Kamu Yang Aku Rindu

Kamu Yang Aku Rindu
Aku dan dirimu


__ADS_3

Tidak ada yang salah dengan perasaan itu. Hanya saja perasaan itu ada di waktu yang salah.


-M. Iqbal Ardiansyah-


***


Tiga hari berlalu, setelah hari dimana aku dan Iqbal keluar dari SMA itu. Sekarang kami berdua sudah bersekolah kembali di SMA ternama. Dan hari ini adalah hari pertama aku dan Iqbal disana.


Saat ini, kami berdua sedang berdiri didepan untuk memperkenal diri kami pada teman-teman baru kami.


"Silahkan." ucap ibu Titin. Wali kelas baru kami.


"Perkenalkan nama saya M. Iqbal Ardiansyah dan ini namanya Rissa Valentina." ucap Iqbal.


"Hai." sapaku.


"Hai." sahut teman-teman.


"Cantiknya." ucap seorang cowok. Tiba-tiba seorang cowok mengangkat tangannya.


"Iya kenapa Rey?." tanya bu Titin.


"Mau tanya." ucap cowok yang bernama Rey itu.


"Iya tanya apa." ucap bu Titin.


"Kalian adik kakak?." tanya Rey pada kami. Aku dan Iqbal saling lempar senyum.


"Aku bukan kakaknya dan dia juga bukan adikku, rissa pacarku, kami udah pacaran dari sd." ucap Iqbal. Aku senyum menoleh Iqbal. Seingatku dia berani menyatakan cinta saat baru masuk SMP.


"Wow." ucap teman-teman.


"Aish, gak jadi rey pdkt." goda seorang cowok bernama Bagas pada Rey.


"Hahaha."


"Kalian mirip loh." ucap seorang cewek, namanya Elisa. Iqbal menoleh senyum menatapku.


"Jodoh mungkin." ucap Iqbal. Aku langsung ketawa begitu juga teman-teman sekelas dan ibu Titin ketawa.


"Hahaha."


"Ayo Iqbal dan Rissa silahkan duduk." ucap bu Titin.


"Iya bu, makasih." ucapku.


Aku dan Iqbal pun duduk di kursi kami masing-masing. Di sekolah itu muridnya duduk sendiri-sendiri. Tidak seperti sekolah aku dan Iqbal yang lama yang duduk berdua. Aku duduk di baris kedua nomor tiga. Sementara Iqbal duduk di belakangku. Aku menoleh ke belakang, tersenyum melihat Iqbal.


"Bal, kenapa gak duduk disana." ucapku sambil menunjuk kursi yang sejajar denganku.


"Aku jadi gak bisa liat kamu, kalo duduk disitu, masa aku liat cewek lain terus." ucapnya. Aku tersenyum. Aku kembali menghadap kedepan memperhatikan bu Titin.


"Ris." panggil Iqbal. Aku menoleh ke belakang.


"Apa?." tanyaku sambil melihat dia yang lagi cari sesuatu dari dalam tasnya.


"Pinjem pulpen, aku gak bawa." ucapnya.


"Ih, kamu ni." ucapku.


"Hehe, aku lupa sayang." ucapnya.


"Nih." ucapku sambil memberikan Iqbal pulpen pompom berwarna pink. Aku sengaja memberikan pulpen itu padanya.


"Cantik banget pulpennya, sama kayak yang punya." ucapnya. Aku ketawa kecil sambil menutup mulutku.


***


Saat jam istirahat. Aku dan Iqbal sedang berjalan di koridor sambil bergandengan tangan. Banyak anak-anak melihat ke arah kami. Aku malu, ingin melepaskan pegangan tangan Iqbal. Tapi, Iqbal tidak ingin melepaskan. Katanya, biar semua orang tau kalo kita pacaran, jadi gak ada yang gangguin aku apalagi dia.


"Kita mau kemana bal, masa jalan-jalan terus kayak gini." ucapku.


"Hem, kita ke kantin aja yuk, kuliner jajanan disana." ucapnya. Aku mengangguk.

