Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Sunyiku


__ADS_3

"Jangan menangis, ada aku yang akan memelukmu."


-Dicky Pranata-


_____________________________________________


Seseorang membangunkanku. Dia memanggil namaku pelan. Aku pikir itu adalah Iqbal. Ternyata aku salah. Bukan Iqbal tapi Kikky.


"Iqbal." ucapku saat mataku terbuka.


"Iky." ucap Kikky padaku.


Aku diam melihat Kikky yang berjongkok menyamai posisi duduk aku di dalam mobil. Lalu seketika aku menangis sambil memeluk Kikky.


"Ada apa ris?." tanya Kikky.


"Iqbal." ucapku sambil sesegukan.


"Iqbal?." ucap Kikky mengulangi.


"Ada di dalam." ucap Kikky.


"Iqbal marah sama aku." ucapku.


"Kenapa?." tanya Kikky bingung.


Tanpa basa basi, aku menceritakan semua pada Kikky. Dia cukup terkejut mendengarnya. Terlihat dari mata Kikky yang melirik ke arah Dicky yang ternyata sudah dari tadi berdiri di sebelahnya. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Kikky tentangku. Kikky saudaraku, tidak mungkin dia memikirkan hal yang tidak-tidak mengenaiku.


"Sudah jangan nangis." ucap Kikky sambil menghapus air mataku.


"Nanti aku bantu bicara sama Iqbal ya." ucap Kikky. Aku hanya menganggukkan kepalaku.


"Ya udah kita masuk ya, istirahat." ucap Kikky.


Sambil masih menangis, aku berusaha berdiri dari kursi mobil dengan bantuan Kikky. Kakiku terasa lemas dan kepalaku juga terasa pusing. Aku tidak tahu aku kenapa. Apa mungkin ini efek aku sudah berlebihan menangis. Namun, entahlah.


Saat aku keluar dari mobil dan tak sanggup untuk berdiri. Untung ada Kikky yang sigap menahan tubuhku agar tidak terjatuh.


"Tuh kan, udah, jangan nangis lagi." ucap Kikky.


"Mau aku gendong." ucap Kikky.


"Gak usah." ucapku singkat.


Kikky pun hanya membopongku, membantu tubuhku untuk berdiri yang benar.


"Ku bantu." ucap Dicky saat melihat Kikky yang ingin menutup pintu mobilnya.


"Kamu pulang aja, udah malem." ucap Kikky pada Dicky.


"Rissa?." ucap Dicky.


"Ada aku, ada orang tuanya, ada saudaranya, ada pacarnya, kamu gak usah khawatir." ucap Kikky.


"Ya udah kalau begitu." ucap Dicky. Kikky diam. Begitu juga aku.


"Aku pulang ya ris." ucap Dicky padaku. Aku hanya mengangguk.


"Hati-hati dijalan, terima kasih sudah antar rissa." ucap Kikky. Dicky mengangguk dan masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh." ucap Kikky.


Setelah melihat mobil Dicky pergi. Aku dan Kikky masuk ke dalam rumah. Kebetulan di ruang tamu tidak ada orang. Langsung saja Kikky membawaku ke kamar ku yang ternyata sudah ada Dea yang lagi asyik tiduran sambil memainkan ponselnya.


"Yak, bantu dong." ucap Kikky.


"Rissa, kenapa?." ucap Dea cemas sambil segera menghampiri kami.


"Sakit." jawab asal Kikky.


"Hah."


Dea pun juga membantuku berjalan ke tempat tidur. Perlahan aku duduk bersandar di tempat tidurku. Kikky membantu melepaskan sepatuku. Sementara Dea hanya berdiri bingung memperhatikanku.


"Aku kasih tau tante tiya ya." ucap Dea.


"Gak usah." ucapku.


"Kenapa?." tanya Dea. Aku diam.


"Gak usah yak, kamu ambil makanan aja buat rissa, tapi jangan ketahuan, bisa." ucap Kikky.


"Ada apa ini?, bisa cerita, aku bingung." ucap Dea.


"Ambil dulu makanan, nanti aku ceritain." ucap Kikky.


"Ya udah, aku ambilkan dulu." ucap Dea.


Dea pun pergi.


"Tapi, jangan sampai ibu sam ayah tau ya." ucapku.


"Iya ris." ucap Kikky.


Tak lama kemudian, Dea kembali dengan membawa nampan berisi makanan dan segelas air putih.


"Sini yak." ucap Kikky. Dea pun memberikan nampan itu pada Kikky.


"Vitamin kamu simpan dimana ris." tanya Kikky.


"Di ibu." ucapku.


"Ini, aku tadi ketemu tante tiya di dapur, dia kasih." ucap Dea.


