
Telingaku serasa panas setiap masuk kantor,sikap Roan yang selalu menunjukan kemanisannya bahkan di depan para karyawan lain membuat mereka terus bergosip.
"Apa sih istimewanya si Lyra itu sampai si Boss memperlakukan dia manis kaya begitu?!"
Aku terdiam di balik bilik kamar mandi mendengar hal itu.
"Alah palingan pake dukun"
mereka tertawa terbahak.
Aku benar - benar tidak tahan lagi,aku membuka pintu kamar mandi membuat tiga wanita itu terdiam,aku bahkan tak mengenal mereka tapi dengan beraninya mereka menertawakan aku seperti itu.
Mereka mematung melihat aku yang sedang mencuci tanganku di wastafel,dengan sengaja aku memercikan sisa air dari tanganku ke arah mereka dan mengambil tissue di pojok wastafel.
Mereka beringsut dengan wajah kesal,aku berbalik ke arah mereka setelah membuang tissue ke tempat sampah.
"Kalian itu cocoknya jadi ibu - ibu gosip,bukan jadi pegawai di Well company"
Ucapku dingin membuat mereka mendesah kesal mendengarku.
"Hey anak baru! berani banget kamu ngomong gitu sama kita!Kamu gak tahu kan siapa kita!"
Ujar salah seorang dari mereka mendekatiku dengan tatapan mengintimidasi
"Kalian juga gak tau kan siapa saya?Bagaimana rasanya di nilai sama orang yang bahkan gak kenal sama sekali sama kalian?!"
Cecarku kesal
"Jangan menilai orang yang bahkan kalian gak kenal!"
Ucapku menatap tajam pada mereka,dan mendekat ke salah satu dari mereka merapihkan blazernya dengan senyuman sinisku.
"Blazernya bagus,pasti merk mahal...tapi sayang cuma di pakai bergosip di toilet ... gimana kalau besok di ganti pakai daster aja?"
Ucapku tajam
"Kamu!!!"
Teriaknya kesal padaku
"Ssttt!mau main jambak - jambak di kantor? gak etis banget sih ... padahal penampilannya wanita karir tapi ternyata mentalnya rendah"
Aku menatap jijik ke arah mereka
"Kalau kalian merasa Pak Roan sesuka itu sama saya,harusnya kalian hati - hati... bukannya gampang buat saya untuk membuat kalian di pecat dari sini?!"
Aku tak percaya menggunakan nama Roan sebagai tameng dalam kondisi ini,tapi aku benar - benar tak tahan dengan ucapan mereka itu.
Seketika mereka saling berpandangan dengan tatapan takut dan segera meninggalkanku sendirian.
Aku menghela nafas kesal dan menatap pantulan diriku di cermin.
Aku lagi akting jadi perempuan licik ya?!belum jadi istrinya pun udah di gosipin parah kaya gini!
Aku memegangi dahiku dan kembali ke mejaku dengan wajah muram.
Karena si trio gosip yang entah siapa nama dan divisinya itu,mood ku berantakan seharian hingga membuatku melayani Roan dengan ketus.
Aku bahkan tak ingin makan siang sama sekali meski Roan berkali - kali mengajakku
"Aku tidak lapar!"
__ADS_1
Ucapku penuh penekanan,karena sudah sekian kali Roan memintaku untuk makan siang.
"Besok kita menikah,walau gak resepsi kamu harus sehat"
Ucap Roan mengingatkanku pada hari penting itu.
Aku hampir lupa hari yang akan mengubah segalanya dalam hidupku itu karena tak ada persiapan yang aku lakukan untuk menikah dengan Roan,dia mempercayakan masalah surat-surat pada orang kepercayaannya.
Karena tidak ada resepsi atau pemotretan tidak ada pula acara fitting baju dan lain-lain,Roan sebenarnya ingin aku memakai baju yang layak sebagai pengantinnya besok tapi aku menolaknya.
Menikah di rumahku dengan beberapa tetangga yang akan hadir bagiku sudah lebih dari cukup,Sendy bahkan menolak datang dengan alasan akan merasa sakit hati.
Entah mengapa hendak menikah dengan Roan membuatku tak bahagia saat ini...
Rasa bersalah pada ibu menjadi hukuman terberatku,terlebih aku harus menikahi orang yang menyebabkan aku pergi dari sekolah dulu.
Harusnya dia merasakan hal apa yang aku rasakan dulu... tapi dengan mudahnya takdir membuatku dalam sekejap menjadi istrinya ...
