
Pada tanggal 25 Januari 2011. Ayah dipindah tugaskan lagi kembali ke kota asal kami. Dan itu berarti aku akan kembali ke rumah nenek dan bertemu dengan keluarga besarku yang lain. Aku tidak tau harus bersikap seperti apa, perasaanku campur aduk. Aku senang, bisa bertemu dengan nenek dan keluargaku yang lain. Tapi aku juga sedih, aku harus meninggalkan kenangan manisku disini bersama Melyn, Anis dan Dodit. Terutama kenangan bersama orang yang aku rindu, yaitu Dicky. Jujur aku masih tidak bisa melupakannya. Walau kami disekolah seperti orang asing. Namun, aku yakin Dicky masih punya perasaan yang sama sepertiku.
Aku memberi tahu kepada Melyn, Anis dan juga Dodit bahwa aku akan pindah. Aku tidak tahu kapan aku kembali atau aku tidak akan pernah kembali ke Jakarta lagi. Mengingat kenangan bersama mereka semua, aku pasti akan sangat merindukan mereka.
"Kapan kamu akan pindah?." tanya Melyn saat dikelas.
"Secepatnya." ucapku.
"Kamu pindah sekolah juga?." ucap Melyn.
"Ya." ucapku.
"Kenapa kamu harus pindah sekolah juga, aku kan jadi kesepian." ucap Melyn.
"Anis dan Dodit kan ada." ucapku.
"Tapi gak seru kalau gak ada kamu." ucap Melyn.
"Kalau aku punya keluarga yang lain disini, aku pasti masih sekolah disini." ucapku lagi.
"Dicky?." ucap Melyn. Aku diam.
"Aku lagi males bahas Dicky." ucapku.
"Ris, aku ingin memberi tahu mu sesuatu." ucapnya.
"Apa?." ucapku penasaran.
"Beberapa hari lalu, aku gak sengaja ketemu Dicky di pos depan, dia nanya kabar kamu." ucapnya.
"Benarkah, terus apa lagi?." ucapku.
"Kata Dicky, kamu pacaran sama Dodit." ucapnya.
"Hah!." Aku kaget.
"Nggak, aku nggak pacaran sama Dodit, kamu tau kan, aku sukanya sama Dicky." ucapku.
"Iya Ris, aku juga sudah bilang sama Dicky begitu, tapi aku gak tau, dia percaya atau gak." ucapnya.
Aku tau sekarang, pantesan Dicky seperti itu. Tapi, ini sudah terlambat. Aku akan pergi. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan mengenai hal ini. Seharusnya dia bertanya padaku dan masalah ini tidak akan membuat kami berdua menjauh seperti ini.
"Kalau kamu ketemu dia, bilangin aku mau pindah." ucapku.
"Iya Ris." ucapnya.
Dicky,
Aku gak pacaran sama Dodit. Kamu tahu aku sama Dodit hanya teman. Siapa sih yang bilang begitu sama kamu, Dodit ya?. Kenapa kamu percaya sama Dodit sih.
***
Telah tiba saatnya hari dimana aku berangkat. Pergi meninggalkan rumah, teman-teman dan kenangan manis bersama Dicky. Aku simpan semua barang-barangku ke dalam sebuah kotak, termasuk jepit rambut bulu ayam yang di berikan oleh Dicky padaku waktu itu. Berat bagiku untuk pergi meninggalkan semua kenangan bersama dirinya. Tapi aku harus bagaimana?.
__ADS_1
"Sudah siap sayang." ucap Ibu.
"Udah bu." ucapku.
"Ayo, nanti kita ketinggalan pesawat." ucap Ibu. Aku mengangguk.
Aku dan Ibu pergi menghampiri ayah yang sudah siap menunggu kami di luar. Ternyata di luar sudah ada teman-teman dan para tentangga. Ibu dan ayah bersalaman dan berpamitan pada mereka semua.
"Hati-hati dijalan." ucap wak haji, tentangga sebelah rumahku.
"Ya bu." ucap ibuku. Wak haji memeluk ibuku dan begitu juga ibu.
"Semoga selamat sampai tujuan." ucap Wak haji.
"Iya, makasih semua, kami pamit ya." ucap ibuku.
"Hati-hati Ris, jangan lupain kami." ucap Melyn.
"Kapan-kapan main kesini, ya." ucap Anis.
"Sampai jumpa Ris." ucap Dodit. Aku hanya tersenyum.
