Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Jalan-jalan


__ADS_3

Di sekolah, saat jam istirahat. Aku ditemani Dicky pergi ke kantin untuk bertemu Anis. Namun dikantin Anis tidak ada, begitu juga Melyn dan Dodit. Aku dan Dicky pun mencari mereka di taman belakang sekolah. Dari kejauhan, aku melihat mereka ada disana. Mereka bertiga duduk di kursi taman. Aku dan Dicky berjalan menghampiri mereka.


"Rissa." ucap Melyn saat melihatku. Aku tersenyum pada mereka.


"Anis, aku ingin minta maaf kejadian kemarin." ucapku. Anis diam menatapku.


"Maafkan aku."


"Kenapa kamu minta maaf, kamu gak salah." ucap Anis.


"Tapi karena aku kamu dimarahin, maafkan aku." ucapku sambil menahan air mataku yang ingin keluar. Anis berdiri dan berhadapan denganku.


"Gak, aku yang salah, aku juga minta maaf." ucap Anis. Aku tersenyum dan memeluknya.


"Maaf." ucapku.


"Iya, maaf juga." ucap Anis.


Aku dan Anis saling berpelukan. Melyn pun juga ikutan. Aku senang, aku bisa bersama temanku kembali. Padahal aku takut akan bermusuhan sama mereka.


"Ikutan dong." ucap Dodit ingin memeluk. Kami bertiga kompak mendorong Dodit menjauh.


"Jauh sana." ucap Melyn.


"Ck, kalian ini." ucap Dodit.


"Hahaha."


***


Saat jam pulang sekolah. Dicky datang menjemputku ke kelas. Katanya, mau jalan-jalan. Aku tersenyum mengangguk. Kami berdua pun jalan-jalan menggunakan sepeda. Disepanjangan jalan kami berdua bercanda seperti biasa. Aku sangat senang hari itu, bisa jalan-jalan dengan sepeda berdua bersama seseorang yang begitu baik seperti Dicky dan aku mulai menyukainya.


"Kamu senang hari ini?." tanyanya.


"Iya." ucapku sambil tertawa.


"Alhamdulillah." ucapnya.


"Terima kasih." ucapku.


"Untuk?." tanyanya.


"Ya, kamu sudah baik sama aku." ucapku.


"Iya."


"Aku suka Dicky." ucapku tiba-tiba. Sebenarnya aku malu mengatakan itu. Tapi, aku memang menyukai Dicky, aku gak bohong.


"Aku juga suka Rissa." ucapnya.


"Hahaha."


Menurut ku, itu bukan hanya sekadar rasa suka anak usia 10 tahun. Tapi itu adalah rasa sayangku dan cintaku kepada dia yang selalu bersamaku saat aku butuh. Dan Dicky adalah cintaku yang pertama. Walaupun kata orang itu hanya cinta monyet di masa kecil.


Sebelum pulang, kami mampir sebentar ke penjual es krim gerobak pinggir jalan. Katanya, itu es krim langganannya.


"Mau es krim?." tanyanya.


"Mau." jawab ku.


"Es krimnya dua bang." ucapnya.


"Baik dek."


"Tumben ajak pacarnya dek." ucap bang penjual es krim.


"Hahaha."


"Bukan bang, istri."


"Hahaha."


"Dicky, aku boleh main kerumah kamu."


"Boleh, tapi kamu izin dulu."

__ADS_1


"Iya."


"Nih dek." ucap penjual es krim.


"Makasih bang." ucapnya.


"Enak?." tanyanya.


"Enak." ucapku.


Setelah makan es krim, kami pun pulang.


***


Dirumah Dicky, aku disambut hangat oleh ibunya. Ibunya begitu baik padaku. Aku tersenyum dan mencium punggung tangannya.


"Eh, ada anak cantik dari mana nih." ucap Ibu Dicky.


"Hahaha."


"Ayo masuk sayang." ucap Ibu Dicky sambil merangkulku dan Dicky.


"Sudah makan siang?." tanya ibu Dicky.


"Belum tante." ucapku.


"Ayo kita makan siang bersama." ucap ibu Dicky.


"Dicky ganti baju dulu sana." ucap Ibu Dicky.


"Iya bu." ucapnya.


"Ayo sayang, duduk disebelah tante."


"Rissa mau makan apa sayang, tante ambilin."


"Gak usah tante, Rissa bisa ambil sendiri."


"Gak pa-pa."


"Rissa suka ini, sayur kangkung."


Setelah Dicky ganti baju. Kami pun makan siang bersama. Aku, Dicky dan Ibu. Dicky duduk menghadapku. Dia tersenyum dan menatapku sampai aku salah tingkah. Aku malu dilihatnya terus seperti itu.


