
Bi Ita hanya menatapku cemas saat aku memasak makanan siang untuk Roan,aku jenuh setelah Roan mengurungku di kamar kemarin dan kini aku ingin membuatkan makan siang untuknya.
"Bi... Roan tuh gak seperti yang bibi pikirin kok... Dia itu gak gampang mecat orang begitu aja "
Aku menyusun telur dadar gulung di kotak makan siang sambil menenangkan Bi ita yang ku suruh duduk diam
" Tapi Nona ... Kalau perihal Nona nampaknya tuan gak main - main ... "
Masih ada nada kekhawatiran
"Bi... aku jamin kali ini Roan gakan marah sama bibi"
Janjiku memperlihatkan kotak makan siang
"Pak Yanto mana bi?"
Tanyaku tak lagi memperdulikan kekhawatiran berlebihan Bi Ita .
"Ada di depan Nona .. Nona mau kemana ?"
Tanya Bi Ita mengikuti langkahku
Pak Yanto yang melihatku keluar dengan sigap menghampiri
"Ada apa Nona ?"
Heran karena baru kali pertama melihatku rapi.
"Antar ke kantor suami saya ya "
Wajah sigapnya berubah menjadi kekhawatiran dan segera mengeluarkan ponselnya
"Jangan kasih tahu dia,Pak.Saya mau bikin kejutan buat dia"
Larangku sedetik sebelum Pak Yanto menelpon Roan
"Tapi Nona,nanti..."
Ragu namun tak bisa membantah saa aku mendekati mobil BMW hitam itu dan segera membukakan pintu tanpa aku suruh.
***
Well Company
Meski aku sebenarnya enggan kesini,karena pasti mendapat lirikan aneh dari para karyawan.
Aku ingin sesekali membuat kejutan untuk Roan,dia sudah berbaik hati untuk tidak menyangkut pautkan masa laluku dan Raka dengan tidak membicarakan apapun pada Raka.
Selain itu aku BOSAN
Aku ingin pergi minum kopi dengan Sendy,tapi kalau Roan pulang nanti...
Aku tak mau kena masalah lagi.
Aku juga ingin berkunjung ke rumah Ayah mengantarkan makan siang yang menunya sama persis dengan milik Roan.
Aku melangkahkan kaki masuk ke kantor itu dan Pak Yanto mengikutiku dari belakang.
Aku berbalik menatap bingung pada Pak Yanto
"Pak Yanto kenapa ikuti saya ? "
Tanyaku
"Maaf Nona ini perintah dari Tuan"
Lagi - lagi...
"Tapi Pak,ini kantor suami saya gak mungkin saya ... Ah .. sudahlah..."
Lelah rasanya berdebat dengan semua orang karena aturan yang Roan buat.
__ADS_1
Melalui resepsionis,benar saja...
Roan merealisasikan ucapannya semalam semua karyawan lelaki tak ada yang berani menatapku,mereka menunduk saat aku tanya keberadaan Roan.
Aku sedikit menghela nafas jengah,lalu melanjutkan langkahku.
"Gak ngerti deh... Si Lyra itu ternyata udah serumah sama Pak Roan ! Katanya sih udah nikah secara agama ..."
Kata seseorang tak jauh dariku berdiri,membuatku mematung di balik dinding.
Pak Yanto terdiam melihat aku memberi isyarat untuk tetap diam.
"Oh ya katanya dia putus sekolah gara - gara hamil sama om - om terus di gugurin!!!"
Mulai terasa sakit menerima fitnah yang entah dari mana asalnya itu.
"OMG !!! Parah !!! Kok bisa Pak Roan mau nikah sama dia ?!"
iya ... memang itu pertanyaan setiap orang yang melihat latar belakangku yang pernah putus sekolah.
Aku menunduk lesu,tenagaku habis untuk marah saat ini terkuras karena rasa rendah diri.
Seseorang mendekatiku dan berhenti di depanku,Raka dengan wajah dinginnya menatapku.
Tak ingin memberi perlawanan?
Begitulah maksud tatapannya
"Kan udah aku bilang dia main dukun,Gila!!! dukun mana sih ?"
Tertawa renyah mereka seakan melukai seluruh harga diriku
Raka berlalu dari hadapanku dan entah kapan sudah muncul di depan para penggosip itu.
