
Esok hari, sekitar jam 10 pagi. Aku bersiap-siap untuk pergi reunian ke salah satu gedung serbaguna yang ada di jakarta. Antara senang dan gugup yang aku rasakan. Bagaimana teman-temanku melihat diriku nanti. Dicky?, Kemungkinan besar aku akan bertemu dia disana. Bagaimana respon dia melihatku. Ya sudahlah, tidak usah dipikirin, lebih baik aku cepat karena Melyn sudah menungguku.
"Rissa, ayo nanti telat, anis sama dodit udah pergi duluan." ucap Melyn sambil berjalan mendekati kamarku.
"Ya, udah nih." ucapku sambil merapikan poni rambutku. Ku lihat Melyn berdiri di belakangku dari pantulan cermin.
"Wah, cantik banget kamu ris." ucap Melyn. Aku tersenyum dan berbalik menghadapnya.
"Makasih, kamu juga cantik." ucapku.
"Iya dong." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Yuk pergi." ucapku. Melyn mengangguk.
Aku dan Melyn berjalan mendekati ayah yang lagi santai di ruang tamu.
"Ayah." ucapku memanggil ayah yang sibuk memainkan ponselnya. Ayah menoleh dan melihatku.
"Wah, cantiknya anak ayah." ucap Ayah. Aku senyum pada ayah.
"Pergi dulu yah." ucapku.
"Iya nak." ucap Ayah. Aku dan Melyn mencium tangan ayah.
"Eh, kalian naik apa perginya." tanya Ayah.
"Naik motor om." ucap Melyn.
"Kok naik motor, udah cantik-cantik, nanti gaunnya masuk ke ban." ucap Ayah. Aku dan Melyn diam saling menatap bingung.
"Ayah anter kalian berdua." ucap Ayah.
"Gak ngerepotin om." ucap Melyn.
"Gaklah, ayo." ucap Ayah beranjak dari duduknya.
Aku dan Melyn pun pergi bersama ayah dengan mobil. Di mobil, aku, ayah dan Melyn saling ngobrol dan bercanda mengenai masa kecil kami. Itu sangat lucu, ayah bahkan ingat kejadian aku, Melyn dan Dodit yang dikejar angsa waktu itu.
"Hahaha."
"Si dodit yang ngambil anaknya, ya dikejar kita bertiga." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Bagaimana rencana tahun baruan kalian di puncak." tanya Ayah.
"Hem, kami udah pesen kamar villa buat kami berempat." ucap Melyn.
"Ayah sebenarnya udah buat acara tahun baruan di puncak sama orang tua kalian, ayah pikir daripada kalian liburan kesana gak ada yang ngawasin, takutnya kalian kenapa-napa, jadi ayah ajak mereka buat gabung sama kalian." ucap Ayah.
"Itu malah bagus om, aku juga lagi mikirin soal itu om, aku juga rada-rada takut ke sana." ucap Melyn.
"Iya kan, rissa juga om larang, tapi dianya mau liburan sama kalian, terpaksa deh." ucap Ayah.
"Jadi, kita semua liburan bareng ke puncak ya ayah." ucapku. Ayah mengangguk.
"Lusa kita semua berangkat ke puncak, ayah sudah ngomong sama mama papa Melyn, mama papa Anis, Dodit juga, ayah juga sudah undang orang tua Dicky." ucap Ayah.
"Hem, cie, sekalian lamaran ya om." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Apaan sih mel." ucapku malu. Ayah hanya senyum sambil nyetir.
"Ibu besok ke sini." ucap Ayah tiba-tiba.
"Serius." ucapku. Ayah mengangguk.
"Iya, sama Andi, Kikky, Dea, hem-." ucap Ayah berhenti bicara. Ayah menoleh melihat kearah ku.
"Iqbal juga ikut." ucap Ayah. Aku kaget sekaligus senang, sangat.
"Benarkah, ayah serius kan, ayah gak bohong." ucapku.
"Serius, ngapain ayah bohong." ucap Ayah.
"Wah, kayaknya tahun baru kali ini lebih menyenangkan dari sebelumnya." ucap Melyn.
"Pastinya dong, sekalian temu kangen, kan udah lama gak ketemu." ucap Ayah.
"Iya om." ucap Melyn sambil ketawa.