__ADS_1


"Bentar bal." ucapku saat melihat ikatan tali sepatuku yang kendur. Aku ingin menguatkannya. Tapi, aku bingung caranya, kalo aku membungkuk rok seragam aku naik, pasti kelihatan celana pendek punyaku.


"Sini, aku ikat kan." ucapnya. Iqbal berjongkok mengikat kembali tali sepatu dengan kuat.


"Kenapa sih sekolah ini punya rok pendek kayak gini." gerutunya.


"Gak tau, ibu aja gak suka, ibu udah pesen rok baru yang lebih panjang dari ini." ucapku.


"Oh baguslah." ucapnya. Iqbal berdiri tanpa mendongakkan kepalanya melihatku, dia terus menunduk.


"Bukannya cowok-cowok itu suka liat cewek pakek rok pendek." ucapku.


"Gak semua cowok kok." ucapnya.


"Apa warna celana pendek aku tadi?." tanyaku. Iqbal langsung mengusap wajahku dengan tangannya.


"Aduh, kena mata." ucapku cemberut padanya.


"Maaf-maaf." ucapnya sambil ketawa.


"Hahaha."


"Ayo." ucapnya mengajakku ke kantin. Aku mengangguk.


Di kantin. Iqbal memesan satu cup pentol pedas. Sementara aku yang beli minumannya. Jadi aku dan Iqbal pergi menuju stand minuman. Aku memesan minuman rasa choco cookies. Sambil nunggu pesanan ku. Ku lihat Iqbal sibuk makan pentol pedas yang dia beli tadi.


"Mau?." ucapnya.


"Pedes." ucapku.


"Gak." ucapnya. Iqbal menyuapiku pentol itu dengan tusuk sate.


"Gak pedeskan." ucapnya.


"Pedes bal." ucapku. Iqbal tersenyum sambil mengambil pesanan minumanku yang sudah jadi. Dia pun memberikan minuman padaku. Aku segera meminumnya.


"Masa pedes, manis kayak gini kok." ucapnya.


"Ya manis, kan aku makannya sambil liat kamu." ucapnya. Aku senyum malu menatapnya.


"Ih." ucapku sambil pukul pelan pundak Iqbal.


"Udah pinter gombal ya sekarang." ucapku.


"Hahaha."


"Kenapa?, aku kan gombalin pacar aku sendiri." ucapnya.


"Hahaha."


"Yuk, kita beli yang bisa kamu makan." ucapnya. Aku mengangguk senang.


Aku membeli satu cup isi 5 telur gulung dengan sedikit saus. Karena kantin ramai, tidak ada tempat untuk kami duduk. Kami pun pergi ke taman sekolah. Kami berdua duduk di kursi yang ada payungnya, agar aku tidak merasa kepanasan dan membuat Iqbal cemas lagi.


"Enak?." tanya Iqbal padaku. Aku mengangguk sambil mengunyah telur gulung yang aku beli tadi.


"Boleh minta sedikit." ucapnya.


"Boleh." ucapku.


Aku mengarahkan satu telur gulung ke arah mulut Iqbal yang sudah menganga. Namun, sebelum telur gulung itu masuk ke mulutnya aku malah memutar haluan ke mulutku. Segera aku memakannya didepan Iqbal.


"Hem, enak." ucapku menggodanya. Iqbal diam menatapku dengan kesal.


"Hahaha." Aku ketawa.


"Rissa." ucapnya kesal.


"Iya-iya, ini, aak." ucapku. Iqbal hanya diam menatapku.


Beberapa detik kemudian tiba-tiba Iqbal dengan cepat mencium pipiku, membuatku terpaku diam. Dia tersenyum dan memakan telur gulung itu dari tanganku. Aku cemberut menatapnya yang lagi mengunyah sambil tersenyum mengejekku.


"Hahaha." Iqbal ketawa. Aku tetap cemberut menatapnya.

__ADS_1


"Udah, jangan cemburut gitu ah." ucapnya.


"Senyum dong." ucapnya sambil berusaha membuatku tersenyum. Aku tetap diam.


