
Aku dengan gugup masuk ke kelas baruku setelah aku di nyatakan naik kelas ke kelas 2 Menengah pertama.
Aku mengedarkan pandangan berharap ada orang yang menyambutku di kelas yang sudah hampir penuh itu.
Sherly melambaikan tangan padaku dan menepuk kursi di sebelahnya,membuat aku tersenyum senang dan berlari ke arahnya.
"Kamu dari kelas B kan ?aku sering melihatmu beberapa kali"
Ucap Sherly penuh antusias,membuat aku sedikit canggung namun aku senang ada yang menyambutku.
Yuri di depan meja mereka berbalik ke arahku dan menatapku lekat.
"Gak mungkin kan gak kenal kita ?"
Aku tersenyum mendengarnya dan menganggukan kepala
"Sherly dan Yuri dari kelas G ... aku kenal kalian kok"
ucapku sambil mengeluarkan alat tulisku
"Kita duduk bareng ya Lyr..."
Ucap Sherly merangkul tanganku,sikapnya yang manis membuatku tak ingin menolaknya.
"OK"
ucapku tersenyum sambil membuka buku dan dan mengeluarkan sebuah pulpen dari kotak pensil.
"Kamu ya ... padahal kita kan dari dulu sebangku Sher ..."
Protes Yuri sambil cemberut
"Aku bosan !"
Sherly menjulurkan lidahnya dan melepaskan rangkulannya di lenganku,Yuri hanya berbalik ke depan dan tak menghiraukan ledekan temannya itu membuatku sedikit tidak enak sudah merebut posisi teman sebangkunya itu.
Saat wali kelas baru masuk semua anak di kelas itu segera duduk di tempat masing - masing dan menghentikan kegaduhan mereka.
Semua siswa memperkenalkan diri mereka masing - masing termasuk diriku walaupun di tatap dengan tatapan hina oleh beberapa teman yang lain aku menguatkan hati,aku yang biasa - biasa ini sudah biasa dengan perlakuan itu.
Bagiku sudah cukup Sherly yang cantik dengan kulit sawo matang yang memikat dan Yuri yang tinggi semampai ada di pihakku.
Pelajaran membosankan berlangsung membuatku hanya memainkan pulpen saat guru sedang menerangkan,dan berakhir saat pulpen ku jatuh ke kolong meja di sebelahku.
Dia tak bergeming meski menyadari pulpenku jatuh di dekat kakinya,aku menatapnya sebentar.
Mata sayu dan rambut hitamnya seakan bersinar dan membuat jantungku berdebar hingga waktu berjalan pelan di sekitarku.
Aku bahkan tak berani meminta tolongnya untuk mengambilkan pulpenku,suaraku hilang seketika.
"Lyra!!!"
__ADS_1
Suara wali kelas menggelegar hingga setiap mata tertuju ke arahku yang masih menatapnya,dia menatapku heran hingga membuatku gelagapan.
"Cie.... yang terpesona!"
Celetuk teman di sebelahnya ke arahku membuat seisi kelas gaduh
"Berhenti semuanya!Lyra maju kerjakan soal di papan "
Ucap Wali kelas kesal,aku maju dengan langkah takut dan wajah merah padam meraih spidol dari tangan wali kelasku.
Aku terdiam berusaha memahami soal matematika yang tak ku mengerti itu.
"Kamu gak memperhatikan dari tadi?!"
Aku menengok ke arah Wali kelas yang terlihat marah lalu menundukan kepala.
"Kamu itu kalau di kelas perhatikan guru kamu!jangan malah ngeliatin wajah teman kamu!"
Bentaknya membuatku sedikit beringsut mundur
"Kayanya terpesona liat Roan tadi dia bu!"
Celetuk teman sebangku anak lelaki itu
Roan ternyata namanya...
Aku fokus menatap Roan yang menggelengkan kepala tak ingin mendengar kegaduhan teman - temannya.
"Cukup!!!"
"Lyra ! Kamu berdiri di depan kelas sampai istirahat!!!"
Aku menunduk lemas dan berdiri di samping papan tulis dengan perasaan malu,aku sebenarnya terbiasa dengan hal ini namun untuk kali ini aku melakukannya di depan orang yang baru saja aku sukai membuatku merasa malu setengah mati.
Aku memilin jemariku berusaha tak melihat ke arah Roan hingga hukumannya selesai.
Sejak hari itu aku berusaha belajar dengan rajin dengan otakku yang biasa - biasa dan fasilitas terbatas dari orang tuaku agar aku tidak malu di hadapan Roan lagi.
Sherly dan Yuri sudah terbiasa mendengar ocehanku yang selalu tentang Roan,hingga satu kelas bahkan Roan sendiri tahu tentang perasaanku itu meski tidak secara langsung,aku tak punya kepercayaan diri sebesar itu
Dan itu membuat Roan risih,dia berusaha menghindar agar tidak berada di dekatku.Baginya aku bukan anak perempuan yang menarik hatinya sedikitpun dan dia tidak ingin gosip itu terus ada,itu yang terlihat.
