
Resmi sudah aku dan Roan menjadi sepasang suami istri,setelah dramaku yang menangis tak ingin meninggalkan Ayah aku berakhir di kamar ini sendirian memandangi koperku.
Perasaan asing saat tidur di kamar ini semakin terasa saat aku resmi menjadi istrinya,aku memandangi cincin yang melingkar di jari manisku sendu.
Tidak ada wanita yang ingin berkali - kali menikah,sekali menikah mereka akan mati - matian mempertahankannya hingga maut yang memisahkan.
Hingga maut memisahkan?
Sehari bersama Roan saja membuatku teringat wajah khawatir almarhumah.
pukul 01.00 dini hari.
Mataku tak juga terpejam meski aku sudah memposisikan tidur di posisi ternyaman membuatku jengah dan memutuskan keluar kamar.
Suara televisi yang sayup - sayup terdengar membuatku mendekat ke arah ruang keluarga tak jauh dari kamarku.
Roan sedang menatap televisi dengan datar,entah pikirannya sedang ada di mana saat ini.
Aku perlahan mendekatinya meski masih ada jarak sekitar satu meter di antara kami
"Kenapa belum tidur ?"
Tanyanya,matanya masih fokus pada layar televisi.
"Gak bisa tidur"
Jawabku ikut menatap layar televisi yang menyajikan film Titanic yang bahkan sudah berulang di tayangkan itu.
"Nanti kamu bakal terbiasa kok tidur disini"
Ujarnya lagi
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?"
Tanyaku meliriknya sekilas,dia tak menjawab hanya menghela nafas dengan ekspresi sendu
"Kita udah menikah,tapi dari tadi aku lihat wajah kamu muram .... Kayanya kamu benci banget sama aku ya Lyr ?"
Ucapnya sambil menunduk
"Sebenernya aku gak sebenci itu sama kamu kok"
Ucapku membuatnya menatapku dengan mata berbinarnya,aku tak tega melihatnya yang nampak sedih itu.
"Aku cuma merasa bersalah aja sama ibu,karena dulu aku dengan gampangnya minta keluar dari sekolah cuma gara - gara omongan kamu lewat pesan itu"
Tuturku jujur sambil memilin jemariku
"Maaf ..."
masih menunduk dengan wajah sendunya,membuatku membayangkan betapa dia kesepian di dalam rumah ini.
"Aku menikah sama kamu juga karena permintaan terakhir ibu,aku gak bisa menolak"
Ujarku terbayang wajah ibu seketika.
"Jadi kamu bener - bener udah gak punya perasaan apa - apa lagi sama aku?"
Tanyanya sedih membuat hatiku bergetar.
Bukan...sebenarnya aku masih mendambakan Roan dalam hatiku,tapi perasaan bersalah itu menghantuiku hingga aku meragukan apa aku pantas masih mendambakannya?
"Jawab..."
__ADS_1
Cecarnya menatap mataku dalam
"Enggak"
Aku memalingkan wajahku,berbohong ....
Roan meraih daguku dan memaksaku melihat kedua bola mata hitamnya yang teduh
"Bilang kamu udah gak punya perasaan sepuluh tahun yang lalu itu sambil lihat aku"
Roan nampak memastikan ucapanku
Wajahku terasa panas berada di dekatnya,apalagi dengan sentuhan Roan yang lembut itu aku harus menatap Roan tanpa bisa menghindar.
"Enggak"
Aku menutup mataku tak ingin menatapnya lebih lama membuat pandangannya berlarian mencari mataku.
"Kenapa kamu selalu menghindar dari tatapan aku?"
Ujar Roan lembut masih mencari mataku.
"Aku mau memastikan sekali lagi apa benar kamu emang gak suka dengan pernikahan ini?"
Masih mencecarku yang mulai gelisah di hadapannya
"Aku mau tidur"
Aku melepaskan diri dan bangkit dari duduk
Namun tangan sigap Roan menarikku hingga aku jatuh dalam pangkuannya
"Kalau aja dulu aku menyadari kamu secantik dan semenarik ini,aku gakan mungkin bisa nolak kamu"
"Lepasin"
Dia merengkuhku erat hingga aku tak bisa melepaskan diri lagi.
"Lihat aku!"
Ucapnya membuatku secara refleks menatap mata indahnya itu.
Mata yang selalu membuatku merasa teduh dan nyaman.
Aku terdiam selama beberapa saat saling bertukar pandang,Dia memandangiku seakan mencari - cari perasaan yang aku sembunyikan rapat - rapat.
