Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Sakit


__ADS_3

Esok harinya, aku datang ke sekolah lebih awal diantar oleh Ayah. Tanpa sengaja saat turun dari mobil, aku melihat Dicky yang juga baru sampai dengan sepedanya. Dia tersenyum sekilas dan kemudian berjalan pergi.


Dicky berubah. Aku merasa Dicky menghindariku. Terbukti saat aku ingin menemuinya, dia seperti hilang ditelan bumi. Aku tidak bisa bertemu dengannya, padahal dia ada disekolah. Hanya sesekali aku bisa melihatnya, dan itu pun dari jauh.


Kenapa? Padahal sebelumnya kita selalu ingin bertemu?


Aku nggak tau kamu kenapa? Apa aku salah? Kalau iya? Maaf


Hatiku, benar-benar menjadi sunyi. Dicky tidak pernah lagi menemuiku dikelas, makan bersama di kantin, menemaniku menunggu ayah jemput bahkan dia tidak pernah lagi datang ke taman belakang sekolah. Aku rindu ngobrol bersamanya, main sepeda. Aku ingin dia menemui sekali saja. Agar aku tahu alasannya menghindariku. Aku tidak mau seperti ini. Dicueki oleh orang yang kita sukai.


Aku merasa seperti kehilangan semuanya. Rasanya, seperti tidak ada lagi semangat dalam diriku. Pikiranku terus melayang ke Dicky. Otakku penuh dengan pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya. Sampai-sampai aku jatuh sakit. Jangan tanya kenapa aku sakit. Kata dokter aku kecapean. Tapi, aku rasa bukan karena itu. Aku disuruh istirahat tiga hari dirumah. Yang artinya aku tidak akan sekolah selama hari itu.


Dikamar, aku berbaring dengan rasa sunyiku. Aku sendirian. Tidak ada yang menemaniku. Aku pikir, Dicky akan datang menjenguk aku, saat dia mendapat berita kalau aku sedang sakit. Tapi tidak, kenyataannya dia tidak peduli lagi padaku.


"Bu." panggilku sambil menangis.


"Kenapa sayang." ucap Ibu sambil masuk ke kamarku. Dia berbaring dan memelukku erat.


"Kenapa?." tanya ibu mengelus lembut rambutku. Aku tidak menjawab, aku hanya menangis dipelukan ibu.


"Jangan nangis ibu disini." ucap ibuku, mencium keningku.


"Aduh, anak kesayangan ibu, kalo sakit rewelnya minta ampun." gerutuk ibu memeluk eratku.


"Cepet sembuh ya sayang." ucap ibu.


"Rissa." panggil ayah yang baru pulang kerja. Aku diam dengan tetap memeluk ibu


"Ayah punya hadiah buat Rissa." ucapnya. Aku menoleh dan melihat ayah.


"Tadahh." ucap ayah sambil menunjukan video game yang sangat aku sukai.


Aku senyum dan bangun. Aku melupakan sebentar kalau aku lagi sakit.


"Makasih Ayah." ucapku.


"Sama-sama sayang." ucap Ayah.


"Cepet sembuh, biar kita bisa main lagi." ucap Ayah mengelus kepalaku. Aku senyum memeluk ayah.


Aku senang, masih ada yang peduli padaku, yaitu ayah dan ibuku. Aku ingat Ibuku menelepon Ibunya Dicky untuk memberitahu kalau aku sedang sakit. Ibuku khawatir padaku yang terus menangis sambil memanggil ibu. Ibuku mungkin mengira yang aku maksud itu Tante Yanti. Jadi Ibu meneleponnya biar kondisi aku jadi lebih. Padahal sebenarnya aku ingin digedong seperti bayi sampai aku tertidur. Aku pikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk bicara dengan Dicky, walaupun aku tidak yakin kalau Dicky mau bicara denganku.


"Cepet sembuh ya sayang." ucap Ibu Dicky.