****
Aku menunggu Roan yang tak kunjung keluar dari ruangannya karena meeting dengan klien dengan menggunakan video call.
Beberapa saat yang lalu aku masih ada di sampingnya untuk membantu mengambilkan berkas yang dia butuhkan selama meeting,tapi melihatnya yang begitu berkharisma rasanya hatiku sudah ingin memeluknya.
Aku memutuskan keluar dari ruangan agar otakku bisa berpikir jernih.
Aku menunduk lesu sambil memegangi kepalaku yang mulai pening karena lelah,Roan yang workaholic memutuskan menyelesaikan semuanya sebelum dia cuti esok hari.
Aku mengucek mataku yang mulai berat sambil menghela nafas berat
"Cape ya ?"
Ucap Roan yang sudah ada di belakangku membuatku terperanjat kaget
Protesku padanya
"Lyra ..."
Dia menegurku selayaknya boss yang menegur karyawannya,aku menundukan kepala menyesali kata - kataku sendiri.
"Ayo pulang"
Dia menarik tanganku,aku menepis tangannya membuatnya menatapku kesal
"Sudah gak ada siapa-siapa! Security disini gakan bilang apapun mereka dari yayasan kenalan aku,mereka orang - orang terpilih"
Meyakinkanku yang masih membereskan isi tasku
"Terimakasih Pak,saya pulang sendiri saja"
Aku melangkah menuju lift meninggalkannya
"Halo,Ayah...aku baru pulang dari kantor sama Lyra,aku mau mengantar Lyra ...tapi Lyra menolak,padahal kan sudah malam"
Roan melantangkan suaranya di sampingku yang sedang menunggu lift terbuka,seketika aku merebut ponselnya dan melihat ponselnya dalam keadaan mati.
Dia sedang mengancamku dengan Ayah yang benar - benar percaya padanya.
Aku menatapnya tajam,tapi dia hanya terkekeh geli melihat kepanikanku
"Anak Ayah harus pulang sama Roan"
__ADS_1
Meniru gaya bicara Ayah dengan suara yang di buat - buat
Aku menempelkan ponsel ke dadanya dengan kesal namun dia menangkap tanganku yang masih menggenggam ponselnya dan menarikku membuat tubuhku jatuh dalam pelukannya.
"Kali ini kamu gak bisa kabur Lyra"
Ucapnya dengan mata sayu membuatku terbuai sesaat
Namun aku segera mendorong tubuhnya kesal dan memilih bungkam.
Skinship terus ! gimana bisa balas dendam kalau tiap dia melihat aku dengan cara itu aku malah terpesona!!!
Runtukku kesal dalam hati.
***
Aku memeluk ayah yang sedang meminum teh sesampainya di rumah,aku akan merindukan hal yang selalu aku lakukan setiap aku pulang kerja ini.
"Nanti yang dipeluk Roan ya..."
Goda ayah terkekeh membuatku cemberut
"Roan terus!"
Ucapku kesal
Ayah menyimpan gelas tehnya di meja dan menatapku hangat
"Kamu gak boleh benci Roan,Lyra ... Ayah kan sudah bilang dia gak salah sepenuhnya"
Ucap Ayah menasehatiku
"Ayah udah bilang itu ratusan kali"
Protesku kesal
"Lyra,dia pengganti Ayah kalau ayah sudah gak di dunia ini lagi"
Ucapan ayah membuat air mataku menggenang di pelupuk mata dan memeluk ayah dengan erat.
"Ayah harus hidup lama,Lyra belum bisa jadi anak yang baik buat Ayah!"
Ucapku sambil terisak,Ayah mengelus kepalaku lembut
"Kamu itu anak yang selalu ayah banggakan,ayah merasa beruntung menjadi Ayah kamu"
Ucap Ayah membuatku semakin sedih
"Tapi,ayah gak bisa hidup selama yang kamu mau Lyra... Roan lah yang nantinya menjaga kamu"
Masih mengingatkanku tentang Roan
"Ayah,Ayah gak boleh ya larang Lyra kalau Lyra main ke rumah !"
Ancamku dalam pelukan ayah,membuat ayah tertawa
"Iya boleh kok,masa Ayah gak bolehin anak ayah sendiri pulang!Tapi ya harus sama Roan "
Lagi - lagi Roan ...
Sespesial itu Roan bagi Ayah,hingga dia menyerahkan anak semata wayangnya untuk Roan jaga.
__ADS_1
Aku tak ingin ayah membahas tentang Roan lagi dan memilih memeluk ayah lama .
****