***
Akhirnya kami sampai juga di lokasi acara reunian SD ku. Aku dan Melyn langsung turun setelah berpamitan dengan ayah didalam mobil.
Begitu ramai disana. Aku tidak tahu lagi cara menjelaskannya pada kalian. Rasanya begitu menakjubkan untuk bisa kumpul lagi dengan teman-teman semasa SD. Satu sama lain pasti merasakan hal sama. Dan mungkin juga di antara kami semua pasti ada yang lupa. Seharusnya, aku bisa banyak ngobrol atau mencari teman-temanku lewat sosmed, sehingga aku tidak merasa rindu seperti ini. Apalagi rasa rinduku kepada dirinya yang sekarang lagi memandangiku dari jauh. Iya, Dicky, dia melihat ke arahku.
__ADS_1
Jantungku mulai berdetak tak karuan, saat dia berjalan pelan menghampiriku. Perasaan itu masih ada dan belum berubah. Jantungku berdegup kencang, napas ku seakan memburu. Aku harus bagaimana sekarang, pergi kah atau diam saja sambil melihatnya berdiri di depanku. Hah, aku tidak tahu cara menceritakan soal itu.
"Hai." katanya. Aku diam sebentar menatap dirinya. Mungkin jika Melyn tidak menyenggol ku yang awal cuma sebentar akan jadi lama menatapnya.
"Hai." ucapku. Aku dan Dicky diam saling menatap satu sama lain.
"Hey, kok diam." ucap Melyn menyadarkan ku.
"Cuma say hai aja." ucap Melyn. Dicky tertawa kecil sementara aku senyum menahan tawa.
"Udah lama banget mel, ternyata rissa tambah cantik." ucapnya. Aku kaget sekaligus merasa malu, mungkin wajahku sekarang sudah memerah seperti udang rebus.
"Hahaha." Melyn ketawa.
"Iya lah." ucap Melyn.
"Apa kabar ris?." tanyanya.
"Baik, kamu?." ucapku. Dia senyum.
"Alhamdulillah, baik." ucapnya.
"Kamu gak nanya kabar aku ky." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Apa kabar mel." ucapnya.
"Hahaha."
"Baik ky." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Kami kemarin ke rumah kamu, tapi kamu gak ada, kami cuma ketemu ibu kamu." ucap Melyn.
"Iya, ibu cerita, maaf ya aku gak ada di rumah kemarin." ucapnya. Aku dan Melyn senyum padanya.
"Gak pa-pa, kami juga gak sengaja lewat, iya kan Melyn." ucapku sambil melirik kearah Melyn.
"Iya, haha." ucap Melyn.
"Eh, yuk kita cari tempat duduk, pegel nih." ucap Melyn.
"Oh ya, ayo." ucapnya.
Kami bertiga pun duduk di barisan tengah. Disana juga ada Anis dan Dodit. Aku duduk diantara mereka. Tepatnya, disebelah Dicky. Berada disebelah Dicky. Aku benar-benar tidak bisa bergerak. Maksudku, aku merasa canggung. Apa mungkin karena aku dan dia baru bertemu kembali setelah sekian lama. Tapi, yang aku lihat darinya biasa saja.
"Gak pa-pa." ucapku sambil menggelengkan kepala. Dicky senyum menatapku.
Acara reuni diisi oleh berbagai kegiatan, terutama foto-foto. Diam-diam aku mencuri pandang dan melihat Dicky yang sedang tersenyum. Begitu tampan, namun tetap lebih tampan si Iqbal, menurutku.
Setelah acara selesai. Aku, Melyn, Anis, Dodit dan Dicky berkumpul di parkiran siap-siap mau pulang. Aku menunggu ayah, katanya ayah mau jemput. Tapi, ayah belum datang juga.
"Yuk nis, kita pulang." ucap Dodit pada Anis.
"Hey, barengan aja naik mobil." ucapku.
"Ris, biarin atuh, jangan ganggu orang pacaran." ucap Melyn.
"Apa?, Dodit sama Anis pacaran." ucapku kaget.
"Serius." ucapku.
"Iya." ucap Melyn.
"Kok kamu baru bilang sih." ucapku pada Melyn.
"Hehe, aku pikir kamu udah tau ris." ucap Melyn.
