Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Turnamen Futsal


__ADS_3

Iqbal meminta aku untuk hadir di turnamen futsal yang dimana sekolah kami menjadi tuan rumah acara itu. Dia ingin aku menonton dan menyemangati dirinya dalam pertandingan. Ya, walaupun aku tidak begitu suka bola, aku pun datang bersama Tasya, teman sekelas ku.


Di sana begitu ramai, anak-anak sudah berkumpul mengelilingi lapangan. Aku dan Tasya menerobos kerumunan untuk bisa ke depan melihat Iqbal. Jika aku berada di belakang Iqbal akan mengira kalau aku tidak datang. Dia pasti kecewa denganku. Dari jauh ku lihat Iqbal dan timnya sudah bersiap untuk bertanding. Iqbal adalah kapten tim futsal sekolah kami. Aku rasa dia cocok dengan posisi itu.


"Iqbal." teriak ku sambil melambaikan tangan. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya juga padaku.


"Semangat Iqbal." ucap Tasya. Iqbal hanya tersenyum.


Tasya dan Iqbal hanya teman biasa. Tasya pun sudah punya pacar, namanya Febri. Febri juga ikut bertanding bersama Iqbal.


Suara pluit menandakan pertandingan dimulai. Semua orang bersorak menyemangati tim favorit mereka masing-masing. Begitu pun aku dan Tasya.


"Ayo Iqbal." teriak ku.


"Ayo beb." teriak Tasya. Aku kaget sambil tertawa geli.


"Hahaha, beb."


"Iya, hahaha." ucap Tasya.


"Ayo huhh."


"Ris." ucap Tasya.


"Iya."


"Kamu dan Iqbal pacaran?." tanya Tasya.


"Nggak." ucapku.


"Terus kenapa dia bilang sama teman-temannya kamu pacarnya." ucap Tasya. Aku kaget.


"Serius, aku gak tahu." ucapku.


"Iya, kamu sadar gak, gak ada lagi cowok yang deket-deket sama kamu, biasanya anak cowok suka deketi kamu, ada yang sampe kasih coklat kan waktu itu, Kelvin juga gak pernah ganggu kamu lagi kan." ucap Tasya. Aku diam.


Aku tidak tahu dengan semua yang dikatakan Tasya. Aku pikir anak-anak cowok yang dulunya suka deketi aku itu menjauh karena aku gak pernah kasih respon baik kepada mereka. Aku gak tahu kalo Iqbal lah dibelakang semua ini.


"Aku pikir kamu beneran pacaran sama Iqbal, karena tiap hari kalian selalu berdua." ucap Tasya.


"Kalo Iqbal bilang seperti itu, berarti aku pacarnya." ucapku.


"Dari pada mereka dekati aku lagi, apalagi Kelvin, aku gak suka dia, mending Iqbal saja yang dekati aku." ucapku sambil menatap Tasya.


"Hahaha, kamu suka sama Iqbal ya." ucapnya. Aku cuman tersenyum dan bersorak untuk Iqbal.


"Ayo Iqbal, huu." teriak ku sambil bertepuk tangan.


***


Disaat pertandingan selesai. Aku mendekati Iqbal yang sedang beristirahat sambil membawa air mineral untuknya.


"Nih." ucapku.


"Terima kasih." ucapnya.


"Iya." ucapku sambil duduk disebelahnya. Ku lihat dia minum dengan bajunya yang basah karena keringat.


"Kamu hebat, tim kita menang." ucapku.


"Ini juga berkat teman-teman yang lain." ucapnya.


"Dan kamu." ucapnya. Aku tersenyum.


"Oh ya, kamu lapar?, mau siomay." ucapku.


"Boleh." ucapnya.


"Aku ke kantin dulu." ucapku sambil berdiri.


"Dengan siapa?." tanya ya.


"Sendiri, Tasya lagi sama Febri." ucapku.


"Aku temani." ucapnya.


"Gak usah, aku aja, gak pa-pa kok." ucapku.


"Ya udah, langsung kesini, jangan kemana-mana." ucapnya.


"Kenapa emang?." tanyaku.


"Aku lagi sibuk turnamen, kamu kemana, enak kalo kamu gak pa-pa, tiba-tiba kamu nangis, kenapa-napa, kan aku yang susah." ucapnya.


"Hehe, aku gak nangis lagi." ucapku.


