
Aku duduk di tepi tempat tidur menatap langit sore yang mulai temaram,aku berharap Sendy baik - baik saja.
"Maafkan aku tak bisa menemani saat sulit kamu"
Lirihku dalam hati
Suara notifikasi dari ponselku membuatku melihat layar ponselku dan segera merasa antusias saat Sendy mengirim pesan padaku.
Terimakasih,kamu sudah mengirimkan teman yang mengingatkanku untuk makan meski wajahnya gak enak di lihat.Jangan sampai terluka ******karenanya******,atau ku hancurkan dia seperti kerupuk udang yang dia bawa"
Aku tersenyum sekaligus merasa haru,aku tak menyangka Roan melakukan hal baik pada Sendy meskipun dia tak menyukai hal itu.
Roan membuka pintu dengan wajah muramnya,aku berbalik ke arahnya air mataku membasahi pipi.
Berhambur memeluk Roan erat,menangis haru di dadanya yang selalu terasa hangat.
"Terimakasih "
Ucapku lirih
"Untuk apa?"
tanyanya bingung melihat aku yang menangis di pelukannya
"Untuk semua yang kamu lakukan karena aku"
mengeratkan pelukanku padanya,aku sungguh mencintai lelaki ini.
"Aku hanya tak ingin kamu sedih karena mengkhawatirkan pria lain"
Ada sedikit nada kesal terlontar dari mulutnya,aku menatapnya
__ADS_1
"Aku tidak akan mengkhawatirkan pria lain,bahkan Sendy sekarang.Sendy sudah punya teman yang baik selain aku"
tersenyum sambil mengusap air mataku
"Teman? aku bukan temannya !"
protes Roan mengerutkan dahinya,aku terkekeh memeluknya lagi mendengarkan suara detak jantungnya yang selalu tak teratur saat memelukku.
"Aku sudah tahu sekarang,kamu selalu sehangat ini pada orang di sekitar kamu"
pujiku membuat Roan terkekeh
"Dasar mulut besar ... lemes banget pake laporan segala "
umpatnya pada Sendy,namun dia kembali terkekeh dan memelukku erat.
Dia selalu bisa membuatku jatuh cinta setiap hari,betapa aku takjub akan dirinya yang seakan dingin dari luar namun nyata menyimpan sejuta kehangatan untuk orang - orang terdekatnya.
Hatiku lega,kini Sendy tak lagi sendirian...
Terimakasih Tuhan...
***
Mawar berjalan resah di depan pintu rumah Sendy,tangan kirinya membawa satu kantung besar berisi makanan dan menggigiti kuku jarinya sendiri.
Ketakutan di tolak secara kasar oleh Sendy membuatnya gentar,hingga Sendy membuka pintu dan menatap kehadiran Mawar datar.
Namun,pada akhirnya Mawar duduk di sofa berhadapan dengan Sendy yang melipat tangannya di dada menunggu wanita di hadapannya buka suara.
"Maaf ... aku cuma mau ..."
__ADS_1
Menyodorkan kantung makanan kehadapan Sendy,namun Sendy tak bergeming membuat Mawar menyimpan kantung itu di atas meja seakan menghalangi pandangan Sendy padanya.
"Makanlah walau cuma sedikit"
pinta Mawar dengan nada pasrah,gengsinya sudah habis bila berhadapan dengan Sendy.
Tak ada lagi ibu CEO sombong di hadapan cinta pertamanya itu.
"Kamu baik - baik saja ?"
Tanya Sendy masih dengan wajah datar,Mawar menyentuh plester di dahinya.
"Berkat kamu aku baik - baik aja,terimakasih "
Ujar Mawar tak berani menatap Sendy
"Maaf ... "
Ujar Mawar setelah menghela nafas panjang
"Maaf sudah merepotkan"
Sendy masih membeku menatap kantung besar di hadapannya yang menghalangi wajah Mawar
"Jangan membahayakan diri lagi"
Larang Sendy padanya membuat Mawar mengangkat wajahnya
"Aku benci menyelamatkan orang yang tenggelam"
Entah mengapa terdengar nada khawatir dari ucapan Sendy membuat wajah Mawar merona.
__ADS_1
"OK... "
Jawab Mawar singkat menutupi kegugupannya,tanpa Mawar lihat Sendy sendiri gusar dengan ucapan yang terlontar dari mulutnya.