
Ternyata tertawaku bersama Sendy malam itu tidak melepaskan kecanggungan antara aku dan Roan.
Aku yang berusaha sikap biasa saja malah makin canggung menghadapi ucapannya yang selalu dingin atau semakin dingin,aku malah takut dia risih setelah mengetahui siapa aku dari mulutku sendiri.
Karena hal itu aku jadi kesulitan tidur,dan nafsu makanku memburuk.Aku hanya minum machiatto yang di bawakan Sendy atau sekedar menggigit sandwich yang Sendy berikan padaku setiap pagi.
Pagi itu Lift karyawan rusak,dan aku hampir terlambat karena tertidur sewaktu pagi menjelang dengan terpaksa aku menyusuri anak tangga darurat yang aku rasa paling dekat pintunya ke mejaku di lantai 9.
Entah berapa anak tangga yang aku tapaki hingga aku berhenti melangkah untuk mengatur nafasku yang mulai kepayahan itu.
"Kamu tahukan Lyra ? sekretaris si Boss yang baru???Kayanya dia masuk kesini karena mau deketin si Boss lho!"
Entah suara siapa itu,tapi aku penasaran karena menyebut namaku.
"Ngedeketin?kan emang banyak yang mau deketin si boss?!"
"Iya ... tapi dia tuh katanya temen sekolah si boss dan emang dari dulu suka banget sama si boss!"
"Masa sih? kata siapa kamu?"
"Itu loh kata si centil Rani yang hidungnya kaya perosotan TK!!!Rani juga kan pernah pacaran waktu sekolah sama si boss"
"Jadi dia sampe ngejar si Boss gitu? sampe jadi sekretarisnya biar bisa deket terus sama boss Roan???"
"Ih itu mah bukan suka,tapi udah terobsesi...jangan jangan dia stalker lagi!"
"Merinding deh,tampangnya lugu tapi ternyata stalker"
"Boss Roan tau pasti... tapi kok di biarin aja ya?!dia malah bilang ngelarang si Rani masuk kantor"
"Jangan - jangan di pelet lagi sama si Lyra!!"
"Hiiiy udah ah... jadi serem!"
Deg...
Aku terduduk di anak tangga mendengar ocehan orang - orang yang tak ku lihat wajahnya.
Gosip lagi...
Aku hanya ingin hidup tenang tanpa mengusik siapa pun,tapi mengapa harapan sederhana itu sulit di hidupku?
Aku menyusuri sisa anak tangga itu dengan lemas,habis sudah energiku pagi ini.
Dengan hati dan badan yang terasa remuk aku berjalan gontai ke arah Roan yang sudah menatapku tak sabar sambil sesekali melirik jam di tangannya.
"Kamu telat 10 menit !"
Ucapnya menyambut kedatanganku
"Maafkan saya Pak"
Ucapku tak bertenaga
"Ayo kita berangkat meeting ke hotel,ini sudah hampir telat!"
Dia mendahuluiku yang langsung menyambar draf di mejaku.
***
Meeting itu hampir membuat wajah Roan hancur di hadapan para investor bila saja Roan tak berinisiatif membuka slide presentase di google drivenya.
Kebodohanku yang salah membawa file hampir membatalkan kerjasama besar perusahaan Well.
Aku sesekali memejamkan mata tak bisa membayangkan betapa marahnya Roan padaku.
Bahkan saat kembali ke perusahaan,Roan tidak melirikku sedikitpun dan menyuruh supir meninggalkanku sendirian di hotel yang jaraknya lumayan jauh dari perusahaan.
Entah kesialan keberapa di hari ini ternyata aku tak membawa dompet,ponsel adalah harapan terakhirku.
__ADS_1
Ternyata saldo di m bankingku tidak cukup untuk top up di aplikasi ojek online,buntu sudah ...
Aku mencari nama Sendy di kontakku berharap dia menjawab,namun sepertinya Sendy sibuk di jam ini.
Terpaksa aku melangkahkan kakiku menyusuri trotoar jalan menuju perusahaan,belum setengah perjalanan bahkan kakiku sudah bengkak dan lecet karena higheel murah meriahku.
Terpaksa aku hanya menjinjing higheels sambil menahan malu karena diperhatikan orang yang melintas.
Rasanya ingin menangis keras,ada perasaan sesak yang berkumpul di tenggorokanku.
Tapi aku menahan semua itu...
Butuh tiga jam setengah hingga aku sampai di gedung yang kini nampak seperti penjagalan untukku.
Entah apalagi yang menantiku,tapi aku menguatkan diri dan memakai kembali higheelsku meski terasa perih aku berusaha berjalan normal dan menyeka peluh yang membasahi wajahku.
"Dari mana saja kamu?!"
Roan membentakku tepat saat pintu lift terbuka,aku keluar dengan pasrah ke hadapannya.
"Maaf Pak dompet saya tertinggal"
Ujarku lemas
"Kamu tahu?! udah bikin kesalahan apa?!"