"Kamu ini kayak mana mel, masa rissa gak kamu kasih tau." ucap Dodit.
"Iya si Melyn ini." ucap Anis.
"Sorry." ucap Melyn.
"Selamat ya buat kalian berdua, udah berapa lama kalian pacaran." ucapku.
"Hem, 3 tahun kayaknya." ucap Anis.
"Wah udah lama dong, bagi-bagi apa PJ apa, es krim aja gak apalah." ucapku bercanda.
"Hahaha."
"Aku aja yang selalu sama mereka gak dikasih PJ." ucap Melyn.
"Hahaha."
"Sama, aku yang comblangi mereka juga gak dikasih." ucap Dicky.
__ADS_1
"Hahaha."
"Hah dicomblangi, di jodohin gitu." ucapku.
"Iya." ucap Melyn.
"Kok bisa, bagaimana?, ceritain dong." ucapku.
"Mel." ucap Anis pada Melyn.
"Iya-ya, nanti aku ceritain." ucap Melyn. Aku senyum.
"Ya udah, kita duluan ya." ucap Anis.
"Naik motor?." ucap Dicky.
"Ya, biar di peluk." ucap Dodit.
"Hahaha."
"Dah."
Anis dan Dodit pun pergi. Hanya ada aku dan Melyn yang lagi nunggu Ayah jemput.
"Barengan aku aja ya, aku bawa mobil kok." ucap Dicky.
"Hem, gak papa bentar lagi kayaknya ayah datang." ucapku.
"Coba kamu tanya ayah dia dimana sekarang." ucap Melyn padaku.
Aku mencoba menghubungi ayah, namun tidak di jawab Ayah. Aku pun mengirimkan ayah chat, kemudian aku mendapat balasan chat kalau ayah meeting di kantor.
"Ayah di kantor, lagi meeting." ucapku.
"Ya udah bareng aku." ucap Dicky.
"Mel." ucapku pada Melyn, memastikan Melyn setuju atau tidak.
"Hem, kayaknya ada barang aku yang tinggal deh, kalian dulu aja." ucap Melyn.
"Eh, mel, kamu naik apa nanti pulangnya." ucapku.
"Gampang, kalian duluan aja ya, dah." ucap Melyn sambil berlari meninggalkan aku dan Dicky.
"Hey melyn." teriakku. Namun Melyn tidak menghiraukan ku.
"Yuk ris." ucap Dicky.
"Hem, iya." ucapku pelan.
Aku rasa Melyn sengaja melakukan ini padaku. Dia sengaja membuat aku sama Dicky biar dekat seperti dulu. Ya, tapi kan tidak begini caranya.
Alhasil, di dalam mobil, aku hanya duduk diam melihat-lihat pemandangan jalan kota Jakarta. Canggung rasanya. Mau ngobrol juga apa yang mau di obrolin. Dicky juga dari tadi juga hanya diam fokus nyetir.
"Ris." ucapnya tiba-tiba.
"Iya." ucapku.
"Bagaimana liburan di puncak nanti." ucapnya.
"Hem, gak tau, ayah udah cerita tadi, tapi aku tetap gak tau." ucapku. Dia ketawa.
"Ya udah kalo gak tau." ucapnya.
"Mau jalan-jalan?." tanyanya. Aku kaget.
"Jalan-jalan?." ucapku.
"Iya."
"Tapi, aku belum izin sama ayah." ucapku.
"Nanti aku yang minta izin, tapi kamunya mau gak, kalo gak aku anterin kamu pulang." ucapnya. Aku diam sebentar.
"Ya udah aku mau." ucapku. Kulihat dia tersenyum.
"Emang kita mau jalan kemana?." tanyaku.
"Ada deh." ucapnya senyum sambil menoleh ke arahku sebentar.
Sejujurnya dalam hati aku sangat senang. Aku senang bisa jalan-jalan lagi sama Dicky setelah sekian lama. Ya walaupun tidak sama seperti dulu. Maksudku, dulu kami berdua jalan-jalan dengan sepeda sekarang dengan mobil. Tapi, tidak apa-apa yang penting menyenangkan.
--oo--
Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.
Line : rafikaanggraini11
Instagram : rafikaanggraini11
__ADS_1
Thank you