"Iya buk, makasih."


"Ibu, Dicky?." tanyaku pelan.


"Dicky keknya sudah tidur, mungkin dia kecapekan main futsal sore tadi."


"Rissa, mau bicara sama Dicky, ibu banguni dia ya."


"Gak usah bu, salam aja." ucapku sambil menangis. Aku sedih yang aku harapkan tidak terwujud, aku tidak bisa bicara dengan Dicky.


"Ehh, kenapa nangis?." tanya Ibu Dicky.


"Kangen, Rissa kangen sama ibu."


"Ibu juga kangen sama Rissa."


"Besok, insya Allah, ibu mampir ke rumah ya, jenguk Rissa." ucap Ibu Dicky.


"Rissa mau dibawain apa sayang?." tanya Ibu Dicky.


"Rissa mau ibu."


"Iya sayang, ibu besok kesana ya."


"Udah, Rissa jangan nangis, Rissa harus istirahat biar cepet sembuh ya."


"Ya bu."

__ADS_1


"Udah ya sayang, udah malam, Rissa tidur ya."


"Ya bu."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Ibuku yang dari tadi melihatku menangis saat teleponan dengan Tante Yanti. Dia langsung duduk disebelahku dan memelukku. Aku seketika menumpahkan semua air mataku di dekapannya.


"Ada apa sayang, cerita sama ibu." ucap Ibu sambil membelaiku.


"Ada masalah disekolah?." tanya Ibu lagi. Aku tidak menjawab.


***


Esok paginya. Aku hanya tiduran di kasur. Aku masih lemas untuk bergerak. Aku juga tidak nafsu makan. Ibuku berulang kali menyuapiku, tapi aku memuntahkannya. Ibuku sampai kesal denganku yang tidak mau makan.


"Ayo sayang, makan, bagaimana mau minum obatnya." ucap Ibuku.


"Gak enak bu." ucapku.


"Ya ibu tau, tapi Rissa harus makan sayang."


Terdengar suara bel berbunyi. Ibuku keluar dari kamarku menuju ruang tamu. Aku gak tahu siapa yang datang. Tak lama kemudian sesorang memanggil namaku. Aku seperti mengenal suara itu. Itu seperti suara tante Yanti. Dan ternyata benar itu Tante Yanti. Dia masuk kekamarku bersama ibu.


"Rissa." ucapnya sambil memelukku. Aku senyum.


"Bagaimana udah mendingan sayang." ucap Ibu Dicky sambil memegang keningku.


"Masih panas." ucap ibu Dicky.


"Gimana mau turun panasnya, dia nya gak mau makan." ucap Ibuku.


"Kenapa Rissa gak mau makan?." tanya Ibu Dicky.


"Gak enak, gak ada rasa, Rissa mual."


"Ya, makanya Rissa makan, biar bisa minum obat."


"Sini sayang, ibu suapi." ucap Ibu Dicky sambil makananku di atas nakas.


"Aak." ucap Ibu Dicky sambil menyodorkan sesendok makanan.


"Gak mau." ucapku.


"Sedikit aja, aak."


Aku pun memakannya. Aku mengunyah pelan. Aku ingin memuntahkan makanan itu, tapi aku gak enak sama tante Yanti. Sebelum makanan itu keluar dari mulutku aku langsung minum dan menelan makanan itu.


"Sudah cukup bu, Rissa kenyang." ucapku saat suapan ketiga.


"Sedikit lagi, ayo aakk."


"Udah."


"Ya, ya sudah."


"Bntar lagi minum obatnya, Rissa istirahat dulu." ucap Ibu Dicky, sambil membereskan alat makanku.


"Ibu." panggilku.


"Apa sayang." jawab ibu Dicky.


"Tolong kucirin Rissa bu, rambut Rissa berantakan udah kayak puspus." ucapku. Puspus itu nama kucing tetangaku.


"Sini, ibu kuncirin."


