
Pagi itu, langit Jakarta begitu cerah. Aku berada di taman yang tak jauh dari komplek. Aku ke sana bersama Iqbal yang lagi joging mengelilingi taman. Sementara aku hanya duduk sambil menikmati suasana taman yang lumayan ramai saat itu.
Sedikit membosankan kalau hanya duduk saja di taman. Jadi, aku memutuskan untuk berjalan-jalan saja. Sambil melihat-lihat dan mencari sesuatu yang bisa aku makan, aku menelepon Iqbal untuk memberi tahunya, aku tak ingin Iqbal cemas mencari aku.
"Bal, aku pergi cari makan ya." ucapku.
"Dimana?, jangan jauh-jauh." ucapnya.
"Iya bal, di sekitar taman aja kok." ucapku.
"Ya udah, nanti kamu sherlock aja, biar aku yang samperin." ucapnya.
"Iya." ucapku. Setelah itu, aku kembali menyusuri taman.
Di sana, ada banyak pedagang yang menjajakan berbagai makanan. Mataku tertuju pada pedagang ketoprak. Sudah lama sekali dari terakhir aku makan ketoprak bersama Ayah waktu aku masih kecil. Langsung saja, aku menghampiri penjual ketoprak itu.
"Pak, pesan satu ya." ucapku.
"Pedes gak neng?." tanya bapak penjual ketoprak.
"Gak pedes." ucapku.
"Iya neng, duduk dulu." ucap bapak penjual ketoprak.
Kemudian aku duduk di tempat yang sudah disediakan. Sambil nunggu, aku selalu menengok, setiap orang yang datang membeli ketoprak, barangkali itu Iqbal yang datang. Satu kali bukan, dua kali bukan, tiga kali pun juga bukan. Tetapi, aku mengenal orang yang datang keempat dan aku terkejut karena orang itu adalah Dicky.
"Dicky." ucapku sambil langsung berdiri.
Dia menengok dan nampaknya dia juga terkejut melihat diriku.
"Rissa." ucapnya. Lalu dia berjalan menghampiriku.
"Ngapain disini?." tanyanya.
"Beli ketoprak." ucapku.
"Sendiri?." tanyanya.
"Sama...," aku ingin menjawabnya bahwa aku menunggu pacarku. Tiba-tiba datang Iqbal.
"Dicky!, kenapa ada dia disini, ris." tanya Iqbal padaku. Aku diam.
"Jangan salah paham dulu bal, aku gak sengaja bertemu." ucap Dicky. Iqbal diam.
"Ini neng." ucap bapak penjual ketoprak, membawa sepiring ketoprak pesananku.
"Bisa bungkus aja pak, mau pulang soalnya." ucap Iqbal.
"Ya."
"Ayo ris, kita pulang." ucap Iqbal. Aku hanya diam memperhatikan Dicky dan Iqbal.
"Udah di bayar pak?." tanya Iqbal ke bapak jual ketoprak.
"Belum." kata bapak itu.
Lantas Iqbal pun membayar dan mengambil pesanan ketoprak punyaku yang sudah dibungkus. Setelah itu, dia langsung menarik tanganku, ingin segera membawaku pergi dari sana. Namun, belum sempat kami pergi, Dicky sudah menarik tanganku.
"Ris, aku mau bicara." kata Dicky.
Aku cuma diam menatap dirinya. Aku bingung harus apa. Disisi lain ada Iqbal yang harus aku jaga perasaannya. Tapi, Aku juga ingin bersama Dicky walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
"Ayo ris." ucap Iqbal.
Mau tidak mau, aku harus menurut pada Iqbal, karena dia adalah pacarku. Terpaksa aku melepaskan tangan Dicky dari tanganku. Kemudian aku pergi bersama Iqbal.
Maaf Dicky!
Aku pikir, Dicky nantinya akan pulang. Ternyata tidak, Dicky malah menyusul kami. Seketika aku menghentikan langkahku saat Dicky tiba-tiba menggenggam tanganku. Bersamaan dengan itu, Iqbal juga menghentikan langkahnya. Aku menengok melihat ke Dicky.
"Aku mohon ris, aku mau bicara sama kamu." ucap Dicky.
"Bicara apa?." kataku pelan.
"Udah, ayo ris, pulang." ucap Iqbal.
Aku diam, menunggu Dicky bicara. Iqbal lalu menarik tanganku.
"Rissa, pulang gak." ucap Iqbal.
"Iqbal, aku mohon sama kamu, aku boleh ajak rissa ketemu Ibuku." ucap Dicky. Iqbal diam. Aku juga diam.
"Sebentar aja bal." ucap Dicky. Iqbal tetap diam. Dicky ku lihat mendekati Iqbal, dia berbicara berbisik pada Iqbal. Entah apa yang Dicky katakan pada Iqbal.
Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Iqbal. Tapi, apapun yang dikatakan Iqbal. Aku akan mendengarkannya. Walaupun Iqbal akan melarangku ketemu sama Ibu Yanti, aku akan menurut.
"Ok, aku izini rissa ketemu ibu kamu, tapi jangan lama-lama, rissa harus dirumah sebelum jam makan siang." ucap Iqbal. Aku tersenyum.
