iqbal,
__ADS_1
Maaf! aku merindukan orang lain selain kamu. Hatiku merindukannya bal, aku rindu dia!
--oo--