"Kalo kamu senyum, aku kasih hadiah deh." ucapnya.


"Hadiah apa?." tanyaku.


"Senyum dulu." ucapnya. Dengan terpaksa aku tersenyum manis padanya.


"Hiii."


"Nah gitu dong." ucapnya.


"Mana?." ucapku. Iqbal tersenyum sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya.


"Nih." ucapnya sambil memberikan kotak itu padaku.


Aku melihat Iqbal sebentar dan kemudian membukanya. Kotak itu berisi gelang emas putih. Gelang itu sangat begitu cantik. Tapi, aku rasa itu mahal.


Sejenak aku terdiam setelah melihat hadiah mahal Iqbal itu. Aku memang suka. Tapi, apa alasan Iqbal membeli hadiah itu buatku. Aku kan tidak lagi ulang tahun atau sedang merayakan sesuatu. Aku juga tidak tahu Iqbal bisa mendapatkan gelang itu dari mana. Aku tahu Iqbal berasal dari orang berada, meskipun begitu aku tak ingin Iqbal meminta uang dari ayahnya untuk membelikan aku ini.


"Kenapa?." ucapku.


"Maksudnya."


"Kenapa kamu beri aku gelang mahal ini." ucapku. Iqbal senyum padaku.


"Kamu ingat, saat kita masih sd aku pernah kasih kamu gelang, sampai sekarang kamu masih memakainya, walaupun sudah karatan masih tetep kamu pakai, jadi buat ganti gelang itu, aku beli gelang ini buat kamu." ucapnya.


"Gak usah bal, ini masih bagus kok." ucapku sambil melihat gelang tangan yang di beri Iqbal waktu itu masih melingkar di tangan kiriku.


Aku tidak pernah melepas gelang itu dari sd sampai sekarang, walaupun itu sudah berkarat, aku tetap memakainya. Namun, ibuku ingin membuang gelang itu dan menggantinya dengan yang lebih bagus. Tapi, aku tidak mau karena itu dari Iqbal. Jadi, setiap bulan sekali ibu membawa gelang itu ke pasar untuk disepuh, agar kulit tanganku tidak iritasi.


"Bagus dari mana ris, lepas aja, pakai yang ini, aku pakaikan ya." ucapnya. Aku menggelengkan kepalaku.


"Gak mau, ini hadiah pertama dari kamu." ucapku.


"Kamu tau ris, setiap weekend aku ke kantor papa, buat bantu-bantu, bantu fotokopi, antar minuman karyawan lain, bahkan aku bersih-bersih kantor, aku sama sekali gak nyangka kalau aku digaji sama papa, ya walaupun gak banyak, tapi cukuplah, jadi aku tabungin semua sampai aku bisa beli gelang ini buat kamu." ucapnya.


Setetes air mataku jatuh. Aku sungguh tidak menyangka Iqbal mau melakukan ini. Kalau dia mau, dengan mudah dia mendapatkan semua yang dia inginkan. Jujur aku terharu, aku tidak tahu harus bicara apa lagi padanya.


"Kok nangis." ucapnya. Aku buru-buru menghapusnya.


"Terharu." ucapku. Iqbal senyum.


"Buka gelangnya ganti yang ini." ucanya.


"Aku gak mau lepas yang ini." ucapku.


"Terus ini, gak mau kamu pakai." ucapnya.


"Mau, pasangin disini." ucapku sambil menyodorkan tangan kananku. Iqbal pun memakaikan gelang itu ditangan kananku.


"Cantik, aku suka Iqbal, terima kasih." ucapku tersenyum padanya. Iqbal tersenyum.


"Sekarang aku punya dua hadiah Istimewa, ini dari Iqbal kecil dan ini dari Iqbal besar." ucapku.


"Hahaha."


Iqbal,


Meskipun dunia ini hanya ada aku dan dirimu, aku akan senang hidup bersama denganmu.


--oo--


Jangan lupa tinggalkan vote dan komentarnya ya.


Line            : rafikaanggraini11


Instagram : rafikaanggraini11


Thank you

__ADS_1


__ADS_2