
Sejak malam itu,aku lebih bisa menjaga sikap di hadapan Roan.Aku bersikap seprofesional mungkin dan menjaga kinerjaku di hadapannya.
Meski ini pertama kali aku menjadi sekretaris aku mampu melakukannya dengan baik karena tekad membuktikan diri itu,sesekali aku juga minta bantuan Sendy untuk membuat slide persentase.
Roan pun nampak puas dengan pekerjaanku,bersamaan dengan pudarnya kesempatan untuk menyingkap jati diriku.
Tapi aku kini tak terlalu peduli akan hal itu,bagiku Roan hanya seonggok batu asteroid sekarang.
Semakin sering terlibat dengannya,aku tahu sikapnya selalu sinis dan dingin pada semua orang dia bahkan menolak terlibat skandal dengan wanita - wanita yang 'kegatelan' mendekatinya.
Aku sempat berpikir dengan penampilannya yang metrosexual mungkinkah dia mengidap...
Ah... tak mungkin,dia sempat berpacaran dengan Rani dulu.
Rani? Apa kabar perempuan menyebalkan itu? tapi mungkin karakternya sudah lebih baik di banding dulu.
Lamunan itu pecah saat seorang wanita datang menghampiri mejaku dengan gaya bak model.
Dress hitam yang membalut tubuh sexynya membuat aku yang seorang wanita pun berdecak kagum.
"Hei!Roan ada di dalam?"
Tanyanya dengan gaya merendahkan
"Pak Roan sedang istirahat,mohon menunggu"
Ujarku sambil bangkit berdiri
Dia menatapku lekat - lekat dengan sinis,aku ingin sekali meringis dipandang seperti itu tapi hanya senyum ramah yang keluar atas nama profesionalitas.
"Kamu Lyra kan???Lyra si cupu?!!!!"
Tudingnya dengan jari telunjuk ke arah hidungku.
Seketika kepercayaan diriku hilang,benakku sibuk mencari - cari siapa wanita di hadapanku ini.
"Ma..maaf saya tidak mengerti maksud anda "
Ucapku tak kuasa menahan kegugupanku
"Ini aku Rani!!!! masa gak inget?!"
Dia meraih kedua tanganku dengan antusias hingga aku tak bisa melepaskannya.
"Ribut - ribut apa ini?"
Roan keluar dari ruangannya sambil membenarkan dasinya lalu memandang tak suka pada Rani
Otakku masih berputar mengenang Rani,seingatku bukan ini parasnya dulu kalau pun berubah tidak mungkin sesignifikan ini kan?
Ah mungkin saja dia operasi plastik...
Tapi sekarang masalahnya bukan tentang operasi apa saja yang telah di lakukan Rani demi paras sempurna itu!!!!
"Roan,kamu sekarang sekretarisnya Lyra???"
Tanya Rani masih antusias
Roan mengernyitkan dahinya lalu menatapku tajam,keringat dingin mulai mengalir di keningku
__ADS_1
"Maaf,Sepertinya anda salah orang"
Sangkalku sekali lagi
Seandainya harus ketahuan,kenapa mesti lewat Rani ?!
"Gak mungkin salah lagi!Kamu inget kan Roan,dia itu Lyra yang suka banget sama kamu ...yang cupu itu"
Ingin rasanya aku sumpal dengan kertas mulutnya itu!
Roan memandangku datar,tak menghiraukan meriahnya ekspresi Rani yang masih menggenggamku.
"Pergi dari sini!Aku sedang tidak mood mendengar ocehanmu!!!"
Ucapnya tanpa menatap siapapun
"Sa..saya Pak?"
Tanyaku ragu,dia menatapku tajam
"Kamu mau kemana ?! Kamu kan lagi kerja!!!"
Ucapnya membuat Rani dan aku beringsut
"Kamu selalu saja dingin !!!"
Rani melepaskan tanganku kasar dan berlalu namun berhenti setelah beberapa langkah dan melihat ke arahku
"Hei cupu! Kamu mau deketin Roan ya?Sampai kerja disini segala?!"
