
Ini bukan pertama kalinya aku seperti ini. Aku memang mudah lelah dan tidak bisa main panas-panasan. Ini sudah sejak aku baru masuk SMA.
Pada masa orientasi SMA, anak-anak baru termasuk aku dan Iqbal berdiri berjemur di lapangan. Aku lelah, kepanasan, aku duduk dan berisitrahat di tempat yang teduh. Tapi, aku malah dihukum lari keliling lapangan tiga kali. Iqbal membelahku saat itu, dia menawarkan diri untuk menggantikan aku. Namun, kakak kelas menolaknya, malah Iqbal dibilang sok jagoan oleh mereka. Iqbal sampai sempat emosi, dia ingin ngajak berantem mereka. Tapi, aku hentikan dia.
Aku memenuhi hukuman itu sampai aku jatuh pingsan karena kelelahan. Iqbal marah saat itu, kata anak-anak saat aku pingsan. Iqbal memukul kakak kelas yang menghukum aku itu sampai berdarah.
Dari kejadian aku pingsan itu. Setiap pelajaran olahraga aku selalu pingsan ditambah terik matahari yang menyengat, hidungku pasti mengeluarkan darah.
***
Aku terbaring lemas di ranjang klinik. Ku lihat Iqbal masuk ke ruanganku setelah menelpon seseorang. Dia duduk di kursi yang ada disamping ranjangku. Aku mengangkat tanganku, berusaha untuk menggapai tangan Iqbal. Iqbal memegang tanganku dan mendekat padaku.
"Kenapa?, mau minum." ucapnya. Aku menganggukkan kepala. Iqbal mengambil segelas air dari atas nakas dan membantuku untuk meminumnya.
"Maaf." lirihku setelah minum.
"Seharusnya aku yang minta maaf, aku sudah buat kamu kayak gini." ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku.
"Aku yang salah, aku tadi harusnya pindah duduk ke tempat lain atau aku pulang aja." ucapku pelan. Iqbal mengelus pipiku.
"Maafin aku ris, aku udah ninggalin kamu sendiri disana." ucapnya. Aku diam mengangguk menahan air mataku.
"Kita pulang ya, kamu bisa istirahat dirumah." ucapnya.
"Ayah gak tau kan, kalo aku mimisan." ucapku.
"Udah tau, barusan tadi aku kena marah ditelepon." ucapnya. Aku diam menatap Iqbal kasihan.
"Udah gak pa-pa, ayo pulang." ucapnya. Aku diam. Iqbal mengangkat menggendongku bridal style menuju motornya.
"Panas." ucapku saat berada diparkiran. Iqbal menurunkanku. Dia membuka kemeja putih sekolahnya dan hanya menyisahkan kaos oblong berwarna hitam di tubuhnya.
"Kamu kenapa buka baju." ucapku.
"Katanya tadi panas, pakai ini." ucapnya sambil memakaikan kemeja putih di kepalaku seperti kerudung. Dia tersenyum melihatku.
"Kamu kayak marsha and the bear." ucapnya. Aku hanya tersenyum tipis padanya. Lalu Iqbal naik ke motor ninjanya. Ku lihat dia mengambil tasku dan tas miliknya yang dari tadi dia gantung di stang motornya. Iqbal menggendong tas-tas itu didepannya.
"Kamu gak susah apa bawa tasnya kayak gitu." ucapku.
"Gak ris, ayo naik." ucapnya sambil memegangi tanganku. Perlahan aku naik ke motor ninjanya. Dia melingkarkan tanganku di pinggangnya.
"Peluk kuat-kuat, nanti kamu jatuh." ucapnya.
"Iya." ucapku mengeratkan pelukanku. Iqbal pun melajukan motornya meninggalkan klinik.
***
Sesampainya di rumah. Aku digendong Iqbal ala bridal style lagi. Aku bukannya tidak mau jalan sendiri. Aku sungguh tidak sanggup berjalan, kaki ku lemas rasanya.
"Assalamualaikum." teriak Iqbal didepan pintu. Ku dengar suara ibu menjawab salam Iqbal.
__ADS_1
"Walaikumsalam." jawab Ibu.
Betapa terkejut Ibu saat melihatku di gendong Iqbal dengan kemeja putih sekolahku yang penuh bercak darah.
"Ya Allah rissa, kenapa kamu sayang?." ucap Ibu cukup keras. Suara ibu membuat nenek, tante Yuli, tante Maya para sepupuku, Andi, Lia dan Kikky datang untuk melihatku.
"Kenapa?." tanya tante Maya.
"Rissa mimisan tadi tante, udah aku bawa klinik." ucap Iqbal.
"Gak pa-pa apa." tanya tante Yuli.
"Gak apa-apa tante." jawab ku.