"Plak!!!"
Pipi satu orang sudah menjadi korban tangan Raka
"Plak!!!"
Dan satu lagi sebuah bogem hampir mendarat di pipi karyawan pria itu kalau saja aku tak menahan lengan Raka dengan susah payah
"CUKUP!!!"
setengah berteriak membuat semua orang terkesiap,Pak Yanto bahkan segera membawa tubuhku mundur beberapa langkah dari samping Raka
"Kalian tidak di gaji besar disini untuk menggosipkan Nona !"
Bentak Raka pada ketiga Karyawan itu.
Mereka bertiga menunduk,tubuh mereka bergetar bahkan tak bisa mengangkat tangan mereka memohon pengampunan.
Beberapa karyawan lain melihat dari jauh dengan wajah gundah membuat suasana semakin tak nyaman
"SIAPAPUN YANG MENGGOSIPKAN TUAN ATAU NONA DI KANTOR INI HARUS DI PECAT!"
Raka setengah berteriak membuat siapa saja di sana mendengarnya.
"Raka ... Hentikan!"
Tak kuat lagi melihat segala ketidak nyamanan hanya karena aku.
"Pergi ..."
Ucapku pada ketiga karyawan itu yang langsung membubarkan diri.
"Raka,aku mau bicara!"
Ujarku sambil berjalan cepat,tentu Raka langsung mengikutiku
Aku berbalik cepat saa berada di sebuah lorong panjang menuju ruangan Roan
__ADS_1
"Tidak ada lagi kekerasan!!!"
memperingati Roan dengan wajah serius
" Maaf Nona saya hanya menjalankan perintah Tuan untuk membuat semua karyawan bungkam tentang anda"
Jelas Raka dengan nada yang mulai turun
Aku memejamkan mata kesal dengan keadaan ini
"Roan bukan orang yang kasar,meskipun dia tidak suka aku yakin dia gakan setuju kalau kamu pukul karyawan kaya tadi!"
Protesku kesal
"Saya hanya menjalankan tugas "
Sebentar ...
apa itu tadi ?
Raka menyeringai?
Seakan mengatakan ...
Aku tak tahu apa yang sudah Roan perintahkan.
Aku menggeramkan kesal dan berjalan cepat ke ruangan Roan.
Tanpa mengetuknya aku masuk,membuat senyum Roan mengembang melihat kedatanganku.
"Kenapa? ada apa ?"
Roan bertanya pada Raka dan Pak Yanto yang masih mengikutiku.
Aku duduk di sofa dan menyimpan kotak makan siang dengan kasar lalu menutupi mata dengan tanganku.
"Pergi"
Kataku pada Raka dan Pak Yanto.
Mereka berlalu sesuai permintaanku,membuat Roan menghampiiku dengan tatapan bingung.
"Kamu yang suruh Raka buat mukul karyawan kaya gitu ??"
Memastikan lagi
"Iya ... aku yang suruh,aku gak tahan dengar kamu di jelek-jelekin kaya gitu"
Nadanya marah tak kalah marah dengan aku di hadapannya
"Pokoknya aku gak mau ada kekerasan lagi!"
Rahangku mengeras mengatakan hal itu.
"Tapi..."
Roan ingin membantah namun berhenti saat melihat mataku sudah penuh dengan genangan air mata yang hampir tumpah
"Roan ... gak gini cara kamu menutup mulut orang"
Tanganku mengepal keras
"Aku gak keberatan... aku gak keberatan semua orang ngomongin aku,aku gak peduli sama sekali.Omongan mereka ... omongan mereka itu karena aku emang gak pantas bersanding sama kamu,ada banyak wanita yang lebih baik dari aku.Wajar ... wajar banget mereka ngomongin aku."
Ujarku getir
"Gak ... gak sayang ... kamu jangan bilang gitu!"
Roan mulai melemah mencoba mengusap pipiku yang sudah basah oleh air mata,namun aku tepis.
"Jadi aku minta jangan lagi nyuruh hal seperti itu ke Raka,aku gak mau semua orang kena masalah cuma gara - gara hal ini".
__ADS_1
Aku beranjak tak mempedulikan Roan yang berusaha menahanku,Pak Yanto bahkan setengah berlari mengikutiku.