Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Aku selalu terbayang sosoknya


__ADS_3

Tiba saat kenaikan kelas 6 SD. Ditemani Ibu, aku mengambil hasil nilai raport ku disekolah. Seperti biasa nilai ku bagus dan aku mendapat rangking pertama. Namun, ada satu hal yang sangat aku khawatirkan saat itu, Iqbal. Aku cemas dengan deratan masalah yang dia koleksi di sekolah, aku takut dia tidak naik kelas. Aku dan ibu menunggu Iqbal dan tante Dewi, mamanya Iqbal yang dipanggil ke ruang guru. Entah apa yang mereka bahas di dalam. Aku hanya bisa berharap cemas dengan nilai raport Iqbal. Semoga saja yang aku cemaskan tidak terjadi.


"Bagaimana?." tanya Ibu saat Tante Dewi dan Iqbal keluar dari ruang guru.


"Iqbal naik kelas, tapi bersyarat." ucap tante Dewi.


Aku lega mendengar bahwa Iqbal naik kelas walaupun bersyarat. Ternyata guru-guru masih menoleransi kasus Iqbal dengan prestasinya di sekolah. Dia sudah banyak memenangkan pertandingan futsal dan membawa nama baik sekolah kami.


"Gak pa-pa lah mah, yang penting naik kelas." ucap Iqbal.


"Gak pa-pa, gak pa-pa, untung kamu gak dikeluarin dari sekolah, bagaimana mama ngomong sama papa kamu, nak." ucap Tante Dewi. Iqbal diam.


"Nah Iqbal, selanjutnya kamu harus perbaiki diri kamu." ucap Ibu.


"Iya tante." ucap Iqbal.


"Kamu liat Rissa, dia dari tadi cemas nungguin kamu." ucap Ibu.


"Ibu." ucapku malu.


"Hahaha."


"Aku naik kelas, ris, kamu gak usah cemas." ucap Iqbal.


"Bagaimana gak cemas, kamu banyak kasus di sekolah, aku sering bilang sama kamu, jangan berantem, jangan cari masalah, kamu masih saja." ucapku kesal.


"Iya ris, marahin dia, marahin, tante udah bingung hadapi dia." ucap Tante Dewi.


"Iya tante, emang selalu aku marahin." ucapku.


"Eleh." ucap Iqbal sambil mencolek pipiku.

__ADS_1


"Ihh."


"Hahaha."


***


Di kelas 6. Aku dan Iqbal satu kelas. Aku duduk sebangku dengannya. Aku senang bisa satu kelas dengannya dan waktu bersamanya jadi lebih lama. Setiap hari aku dan Iqbal menghabiskan waktu bersama, mengerjai tugas sekolah bersama dan terkadang aku ikut menemaninya latihan futsal. Meskipun aku selalu bahagia dengannya. Tapi, tidak ada satu hari dimana Iqbal tidak membuat ku kesal. Dia masih saja menbuat masalah. Aku sampai menghampirinya yang saat itu sedang tawuran dengan anak sekolah lain. Bukannya minta maaf atau berhenti tawuran, dia malah marahiku karena aku menghampirinya.


Saat kelulusan tiba, aku merasa senang karena aku akan masuk SMP. Namun, di sisi lain aku merasa sedih karena aku akan berpisah dengan Iqbal. Aku akan mendaftar ke SMP negeri favorit. Sementara dia akan ke luar kota melanjutkan sekolah disana. Dan itu membuatku sedih. Beberapa hari aku tidak bicara dengan Iqbal karena hal ini. Aku marah padanya. Dia berusaha menghiburku dan mencoba menjelaskannya padaku. Tapi, aku tidak mau mendengarkannya.


Saat aku melihat daftar nama yang mendaftar SMP Negeri Favorit di mading. Ternyata nama Iqbal ada disana. Langitku yang tadinya mendung berubah cerah seketika. Aku sangat senang Iqbal ikut bersamaku. Aku langsung berlari menghampiri Iqbal yang sedang duduk dikelas sambil bermain PSP games.


"Iqbal." teriakku senang. Aku duduk dikursi sebelahnya.


"Apa." ucapnya sambil fokus bermain video game miliknya.


"Kamu ikut daftar juga." ucapku.


"Iya." ucapku sambil memeluknya dari samping.


