
Esok sorenya, di hari minggu. Aku, Dicky, Melyn, Anis dan Dodit akan melajutkan kegiatan bersepeda kemarin yang sangat tidak menyenangkan karena satu masalah. Kali ini kami hanya bersepeda di seputaran komplek saja. Awalnya aku tidak dizinkan oleh ibu, namun karena Dicky, akhirnya ibu mengizinkanku.
Kami semua sudah berkumpul didepan rumah Melyn hanya Dodit yang belum datang. Setelah kejadian kemarin hubungan Dodit dan Dicky jadi memburuk. Walaupun begitu Dicky sudah berjanji padaku, untuk menghindar dan mengabaikan apa yang dikatakan Dodit. Tak lama kemudian Dodit datang, tapi dia gak bawa sepedanya.
"Loh, kok gak bawa sepeda?." tanya Melyn.
"Ban ku bocor." ucap Dodit.
"Terus kek mana?, masa kamu jalan kaki." tanya Melyn.
"Hah, kek ini aja, aku pinjam sepeda Rissa, kan sepeda Rissa ada boncengannya, aku sama Dodit bisa boncengan." ucap Anis.
"Oh ya sudah, nih, tapi sepedaku ban nya bunting, gak pa-pa apa dipakai berdua?." ucapku sambil nemperlihatkan ban sepadaku yang benjol itu.
Aku gak tau ban sepedaku kenapa bisa jadi seperti itu. Harusnya hari ini ban sepedaku mau diganti sama ayah, tapi aku bilang sama ayah nanti besok aja ganti bannya.
"Gak pa-pa kali, pelan-pelan aja nanti, gak usah balapan." ucap Melyn.
"Ya baiklah, nih." ucapku.
"Kaki kamu?." ucap Dodit. Aku tersenyum.
"Gak pa-pa kok, udah diobati sama ibu, gak sakit lagi." ucapku.
"Ayo kita jalan, nanti kesorean lagi." ucap Melyn.
"Kamu yang nyetir dit." ucap Anis pada Dodit.
"Gak ahh, aku mau santai duduk dibelakang." ucapnya.
"Ihh." ucap Anis kesal.
"Ayo."
Kami pun pergi. Mereka mengajakku ke tempat yang belum aku tau. Sambil menikati pemandangan komplek disore hari, mereka menjelaskan padaku nama-nama jalan yang kami lalui. Aku sangat senang bisa jalan-jalan bersepeda bersama teman-teman. Saat sedang asik bersepeda. Ban sepedaku yang benjol itu tiba-tiba meletus. Seketika kami semua berhenti dan menghampiri Anis dan Dodit.
"Nah kamu Anis." ucap Dodit.
"Kek mana ini?." ucap Anis.
"Kamu sih, kegendutan, ban aja jadi meletus." ucap Dodit.
"Ini juga salah kamu Dodit, jangan nyalahin Anis terus." ucap Melyn.
"Bagaimana ini, nanti aku kena marah ayah." ucapku dengan menahan air mataku yang ingin jatuh.
"Kayak mana sekarang." ucap Melyn.
"Aku pasti kena marah ayah." ucapku menangis sambil menatap Dicky.
"Jangan nangis Ris." ucapnya sambil menghapus air mataku.
"Aku mau pulang." ucapku.
Mood ku seketika menghilang. Aku lantas berlari sambil menangis. Aku pergi meninggalkan mereka. Mereka memanggil namaku, tapi aku tidak memperdulikan mereka. Bahkan Dicky dengan sepedanya mengejarku.
"Rissa." panggilnya. Aku berhenti.
__ADS_1
"Ngapain kamu ikuti aku, aku mau pulang, kamu pulang aja sana." ucapku sambil menangis.
"Iya, inikan jauh, nanti kamu kesasar, bareng aku ya." ucapnya. Aku terdiam sambil terus menagis.
"Ayo naik." ucapnya.
"Aku gak bisa berdiri dibelakang, kaki ku sakit." ucapku.
"Duduk didepan." ucapnya. Aku diam sejanak sambil berpikir iya atau tidak dengan tawaran Dicky.
"Ayo." ucapnya. Dengan terpaksa aku pun duduk didepan.
Ini pertama kalinya bersepeda berdua dengannya. Aku deg-degan. Aku bahkan tidak bisa menoleh ke kanan atau pun kekiri. Aku hanya diam, menangis, memikirkan apa yang terjadi padaku jika aku sampai dirumah.
"Nanti ayah marah bagaimana?." ucapku menangis.