"Kamu makin cantik kalau dilihat dari dekat"
Jantungku hampir saja melompat dari tubuhku mendengar pujiannya itu
Aku menatapnya,terhipnotis dengan paras sempurna yang ia miliki.
pertama kalinya aku menatap setiap garis wajahnya dengan jelas hingga aku tanpa sadar menelan salivaku sendiri di hadapannya.
Dia mengerjapkan mata seakan menemukan sesuatu dari ekspresiku itu,aku segera memalingkan wajahku malu.
Dia mengejar pandanganku lagi dan tanpa peringatan ******* bibirku dengan lembut...
Aku yang kaget berusaha melepasnya,namun sempat terdiam melihat matanya yang menutup merasakan tiap sudut bibirku.
Roan?Roan menciumku?!
Batinku berteriak histeris
__ADS_1
Tubuhku bahkan sudah tak lagi memberi perlawanan hanya diam menatap mata sayu Roan yang larut dalam ciumannya.
Dia melepas ciumannya dengan nafas yang mulai memburu,dan menatap wajahku dengan wajah yang bersemu merah.
"Aku masih punya sedikit harapan nampaknya"
Tersenyum lembut mengusap pipiku
Aku mendorongnya dan bangkit berdiri
Ini tidak adil,serangan dadakan!!!aku bahkan tak bisa mengontrol ekspresiku!!!
Aku berlari ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Malam itu aku bahkan tak bisa tidur karena mengulang adegan ciuman Roan di kepalaku.
Bagaimana aku bisa sebodoh ini !!!!Ibu?aku harus merasa apa saat ini? senang atau sedih? sejujurnya aku senang Roan begitu hangat,disisi lain aku masih menyalahkannya karena masa lalu itu!!!ibu aku harus apa sekarang?!
Aku menangis dalam hati merasakan kebimbangan yang menyesakan hati.
****
Roan
Aku tersenyum melihat dia yang nampak malu menerima ciumanku dan memilih mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Sedetik saja terlambat dia melarikan diri,aku pasti akan menerjangnya dan meminta hak ku sebagai suaminya.
Aku merasa sangat menyesal telah menolak Lyra dulu hingga menggunakan kata - kata yang menyakitkan hatinya.
Aku tak pernah menyadari betapa wanita itu sebenarnya adalah magnet dalam hidupku,dialah alasan mengapa aku tak ingin berpacaran dengan siapapun.
Bahkan ketika aku meminta Rani berpacaran denganku,niat lainku selain menghindari gosip juga ingin Lyra fokus belajar untuk lulus tanpa memikirkanku atau gosip teman-teman.
Aku yang bodoh ini tanpa sadar sedari dulu menyukainya,namun keangkuhanku membuat aku menyangkalnya dan memilih mendorongnya jauh.
Saat itu aku hanya tak percaya,aku bisa jatuh hati pada seorang perempuan yang berpenampilan culun seperti Lyra.
Kepergiannya yang tiba - tiba menyadarkanku betapa aku haus akan pengakuan Lyra yang selalu memujiku di depan teman - temannya.
Lama kelamaan aku tersiksa dalam rindu yang tak dapat ku ungkap karena dia telah pergi.
Saat dia kembali sebagai seorang wanita yang lebih dewasa dan menarik perhatian,akupun tanpa sadar tak ingin jauh darinya hingga membuatnya menjadi sekretarisku.
Padahal calon pelamar yang lain punya pengalaman yang lebih baik dari Lyra.
Rasaku ini menggila saat mengetahui dia begitu menderita hanya karena pesan impulsifku dulu padanya.
Rasanya ingin merengkuhnya lama dan mengucap ribuan kata maaf.
Penolakannya padaku malah semakin membuatku penasaran,karena tiap dia menolakku dia tak pernah benar-benar menatap mataku.
Saat Lyra mabuk dan pertama kali menginap disini pun,naluri lelakiku bergelora hingga aku menutup rapat tubuhnya dengan selimut tebal.
Aku juga pria normal!
Rasanya aku jadi bodoh bila berhadapan dengannya.
Bahkan saat ini aku tak bisa tidur dan masih merasakan dengan jelas perasaan hangat saat mencium bibirnya yang manis.
Gemas dan hasrat ingin memilikinya seutuhnya selalu bergelora saat wajahnya bersemu merah di hadapanku.
Baiklah...kunci pintumu rapat - rapat Lyra!Aku tak tahu sampai mana aku bisa menguasai diriku bila terus melihatmu seperti tadi!!!!
__ADS_1