Aku yang terus menyukai Roan seperti itupun akhirnya memutuskan untuk berusaha tidak menyukai Roan karena ternyata Yuri menyukai Roan sepertiku,membuat persahabatan kami menjadi renggang.
Hingga kelas 3 dan kami kembali terpisah,akhirnya aku memilih untuk belajar dengan giat dan berhasil lulus dengan hasil memuaskan.
Meski hatiku sempat sakit saat Roan seperti dengan sengaja memacari teman yang suka membullyku sejak dulu, Rani...
Aku memilih bertahan,karena aku sadar perasaannya memang tak terbalaskan.
Dan kami benar - benar terpisah,walau aku yang masuk ke sebuah sekolah menengah atas yang sebenarnya bersebelahan dengan sekolah Roan,kami hanya sesekali bertemu dan tidak saling menyapa.
__ADS_1
Seperti orang asing...
Aku takut perasaanku itu kembali ada saat bertemu dengan Roan hingga membuatnya risih lagi.
Cukup menyukainya di dalam hati...
****
Aku tumbuh menjadi siswi berprestasi,sekarang banyak teman yang mendekatiku meski tak tulus.
Penampilanku perlahan berubah menjadi seorang gadis menarik hati,meski wajahku biasa saja karena tak pandai berdandan tapi tubuhku yang tumbuh tinggi semampai membuat setiap siswa di sekolahnya menyukai pemandangan itu di tambah dengan kebiasaanku yang suka mengecilkan ukuran seragamku memperlihatkan bentuk tubuhku
Aku sebenar haus akan pengakuan,orang tuaku yang sibuk mencari uang bahkan tak pernah memuji prestasiku.
Hingga aku bertemu seorang anak lelaki yang seharusnya adalah kakak kelasku...
Ya ...
anak itu tidak naik kelas dan masih bersikap santai saat masuk ke kelasnya bersama siswa lainnya yang seharusnya adik kelasnya itu.
Aku menatapnya khawatir,aku seperti ada di sebuah cermin yang tembus ke masa laluku di sekolah menengah pertama.
Meski aku tak sampai tak naik kelas,aku paham betul perasaan di lihat dengan pandangan hina itu.
Aku mendekatinya meski dia nampak tak acuh di awal dia ternyata orang yang baik dan ceria.
Hingga kami dekat dan menjadi teman baik,Aku memang merasa nyaman dengan Sendi yang selalu ceria hingga kerap kali kami di gosipkan berpacaran namun perasaanku tak goyah.
Meski perasaanku tak berbalas untuk Roan,namun aku sampai saat ini belum bisa menemukan lelaki lain yang menggetarkan hatiku selain Roan.
Tanpa kami sadari,kedekatannya dengan Sendi membuat seorang kakak kelas yang memang menyukai Sendi merasa marah.
Mawar mencari cara untuk membuat Sendi dan Aku menjadi renggang dengan membuat cerita bahwa dia dan Sendi sudah berpacaran sejak dulu hingga mengerahkan teman - temannya untuk membullyku setiap hari.
Hari - hariku yang indah di sekolah lenyap sudah...
Hingga hal yang paling membuatku tak tahan adalah ketika sebuah pesan masuk ke ponselku
Ini aku Roan!Jangan pernah mimpi jadi pacarku!kau bahkan tak berhak memikirkanku,tingkah laku kamu bikin aku risih setengah mati dan mau muntah kalau melihat kamu!!!!jangan sebarkan hal - hal aneh lagi,apalagi sampai mengaku ngaku menjadi pacarku!!!Aku berharap kita gak pernah ketemu lagi...
Aku bahkan tak sanggup melangkahkan kaki lagi ke sekolah yang bersebelahan dengan sekolah Roan itu,di tambah dengan pembullyan yang aku terima dari kakak kelasku yang ternyata memfitnahku di depan Roan itu membuatku merasa masuk ke neraka.
Aku sadar mereka pasti mencari kelemahanku agar aku benar - benar hancur
Aku akhirnya putus sekolah,karena orang tuaku tak punya biaya untuk memindahkan sekolahku.
Aku sengaja memutus segala komunikasi dengan orang - orang sekitarku dengan mengganti nomorku dan pergi merantau ke kota lain,bekerja serabutan hingga aku mempunyai Ijazah SMA dan melanjutkan kuliah.
Lenyap dari hadapan mereka...
Aku lebih nyaman saat orang di sekitarku tak mengetahui masalalu itu,aku jarang pulang dan hanya mengirimkan uang hasilku bekerja pada orang tuaku aku masih merasa bersalah membuat mereka khawatir,tapi aku tak bisa menceritakan hal itu pada mereka.
__ADS_1
Begitulah aku menjalani kehidupan kerasku sebagai pelayan kafe dan mahasiswa di kota itu selama bertahun - tahun hingga aku lulus
****