Masih dengan nada tinggi
"Maafkan saya Pak"
Ucapku pasrah
"Kamu saya pecat!!!!"
Deg
Roan berlalu meninggalkanku yang bersandar di dinding...
****
Sen...Aku pengen ngobrol sebentar aja,please!
Aku mengetik pesan yang segera ku kirim pada Sendy sambil menyeka air mataku di depan cermin toilet.
Kepalaku kosong tak tahu harus kemana lagi,Sendy lah yang terpintas di benakku.
Kesalahan hari ini murni karena kelalaianku,aku bahkan belum membawa banyak barang ke meja yang belum genap sebulan aku singgahi itu.
Senyuman ibu dan Ayah seakan melayang dari anganku,membuat hatiku semakin sakit.
Aku berjalan tertatih menuju Cafe milik Sendy,kakiku bahkan sudah terasa baal karena gesekan higheels itu.
Sendy yang sedang memegang ponsel keluar saat melihat kedatanganku,setelah itu aku tak ingat apapun.
Hingga cahaya lampu menyilaukan mataku...
***
Aku mengerjap dan melihat sekelilingku kemudian kembali memejamkan mata saat menangkap sosok Sendy yang menatap khawatir,ada rasa pening dan mual luar biasa.
"Sen...aku di rumah sakit?"
Tanyaku masih memejamkan mata
"Iya kamu pingsan di depan Cafe,kata dokter kamu dehidrasi,juga pencernaan kamu peradangan kamu harus di opname!"
Ucapan Sendy membuatku mendesah kesal
"Aku gak mau,aku gak mau di opname,aku gak mau bikin ibu sama Ayah khawatir lagi."
__ADS_1
Ucapku sedih
"Gak usah mikirin yang lain,kamu bilang aja lagi ditugaskan di luar kota tiba-tiba.masalah Roan nanti aku bilang ke dia langsung"
Ucap Sendy menenangkan
"Gak usah bilang Roan,aku udah dipecat tadi..."
Ucapku menutup mataku dengan lenganku tak ingin Sendy melihat wajah menyedihkanku ini
"Apa?!tiba-tiba?! tapi kenapa?bukannya kalian udah sepakat gak ungkit masalalu?!"
Sendy nampak tak sabar mendengar hal itu
"Bukan... bukan gara - gara itu,aku yang salah bawa bahan presentase aku juga telat masuk kerja karena gak bisa tidur tiap malam"
Jelasku masih menutup wajahku.
"Tapi seengganya ya SP 1 lah ,Lyr... masa sampe di out gitu aja?"
Ucap Sendy tak terima
"Aku cuma pegawai yang masih dalam masa uji coba ... "
Aku menghela nafas berat berbarengan dengan Sendy
"Terus kenapa sampai dehidrasi,kaki kamu bengkak sama lecet parah juga ?"
masih menginterograsiku
"Dia ninggalin aku di tempat meeting,aku yang salah gak bawa dompet di m banking juga gak ada saldo ..."
Ucapku menahan tangis
"Maaf aku tadi sibuk,banyak pelanggan yang datang sampai gak sadar kamu lagi butuh pertolongan "
Suara Sendy melemah
"Bukan salah siapa- siapa,aku yang salah udah teledor"
Tak ingin menyalahkan siapapun atas kebodohanku.
"Terus pas nyampe kamu di pecat gitu aja?setelah dia ninggalin kamu ?!"
Kali ini Sendy tak bisa membendung emosinya.
"Udahlah Sen...Aku capek"
Airmata sudah membasahi lenganku.
"Tolong kirim pesan ke ibu sama Ayah aku ada tugas luar kota,aku pinjem uang kamu buat opname ya ... setelah dapat pekerjaan baru aku bakal ganti,aku gak mungkin pulang dalam keadaan kaya gini.Ibu sama Ayah pasti khawatir"
Sendy hanya mengiyakan lalu meninggalkanku sendirian untuk mengurus administrasi.
Akupun segera di pindahkan ke ruang inap VVIP,padahal aku sudah merengek minta di rawat di bangsal biasa tapi Sendy menolak.
Setelah Sendy meninggalkanku,aku meringis menahan sakit di punggungku.Mungkin karena berjalan terlalu jauh cedera punggung akibat kecelakaan itu terasa kembali.
Aku menangis,bukan karena rasa sakit itu melainkan karena perasaan gagalku untuk membuat orang tuaku bahagia dan gagal menunjukan keprofesionalanku pada Roan.
Tapi yang di ucapkan Sendy ada benarnya,seharusnya Roan mendengarkan penjelasanku sebelum harus mengambil keputusan.
Roan tidak berubah,dia selalu melabeling orang sesuka hatinya tanpa ingin tahu yang sebenarnya atau mungkin dia memang tak ingin melihatku.
Kesekian kalinya hatiku patah oleh orang yang bahkan tak bisa ku sapa akrab itu.
Dan pada akhirnya,aku memang di takdirkan seperti hama dalam kehidupan nya ...
****
__ADS_1