Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Jakarta


__ADS_3

Rabu, tanggal 28 Desember 2016.


Saat itu, aku dan ayah telah tiba di Jakarta. Ibu tidak ikut, dia lagi menjaga nenek yang sedang sakit.


Aku dan Ayah kembali ke rumah itu. Rumah itu masih sama, tidak ada yang berubah. Semua kenangan disana masih sangat terasa bagiku.


Ada rasa haru, senang, bisa kembali ke Jakarta. Tapi, aku tak bisa bohong bahwa saat ini aku merindukan Iqbal. Aku rindu ngobrol dengannya walaupun yang kami bahas itu tidak penting.


Ayah lagi ke kantornya yang ada di Jakarta. Sementara aku duduk di teras sambil baca majalah. Sebenarnya aku bosan. Tidak ada teman ngobrol. Aku ingin menelpon Iqbal. Tapi, kata Iqbal, jangan telepon dia sebelum dia sendiri yang telepon duluan.


Tiba-tiba seseorang datang memanggil namaku dari luar pagar. Aku memperhatikan orang itu.


"Rissa, ini aku, Melyn." teriaknya.


"Melyn." ucapku. Melyn tersenyum dan berjalan mendekatinya. Membuka pagar. Aku dan Melyn langsung berpelukan.


"Aku kangen." ucapnya.


"Aku juga." ucapku.


"Apa kabar?." tanyanya.


"Baik, bagaimana kabarmu." tanyaku.


"Baik juga." ucapnya.


"Hahaha."


"Kapan kamu kesini?." tanyanya.


"Kemarin sore." ucapku.


"Oh."


"Sendirian aja, mana yang lain?." tanyaku.


"Hem, dodit pergi main sama temen-temannya." ucap Melyn.


"Anis?."


"Sama, dia lagi pergi kata si bibi." ucapnya.


"Ohh."


"Eh, masuk yuk, jadi keenakan ngobrol disini." ucapku.


"Hahaha."


Aku dan Melyn berjalan masuk ke dalam. Aku membuatkan minuman dingin untuk Melyn.


"Gak usah repot-repot ris." ucap Melyn.


"Gak pa-pa, pasti hauskan." ucapku.


"Iya."


"Hahaha."


"Mana ibu sama ayah kamu." ucap Melyn.


"Ibu gak ikut, Ayah lagi ke kantor."


"Ohh."


"Kamu udah makan?." tanya Melyn.


"Belum."


"Kita keluar yuk, cari makan, aku juga belum makan." ucap Melyn.


"Hem naik apa?." tanyaku.


"Motor." ucap Melyn.


"Kamu bisa bawa motor."


"Bisalah, yuk, tapi temani aku pulang dulu ambil motor."


"Ayo."


***


Aku dan Melyn pergi dengan motor menuju warung bakso mang din. Di sana tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang.


"Dua bakso supernya mang." ucap Melyn.


"Ya neng."


Aku dan Melyn duduk menunggu pesanan kami.


"Besok ke puncak dianter siapa?." tanya Melyn.


"Sama ayah, kamu ikut juga biar kita barengan."

__ADS_1


"Baiklah, nanti pagi aku ke rumahmu, aku juga ajak Anis atau Dodit kalau mereka mau barengan." ucap Melyn. Aku mengangguk.


Tak lama kemudian, bakso pesanan kami pun datang.


"Hem, enak banget loh ris bakso disini." ucap Melyn.


"Sambelnya mana mang." ucap Melyn.


"Ini." ucapku memberikan semangkuk kecil sambel.


"Makasih." ucap Melyn.


"Sama-sama." ucapku.


"Setelah ini kita mau kemana?." tanya Melyn sambil makan.


"Terserah kamu, aku ikut aja." ucapku.


"Kita ke rumah Dicky yuk." ucapnya. Seketika aku tersedak. Aku batuk-batuk, aku kaget. Melyn buru-buru mengambil air mineral dan memberikannya padaku.


"Hati-hati ris." ucap Melyn.


"Ih, kamu kenapa sebut dia sih." ucapku.


"Hahaha."


"Kenapa emangnya, bukannya kamu rindu sama dia kan." ucapnya. Aku terdiam, tidak tahu mau ngomong apa.