"Ayahmu gak bakalan marah, nanti aku yang ngomong." ucapnya. Aku tidak menjawabnya.
"Sudah jangan nangis lagi, nanti aku tinggalin kamu disini." ucapnya.
Aku berhenti menangis. Niatnya pasti ngajakku bercanda. Tapi aku takut, kalau Dicky akan benar-benar meninggalkan ku disana. Aku masih belum hafal jalan disana.
***
Sesampainya dirumah. Aku melihat ayah sedang menyiram tanaman dihalaman depan. Aku turun dari sepeda dan menatap Dicky.
"Tidak pa-pa." ucapnya. Aku dan Dicky berjalan masuk kedalam halaman.
"Ehh, sudah pulang." ucap ayah.
"Ibu." ucapku menghampiri ibu dan langsung memeluknya.
"Ehh, kamu kenapa?." tanya ibu. Aku tidak menjawab.
"Kamu sakit." ucap Ibu sambil memeriksa keningku. Aku menggelengkan kepalaku dan memeluk erat ibu.
Terdengar suara Ayah memanggilku. Aku semakin takut, aku mengeratkan pelukan. Aku merasa ibuku juga mulai cemas setelah mendengar suara Ayah seperti sedang marah. Ibuku lantas mengendongku dan memelukku erat seolah-olah dia tidak membiarkan seorang pun menyakiti putri tersayangnya.
"Ada apa ini, yah." tanya Ibu cemas.
"Tanya Rissa." tegas Ayah.
"Ada apa nak?." tanya Ibu
"Ban sepeda Rissa pecah gara-gara Anis." ucapku terbata-bata.
"Terus dimana sepedanya?." tanya Ayah dengan tegas.
"Rissa tinggal." ucapku.
"Kenapa ditinggal?." tanya Ayah.
"Rissa takut ayah marah." ucapku terbata-bata.
"Sudahlah yah." ucap ibu.
"Rissa sini." ucap ayah.
__ADS_1
Aku mengeratkan pelukan ku. Memberi kode pada ibu, bahwa gak mau. Ibu menepuk-nepuk punggungku, mencoba menenangkanku.
"Ayah gak marah sama Rissa, ayo sini." ucap ayah.
"Sudah dengarkan ayahmu." ucap ibu.
Ibu pun menurunkanku. Sambil sesegukan aku berdiri dihadapan Ayah.
"Kesayangan ayah." ucap Ayah. Ayah menggendongku dan memelukku.
"Ban sepeda itu kan emang harus diganti, ayah kan sudah bilang." ucap Ayah. Aku hanya menangis dipelukan ayah.
Begitulah Ayahku. Dia tegas dan disiplin. Karena ketegasan ayahku itu, aku takut berbuat salah dan membuatnya marah. Aku pernah berbuat salah dan dihukum berdiri diluar hingga aku demam. Ibu bahkan bertengkar dengan ayah, karena ayah terlalu tegas padaku. Walaupun begitu, ayahku tidak jahat, dia tetaplah kepala rumah tangga yang baik dan menyayangin keluarganya.
"Sudah jangan nangis lagi." ucap Ayah sambil mencium keningku dan menurunkanku.
"Sekarang Rissa mandi terus istirahat, jangan main lagi." ucap Ayah.
"Sepeda?." tanyaku.
"Ayah suruh Dicky yang ambil, sudah mandi sana." ucap Ayah. Aku mengangguk.
***
Gak lama kemudian, bel rumah berbunyi. Ayah segera membukanya. Itu adalah Dicky. Aku melihatnya sedang berbicara sama Ayah. Aku penasaran. Aku pun berjalan menghampiri mereka.
"Sepedanya, mau dibeneri sama Om Damar, om." ucap Dicky.
"Om jadi gak enak sama papanya Anis." ucap Ayah. Aku diam.
"Coba om telpon dia dulu." ucap Ayah berjalan masuk kedalam.
Aku diam menatap Dicky dengan mataku yang berkaca-kaca. Dia berjalan mendekatiku.
"Kenapa?, kamu kena marah ayah kamu ya." tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku.
"Anis?." tanyaku.
"Dia dimarahi papanya." ucap Dicky.
"Ini salahku, karena aku, dia dimarahi, dia pasti gak mau lagi main sama aku."
"Gak, dia pasti mau main sama kamu."
"Tapi, dia dimarahin papanya karena aku."
"Besok disekolah, kamu minta maaf aja sama dia." ucap Dicky. Aku mengangguk.
"Aku pulang ya, besok aku temani kamu ketemu Anis." ucapnya.
"Iya."
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
--oo--
__ADS_1