
Senin, 14 Februari 2011. Itu adalah hari ulang tahunku yang ke 11 tahun. Dimana hari itu bertepatan dengan hari kasih sayang. Ayah dan ibu berencana untuk mengadakan pesta ulang tahun untuk ku. Tapi, aku menolaknya, aku tidak ingin pesta. Aku lebih suka acara makan malam sederhana bersama keluarga besarku. Ayah dan ibu pun menyetujui permintaanku.
Malamnya, sekitar pukul tujuh lewat. Kami semua berkumpul di meja makan. Ibu sudah menyiapkan kue tart yang dia buat sendiri. Sebelum makan malam dimulai. Ayah, Ibu, Nenek, om Adam, tante Yuli, Tante Maya, Om Arman dan juga para sepupuku Dea, anggun, Lia, Kikky dan Andi, menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama untuk ku. Rasanya aku senang sekali bisa merayakan ulang tahun bersama orang-orang yang sangat aku sayangi.
"Yeaahhh." ucap semua orang setelah aku meniup lilin sambil tepuk tangan.
"Selamat ulang tahun sayang." ucap Ibu sambil mencium pipiku. Begitu juga Ayah.
"Selamat ulang tahun Rissa." ucap sepupuku Dea. Aku tersenyum.
"Selamat ulang tahun keponakan om tersayang, semoga makin cantik." ucap Om Adam.
"Hehehe, makasih om adam ganteng." ucapku.
"Hahaha." semua orang ketawa.
"Selamat ulang tahun Rissa sayang, semoga panjang umur, makin pinter sekolah." ucap Nenek.
"Amin." ucap semua orang.
"Hehe, makasih nenek." ucapku.
"Asik makan, aku mau tart boleh." ucap Kikky.
"Boleh, tante potong dulu ya." ucap ibu.
"Aku juga mau tante." ucap Anggun.
"Aku juga." ucap Dea.
"Aku tante." ucap Andi.
"Lia juga mau." ucap Lia.
"Iya, sabar ya." ucap Ibu.
"Rissa mau juga?." tanya Ibu padaku.
"Iya." ucapku.
"Nih." ucap Ibu sambil membagikan kue tart pada kami.
"Makasih tante." ucap Dea. Ibu hanya tersenyum.
"Rissa." ucap Anggun sambil makan.
"Hm." ucapku.
"Aku punya hadiah buat kamu." ucap Anggun.
"Apa?." ucapku. Anggun berdiri dari tempatnya dan berjalan mendekatiku.
"Ini." ucap Anggun sambil menyodorkan sebuah kotak kecil.
__ADS_1
"Apa ini, aku boleh buka sekarang." ucapku. Anggun mengangguk. Aku pun membukanya dan ternyata isinya adalah kotak musik berbentuk piano.
"Wow, kotak musik, bagus." ucapku.
"Kamu suka?." tanya Anggun. Aku mengangguk tersenyum. Anggun pun kembali ketempat duduknya.
"Aku juga punya hadiah untukmu." ucap Andi. Andi mengambil kadonya dari bawah meja dan memberikannya padaku. Hadiah dari Andi cukup besar.
"Aku boleh buka kan." ucapku.
"Boleh, buka aja." ucap Andi.
Aku pun membukanya. Hadiah dari Andi adalah mainan mobil remot yang sedang hits waktu itu.
"Mobil remot?." ucap Dea.
"Rissa itu cewek An, masa dikasih mobil remot." ucap Dea lagi.
"Iya, cewek tuh sukanya boneka barbie, masak-masakan gitu." ucap Lia.
"Emang seperti itu?." ucap Andi.
"Aku sudah bilang sama dia, beli aja boneka teddy bear warna pink, tapi dia tetep beli mobil-mobilan buat Rissa." ucap Kikky.
"Coba tanya Rissa, dia suka gak hadiah dari mobil remot." ucap Om Arman.
"Ris, kamu suka kan hadiah dari aku." tanya Andi.
"Ini keren an, aku suka." ucapku sambil memandangin mobil remot itu dari tadi.
"Nanti kita balapan Ris, sama Kikky juga." ucap Andi.
"Ayo siapa takut." ucapku.
"Kalian bertiga main aja masak-masakan, kami bertiga mau main balapan." ucap Andi.
"Biarin, asik juga main masak-masakan." ucap Dea Kesal.
"Hehehe."
"Sudah-sudah ayo di makan makanannya nanti dingin." ucap Nenek.
Acara makan malam itu sudah cukup membuatku senang di hari yang spesial bagiku dan juga merayakan hari Valentine bersama dengan orang yang aku sayang.
***
Esoknya, seperti biasa saat jam pulang sekolah. Iqbal menjemputku di kelas. Karena kejadian waktu itu. Setiap jam pelajaran berakhir Iqbal selalu datang ke kelas menjemputku. Dan yang lebih bagusnya lagi Kelvin tidak pernah mengganggu aku. Selagi menunggu Iqbal datang menjemputku, aku melajutkan baca buku cerita yang belum aku selesaikan.