"Tuh kan." ucapnya sambil ketawa.


"Nanti kita lewat aja ke rumahnya, kamu masih ingat kan jalannya ke rumahnya." ucap Melyn. Aku hanya diam. Sementara Melyn cengengesan mengejekku.


Aku pikir Melyn itu hanya bercanda soal mau ke rumah Dicky. Ternyata tidak. Setelah makan bakso di warung mang din. Dia benar-benar mau ke rumah Dicky. Di jalan, aku terus gelisah karena Melyn. Banyak pertanyaan berputar di kepalaku. Bagaimana respon Dicky saat melihatku lagi setelah sekian lamanya? Bagaimana dia tidak ingat aku? Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku lagi?. Aku harus apa kalau seperti itu.


"Kamu tau rumah Dicky?." tanyaku.


"Tau lah." ucapnya.


"Emang, dia masih tinggal di sana apa?." tanyaku lagi.


"Masih, sebulan yang lalu kalo gak salah aku ketemu dia, aku tau rumahnya dari dia." ucap Melyn.


"Kita pulang aja yuk." ucapku sebelum sampai ke rumah Dicky.


"Nanggung ris, udah deket." ucapnya.


"Aku gak mau ketemu dia mel." ucapku.


"Ya, siapa tau ketemu dia dijalan kan, maksud kamu." ucapku.


"Hahaha."


"Kamu gak mau ketemu dia apa, pas kita sd kamu selalu mau ketemu dia." ucap Melyn.


"Aku mau ketemu dia, tapi nanti, aku malu sekarang." ucapku.


"Kenapa malu, tenang aja, di mata Dicky kamu selalu cantik kok." ucapnya.


"Ih kamu nih." ucapku sambil memukul pelan pundak Melyn.


"Hahaha."


Seperti yang dikatakan Melyn, hanya lewat saja. Ketika hampir sampai di rumah Dicky. Aku langsung menutup wajahku. Tak terduga olehku. Melyn tiba-tiba berhenti di rumah Dicky. Aku kaget.


"Kok berhenti, katanya tadi cuma lewat." ucapku.


"Gak boleh lewat aja, gak sopan." ucap Melyn.


"Tapi, mel-." ucapku terpotong. Melyn langsung memanggil Dicky.


"Dicky, assalamualaikum." ucap Melyn.


"Melyn." ucapku berusaha menghentikan Melyn. Tapi, Melyn tidak menghiraukan ku dia sengaja terus memanggil Dicky. Dia bahkan turun dari motor dan memencet bel di pagar. Aku hanya bisa menepuk keningku. Ingin pergi, namun aku tak tahu jalan pulang. Tak lama kemudian terdengar suara wanita menjawab salam.


"Walaikumsalam." ucapnya. Wanita itu berjalan ke arah pagar. Aku mengenal wajah itu. Itu adalah ibu Dicky, ibu Yanti. Senang sekali rasanya bisa melihat Ibu Yanti lagi. Aku juga merindukannya.


"Ya, siapa?." ucap ibu Dicky sambil membuka pagar.


"Ada Dickynya gak tante." ucap Melyn.


"Dicky lagi keluar." ucap Ibu Dicky. Ku lihat mata ibunya Dicky menatapku. Begitu juga aku menatapnya.


"Rissa." ucap ibu Dicky memastikan. Aku tersenyum mengangguk.


"Oh ya ampun rissa." ucap Ibu Dicky memelukku. Begitu juga aku.


"Udah lama banget, ibu rindu sama kamu." ucap Ibunya Dicky.


"Iya bu, rissa juga rindu." ucapku dipelukannya. Aku tersenyum menatap ibu Yanti.


"Ibu boleh cium kamu?." tanya Ibu Dicky. Aku tersenyum mengangguk. Ibu Dicky mencium kening, kedua pipiku, dan hidungku, sama seperti yang dia lakukan saat aku masih kecil dulu.


"Kamu nambah cantik." ucap Ibu Dicky. Aku senyum. Ibu Dicky melihat ke arah Melyn. Dia menatap Melyn intens, berusaha memastikan sesuatu.

__ADS_1


"Ini?." ucap Ibu Dicky.


"Melyn tante." ucap Melyn.


"Oh melyn, sampai pangling tante." ucap Ibu Dicky.