"Rissa, sudah izinkan sama ibu, kalau main kesini?." tanya Ibu Dicky sambil menuangkan sayur kangkung dipiringku.


"Udah tante."


"Udah bu, tenang aja, Dicky yang minta izin." ucap Dicky.


"Iya." ucap Ibu Dicky.


"Om Rahmad mana tante." tanyaku.


"Belum pulang kerja, biasanya jam segini udah pulang, tapi kek nya dia masih ada kerjaan di kantor."


"Ohh."


"Kenapa, Rissa tanya Om Rahmad?."


"Rissa mau minta uang jajan sama ayah." cetus Dicky membuatku kaget.


"Gak." ucapku.


"Emang Rissa mau jajan apa?." ucap Ibu Dicky menggodaku.


"Hahaha."


"Gak tante, Rissa gak mau jajan."


"Gak papa kok, kalau kamu mau jajan es krim, bilang aja sama ibu, ya kan bu."


"Dicky ini." ucapku sambil cemberut.


"Hahaha."

__ADS_1


"Aku bercanda."


"Udah, ayo habiskan makanannya, nanti ibu beliin es krim buat kalian."


"Tuh kan, di beliin sama ibu." ucap Dicky sambil cengengesan.


Aku diam sambil cemberut menatapnya kesal.


"Sudah Dicky jangan menggodanya terus, nanti dia nangis." goda Ibu Dicky.


"Hemm, tante."


"Hahaha."


Tante Yanti tertawa sambil memelukku gemas. Aku kesal tapi aku juga senang. Bersama tante Yanti dan Dicky. Aku tidak merasa kalau aku adalah orang lain. Aku merasa begitu dekat dengan mereka. Aku nyaman berada ditengag mereka. Ibunya Dicky memperlakukanku seperti putrinya sendiri. Dia juga mendandaniku.


"Rissa suka?." tanya ibu Dicky saat selesai mengepang rambutku.


"Suka tante."


"Rissa tinggal disini ya, sama tante, om, dan Dicky, mau?." ucap ibu Dicky sambil memeluku dari belakang.


"Hmm, Rissa belum izin tante, nanti gak dibolehin sama ayah ibu, nanti Rissa dimarahin."


"Kalau Rissa dimarahin, biar om sama tante yang marahin ayah dan ibu Rissa."


"Hahaha."


***


Sorenya, aku dan Dicky bersepeda. Kali ini aku naik sepeda sendiri, dan Dicky dengan sepedanya. Dia mengajak ku menuju ke arah tanah lapang yang biasa dipakai anak-anak main sepak bola. Kami saling mengiringi satu sama lain menikmati pemandangan langit berwarna jingga. Begitu indah merasakan suasana matahari yang mulai terbenam. Kalau seadainya aku dan Dicky berada dipantai dan bisa melihat sunset langsung pasti lebih indah dan menyenangkan. Sayangnya kami berada di kota, hanya bisa melihat langit yang berwarna jingga. Bersama seorang yang kita suka merasakan senja aja, itu sudah cukup bagiku.


"Indah ya." ucapku sambil terus mengayuh pedal sepedaku.


"Ya."


"Ris." panggilnya. Aku menoleh sebentar melihat Dicky yang mengulurkan tangan kananya ke arahku dan tangan kirinya memegang stang.


"Apa?." ucapku heran.


"Pegang tanganku."


"Buat apa, aku lagi bawa sepeda, nanti jatuh."


"Gak, percaya deh."


"Tapi pelan-pelan bawa sepedanya."


"Iya."


Perlahan aku melepaskan tangan kiriku dari stang sepeda dan menggenggam tangan kanan Dicky. Aku tersenyum menatapnya.


"Gak jatuh kan." ucapnya.


"Iya."


."Kalau seperti ini kan enak, lebih menyenangkan kan."


"Hehehe."


Benar yang dikatakan Dicky, berpengangan tangan sambil sepedaan seperti ini memang menyenangkan.


Aku menguatkan genggaman tanganku, menyusuri jalan yang nampak sepi. Dari sana, kami terus mengayuh sepeda sampailah ke rumahku.


"Masuk sana, udah mau magrib." ucapnya.


"Daah, sampai ketemu besok." ucapku.


"Emang besok kita ketemu dimana." tanya nya sambil pura-pura tidak tahu.


"Disekolah." ucapku.


"Hahaha."


"Daah."

__ADS_1


Hari itu aku tidak akan pernah lupa. Berpegangan tangan sambil mengayuh sepeda di bawah langit senja yang begitu romantis menurutku. Aku senang bisa menghabiskan waktu seharian dengannya. Dengan cara yang sederhana, dia berusaha membuatku senang setiap hari. Aku selalu merasa senang akan hal itu dan ingin terus bersamanya.


--oo--


__ADS_2