30 menit sudah berlalu. Namun, Iqbal belum juga datang ke kelasku. Aku cemas apa dia dalam masalah atau dia yang sedang membuat masalah baru untuknya. Aku pun memutuskan untuk pergi ke kelasnya. Namun, sampai disana aku tidak melihat siapa pun. Anak-anak yang lain sudah pada pulang. Aku pun kemudian berlari menuju lapangan futsal berharap Iqbal ada disana. Sampai disana hasilnya nihil. Iqbal tidak ada. Aku tidak tahu dia kemana. Dia tidak mengatakan apapun padaku. Apa dia sudah pulang.
Tidak mungkin! Iqbal pergi meninggalkanku.
Pikiran ku kemana-kemana. Ini mengingatku pada Dicky yang tiba-tiba menghilang. Aku tidak ingin kesalahpahaman yang pernah terjadi kepada Dicky waktu itu terulang pada Iqbal.
__ADS_1
"Iqbal." teriakku sambil mencari dirinya.
Aku terus mencari Iqbal diseluruh penjuru sekolah. Namun, hasilnya tetap saja nihil. Rasanya aku ingin menangis saat aku tidak bisa menemukan Iqbal.
"Iqbal, apa kamu didalam." panggilku saat di toilet cowok. Aku berharap Iqbal ada di dalam. Karena itu adalah tempat terakhir yang belum aku periksa. Tapi sepertinya Iqbal tidak ada disana.
"Iqbal kamu kemana?." ucapku.
"Kenapa kamu tinggalkan aku." ucapku.
Air mataku tidak tertahan lagi. Aku menangis sambil duduk memeluk lututku didepan toilet cowok. Aku tidak percaya Iqbal pergi tanpa menemuiku dulu sama seperti Dicky waktu itu.
Disaat aku sedang menagis. Tiba-tiba seorang berteriak memanggil namaku. Aku pikir itu guru atau satpam sekolah. Ternyata bukan, itu Iqbal.
"Rissa." panggil Iqbal sambil berlari mendekatiku. Aku langsung memeluknya sambil terus menagis.
"Kamu kenapa?." tanya Iqbal. Aku tidak menjawab.
"Kenapa disini, aku suruh kamu nunggu dikelas tadi, apa Kelvin ganggu kamu lagi." ucapnya sambil menghapus air mataku. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Terus kenapa kamu nangis, ada yang ganggu kamu, siapa, kasih tahu aku." ucapnya.
"Kamu." ucapku. Dia diam.
"Aku?." ucapnya bingung.
"Kamu kemana?, aku tadi cariin kamu kemana-mana, tapi kamu gak ada." tanyaku sambil sesegukan.
"Aku pergi sebentar tadi." ucapnya.
"Aku pikir kamu ninggalin aku." ucapku sesegukan.
"Enggak ris, kan aku bilang aku jemput kamu dikelas, tadi aku ke kelas kamu, kamunya gak ada." ucapnya. Aku diam.
"Aku pergi tadi mau beli permen kapas buat kamu, kamu kan suka permen kapas, tapi gak ada, aku mau kasih hadiah buat kamu, kemarin kamu ulang tahun, tapi aku gak kasih kamu apa-apa." ucapnya. Aku hanya terdiam.
"Karena permen kapasnya gak ada, aku beli ini untuk kamu, nih." ucapnya sambil menyodorkan kotak kecil yang sudah dibungkus rapi. Dengan mata sembab. Perlahan aku mengambilnya dan membuka isi kotak itu. Kotak itu berisi gelang rantai dengan aksen bola-bola. Gelangnya bagus, sederhana, aku suka. Aku tahu harga gelang itu tidak seberapa dibandingkan dengan perjuangan Iqbal untuk bisa membelikan gelang ini. Aku yakin Iqbal sudah menyimpan sebagian uang jajannya untuk ini.
"Maaf Ris, aku gak bermaksud buat kamu nangis, aku cuman mau kasih kamu kejutan." ucapnya. Aku senyum menatapnya.
"Mau pakai kan gelang ini di tanganku." ucapku sambil mengulurkan tangan kiri ku padanya.
"Sini, aku pakai kan." ucapnya. Dia memasangkan gelang itu padaku.
"Terima kasih." ucapku. Dia tersenyum sambil menghapus sisa air mata dipipiku.
"Kamu tau, kalau mama ku tau kalau kamu nangis gara-gara aku, aku pasti dimarahi." ucapnya.
"Aku gak nangis, kalau kamu bilang mau pergi, jadi aku gak bingung cari kamu dimana." ucapku.
"Maaf." ucapnya. Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala.
"Ayo pulang, nanti kita dicariin." ucapnya. Aku mengangguk.
__ADS_1
Sebelum pulang, Iqbal menemaniku untuk mengambil tas dan buku ku yang sengaja aku tinggalkan di kelas. Setelah itu kami pun segera pulang kerumah.
--oo--