Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Ibu Dicky


__ADS_3

Ada hari dimana aku mencintaimu, sepenuh hatiku. Dan ada hari dimana aku mencintai dia. Namun, percayalah hatiku memilihmu


-Rissa Valentina-


__________________________________


Aku menangis terseduh-seduh di kamarku. Aku tidak percaya akhirnya akan seperti ini. Aku tak henti-hentinya menyalahkan diriku atas apa yang terjadi. Aku juga sudah pergi ke kamar Iqbal, dan meminta maaf padanya. Tapi, aku tahu kesalahanku tidak bisa dimaafkan olehnya.


Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Waktunya kami semua pulang ke Jakarta. Kami semua bersiap-siap untuk segera pergi dari Villa. Aku berusaha memasukkan koperku di bagasi mobil. Berat memang, tapi untungnya Iqbal datang membantuku.


Begitu senang rasanya Iqbal membantuku. Dia masih peduli padaku. Aku mengucapkan "Terima kasih" padanya. Seketika rasa senang ku tadi hilang. Iqbal masih marah padaku. Dia hanya diam saja, lalu pergi tanpa mengatakan apapun.


Entah apa yang harus aku lakukan agar aku mendapatkan maaf dan kepercayaan Iqbal lagi.


"Rissa." panggil Ibu Yanti. Aku menoleh melihat Ibu Yanti berjalan ke arahku.


"Ikut Ibu ya pulang ya." ucap Ibu Yanti padaku. Aku diam sambil melihat ke arah Ibu dan Ayahku.


"Boleh kan jeng tiya." ucap Ibu Yanti pada Ibuku.


Ibu dan Ayah saling menatap sebentar. Lalu Ibu tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Iya jeng, boleh aja." ucap Ibuku.


"Kayaknya mobil kami juga gak muat, banyak barang yang mau dibawa." ucap Ibu.


"Terima kasih jeng." ucap Ibu Yanti senang.


"Yuk sayang." ucap Ibu Yanti padaku.


Aku hanya diam saat Ibu yanti merangkulku membawaku ke mobil. Ku tatap Iqbal yang melihatku. Aku menggelengkan kepala ku padanya, berharap Iqbal akan mencegahku ikut mobil Dicky. Tapi, Iqbal hanya diam saja.


Aku tidak mau bal! Tolong cegah aku!


Jujur aku ingin menolak untuk Ikut. Tapi, aku tidak enak sama Ibu Yanti dan Ayah Rahmad. Bagaimana pun, mereka sudah aku anggap seperti orang tuaku sendiri.


"Rissa." ucap Dicky bingung melihatku. Aku hanya diam menatapnya.


"Rissa ikut kita." ucap Ibu Yanti padaku. Dicky terdiam. Ku lihat dia cukup terkejut mendengar ucapan ibunya.


"Yuk sayang, masuk." ucap Ibu Yanti membukakan pintu mobil untukku. Aku tersenyum terpaksa dan masuk kedalam mobil.


"Dicky kenapa diam aja, kamu juga masuk, ayo." ucap Ibu Yanti pada Dicky. Dicky pun masuk ke mobil dari sisi lain.

__ADS_1


"Udah?." tanya Ayah Rahmad pada Ibu Yanti.


"Udah." ucap Ibu Yanti. Kemudian mobil pun berlalu meninggalkan Villa.


"Ibu seneng deh, ada rissa disini." ucap Ibu Yanti. Aku tersenyum. Tapi didalam hati aku ingin menangis.


Di sepanjang jalan. Aku hanya diam memperhatikan jalan bogor-jakarta lewat jendela kaca mobil. Dicky mengajakku ngobrol tapi aku jawab seadanya saja. Pikiran dipenuhi dengan Iqbal. Dan pasti Iqbal saat ini juga sedang melamun sama sepertiku.


Hari itu sudah gelap. Aku kira aku akan di antar pulang ke rumah ku. Namun, aku salah. Aku tidak di antar ke rumahku. Melainkan dibawa ke rumah Dicky. Kalau aku tahu, aku dibawa pulang ke rumah mereka, aku tidak mau.


Kok kesini! Aku mau ketemu Iqbal!.


"Ayo sayang masuk dulu." ucap Ibu Yanti padaku. Aku hanya mengangguk.


"Ayo ris." ajak Dicky. Aku diam di tempatku.


"Ada apa ris?." tanya Dicky.


"Gak pa-pa." ucapku.


"Yakin, kamu baik-baik aja kan." ucap Dicky.


Aku menggelengkan kepala. Lalu entah kenapa aku menangis di depannya. Dicky terlihat kaget melihat ku yang tiba-tiba menangis tanpa sebab. Tapi, diriku tahu penyebab semua ini adalah kesalahanku pada Iqbal.