Aku kaget! Bercampur rasa senang di hatiku!
"Iya bal." ucap Dicky dengan senang.
"Makasih bal." ucapku menggenggam tangan Iqbal.
"Terima kasih bal." ucap Dicky. Iqbal hanya mengangguk.
"Ayo ris." ucap Dicky ke aku. Aku mengangguk.
"Aku pergi ya bal." ucapku ke Iqbal. Dia mengangguk. Lalu aku dan Dicky pun pergi.
"Tunggu." ucap Iqbal. Aku dan Dicky menghentikan langkahku dan menengok ke arahnya.
"Dicky jaga rissa, awas kalo dia kenapa-napa." ucap Iqbal pada Dicky.
"Tenang aja bal, aku pasti jaga rissa." ucap Dicky.
"Ayo ris." ucap Dicky padaku. Aku tersenyum lalu aku melambaikan tangan pada Iqbal.
"Tunggu aku dirumah ya." ucapku. Iqbal tersenyum.
Aku tahu, sebenarnya Iqbal tak ingin aku pergi dengan Dicky. Dia mungkin merasa cemburu saat itu. Karena dia ingin aku merasa senang, dia rela merasa sakit di hatinya.
Jujur ada rasa tidak enak yang timbul pada diriku. Aku pergi meninggalkan Iqbal sendiri dan memilih bersama Dicky. Mungkin ini salah. Dan menurut kalian juga pasti salah. Aku harus membuat batasan dalam diriku. Tak seharusnya aku pergi sama Dicky yang bukan pacarku. Namun, bagaimana ini. Aku hanya ingin menemui Ibu Yanti, menepati janjiku. Sebelum aku kembali pulang ke rumah nenek.
***
Di rumah Dicky. Aku segera menemui Ibu Yanti di dapur. Dia lagi memotong sayur sambil duduk di kursi meja makan.
"Ibu." ucapku sambil memeluk Ibu Yanti dari belakang.
"Rissa." ucap Ibu Yanti kaget. Dia memegang tanganku.
"Sama siapa kesini?." tanya Ibu Yanti
__ADS_1
"Dicky." ucapku. Ibu Yanti tersenyum.
"Ibu rindu sama Rissa." ucapnya.
"Rissa juga rindu ibu." ucapku, memeluk Ibu Yanti lagi.
"Kata Dicky, kemarin ibu sakit." tanyaku.
"Cuma kecapekan aja sayang." ucap Ibu Yanti.
"Sekarang udah sehat, karena liat kamu." ucap Ibu Yanti lagi. Aku senyum.
"Aku bantuin ya bu." ucapku.
"Emang rissa bisa masak?." tanya Ibu Yanti.
"Sedikit." ucapku.
"Ya udah, kamu cuci sayur ini dulu." ucap Ibu Yanti. Aku mengangguk.
Aku membantu Ibu memasak. Tak ada kegiatan yang menyenangkan seperti memasak bersama Ibu Yanti. Ibu Yanti sudah seperti Ibuku sejak kecil. Kalian tahu kan, bagaimana dirinya memperlakukan aku dengan baik.
Mengenai Dicky aku tidak tahu kemana dirinya saat itu. Tapi aku yakin, dia pasti melihat kebersamaan aku dan Ibunya.
Setelah bantu Ibu Yanti. Aku pergi mencari Dicky. Ternyata dia ada di kamarnya. Dia lagi baca buku di meja belajarnya. Aku pun mendekatinya.
"Kamu disini." ucapku. Dicky hanya tersenyum padaku.
"Baca apa?." tanyaku.
"Komik." jawab Dicky.
"Kamu suka komik." ucapku. Dicky mengangguk.
"Iqbal juga suka komik, tapi dia gak pernah baca, dia malah suruh baca terus ceritain ke dia." ucapku.
"Kok gitu, dia gak bisa baca?." tanya Dicky.
"Bisa kok, emang dia kayak gitu dari kecil." ucapku.
"Oh."
Aku dan Dicky lalu terdiam. Tidak ada pembicaraan lagi diantara kami. Dicky melihat ke arahku. Matanya menatap lekat diriku. Jantungku berdegup kencang. Pikiranku kemana-mana, gugup rasanya. Di lihat seperti itu. Aku menarik nafas panjang, berusaha tetap tenang.
"Aku mau pulang." kataku ke Dicky.
"Kamu gak boleh pulang." ucapnya. Seketika aku terkejut.
"Tapi, kamu udah janji sama Iqbal." ucapku.
"Aku mau mengingkarinya." ucap Dicky. Aku terdiam.
Dicky kemudian berdiri. Dia menatapku dengan tatapan yang aku sendiri tidak mengerti. Tiba-tiba Dicky memelukku erat. Erat sekali. Aku terdiam terpaku seakan membisu.
Aku mengepal erat tanganku. Ingin rasanya aku memeluknya juga. Tapi, aku telah bertekad membatasi diriku dan menjaga perasaan Iqbal yang sudah bersamaku selama ini.
Dicky!
Jangan bersikap begini!
--ooo--
__ADS_1