"Rissa kenapa?." tanya Dea yang baru pulang sekolah.
"Mimisan." jawab Andi.
"Bawa rissa ke kamarnya." ucap Nenek cemas.
"Ibu mau ambil air dingin dulu." ucap Ibu. Iqbal langsung membawaku ke kamar. Dea, Andi, Lia dan Kikky mengikuti kami berdua. Dengan perlahan Iqbal membaringkanku di tempat tidur.
"Kamu gak apa-apa kan ris." tanya Dea yang sudah naik ke atas tempat tidur.
"Gak pa-pa." lirihku.
"Pasti kamu ini, ngajak rissa main panas-panasan." ucap Andi pada Iqbal. Iqbal diam saja.
"Yang lain keluar dulu ya, ibu mau ganti baju rissa." ucap Ibu. Mereka semua pergi termasuk Iqbal.
Ibu melepaskan semua pakaianku. Dia juga mengelap tubuhku dengan handuk yang direndam air dingin. Ibu tahu aku saat itu merasa gerah, ingin mandi tapi aku tidak bisa berdiri terlalu lama.
Ibu tidak bicara banyak padaku. Dia cuma menanyakan kenapa bisa aku mimisan. Aku hanya cerita sedikit apa yang terjadi. Aku tidak cerita soal Iqbal yang ninggalin aku di taman sendirian. Aku takut Ibu akan memarahi Iqbal.
Setelah selesai berganti pakaian dan ibu juga keluar. Iqbal masuk ke kamarku dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Iqbal juga sudah berganti pakaian dengan memakai baju Andi.
"Ayo kita makan." ucapnya sambil duduk ditepi tempat tidurku. Aku perlahan bangun dan bersandar.
"Aku bawa bubur ayam, hem." ucapnya. Aku diam melihatnya.
"Aak." ucapnya menyodorkan sesendok bubur ke mulutku. Aku menggelengkan kepala.
"Gak mau bal, aku gak lapar." ucapku.
"Dikit aja, aak." ucapnya lagi. Perlahan aku membukan mulut dan memakannya.
"Enak kan." ucapnya. Aku hanya mengangguk sambil makan buburku.
"Kamu udah makan?." tanyaku.
"Udah, sama yang lain tadi." ucapnya sambil terus menyuapiku.
__ADS_1
"Udah bal, kenyang." ucapku.
"Ya udah, nih minum obatnya." ucap Iqbal sambil memberikan ku vitamin yang diberi dokter tadi.
"Sekarang kamu tidur, istirahat." ucapnya. Iqbal membantuku berbaring. Dia menarik selimut, menyelimuti tubuhku.
"Temani aku bal, jangan pergi." ucapku. Dia tersenyum mengangguk. Dia lantas naik ke sisi lain tempat tidurku.
Aku memiringkan tubuhku sambil memeluk boneka kesayanganku menatap Iqbal yang dari tadi mengelus rambutku.
"Kalo kita udah sekolah lagi, nanti aku bawa mobil aja, biar kamu gak kepanasan." ucapnya.
"Terus motor kamu?." ucapku.
"Aku mau tukar dengan mobil, aku udah bilang sama papa, katanya ok." ucapnya.
"Gak usah bal, itukan motor kesayangan kamu." ucapku.
"Tapi aku lebih sayang kamu." ucapnya. Perlahan air mataku jatuh. Iqbal masih peduli padaku setelah apa yang aku ceritakan padanya.
"Gak pa-pa itu cuma motor." ucapnya sambil menghapus air mataku.
"Maafin aku bal, aku udah buat kamu kecewa." ucapku. Dia hanya senyum tipis padaku.
"Di jakarta nanti, kamu mau ketemu sama dia." ucapnya. Aku hanya mengangguk.
"Kalo disuruh pilih aku atau dia, kamu pilih siapa?." tanyanya lagi.
"Gak bisa, aku sayang kamu." ucapku.
"Tapi, kamu juga sayang dia." ucapnya. Aku diam.
"Ya udah, gak usah di pikiran, ayo tidur." ucapnya.
"Aku sayang Iqbal." lirihku.
"Iya, aku juga sayang kamu ris, sayang banget sama kamu." ucapnya.
"Pejamkan matanya." ucapnya. Aku memejamkan mataku. Iqbal menggenggam tanganku sambil menepuk-nepuk pelan pundak. Perlahan aku pun tertidur setelah merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirku.
Meski kadang aku merasa sendirian, kamu selalu hadir menemaniku. Bahkan disaat aku menangis kamu selalu berada di sampingku, menghiburku.
-Rissa Valentina-
--oo--
Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.
Line : rafikaanggraini11
Instagram : rafikaanggraini11
__ADS_1
Thank you