
"Roan..."
panggilku sambil menatapnya yang masih melahap nasi goreng buatanku
"Pokonya gak boleh naik ojek online ... taksi boleh!"
Setelah perdebatan panjang sambil bersiap berangkat kerja tadi nampak dia masih kesal,membuatku menghela nafas
"Bukan itu!"
protesku
Dia melirikku sekilas dan kembali makan
"Aku punya satu permintaan"
ucapku ragu
Dia menatapku lagi dengan tatapan curiga
"Aku masih mau berteman sama Sendy"
Roan meletakan sendoknya sedikit kasar hingga berdentang mengenai piring
Nyaliku menciut saat itu,aku tahu Roan tak suka aku dekat dengan Sendy.Tapi aku masih ingin berteman dengan Sendy.
"Dia satu - satunya temanku dari dulu".
Ucapku sebelum Roan mulai melarangku
"Dan bagi dia kamu satu - satu perempuan di mata dia "
Tajam menatapku yang segera menghela nafas meredam kekesalanku
"Gara - gara kamu ketemu dia gak bilang aku waktu itu,aku jadi gak bisa nerima pertemanan kamu sama dia.Apalagi lihat langsung tatapan dia ke kamu!"
penuh rasa cemburu menyerangku dengan kalimatnya itu
"Maaf... waktu itu aku cuma mau jelasin perasaan aku ke dia cuma teman,aku juga minta waktu ke dia supaya kamu bisa nerima pertemanan ini"
Muram karena Roan masih tak percaya padaku
"Kalau dia nikah aku baru bisa nerima pertemanan kalian"
putusnya membuatku frustasi
"Roan... Sendy belum punya pacar,aku gak tahu dia bakal nikah kapan!"
Ucapku kesal
"Tunggu sampai saat itu"
Jawab Roan kembali makan
"Ya kalau gitu,resepsinya aku tunda juga sampai Sendy nikah dan kamu nerima pertemanan kita!"
Aku bangkit berdiri dan ngeloyor pergi dari hadapan Roan
"Gak bisa gitu,Lyr..."
Menarik tanganku membuatku menatapnya kembali
"Jangan egois Roan... aku juga masih mau punya teman"
__ADS_1
Ucapku menepis tangan Roan,meninggalkannya dengan perasaan kesal.
***
Di kantor aku tak bisa menutupi kekesalanku pada Roan yang sepertinya tetap pada keputusannya itu,aku bahkan makan terpisah dari Roan dan tak menjawab ucapannya sepatah katapun.
Bagiku,Roan terlalu egois bila terus seperti ini .Sendy temanku satu - satunya dia lah selalu membuatku tersenyum di masa - masa SMA ku dulu,Sendy pun akan merasa tak adil bila aku terus menjauh darinya.
Ketika pulang kerja,Roan menahanku lebih la di kantor dengan alasan ada pekerjaan yang harus aku bantu untuknya.
Berusaha seprofesional mungkin aku mengiyakan perintahnya meski dengan perasaan kesal.
"Yuk..."
Roan beranjak dari duduknya dan memakai kembali blazernya
"Saya akan pulang duluan"
Ucapku sambil meninggalkannya namun dia menahan lenganku membuatku menatapnya kesal
"Ikut aku"
Menuntun jalan kami di depan
Aku terperangah saat langkahnya menuntun kami ke depan Cafe milik Sendy
"Ayo masuk"
membukakan pintu Cafe untukku yang masih bingung
Memasuki Cafe,kami langsung bertemu Sendy yang menatapku dengan senyum
"Lyr... kamu datang juga "
"Hah? "
Sendy nampak sudah tahu kedatangan Roan kesini
"Aku chat dia tadi bilang aku mau ngopi disini,sambil ngobrol sama dia"
Meski tatapannya tak suka pada Sendy,Roan tersenyum padaku dengan hangat.
Sendy menuntun kami ke sebuah meja,Roan dengan sigap menggeser kursi yang akan ku duduki membuat Sendy menatapnya.
Seorang pelayan menyodorkan dua cup kopi yang belum kami pesan
"Espresso tanpa gula dan Caramel machiatto"
Menebak kopi kesukaan kami itu
"Berteman ... Berteman saja,jangan bertemu berdua ... Tolong hargai aku sebagai suami Lyra sekarang"
Ucap Roan serius membuat Sendy menghela nafas pelan
"Aku tahu batas,aku gak mungkin menghancurkan rumah tangga kalian"
Masih dengan senyum kalemnya yang segera berubah menjadi tatapan tajam pada Roan
"Tapi kalau kamu menyia - nyia kan Lyra,aku anggap itu kesempatan buat merebut hati Lyra"
Ucap Sendy penuh nada ancaman membuat rahang Roan mengeras
"Aku gakan pernah ngelakuin kesalahan yang sama,dan gakan pernah membuat celah buat kamu"
__ADS_1
Aura di sekitarku itu membuatku tak nyaman
"Ha... ha... ha... ayo lah ... santai aja!"
Aku mencoba mencairkan suasana dengan menyodorkan espresso pada Roan yang segera di teguknya habis.
"Kamu haus ya ??? hahaha"
Merasa tak enak menatap Sendy yang masih menatap tajam Roan di hadapannya
"Sayang .... panggil aku sayang!"
Ucap Roan menatapku tajam
"Iya sayang"
Aku menepuk lengan Roan beberapa kali berharap dia tak terus bersikap seperti itu.
"Silahkan nikmati kopinya,sepertinya aku agak sibuk"
Ucap Sendy menatapku dengan senyuman dan beranjak meninggalkanku dan Roan.
Aku meminum caramel machiatto yang terasa dingin menyiram kerongkonganku yang mulai panas karena situasi itu.
"Ck... lihat dia ... lihat senyumnya ke kamu! jelas banget dia masih suka kamu!"
Cecar Roan kesal membuatku menatapnya dengan senyum gemas
"Udah dong cemburunya ..."
Ucapku menatap Roan yang semakin cemburu semakin terlihat menggemaskan,dia bahkan melonggarkan dasi yang dia pakai seakan merasa sesak.
"Makasih,sayang"
Panggilan sayang padanya yang tak pernah aku lontarkan atas inisiatifku sendiri membuat Roan menatapku heran
"Sesenang itu ya aku ijinin kamu berteman sama dia?"
Masih kesal menatapku yang sudah memasang senyum tiga jari padanya.
"Bukan... aku senang karena ternyata kamu gak seegois itu... makasih udah ngerti meski kamu masih cemburu setengah mati"
kekehku di kalimat terakhir
tatapan Roan melembut,dia membelai rambutku
"Aku pasti melakukan yang membuat kamu bahagia"
Jantungku berdegup mendengar hal itu dari sosok yang matanya selalu membuatku tergila - gila.
"Jangan lupa,resepsinya jadi ya!"
Ujarnya menggeser kursiku ke arahnya hingga posisi kami sangat dekat
"I..Iya.... bulan depan"
Ucapku tersipu
"OK!!!"
Ucap Roan penuh kemenangan membuatku tersenyum padanya
Nampaknya Roan memang sangat tak sabar mengumumkan pernikahan kami.
__ADS_1