Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Rasa cinta ini


__ADS_3

Kira-kira itu sudah jam tiga sore. Dicky membawaku ke sebuah taman kota setelah sebelumnya dia mengantarku pulang, untuk berganti pakaian dan meminta izin dengan ayah lewat ponsel. Dicky juga sudah mengganti pakaiannya di mobil tadi.


Disana, aku dan Dicky berjalan berdampingan menyusuri taman. Tidak ada obrolan diantara kami. Yang ada sunyi dan suara angin berhembus. Sampai saat tanganku tiba-tiba digenggam oleh Dicky. Aku kaget, spontan menghentikan langkahku. Dicky diam menatapku bingung.


"Kenapa?." tanyanya. Aku diam.


"Capek ya." ucapnya lagi.


"Duduk dulu kalo capek, yuk kita duduk disana." ucapnya. Dia membawa dan menuntunku duduk di kursi taman. Begitu juga dia duduk disebelahku.


"Rasanya aneh kan ris." ucapnya.


"Canggung." ucapnya lagi sambil ketawa kecil. Aku hanya diam sambil senyum-senyum.


"Kayak kita mulai dari awal lagi nih." ucapnya.


"Kenalan lagi?." ucapku.


"Iya." ucapnya.


"Hahaha."


Dicky kemudian mengulurkan tangannya padaku.


"Dicky." ucapnya. Aku senyum dan menyambut uluran tangan itu.


"Rissa." ucapku. Aku dan Dicky saling tersenyum tanpa melepaskan tangan kami.


"Terus selanjutnya apa." ucapnya.


"Hem." ucapku sambil berpikir.


"Jangan berpikir untuk manjat pohon mangga." ucapnya.


"Nanti kamu gak bisa turun lagi." ucapnya lagi sambil ketawa.


"Hahaha."


"Gak, aku malah gak bisa manjat sekarang." ucapku.


"Hem, kita pikirkan hal lain." ucapnya.


"Cokelat." ucapku.


"Cokelat?." ucapnya bingung.


"Iya, kamu kan kasih aku cokelat waktu itu." ucapku mencoba mengingatnya.


"Oh iya, tapi disini gak ada yang jual cokelat, kita ganti aja." ucapnya sambil menoleh melihat sekeliling.


"Kamu mau es krim?." tanyanya padaku. Aku senyum sambil menganggukkan kepala.


"Mau." ucapku.


"Rasa cokelat atau strawberry nih." ucapnya.


"Strawberry." ucapku.

__ADS_1


"Ok, tunggu disini aku beli dulu." ucapnya. Aku mengangguk.


Dicky pun pergi membeli es krim. Tak lama Dicky pergi, dia pun kembali dengan membawa satu es krim rasa strawberry punya ku.


"Ini." ucapnya sambil memberikanku es krim itu.


"Makasih." ucapku. Dia kembali duduk disebelahku.


"Punya kamu mana?." tanyaku.


"Udah habis." ucapnya. Aku menatapnya bingung.


"Ya udah kita berdua aja, nih." ucapku sambil menyodorkan es krim itu ke mulut Dicky. Namun, dia hanya diam.


"Ini." ucapku.


"Sedikit aja ya, kan aku beliin buat kamu, masa aku ikut makan." ucapnya. Aku senyum.


"Ya gak pa-pa, aak." ucapku.


Dicky akhirnya memakan es krim itu walaupun hanya sedikit, itu cukup membuatku senang. Setelah aku menghabiskan es krim. Aku melihat anak-anak lagi main sepeda. Tiba-tiba aku teringat masa kecilku yang sangat menyenangkan bersama Dicky dan teman-teman. Rasanya aku ingin main sepeda lagi, dan merasakan hal yang sama waktu itu. Tapi, sayangnya aku tidak punya sepeda di jakarta. Yang ada aku punya sepeda kecil saat aku SD, sepeda itukan tidak mungkin bisa aku gunakan lagi, aku sudah besar sekarang.


"Aku pengen main sepeda." ucapku entah pada siapa.


"Mau main sepeda." ucap Dicky.


"Iya, tapi tidak punya sepeda." ucapku.


"Kita sewa aja." ucapnya.


"Emang ada." ucapku.


"Mau?." tanyanya.


"Iya, aku mau ky." ucapku semangat.


Dicky mengajakku ke tempat penyewaan sepeda itu. Langsung saja kami menyewa sepeda tandem dan menggunakan sepeda itu mengelilingin taman. Aku sangat senang, sungguh. Senang bisa bermain sepeda bersama Dicky. Rasa canggung diantara kami juga lenyap begitu saja. Malah rasa cinta ini bertambah untuknya. Dan Aku kembali terjebak ke masa lalu kami yang menyenangkan.