"Maafin aku ris, ini salahku." ucap Dicky. Aku hanya menangis sambil sesegukan.


Lalu Dicky memeluk ku. Erat sekali. Tapi aku hanya diam, menangis di pundaknya. Aku tahu Dicky hanya ingin mencoba menenangkanku. Tapi, tidak bisa aku pungkirin bahwa aku sangat suka di peluk olehnya. Namun, disisi lain aku juga memikirkan Iqbal. Mungkin Iqbal menungguku pulang, aku tidak ingin Iqbal mencemaskanku dan memikirkan yang tidak-tidak karena aku bersama Dicky.


"Aku mau pulang." ucapku sambil menangis.


"Iya, aku anterin kamu pulang." ucap Dicky.


"Udah jangan nangis lagi, aku anterin." ucap Dicky sambil menghapus air mataku.


"Tunggu sini ya, aku ambil kunci mobil dulu." ucap Dicky. Aku mengangguk sambil menghapus air mata dengan tanganku.


"Ibu, aku antar rissa pulang ya." ucap Dicky sambil masuk kedalam rumah.


"Kenapa?, ini udah malem, besok aja." ucap Ibu Yanti dari dalam rumah. Ibu yanti lalu keluar menemuiku.


"Rissa mau pulang?." tanya Ibu Yanti.


"Iya bu." ucapku.

__ADS_1


"Udah malem sayang, nginep sini aja, besok baru pulang." ucap Ibu Yanti. Aku menggelengkan kepalaku.


"Rissa kecapekan bu, mau istirahat." ucap Dicky membantu mencari alasan.


"Ya masuk sayang, tidur di dalam." ucap Ibu Yanti.


"Ayo rissa sayang masuk." ucap Ibu yanti. Aku hanya terdiam ditempatku.


"Ibu, obatnya tinggal, dia gak boleh telat minum obat, biarin rissa pulang ya bu." ucap Dicky.


Aku tidak tahu kenapa Ibu Yanti seperti menahanku dirumahnya. Walaupun aku ingin. Tapi, aku harus bertemu Iqbal dan meminta maaf padanya.


"Kenapa kalian di luar, ada apa?." tanya Ayah Rahmad.


"Rissa mau pulang yah." ucap Dicky pada Ayah Rahmad.


"Oh ya udah, kalau rissa mau pulang, kita gak bisa maksa dia tinggal disini." ucap Ayah Rahmad.


"Iya bu, izini, rissa pulang ya bu." ucap Dicky memohon.


"Iya udah, hati-hati ya dijalan, besok main ke sini ya ris." ucap Ibu Yanti.


"Iya bu." ucapku pelan.


Setelah berpamitan dengan Ibu Yanti dan Ayah Rahmad. Aku dan Dicky langsung pergi menuju rumahku.


Di sepanjang jalan, tak henti-hentinya aku menangis. Aku terus kepikiran dengan Iqbal. Dan ditambah memikirkan perasaan Ibu Yanti. Aku tidak tahu kenapa Ibu Yanti menahan ku tadi. Mungkin Ibu Yanti ingin aku bersamanya sebelum aku kembali ke rumah nenek. Atau mungkin dia ingin Aku dan Dicky bersama. Entahlah.


Hari itu, aku membuat dua orang yang aku sayang kecewa dengan sikapku. Tapi, aku tidak bisa berbuat apa-apa, selain menangis, menangis dan menangis. Dicky juga terus menyuruhku untuk tenang, tapi aku tetap tidak bisa.


Mungkin karena kesal dengar aku menangis terus. Dicky menepikan mobilnya di pinggir jalan.


"Rissa, jangan nangis ya, kamu tenang." ucap Dicky.


"Gak bisa." ucapku sesegukan.


"Coba liat langit itu, kamu liat bintang, kan." ucapnya. Sambil sesegukan, mataku menatap apa yang Dicky tunjuk.


Lalu Dicky menekan wajahku di tengah antara alis dengan jari jempolnya. Aku heran, dengan apa yang dilakukannya.


Lalu dia menggerakkan jarinya itu turun ke hidung lalu naik ke keningku. Dia mengulangi gerakan itu sampai membuat mataku sayu. Aku mengantuk. Entah dari mana Dicky mempelajari itu. Tapi, itu berhasil membuatku tenang dan tertidur. Mungkin dia mempelajari dari dokternya. Namun menurut aku, Dicky seperti pesulap, yang bisa menangkan diriku tanpa obat tidur.


--oo--

__ADS_1


__ADS_2