
Aku bahkan tak ingin berangkat kerja hari ini,meski matahari sudah masuk ke celah - celah tirai kamar ini aku enggan bangun dan memulai aktifitas.
Aku mengerjapkan mataku lelah,dan melirik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
Roan nampak marah dengan permintaanku dan memilih tak membangunkanku pagi ini.
Aku beringsut dan segera membersihkan diri,dan turun ke ruang makan yang nampak sepi.
Aku menghela nafas melihat sepotong sandwich dan secarik kertas yang di atasnya terdapat tulisan Roan.
Tulisannya yang khas dan cukup rapih untuk ukuran seorang pria,tulisannya mampu membuatku berdebar saat itu juga saat ini.
"Makan... Energi kamu habis karena bertengkar denganku,aku tak ingin kamu sakit ... I LOVE YOU"
Entah kemana rasa marahku semalam saat membaca note dari Roan itu,dan memilih melahap sandwich buatan Roan.
****
Meski perasaanku tak seburuk semalam tapi aku berusaha teguh pada keinginanku hingga aku menahan diri untuk mengirim pesan membalas pesan atau bahkan mengangkat telepon dari Roan.
Biar lah dia merasa galau karena aku ngambek,dan akhirnya mengijinkanku untuk melamar pekerjaan di tempat lain.
Meski aku tahu Roan tak selemah itu,tapi apa salahnya mencoba bukan?
Seharian di rumah terasa membosankan,pikiranku menerawang jauh saat menatap jalanan depan rumah yang sepi karena setiap penghuninya bekerja di jam ini.
Aku membuka sedikit jendela kamar itu hingga angin berhembus ke dalam.
Alasanku ingin bekerja,aku ingin membuat Ayah bahagia bukan dengan uang Roan tapi dengan hasilku sendiri.
Dan aku akan mati bosan bila seperti ini kan ???
Ayah bahkan menyuruhku untuk tidak sering - sering ke rumah agar aku terbiasa disini.
Aku menghela nafas kasar,dan turun ke dapur untuk mengambil segelas air.
Saat meneguk buliran air,mataku berlarian mencari sebuah suara desisan ...
mirip desisan seekor ular
Aku meletakan gelas di meja,dan dengan rasa takut mencari - cari asal suara itu.
Dan seketika mataku terbelalak saat melihat seekor kobra yang sedang tegak menantang tak jauh dari posisiku berdiri.
Rasanya ingin berteriak pun aku sulit,kakipun terasa kaku saat ku paksakan berlari.
Hingga tak sengaja tanganku menjatuhkan gelas tadi dan karena panik aku menginjak serpihan kaca yang berhamburan.
Aku benar - benar panik,benda apapun aku tabrak dengan tubuhku hingga aku jatuh tersungkur di luar pintu dengan nafas tersengal dan sisa tenaga aku menutup pintu rumah rapat - rapat dan beringsut menjauh dari pintu.
__ADS_1
Aku menengok ke kiri dan ke kanan mencari orang yang bisa ku mintai tolong,karena sialnya handphoneku ada di kamar.
Seorang pria dengan setelan olahraga hampir melewati halaman rumah
"Mas !!! Mass... tolong ... to .. long saya"
Aku terbata - bata mengucapkan hal itu
Dia menoleh ke arahku dengan alis yang berkerut melihat keadaanku yang kacau .
"Ada apa?"
Dia mendekatiku dan matanya nampak kaget melihat lantai yang ku injak kini penuh dengan darah.
tapi bagiku itu tidak penting sekarang.
"Ada... ada ular !!!"
Ucapku masih panik menunjuk - nunjuk pintu rumahku sendiri.
"Di mana?"
Tanyanya tak kalah kagetnya hendak membuka pintu
"Jangan Mas !!! Ularnya ,ular kobra !!!"
Cegahku sedetik sebelum dia membuka pintu rumah
"Tolong panggil pemadam kebakaran atau apapun itu yang bisa menangani hewan buas aja,handphone saya ada di dalam!"
Dia mengangguk- anggukan kepalanya mengerti dan segera menekan nomor di layar smartphonenya.
Tak berselang lama,kini tiba - tiba rumahku sudah di kelilingi banyak orang termasuk para security yang sigap menanyakan keadaanku.
Pria tadi ternyata tinggal tepat di seberang rumah kami,dia berbaik hati membawakan segelas air hangat dari rumahnya juga sebuah selimut untuk menutupi tubuhku yang masih gemetaran.
Dia juga menawarkan mengobati luka di kakiku dengan membawa kotak obat namun aku menolaknya karena akan risih jadinya bila aku membiarkan dia menyentuhku.
Petugas penangkap hewan buas itu belum muncul dari balik pintu,membuatku resah.
Hewan itu mungkin bersembunyi,kalau tidak di temukan mungkin saja dia nantinya berkeliaran di tempat tidur atau tempat lainnya.
Tak lama Roan datang,dia jelas panik melihat rumahnya di kelilingi orang banyak dan di tambah lagi dengan kondisi aku yang berantakan.
Pecah sudah tangisku saat Roan mendekat,takut ... sangking takutnya aku tak bisa mengungkapkan hal itu.
Roan merengkuhku meski dia masih bingung ada apa gerangan hingga aku menangis histeris.
"Mas .. tadi di rumah ada ular kobra,mbaknya sampai keluar panik dan kayanya kakinya injek kaca gitu.kebetulan saya lewat,jadi kita memutuskan untuk manggil petugas pemadam kebakaran yang biasa nangkap hewan buas"
__ADS_1
Jelas pria itu pada Roan.
"Terimakasih ... terimakasih sekali"
Ucap Roan padanya meski tangannya tak lepas mengusap punggungku.
"iya Mas,baiknya luka kaki mbaknya di obati dulu,tadi mbaknya nolak saya obati soalnya"
Ucap pria itu menyodorkan kotak obat yang ada di kursi
Roan segera mendudukanku dan mengobati lukaku bahkan beberapa pecahan kaca menancap di telapak kakiku.
"Ularnya belum ketemu juga"
Ucapku khawatir melirik di dalam rumah
"Tenang sayang... nanti pasti ketemu,mereka masih cari"
benar saja tak berapa lama beberapa petugas keluar dari rumah kami dan menunjuk seekor ular besar di dalam kandang yang hanya aku lirik sepintas di balik tubuh Roan.
"Kok bisa ada ular sih ?!"
Roan mulai protes pada security di sana
"Kalau dari bangunan kami yakin gak mungkin ada celah untuk hewan ini masuk,sepertinya ular ini peliharaan kalau di lihat dari posturnya yang besar "
Jelas salah satu petugas
"Emang disini ada yang pelihara reptil?!"
Cecar Roan lagi
"Setahu kami tidak,Pak"
Ucap seorang security membuat Roan memijat keningnya dengan raut wajah kesal.
Mereka pun pamit setelah menyelesaikan tugasnya dan menjawab pertanyaan Roan yang membuat mereka takut,tentu saja Roan bukan orang biasa.
Lingkungan ini terlalu megah untuk d tinggali orang biasa.
"Sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkan istri saya"
Ucap Roan menjabat tangan pria itu
" Sama - sama Mas,sudah sewajarnya kita saling bantu sebagai tetangga.Oh ya Mas nama saya Dimas... "
Dimas memperkenalkan dirinya
"Roan..."
__ADS_1
Dia tersenyum namun tak berniat menyebut namaku meski Dimas sedikit melirikku penasaran.
****