KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
SENDY


__ADS_3

Hari yang menyesakan itupun berlalu,setelah beberapa kali Roan menyuruhku membereskan ratusan buku dari rak bukunya sesuai abjad dan meninggalkanku di ruangannya sendirian.


Aku melihat jam dinding


pukul 18.00


Aku teringat Sendy yang ingin menemuiku di Cafe selepas jam kerja usai,dan kini sudah lewat satu jam karena aku harus menyelesaikan tugas dari Roan itu,sementara Roan sendiri pulang tanpa sepatah katapun.


Aku segera berlari menuju mejaku dan menyambar tasku lalu secepat kilat aku menuju Cafe itu.


Sendy duduk sambil melihat jam tangannya dengan wajah cemas


"Sen!!!"


Ujarku setengah terengah menghampirinya dan langsung di sambut senyum cemerlangnya.


Aku duduk di hadapannya sambil menyeka peluh di keningku


"Kamu lembur ?"


Tanya Sendy


"Iya,ada kerjaan yang harus aku selesaikan "


Masih berusaha mengatur nafasku


Sendy menyodorkan segelas ice caramel macchiato ke hadapanku yang langsung segera aku minum hingga habis seperempat gelas,rasa manis dan dingin menyegarkan kerongkonganku.


Sendy terkekeh menatapku


"Kamu masih suka yang manis - manis ternyata"


Dia menatapku dan meminum americanonya


"Hidup aku tuh udah pahit,masa sih yang masuk ke mulutku pahit juga !"


Aku tertawa miris mengucapkannya,ekspresi Sendy menjadi serius seketika.


"Kamu berhutang banyak penjelasan Lyr..."


Rahangnya mengeras dan menatapku dalam - dalam


Aku menghela nafas dan menyandarkan tubuh ke kursi


"Aku mulai dari mana ya ?"


Ucapku dengan tatapan menerawang,sebenarnya aku tak ingin membuka kisah lama itu.


Tapi Sendy tak mempunyai salah apapun padaku,dan aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu tentu membuatnya bingung.


Sendy masih diam menatapku,tatapannya seakan tak sabar mendengar penjelasanku.


Aku menghela nafas kasar sekali lagi


"Tapi tolong jangan salahkan diri sendiri setelah ini,kamu gak salah sama sekali ... dan ini cuma kisah yang hampir 10 tahun lalu"


Ucapku memperingatkannya,dia hanya menganggukan kepala


"Aku sudah terbiasa dengan bullyan semasa sekolah,hanya saja waktu itu sudah melebihi batasku.Bullyan itu melibatkan orang yang aku sukai sejak dulu,orang yang membullyku..."


"Mawar ..."


Aku sedikit tercekat mengetahui ternyata Sendy sudah tahu apa yang Mawar lakukan.


"Aku tahu setelah kamu pergi Lyr..."


Ujarnya penuh penyesalan


"Kan sudah bilang jangan menyalahkan diri sendiri..."

__ADS_1


aku tersenyum padanya


"Dia menggunakan orang itu supaya aku benar - benar jauh dari kamu,dia fitnah aku mengaku berpacaran dengan dia di sekolah kita.Orang itu tentu merasa jijik sama aku,dan dia ngirim pesan biar aku menghilang aja atau dia bakal muntah kalau ketemu aku"


Aku menunduk sambil memilin jemariku


"Sok kecakepan banget ya tuh orang ... "


Sendy tertawa sinis mendengar ceritaku


"Mawar juga mengancam bakal bikin sesuatu yang lebih parah dari ini kalau aku masih dekat sama kamu,bagi aku cuma kamu satu - satunya teman aku.Daripada aku sekolah dan terus - terusan jauhin kamu tanpa alasan,dan merasakan pembullyan itu.aku berpikir buat gak sekolah di sana lagi"


"Dan ... aku gak sanggup kalau ketemu sama dia ,karena sekolah kita bersebelahan"


Aku tertunduk lesu merasakan betapa naifnya diriku dulu


"Kenapa kamu gak bilang sama aku ?"


Sendy mulai mengepalkan tangannya di atas meja


"Kamu lagi semangat belajar waktu itu,kalau kamu gak naik kelas lagi kamu bisa kena drop out ... aku gak mau ngerusak semangat kamu dan kamu jadi gak fokus belajar"


Masih teringat wajah bersemangat Sendy di meja sekolah.


"Beberapa kali,Yohan... kakak kelas kita nyariin kamu.Dia bilang temen dia dari sekolah sebelah nyari kamu Lyr... Roan namanya"


Mendengar hal itu aku berhenti memilin jemariku dan menatap kaget pada Sendy


"Kamu gak salah inget kan? Roan????"