"Ayo Rissa." panggil ibu yang sudah ada dalam mobil.
"Tunggu sebentar bu." ucapku sambil mencari sosok yang ingin aku lihat sebelum aku pergi.
"Dicky mana?." tanya Anis.
"Belum datang." ucap Dodit.
"Aku sudah bilang sama dia." ucap Dodit.
"Jangan-jangan kamu malah bertengkar dengan dia, itu sebabnya dia gak datang kesini." ucap Melyn.
"Ya ampun, aku sudah bilang sama Dicky, kenapa gak ada percaya sama aku." ucap Dodit.
"Rissa, ayo." panggil ayah.
"Bagaimana ini, Rissa mau pergi." ucap Melyn.
"Gak pa-pa, salam aja dariku buat dia ya." ucapku.
"Iya." ucap Melyn.
"Aku pergi dulu ya, jangan berantem." ucapku.
"Hati-hati Ris." ucap Melyn.
"Dah." ucapku.
"Dah." ucap mereka.
Aku ingin sekali melihat wajahnya sekali saja sebelum aku pergi. Aku hanya bisa tersenyum sambil masuk kedalam mobil. Saat mobil melaju pergi, terdengar suara memanggilku, aku kenal suara itu, suara yang sudah lama aku ingin dengar, aku menoleh dan melihat orang yang aku tunggu dari tadi. Dia datang. Tapi aku tidak bisa menghentikan mobil. Kami sudah terlambat ke bandara. Aku melambaikan tanganku sambil tersenyum. Hanya itu yang aku bisa lakukan.
__ADS_1
Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk melihat wajahmu. Aku senang. Dan maaf, aku tidak sempat mengucapkan selamat tinggal langsung padamu. Aku akan selalu merindukanmu.
***
Alhamdulillah, 1jam lebih akhirnya kami pun sampai di kota asalku dengan selamat. Di bandara, kami disambut oleh Nenek, Tante Yuli, Om Adam dan juga sepupuku Dea, Anggun, Lia, Kiki, Andi. Aku senang bisa bertemu mereka semua sekian lamanya.
"Nenek." ucapku sambil berlari mendekati nenek.
"Jangan lari sayang nanti jatuh." ucap Ibu.
"Hahaha." Aku ketawa sambil memeluk nenek.
"Nenek kangen sama Rissa." ucap Nenek memelukku erat.
"Rissa juga nek." ucapku.
Aku senang bisa kembali ke rumah nenek, apalagi kamar lamaku, suasananya masih terasa sama saat terakhir aku pergi. Aku juga senang bisa bermain lagi bersama teman-temanku yang ada disini.
Aku juga kembali ke sekolah lamaku dan aku bertemu kembali dengan anak nakal yang bernama Iqbal. Dia sedikit berubah dari terakhir aku bertemu dengannya, ya walaupun aku tau dia masih sering berkelahi dan menganggu anak-anak cewek disekolah. Sebenarnya dia itu tidak berulah kecuali, orang lain yang membuat masalah duluan dengannya.
"Apa kabar Ris?." sapa Iqbal saat bertemu di sekolah.
"Baik." ucapku.
"Kamu tidak tanya kabarku." tanyanya.
"Ngapain, aku tau kamu pasti sangat baik, ya kan." ucapku.
"Hahaha."
"Oh ya, mana oleh-olehnya." ucap Iqbal sambil menadahkan tangannya.
"Nah." ucapku tersenyum sambil menepuk tangannya. Dia tersenyum.
"Ayo, aku antar ke kelas." ucapnya. Aku tersenyum.
"Tumben kamu baik sama aku." ucapku sambil berjalan sejajar dengannya.
"Hahaha, anggap saja aku lagi kepentok pintu." ucapnya.
"Hahaha." aku ketawa.
"Kamu pasti senang kan, bisa gangguin anak cewek disini." ucapku sambil jalan sama Iqbal.
"Nggak ah." ucapnya.
"Awas ya, kalau aku dapet laporan anak cewek disini, aku pukul sekali ini, udah lama aku gak pukul kamu." ucapku.
"Hahaha, ampun deh." ucapnya.
"Hahaha." ucapku.
Aku memang senang kembali ke kota kelahiran ku. Berkumpul bersama keluarga besar dan teman-temanku. Tapi pikiranku tertinggal di jakarta. Terasa diriku masih berada disana.
__ADS_1
Dicky, aku rindu kamu!
--oo--