"Awas ya nangis lagi, ya sudah pergi sana." ucapnya. Aku tersenyum.


"Ok." ucapku sambil berjalan pergi.


"Rissa, langsung kesini, jangan kemana-mana." teriaknya.


"Iya bawel." ucapku.


Di kantin. Aku langsung memesan siomay untuk Iqbal dan untukku.

__ADS_1


"Bude, siomay nya 2 porsi, bungkus aja bude." ucapku.


"Ok, dek Rissa, tunggu ya." ucap bude penjual siomay.


Selagi menunggu pesanan. Aku mengambil air mineral dingin di showcase cooler. Lalu, aku duduk di tempat yang telah disediakan. Suasana di kantin tidak terlalu ramai dari biasanya, mungkin karena ada turnamen futsal.


Tiba-tiba seorang cowok datang menghampiriku. Dia dari sekolah lain, aku gak kenal dia siapa.


"Boleh aku duduk sini." ucapnya.


"Hah, silahkan." ucapku. Dia duduk di hadapanku.


"Dengan siapa?." tanyanya.


"Aku?." tanyaku balik.


"Iya." ucapnya.


"Sendiri." ucapku.


"Oh, aku sama temen." ucapnya.


"Siapa yang nanya." ucapku dalam hati.


"Kamu dari sekolah mana?." tanyaku.


"SD kusuma bangsa." ucapnya.


"Oh." ucapku.


"Oh ya, kenalin." ucapnya sambil mengulurkan tangannya. Dengan ragu aku pun menerima uluran tangan itu.


"Aku Riko." ucapnya.


"Rissa." ucapku.


"Senang bertemu denganmu, Rissa." ucapnya. Aku cuman tersenyum.


"Senyummu manis." ucapnya.


"Makasih." ucapku.


"Kamu kapten tim futsal." ucapku.


"Iya, nanti tim futsal sekolah kami lawan tim futsal kamu." ucapnya.


"Berarti kamu berhadapan sama Iqbal." ucapku


"Siapa Iqbal?." tanyanya.


Tiba-tiba seorang cowok memanggil Riko dari jauh. Sepertinya itu teman Riko.


"Riko, ayo." ucap teman Riko.


"Ya sudah, aku duluan ya." ucapnya.


"Iya." ucapku.


"Sampai jumpa." ucapnya sebelum pergi.


Akhirnya pesanan yang aku tunggu datang. Setelah bayar, aku segera pergi menemui Iqbal, atau Iqbal akan mencemaskan aku karena aku sudah terlalu lama di kantin.


"Kamu dari mana?." tanya Iqbal saat aku baru sampai.


"Dari kantin." ucapku sambil duduk disebelahnya.


"Lama banget." ucapnya.


"Nunggu ini." ucapku.


"Lama banget ris, aku cemas kamu digangguin." ucapnya.


"Siapa yang berani ganggu aku, kalo kamu ada di sekolah ini." ucapku.


"Ck."


"Udah ah, ayo makan, bentar lagi kamu mau tanding." ucapku.


"Nih." ucapku sambil menyodorkan siomay yang udah aku bungkusnya.


"Suapi." ucapnya sambil membuka mulutnya.


"Ck, selain bawel ternyata kamu juga manja." ucapku.


"Hehehe."


"Aakk." ucapku sambil memasukkan siomay kedalam mulut Iqbal dengan tusuk sate. Iqbal hanya tersenyum, mengunyah makanannya sambil menatapku. Aku juga memakan siomay sambil terus menyuapi Iqbal.


***


Pertandingan babak baru segera akan dimulai. Iqbal dan tim bersiap diposisi masing-masing. Begitu juga Riko, cowok yang bertemu denganku di kantin. Dia juga sudah siap dengan timnya. Pluit berbunyi pertanda pertandingan dimulai. Semua orang bersorak begitu juga aku. Aku dengan semangat bersorak untuk Iqbal. Sesekali kami berbalas senyum.


"Ayo." teriak ku.


Tanpa sengaja mataku menangkap sosok Riko. Dia melempar senyum sambil melambaikan tangannya padaku. Aku cuman diam melihatnya. Apa aku harus melambaikan tanganku. Tapi, Iqbal melihat ke arahku dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


"Itu siapa?." tanya Tasya.


"Riko." ucapku.


"Kamu kenal." ucap Tasya.


"Gak sengaja kenalan di kantin tadi." ucapku.