"Kamu suka ris." ucapnya sedikit teriak.


"Suka." ucapku sambil teriak.


"Hahaha."


***


Aku dan Dicky bersepeda mengelilingi taman cukup lama. Entah sudah jam berapa waktu itu. Aku lupa waktu kalau aku sudah melakukan hal yang menyenangkan. Aku bahkan lupa dengan diriku yang tidak boleh kelelahan. Tapi, emang tubuhku tidak merasa lelah, namun bahagia yang aku rasa. Hingga akhirnya, tiba-tiba Dicky berhenti mengayuh sepeda. Aku heran, kenapa Dicky berhenti. Sesaat kemudian, tubuh Dicky goyah ingin jatuh dari sepeda. Aku menahan sepeda itu dan bergegas mendekatinya.


"Ky, kamu kenapa?." tanyaku.


"Gak pa-pa." jawabnya pelan dengan senyuman tipisnya.


Ku lihat wajahnya sangat pucat, jauh dari wajah yang aku lihat sebelumnya. Dia juga tampak lemas. Aku cemas sekaligus bingung. Dicky sakit, tapi dia tadi baik-baik saja. Apa mungkin Dicky juga punya anemia sama seperti aku.


"Kamu lelah ya, istirahat dulu, ayo kita duduk dulu." ucapku.


Aku membantu Dicky untuk duduk di pinggir trotoar dekat bawah pohon, agar Dicky merasa sejuk dan baikkan.

__ADS_1


"Kamu sakit ya." ucapku. Dia tersenyum dengan bibir puncatnya menatapku.


"Cuman kecapean aja ris, istrirahat bentar aku baikan kok." ucapnya.


"Tapi, wajah kamu pucat banget, kamu udah makan?." ucapku. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aku cari makanan dulu ya, sekalian balikin sepeda." ucapku.


"Gak usah ris, aku aja." ucapnya.


"Aku aja ky, kamu tunggu disini ya, istirahat dulu." ucapku.


Dicky hanya diam. Aku senyum dan segera pergi mengembalikan sepeda dan mencari makanan untuk Dicky.


Aku tidak tahu harus membelikan apa untuk Dicky. Tidak banyak orang yang jualan di taman itu. Mereka juga banyak jual mainan dan cemilan anak-anak. Akhirnya yang bisa aku beli untuk Dicky hanya dua roti isi dan air mineral. Setelah itu aku segera kembali ke Dicky.


Ku lihat dari jauh Dicky sedang bersandar di pohon dengan mata terpejam. Aku cemas, apa Dicky pingsan?. Aku langsung berlari menghampirinya.


"Dicky." panggilku sambil memegang bahunya.


"Iya." jawab Dicky pelan. Perlahan dia membuka matanya menatap aku.


"Kamu sudah datang." ucapnya.


"Iya, aku pikir kamu pingsan." ucapku. Dicky tersenyum.


"Gak ris, aku cuma tidur." ucapnya. Aku menghela nafas.


"Ayo makan, aku beliin kamu roti." ucapku.


Tidak ada jawaban darinya, yang ada aku melihat ekspresi wajahnya yang sulit aku artikan. Antara dia suka aku belikan roti atau dia tidak suka. Tapi, aku beliin dia roti isi kesukaan dia waktu kecil.


Dicky hanya makan sedikit roti itu, tidak sampai setengah. Aku tak ingin memaksanya, jika dia memang tidak mau makan itu. Aku mengusulkan dia untuk beristirahat di mobil dan Dicky pun setuju. Aku membantunya berjalan sampai ke mobil.


Di mobil, Dicky bersandar dengan mata terpenjam. Ku lihat wajahnya semakin pucat. Aku cemas. Tubuh Dicky berkeringat padahal ac mobil hidup.


"Ky, kita ke klinik ya." ucapku.


"Aku gak pa-pa ris, kita pulang aja ya, aku anterin kamu pulang." ucapnya sambil bangun.


"Kamu yakin bisa nyetir, kamu sakit ky." ucapku.


"Bisa." ucapnya.


"Gak usah antar aku ky, jauh, ke rumah kamu aja kan dekat dari sini, nanti aku minta jemput sama ayah aja." ucapku.


"Ya udah." ucapnya.


Dicky pun menghidupkan mobilnya. Perlahan dia melajukan mobilnya menuju rumah. Aku kasihan melihat Dicky, dengan kondisinya yang seperti itu dia menguatkan dirinya sendiri untuk bisa mengendalikan mobil agar kami berdua selamat sampai ke rumah.


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line : rafikaanggraini11


Instagram : rafikaanggraini11

__ADS_1


Thank you


__ADS_2