
"Roan... kali ini aja aku mohon ... aku mau ketemu sama Sendy"
mengatup kedua tanganku di depan wajah
"Apa kamu suka dia ?"
Tanya Roan dengan nada tak suka
"Roan,dia Sendy ... sahabat aku"
sudah dua hari Sendy tak ada kabar...
Air mataku hampir jatuh membayangkan kembali Sendy yang menyiksa dirinya di dalam kamar kosannya setelah dia menyelamatkanku yang hampir tenggelam di kolam renang.
Sendy hampir saja pergi untuk selamanya kalau saja aku tak menemuinya dalam keadaan dehidrasi parah.
"Sendy ... harus bisa mengurus dirinya sendiri"
Ujar Roan pahit membuatku menutup mata frustasi
"Tapi ..."
Roan mendekatkan wajahnya getir
"Sampai kapan kamu mau menahan dia untuk tetap menyukai kamu?"
tanya Roan dengan sorot mata tajam
"Aku hanya mengkhawatirkannya"
Air mataku jatuh,perih terasa dihati tak lagi bisa menemani Sendy di saat dia membutuhkan orang yang menguatkannya.
Tapi ucapan Roan benar,aku tidak lagi boleh memberi harapan walau hanya seujung kuku pada Sendy.
Roan meninggalkanku di kamar,mengunci pintu kamar rapat - rapat.
Aku tahu Roan pun terluka karena aku masih mempedulikan Sendy,tapi aku benar - benar khawatir.
****
Roan menarik nafas beberapa kali,di depan pintu sebuah rumah minimalis milik Sendy.
Teriakan Lyra yang memintanya mengantarkannya ke alamat ini membuat otaknya menghafal lokasi ini.
Roan melirik makanan yang dia bawa untuk Sendy,ada perasaan kesal mengapa ia sampai ikut khawatir pada rivalnya itu.
Tapi melihat Lyra yang menangis karena mengkhawatirkan pria itu membuatnya tak kuasa menahan egonya lagi.
__ADS_1
Roan mengetuk pintu beberapa kali,namun tak ada jawaban.
Roan memukul keras pintu itu menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga Sendy yang sedang berbaring menatap langit - langit kamarnya.
"Buka !!!! Saya kesini karena Lyra !!!!"
Kesal sendiri dengan perkataannya,namun ternyata nama istrinya itu membuat Sendy beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintu.
Roan mendesah kesal dan menerobos masuk rumah Sendy.
"Kamu masih terhipnotis tiap saya sebut nama istri saya !"
Kesal Roan meletakan dengan kasar makanan di atas meja ruang tamu Sendy.
"Kenapa kesini?"
Tanya Sendy dengan suara rendah nyaris tak terdengar.
"Makan ... Saya tidak mau istri saya mengkhawatirkan lelaki lain"
Tutur Roan dingin
"Pergi"
Usir Sendy yang merasa moodnya semakin hancur
Ucapan Roan membuat Sendy tersenyum sinis
"Jangan terlalu percaya diri! Lyra mengkhawatirkan kamu hanya sebagai sahabat!"
Ujar Roan kesal melihat senyuman sinis Sendy,Sendy kembali tersenyum sinis.
"Lalu kenapa kamu ikut khawatir kalau istri kamu cuma menganggap ku sahabatnya?!"
Mendekat ke arah Roan dan duduk di sofa ruang tamu.
"Apa perlu kamu menanyakan itu?! Kamu juga seorang pria ! kamu tahu rasanya bagaimana wanita mu mengkhawatir lelaki lain!"
Setengah berteriak pada Sendy yang duduk membelakanginya.
Harga diri Roan hancur,saat tahu Sendy menyadari kekhawatirannya itu.
" Aku tahu ... aku tahu persis perasaan itu"
Melirik Roan di belakangnya dengan tatapan sedih
Roan merasakan perasaan bersalah tak beralasan di hatinya,dia tahu tidak ada yang lebih terluka di banding Sendy.
__ADS_1
Tapi dia juga tak ingin Lyra terus menerus mengkhawatirkannya dan membuat celah di antara Lyra dan Sendy.
Sendy menyentuh makanan dari Roan dan melahapnya cepat membuat Roan bernafas lega,setidaknya dia bisa melaporkan hal itu pada Lyra.
"Jangan pakai bahasa formal lagi,menggelikan saat di dengar "
Ujar Sendy sambil mengunyah makanannya
"Cepat habiskan"
Tak ingin berlama - lama disana
"Sampaikan terimakasih ku pada Lyra"
Tutur Sendy menyimpan sendok di meja
"Tidak mau!Lyra tidak menyuruhku kesini!"
Ujar Roan sinis hendak pergi melihat Sendy yang selesai makan
"Terimakasih,kamu orang kedua setelah Lyra yang berhasil membuatku makan di saat seperti ini"
Langkah Roan terhenti menatap kembali Sendy yang sudah berdiri menatapnya dengan perasaan tulus.
"Jangan kegeeran !"
masih ada perasaan gengsi dihati Roan membuat Sendy sedikit terkekeh
"Maaf... aku tidak akan merebut Lyra darimu.Sekarang aku bisa yakin kamu orang yang tepat untuknya"
Sendy menyerah,pria di hadapannya ini adalah pemilik hati Lyra.
Pria yang rela menurunkan harga dirinya dan pergi ke rumahnya agar istrinya tidak mengkhawatirkan dirinya.
" Jangan buat celah untukku... jangan sakiti Lyra lagi"
Sendy memperingati Roan yang tersenyum penuh percaya diri
"Lyra adalah hidupku."
Roan pergi setelah mengucapkan hal itu,syarat Sendy membuat hati Roan sedikit lebih tenang.
Dia tidak akan melakukan kebodohan yang sama pada Lyra.
Cinta ... ya harus dia ungkapkan tanpa gengsi...
Dia bahkan tak lagi mampu menutupi betapa dia mencintai Lyra.
__ADS_1