"Jangan peluk, aku lagi main, nanti aku kalah." ucapnya. Tapi aku tetap memeluknya. Aku suka bersandar di pundak Iqbal. Rasanya nyaman seperti bantal.


"Yahhh, tuh kan kalah." ucapnya.


"Hahaha."


"Malah ketawa." ucapnya.


"Hahaha." aku ketawa sambil memeluknya lagi. Iqbal hanya menghela nafasnya sambil melanjutkan memainkan PSP miliknya.


***

__ADS_1


Rasanya waktu berlalu dengan cepat. Aku lulus masuk ke SMP Negeri Favorit begitu juga Iqbal. Dia benar-benar berusaha untuk bisa masuk sekolah yang sama denganku. Aku menghargainya perjuangannya itu. Aku sangat senang bisa bersama Iqbal di sekolah yang sama dan di kelas yang sama.


Seiringnya waktu, Iqbal mengutarakan perasaannya yang dia pendam untukku. Dia tidak lagi bohong pada teman-teman yang lain kalau aku adalah pacarnya. Aku memang sudah menjadi pacarnya sesaat setelah dia berani mencium pipiku di kelas. Aku suka saat itu. Rasanya langitku berubah warna pink blossom.


Tapi, ada hal yang tidak aku sukai dari Iqbal. Dia masih sama, masih suka berantem. Baru satu bulan sekolah, dia sudah berantem dengan teman sekelas kami sampai hidungnya berdarah. Aku sangat cemas saat itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapinya. Selain marah-marah dengannya. Aku takut dia kenapa-kenapa. Walau aku sering marah-marah, mengengkangnya. Dia tidak pernah bersikap kasar padaku. Iqbal pernah bilang padaku : "Kalau cowok mukul cewek itu bukan keren, tapi cemen.". Ya, meski apapun yang dikatakanyan, aku tetap tidak suka dia berantem apalagi ikut tawuran.


"Sebenarnya kamu dapat keuntungan dariku." ucapnya.


"Apa?." tanyaku


"Gak akan ada yang berani ganggu kamu, karena kamu pacarku, kalau ada yang ganggu, sebut saja namaku, mereka pasti kabur duluan."


"Oh ya, bagaimana kalau aku sebut nama kamu, tapi mereka gak kabur." ucapku.


"Berarti dia belum berhadapan sama aku." ucapnya.


"Terus, apa yang akan kamu lakukan." ucapku.


"Ya kamu harus tunggu aku datang." ucapnya.


"Kalau kamu gak datang-datang, bagaimana." ucapku.


"Aku tau kamu bisa menghadapinya sendiri, kamu kan pemberani." ucapnya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.


Aku juga mendengar kabar bahwa Dicky masuk smp negeri yang dia inginkan di Jakarta. Aku dapat kabar dari Melyn. Aku senang mendengarnya. Dan kata Melyn, Dicky juga sudah punya pacar. Kabar itu meluncur bagai senapan yang menembus hatiku dengan keras. Jujur aku cemburu mendengar itu.


Jangan tanyakan perasaanku untuk Iqbal seperti apa. Aku sangat sayang padanya. Aku tak ingin dia pergi dariku dengan alasan apapun. Walaupun begitu perasaan di dadaku untuk Dicky juga tidak pernah berubah. Aku masih terbayang sosoknya. Ketika aku menutup mata, aku selalu menemukan sosoknya dalam khayalan ku.


Aku tahu ini sudah begitu lama sejak aku meninggalkan Jakarta. Tapi, perasaan rinduku semakin lama semakin dalam. Aku masih ingin bertemu dengan Dicky kalau itu mungkin bagiku. Aku tidak mengerti perasaan seperti apa ini. Bagaimana aku menjelaskannya tentang situasi hatiku ini. Aku tidak tahu. Haruskah aku mengatakan pada Iqbal tentang perasaanku ini atau membiarkan perasaan ini semakin dalam. Jika aku mengatakan ini pada Iqbal, aku takut akan menyakiti perasaannya dan besar kemungkinan dia akan pergi dari ku karena kecewa padaku. Aku tak ingin itu terjadi.


Mungkin aku memang egois dengan perasaan ini. Aku tidak memikirkan perasaan orang yang selalu berusaha membuat ku senang. Aku malah memikirkan orang lain bukan dirinya. Tapi, aku harus bagaimana, aku tak ingin kehilangan Iqbal dalam hidupku.

__ADS_1


--oo--


__ADS_2