"Hahaha."


"Ayo masuk." ucap Ibunya Dicky. Aku menoleh ke arah Melyn. Melyn mengangguk.


"Iya." ucapku.


Aku dan Melyn masuk kedalam rumah Dicky. Rumah Dicky masih sama. Hanya saja cat dan tata dekorasinya berubah. Tapi, tidak merubah kenangan masa laluku disini.


"Ayah mana bu?." tanyaku pada ibunya Dicky.


"Kerja sayang." ucap Ibunya Dicky.


"Duduk dulu, ibu buati minuman dulu." ucap Ibunya Dicky.


"Gak usah repot-repot tante." ucap Melyn.


"Cuma minuman, tunggu bentar ya." ucap Ibunya Dicky sambil berlalu pergi.


"Iya bu." ucapku.


Aku duduk dengan mataku melirik sana sini. Mataku menakap sebuah foto keluarga yang besat terpajang di dinding. Ku lihat Ayah dan Iqbal duduk sambil tersenyum dengan Dicky yang berada ditengah memeluk mereka berdua. Begitu bahagia saat melihat potret keluarga itu. Dan Dicky dia bertambah tampan. Dia yang dulu kecil sekarang dia sudah beranjak dewasa.


"Dicky tambah ganteng kan sekarang." bisik Melyn di telingaku. Aku tersenyum.


"Tapi, gantengan Iqbal kok." ucapku dalam hati. Entah kenapa aku membandingkan mereka berdua. Tapi, emang bener deh. Gantengan Iqbal. Aku gak bohong.


Tak lama kemudian Ibu Yanti datang membawa minuman. Dia meletakkan dua gelas minuman dimeja.


"Dicky kemana tante?." tanya Melyn.


"Gak tau, kumpul sama temen-temennya mungkin." ucap Ibu Dicky.


"Oh, rissa dari tadi nanya Dicky terus bu." ucap Melyn. Aku kaget.


"Hah!." ucapku bingung.


"Hahaha."


"Rissa udah punya pacar belum." ucap Ibunya Dicky.


"Belum tante, jomblo." ucap Melyn tiba-tiba. Aku langsung menoleh ke arah Melyn. Ingin sekali aku teriak aku punya pacar, namanya Iqbal. Entah kenapa itu sulit untuk aku ucapkan. Dan Melyn tidaklah salah, dia tidak tahu kalau aku sudah punya pacar.


"Dicky juga gak punya pacar." ucap Ibunya Dicky.


"Nah, sama, jadian aja kalian berdua ris." ucap Melyn. Melyn benar-benar membuatku tidak bisa berkata banyak. Aku jadi ragu, sebenarnya Melyn itu teman atau musuh, dari tadi menggodaku terus.


"Hahaha."


"Melyn." ucapku menatap tajam ke arah Meyn.


"Hahaha."


Sudah cukup lama aku dan Melyn ngobrol sama Ibu Yanti sambil nunggu Dicky pulang. Tapi, Dicky tidak kunjung datang. Dalam hati, itu bagus, aku belum siap bertemu dengannya. Aku dan Melyn izin pulang sama Ibu Yanti. Tapi, Ibu Yanti meminta kami untuk berfoto bersama sebelum pulang.


Aku, Melyn dan Ibu Dicky berselfie bersama. Tak hanya itu Melyn menawarkan diri untuk fotoin aku bersama Ibunya Dicky. Setelah selesai berfoto aku dan Melyn pamit pulang.


"Ibu masih kangen sama rissa." ucap Ibunya Dicky.


"Kapan-kapan kami main kesini lagi." ucapku.


"Itu harus dong." ucap Ibunya Dicky sambil mengantar kami ke luar rumah.


"Kami pamit pulang dulu bu." ucapku. Aku mencium tangan ibu Yanti. Begitu juga Melyn.


Aku dan Melyn naik ke atas motor.


"Hati-hati ya, kabarin kalo udah sampai." ucap Ibu Dicky.


"Iya bu, rissa pulang ya bu." ucapku.


"Iya sayang."


"Dah."


"Assalamualaikum." ucapku dan Melyn.


"Walaikumsalam."


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line            : rafikaanggraini11


Instagram : rafikaanggraini11


Thank you

__ADS_1


__ADS_2