"Oh baguslah, kamu gak bilang apa-apa kan, sama tante tiya?." tanya Kikky.


"Gak, tante tiya juga gak nanya, dia cuman nitip itu." ucap Dea.


"Ohh." ucap Kikky.


"Jadi, apa yang terjadi sebenarnya?." tanya Dea.


"Ceritain aku ingin tau." ucap Dea.


Kikky pun menceritakan apa yang sudah aku ceritakan padanya. Respon Dea juga sama seperti Kikky tadi. Dia cukup terkejut dengan apa yang sudah Dea dengar.


"Serius ris, kamu sama Dicky, hm." ucap Dea sambil mengerakkan kedua tangannya membentuk seperti moncong yang saling beradu.

__ADS_1


Aku menunduk sambil menganggukkan kepalaku.


"Dan Iqbal tau." ucap Dea.


"Iya." ucapku pelan.


"Pantes, Iqbal di mobil diam aja, kayak lesu gitu, aku kira dia seperti itu karena gak ada kamu, ternyata ada hal lain." ucap Dea.


"Terus sekarang aku harus kayak mana?." tanyaku pada Dea dan Kikky. Dea dan Kikky diam saling menatap satu sama lain.


"Ya udah, makan dulu ris." ucap Kikky sambil menyodorkan sesendok nasi padaku.


"Iya ris, makan dulu, nanti kita bantuin mikirin cara buat baikkan lagi sama Iqbal." ucap Dea.


"Iqbal udah makan?." tanyaku sebelum membuka mulut.


"Udah tadi bareng kami." ucap Dea.


"Andi mana?." tanyaku.


"Ada, nanti aku telpon, suruh dia kesini." ucap Dea.


"Aa."


Perlahan aku mengunyah makananku yang disuapi oleh Kikky dengan pelan. Otakku tak henti-hentinya berpikir. Aku tidak tahu harus seperti apa selain memikirkan cara untuk aku berbaikan dengan Iqbal.


"Ris, ditelan makanannya, jangan melamun, gak baik." ucap Kikky.


"Kayak mana iky." ucapku.


"Iya nanti ris." ucap Kikky.


"Kamu kenapa sih ris, selalu nangis soal Iqbal?." tanya Dea. Aku diam. Kikky juga.


"Buat apa kamu punya pacar, tapi kerjaannya buat kamu nangis, mending gak usah punya pacar, kita itu masih punya Kikky sama Andi ris, mereka bisa jaga kita." ucap Dea.


Yang dikatakan Dea ada benarnya juga. Tapi, Andi dan Kikky punya kehidupan lain selain urus Aku, Dea, Anggun dan Lia. Aku tahu, dari kecil, kami selalu bersama. Tapi, kan sekarang sudah berbeda, tidak bisa seperti dulu.


Setelah makan dan minum vitamin ku. Aku berbaring di sebelah Dea yang sudah terlelap pulas. Kikky menarik selimut, menyelimuti aku dan Dea.


"Dea udah tidur." ucapku.


"Kamu juga harus tidur." ucap Kikky.


"Tidurlah ris, gak usah mikirin apa-apa." ucap Kikky. Aku menurut.


"Iya iky." ucapku pelan.


Ku penjamkan mataku, walaupun mata ini tidak mengantuk. Aku merasa Kikky mengelus kepalaku sebentar, lalu dia pergi.


Aku memaksa diriku untuk tidur. Namun, aku tidak bisa tidur. Mataku menolak dan aku terus kepikiran tentang Iqbal. Aku ingin bertemu dengannya dan membahas masalah ini. Tapi, kalian tahu aku belum bertemu dengannya setelah kembali dari puncak. Mungkin Iqbal memilih menghindar dariku lagi. Namun, ini bukan solusinya.


Sekarang sudah jam dua pagi. Tapi mataku tetap terjaga. Aku hanya bisa menangis tanpa suara dengan pikiranku yang kemana-mana. Ku tahan suara tangis ku, agar Dea tidak terbangun dari tidurnya.


Ku pandangi Dea yang tertidur pulas di sebelahku. Iri rasanya melihat Dea yang bisa tidur dengan nyaman tanpa beban pikiran. Dea juga punya pacar. Namanya Rama, dia baik. Pasti hari-hari Dea jauh lebih menyenangkan dari hari-hariku dan perasaanku ini.


Sepanjang malam aku berharap Iqbal datang ke kamarku. Tapi, aku rasa itu tidak mungkin. Karena Iqbal masih marah kepadaku. Aku terima itu, aku memang salah. Tapi, dia tidak harus menjauh dariku kan. Sepertinya aku harus mengalah dan memberinya waktu untuk ini.


Dimana kamu bal! Apakah kamu rindu!

__ADS_1


--oo--


__ADS_2