Tante Yanti pun mengunciri aku. Dia menyisir rambutku yang berantakan. Dia mengunciriku rambut seperti ekor kuda. Begitu senang rasanya, akhirnya aku bisa bertemu Ibu Dicky, tapi sayang sekali aku belum bisa bertemu dengan orang yang paling aku rindukan, Dicky.


***

__ADS_1


Siangnya, setelah Tante Yanti pulang. Sekitar jam 1, beberapa teman sekelasku datang menjenguk aku. Melyn, Anis dan Dodit juga ada. Ku temui mereka di ruang tamu, walau aku masih lemas.


Mereka membawa biskuit dan juga buah mangga. Aku yakin buah mangga itu pasti mereka ambil dari taman belakang sekolah.


Di ruang tamu, aku duduk disofa panjang. Melyn duduk disampingku. Dodit duduk di sofa lain. Tia berbagi kursi dengan Lala di kursi yang berbeda. Anis duduk dilantai bersama teman-temanku yang lain.


"Cepet sembuh Ris." ucap Dodit.


"Ya, makasih." ucapku sambil senyum sekilas.


"Udah mendingan?." tanya Melyn.


"Iya." ucapku.


"Anis, jangan dimakani terus biskuitnya, itukan untuk Rissa." ucap Tia, teman kelasku.


"Hehehe, laper." ucap Anis.


"Kamu ini malu-maluin aja." ucap Melyn.


"Gak pa-pa, makan sama-sama aja." ucapku.


"Diminum sirupnya." ucap Ibuku datang sambil membawa minuman..


"Tante tau aja aku haus." ucap Anis sambil minum.


"Makasih tante." ucap yang lainnya.


"Tante, ada nasi gak?." ucap Anis.


"Ih, emang gak tau malu ni anak." ucap Dodit.


"Hahaha."


"Ada, Anis laper?." tanya Ibu.


"Gak usah tante." ucap Melyn.


"Gak pa-pa sayang, nanti tante siapi makanan buat kalian semua." ucap Ibu.


"Makasih tante." ucap Anis senang. Ibu cuman tersenyum lalu pergi ke dapur.


Ibu menyiapkan makan siang untuk teman-temanku. Setelah itu, satu persatu teman-temanku pamit pulang. Begitu juga Melyn, Anis dan Dodit. Yang tadi suasana ramai sekarang menjadi sepi.


Aku kembali sunyi lagi. Aku duduk di kursi teras sambil memperhatikan rumah lama Dicky. Aku masih ingat jelas saat pertama aku melihatnya. Dia melambaikan tanganya sambil tersenyum padaku.


Dari jauh ku lihat seseorang sedang berdiri didepan pagarku. Orang itu mengucapkan salam. Aku menjawab salam sambil berjalan mendekatinya.


Betapa senangnya aku saat aku tau itu Dicky. Dia menemuiku. Aku tersenyum padanya. Begitu juga dia, tapi dia tidak berbicara apa-apa.


"Masuk." ucapku.


"Aku cuman sebentar." ucapnya. Dia memberikanku selembar kertas yang dia lipat.


"Apa?." tanyaku.


"Baca aja, aku pulang ya, ada acara." ucapnya. Aku mengangguk.


"Salam buat ayah ibu." ucapnya.


"Assalamualaikum." ucapnya.


"Walaikumsalam." ucapku.


Aku langsung masuk ke kamar dan membaca surat itu.


Cepet sembuh Rissa. Maaf sebelumnya aku gak bisa nepati janji aku, bukannya aku gak mau, tapi hanya saja aku tidak bisa. Maaf


Aku sayang kamu


Dicky

__ADS_1


Setelah kubaca, aku jadi sedih. Aku menangis. Apa ini artinya Dicky tidak mau lagi berteman denganku. Tapi apa kesalahanku sampai dia bersikap seperti itu. Aku tidak mengerti.


--oo--


__ADS_2