Sendy menganggukan kepala yakin


"Aku masih inget jelas karena sampai lulus pun Yohan masih sering nanyain kamu ke aku sampai aku kesal dan aku bilang ke dia,kenapa gak si Roan aja yang nanya langsung ke aku"


Aku mengalihkan pandanganku ke arah gelas dan beberapa kali menggelengkan kepala tak percaya,Sendy memperhatikan ekspresiku dan mengernyitkan dahinya.


"Roan itu siapa?"


"Dia cowok itu ... Cowo yang mau muntah kalau ketemu aku lagi"


Ucapku sambil mengepalkan tanganku di atas meja.


"Terus ngapain dia nyari kamu??"


Sendy ikut bingung dan larut dalam pikirannya


"Aku juga gak tahu ..."


Pandanganku menarawang membayangkan sosok Roan hari ini,aku kini ragu dia tidak mengingatku kalau cerita yang Sendy bilang ini benar


Tapi buat apa dia cari aku???


Aku menatap Sendy yang masih berpikir


Sendy nampaknya tak perlu tahu kalau Roan adalah Boss ku sekarang,biarlah jadi rahasia untuk diriku sendiri saja.


Sendy orang berapi - api,tidak... cenderung emosian,aku tidak mau dia berulah ke gedung Well hanya untuk menanyakan alasan Roan dulu mencariku lewat Yohan.


Toh,Roan tak mengenaliku...


Begitu situasinya sekarang kan?


Anggap saja begitu


"Tapi yang penting aku senang bisa ketemu kamu lagi"


Ucapku mengalihkan pembicaraan


"Aku juga seneng banget "

__ADS_1


Sendy menatapku dan tersenyum lembut


"Kalau kamu mau kamu boleh ambil caramel machiato tiap siang atau sore kesini...FREE"


ucapnya dengan gaya sok keren


"Mau traktir aku tiap hari???"


Aku terkekeh melihat tingkahnya itu


"Ya dong... aku kan pemilik Cafe ini! Siapa yang bakal larang aku ngasih Satu gelas machiatto ke kamu?"


Ujarnya sambil melipat tangannya


"Wow... ternyata kamu sudah sukses ya !"


Ucapku sambil bertepuk tangan kecil


"Berkat kamu..."


Sendy kembali serius


"Aku?"


Aku bertanya sambil menunjuk diriku sendiri


"Kamu kan selalu bilang buat ngerjain apapun yang kita suka,nah setelah lulus dengan nilai pas - pasan ... aku memutuskan sekolah barista,dan aku ngerintis Cafe ini dari kecil "


Di lihat dari Cafenya sekarang,nampaknya Sendy benar - benar menekuni bidang ini bahkan dia turun secara langsung melayani pelanggan seperti tadi pagi.


Malam itu aku dan Sendy banyak bercerita,bagiku dan dia tak perlu lagi ada rasa penyesalan.


Semua hanyalah susunan rencana Tuhan yang tak mungkin kami hindari dengan emosi kami yang labil saat itu.


Lebih baik menyusun masa depan saat ini,khususnya aku yang tertinggal jauh bila di bandingkan Sendy apalagi Roan.


Sendy mengantarku sampai depan Cafenya,masih memegangi kunci mobilnya dengan ekspresi merengek.


"Aku antar ya .... "


Aku menggelengkan kepala lagi membuat dia cemberut


"Nanti Ayahku banyak tanya,aku capek kalau harus ngejawabin pertanyaan Ayah pas pulang "


Tak terbayang wajah posesif Ayah yang sedari dulu melarangku berpacaran hanya karena takut aku tak bisa jaga diri.


Sebegitu lemah aku di pandangan Ayah hahahha....


"Ya sudah .... kamu hati - hati ya,jangan lupa chat aku kalau sampai dirumah.Jangan lost contact lagi Lyr... Aku capek tahu nyari kamu"


Masih merajuk


"Iya .... Cerewetmu gak hilang - hilang ternyata ya !"


Ledekku padanya yang masih menunduk kesal menendang - nendang pelan udara.


Sendy memelukku membuatku terhenyak,selain Ayah tidak ada lelaki lain yang pernah memelukku.


Aku berniat mendorongnya tapi aku berhenti saat dia dengan suara serak mengatakan


"Aku merindukanmu,jangan hilang lagi Lyr"


Aku menepuk - nepuk punggungnya pelan dan perlahan melepaskannya


"Aku kan bukan anak remaja lagi,Sen...Kalaupun aku pergi aku bisa hubungi kamu dulu dan kita bisa video call.an "


Ucapku nyengir,dia pun ikut terkekeh sambil menyeka sudut matanya yang basah.


Ojek online yang ku pesanpun datang,aku melambai ke arahnya dan meraih helm dari driver.

__ADS_1


Pandanganku seakan terpusat pada mobil biru yang terparkir tak jauh dari tempatku berdiri,namun tak ada hal aneh yang menyita perhatianku lagi dan aku segera berlalu dari tempat itu tak menghiraukannya.


__ADS_2