"Iqbal kayaknya gak suka dengan dia." ucap Tasya. Aku diam.


Aku memperhatikan Iqbal yang berhadapan dengan Riko. Perasaan aku tidak enak dengan sikap Iqbal. Aku tau Iqbal sedang bertanding wajar kalo dia berhadapan dengan lawannya. Tapi, ini beda, dia seperti sedang mengajak lawannya berkelahi.


Iqbal terus berada di dekat Riko, menghalanginya menggiring bola. Sesekali aku melihat Iqbal bicara pada Riko. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi, sepertinya Riko sudah mulai terpancing karena Iqbal.


Suasana pertandingan menjadi panas. Aku cemas melihat Iqbal dan Riko saling beradu badan. Saat Iqbal menggiring bola menuju gawang lawan. Tiba-tiba Riko datang menghentikan Iqbal dengan gerakan tackle. Iqbal tidak bisa menghindarinya dan Iqbal pun terjatuh. Iqbal merintih kesakitan. Semua orang yang berada di lapangan mendekati Iqbal termasuk Pak eko yang menjadi pelatih futsal sekolah kami saat itu. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Iqbal, aku bertambah cemas saat melihat Iqbal dibawa Pak Eko keluar lapangan.


"Iqbal." ucapku. Aku segera pergi menuju UKS di mana Iqbal dibawa.


***


Setelah Iqbal mendapat penanganan cedera pergelangan kaki yang dialaminya. Aku meminta izin guru untuk melihat keadaan Iqbal di UKS. Iqbal bangun dari tempat tidur saat melihat ku datang. Aku berdiri memperhatikan kakinya yang di balut perban.


"Bagaimana?." tanya ku.


"Bagaimana apanya?." tanya balik Iqbal.


"Kakimu." ucapku.


"Mendingan." ucapnya.


"Kenapa berdiri, ayo duduk." ucapnya. Aku pun duduk di sebelahnya.


"Kamu gak pa-pa kan." tanya ku.


"Iya, aku gak pa-pa." ucapnya.


"Bal, ini salah aku, seharusnya aku kasih tau kamu, kalo aku ketemu sama Riko." ucapku.


"Kamu kenal dia?." tanya nya.


"Iya, baru kenalan di kantin." ucapku. Iqbal diam.


"Kamu gak suka dia ya, aku lihat kamu kayak mau ngajak dia berantem." ucapku.


"Iya, tapi gak jadi, ku rasa dia takut, makanya dia sleding aku biar aku cedera, terus dia bisa lari dari aku." ucapnya.


"Kamu ini kenapa sih suka banget berantem." ucapku.


"Dia itu dari sekolah lain, kamu jangan cari masalah yang bisa buat kamu di hukum pihak sekolah." ucapku lagi.


"Lagian dia juga gak ada masalah sama kamu." ucapku.


"Ada." ucapnya.


"Apa?." tanyaku


"Dia berani deketi kamu." ucapnya.


"Dia kan cuman mau kenalan aja." ucapku


"Aku gak suka." ucapnya.


"Kenapa?." tanyaku.


"Ya aku gak suka kamu dekat-dekat sama orang gak dikenal, nanti kamu di buatnya nangis, terus aku juga yang susah." ucapnya.


"Hem, bilang aja kamu cemburu, ya kan." ucapku.


"Gak." ucapnya.


"Eleh, kamu cemburu kan." ucapku.


"Enggak." ucapnya.


"Cemburu." ucapku.


"Terserah lah." ucapnya kesal. Aku tersenyum sambil memeluk Iqbal dari samping.


"Lepas Ris, jangan peluk aku." ucapnya sambil melepaskan tangan ku. Tanpa sengaja kakinya menyenggol kakiku.


"Aw aw." rintih Iqbal.


"Kenapa, sakit ya." ucapku cemas.


"Gak, kan yang cedera sebelah sini." ucapnya. Iqbal mengerjai ku. Aku lupa kaki kanannya yang cedera bukan kaki sebelah kiri.


"Ihh." ucapku sambil memukul pundak Iqbal.


"Aw, ini sakit Ris." ucapnya.


"Gak tau." ucapku kesal sambil melirik ke arah Iqbal yang mencoba menghiburku yang kesal dengan wajah lucunya.


"Hahaha." kami tertawa bersama.


--oo--

__ADS_1


__ADS_2