Lagi - lagi menuding ke arahku,aku hanya diam tak ingin meladeninya.
Bentak Roan lagi pada Rani,membuat Rani cepat-cepat mengambil langkah seribu.
Tinggallah Roan dan aku yang kini saling berhadapan,Sumpah!bukan situasi ini yang aku harapkan.
Bahkan tatapannya saja sudah membuatku tercekik sekarang.
"Ada yang kamu mau jelaskan?"
Tanyanya dengan ekspresi datar,aku mengangguk pelan.
Dia berlalu ke ruangannya,aku cepat - cepat mengatur nafas selepas kepergiannya.
Lyra,siap gak siap ini waktunya.Sesuai rencana,sesuai rencana,sesuai rencana!!!
Aku berjalan masuk ke dalam ruangannya,dia berdiri dan bersandar ke ujung meja sambil menyilangkan lengan di dada menunggu penjelasanku.
"Saya Lyra,teman SMP bapak dulu"
aku mulai buka suara
"Aku tahu..."
Ucapnya santai dan menatapku tajam.
Apa?! Jadi selama ini dia tahu aku???tapi kenapa????!!!!
Dia menatapku yang masih menunduk menunggu ucapanku
__ADS_1
"Maaf saya tak mengenali Bapak dan tak menyapa anda dari awal"
Rencana satu di lancarkan
"Kamu gak kenal aku?!"
Dia berdiri tegak mendengar ucapanku,nampak tak percaya.
"Sudah terlalu lama sejak saya terakhir kali bertemu anda,ingatan saya memang kurang baik.Saya menyadari itu anda tadi setelah Rani menyapa saya terlebih dahulu,saya juga tidak mengenali Rani tadi"
Ada baiknya Rani datang kan,aku juga tadi tak mengenalinya.
"Dia memang mengubah wajahnya"
Menghela nafas resah sambil menunjuk wajah dengan jemarinya.
"Saya benar - benar tidak mengenali anda"
Tegasku sekali lagi.
"Benarkah?bukannya dulu kamu sangat menyukai saya ?!"
Ujarnya penuh percaya diri
"Maaf Pak,tapi itu semua hanya cerita saat saya bersekolah."
Benar!sudahi saja,seakan aku tak ingat apapun.
Tak ada yang harus di benarkan,itu semua masa lalu yang sama sekali tidak penting untuk di bahas.
Aku tak perlu mengatakan bahwa aku tak pernah mengaku-ngaku menjadi pacarnya seperti yang di tuduhkan Mawar padaku dulu,dia juga tak pernah menanyakan langsung padaku kan?
Terserah dia mau menilai apa!
Dia tidak sehebat itu hingga aku terobsesi padanya!
"Baiklah...itu hanya masa lalu.Kamu bekerjalah sebaik mungkin disini.Kita juga tak dekat waktu dulu,anggap saja baru mengenal saya disini"
Ujarnya sambil membalikan tubuhnya hingga aku tak dapat melihat ekspresinya.
"Baik,Pak"
Ucapku seraya berlalu dari ruangannya.
Biarlah semua terkubur tanpa perlu di jelaskan,aku dan dia ... tak ada takdir yang mengikat kami sedari dulu.
Aku bisa bekerja dengan profesional di hadapannya dan mendapat upah yang akan ku pakai untuk pengobatan ibu.
Itu sudah cukup bagiku.
Tak ada yang berubah meski aku panjang lebar menjelaskannya,hubunganku dan dia hanya sebatas pegawai dan boss tidak ada yang spesial.
Tapi...
Entah mengapa perasaanku sakit menyadari hal itu,mengapa dia selalu membuatku patah hati bahkan sebelum aku mengungkapkan perasaanku sesungguhnya.
Ini terlalu kejam,setidaknya dia bisa mendengarkan penjelasanku kan???
Ah... apaan sih aku?mulai serakah lagi...
__ADS_1