KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Jatuh lebih dalam


__ADS_3

Aku meringis kesakitan,menahan punggungku yang makin terasa sakit semenjak kembali dari sukabumi.


Roan mengusap punggungku dari belakang dan melihat ekspresi kesakitanku


"Kenapa?"


Tanyanya khawatir


"Punggung aku sakit banget"


Ujarku masih meringis kesakitan


"Aku panggil dokter ya"


Ucapnya mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan dengan cepat,lalu mengarahkan untuk duduk di sofa.


"Sejak kapan sakitnya?"


Tanyanya masih dengan ekspresi khawatir


"Sejak body rafting kayanya"


jawabku


"Hah... harusnya aku larang kamu body rafting waktu itu"


Desahnya kesal


"Gak... kayanya bukan karena itu"


aku mengira - ngira sendiri


"Terus sakit karena apa?"


Roan mengerjapkan matanya mencari jawaban di kepalanya


"Apa karena ...Aku?"


Ujarnya dengan wajah memerah


"Gak tau ah"


Jawabku memalingkan wajah


"Hey ... apa aku terlalu sering memintanya sampai efeknya ke punggung kamu?"


Tanyanya meraih daguku


"Gak !gak mungkin ... kenapa jadi kesana? !".


Ucapku kesal sambil menepis tangannya


"Terus kenapa?"


Masih bertanya penasaran


"Kayanya bekas kecelakaan dulu,tapi baru sekarang kerasa sakit lagi"


Ujarku sambil meringis


"Kecelakaan yang kamu bilang dulu? Ceritain sama aku kenapa bisa sampai kecelakaan ?"


tuntutnya penasaran


"Kamu juga masih berhutang cerita sama aku"


Dengusku kesal


"Ya udah .. kalau kamu udah membaik,aku bakal ceritain dari mana aku mulai suka kamu"


Ucapnya tersenyum sambil menyelipkan rambutku di telinga membuatku memilih diam.


***


Aku meminum obat yang di berikan dokter di dapur setelah selesai makan malam,berharap punggungku tidak terlalu nyeri setelah meminum obat itu.


Perkiraanku tadi ternyata benar dokter bilang guncangan akibat aktifitasku saat di sukabumi membuat nyeri ini kembali datang,dokter juga menganjurkanku untuk tidak beraktifitas berat lagi sementara waktu


Aku naik ke lantai dua hendak merebahkan tubuh di tempat tidurku dengan perasaan yang sedikit sedih,bagaimanapun aku suka pergi ke tempat seperti kemarin dan menikmati permainan ekstrem tapi rasanya kalau sesudah aktifitas aku harus meminum obat tadi,aku sungguh enggan.


Roan memegang tanganku saat aku baru saja akan masuk ke kamar membuatku menatapnya heran


"Kamu mau kemana?"


Tanya Roan dengan wajah muram


"Aku mau tidur ..."


jawabku merasa aneh dengan sikapnya

__ADS_1


"Kamu gak tidur disini lagi"


Melepas genggamannya dengan wajah serius


"Tapi..."


Hendak protes,namun tak menemukan kata yang pas dalam otakku


"Kamu istri aku sekarang,tidurnya ya sama aku "


Ujarnya sedikit tersipu membuat wajahku ikut memerah


"Ayo"


Menarik tanganku dan menggiringku ke kamarnya


Kamar itu lebih lega dari kamar yang biasa aku tempati,dengan jendela besar yang menghadap langsung halaman rumah membuat kamar itu redup karena cahaya lampu dari luar sana.


Aroma parfum yang biasa Roan pakai tercium di setiap sudut ruangan itu,dan membuat suasana kamar itu terasa romantis.


Roan menutup pelan pintu kamar dan duduk di tepi tempat tidur,aku membeku melihat wajah tampannya di dalam ruangan redup itu.


Dia menepuk tempat tidurnya beberapa kali sambil melambai ke arahku menyuruhku duduk di sana,meski canggung aku duduk di sebelah Roan.


"Sudah agak mendingan sakitnya?"


Tanya Roan menatapku,aku hanya menganggukan kepala.


Rasanya memang sudah tidak sakit sekarang,obatnya langsung meredam sakit di punggungku.


"Syukurlah"


Ucap Roan lega


"Aku ... aku masih pengen banget main kaya kemarin,tapi sekarang kayanya harus lebih hati - hati"


ucapku sendu


"Nanti kita ke fisiotherapy, Dokter Erlangga bilang bisa di sembuhkan kalau kamu rajin therapy.Gak usah khawatir"


Ujar Roan menenangkanku,membuatku sedikit lega.


"Syukurlah... aku kira aku gak bisa nikmatin hal semacam itu lagi"


tuturku menundukan kepala


Roan mengusap rambutku pelan dan tersenyum ke arahku


Tanyanya,aku menganggukan kepala pelan


"Aku memang sudah lama ingin sekali bermain dengan permainan yang memacu adrenalin,aku senang sekali di sana kemarin...Masa muda aku selama ini aku habiskan untuk mengejar ijazah yang tertinggal dan kuliah, juga mencari kerja"


Ucapku sendu,entah mengapa suasana di dalam kamar membuatku merasa nyaman dan mencurahkan isi hatiku


Roan memelukku dengan wajah sedihnya dan mengusap punggungku beberapa kali


"Maafkan aku,semua gara - gara aku"


Ucapnya menyalahkan dirinya


Aku melepaskan pelukannya dan menggelengkan kepala


"Gak ... Ayah benar kok,semua itu keputusanku kamu gak salah sama sekali"


Menundukan kepala sambil memilin jemariku di hadapan Roan


"Aku tetap menyesal sudah menolak kamu dengan kata - kata kasar waktu itu"


Wajahnya tertunduk.


Di saat ini,aku merasa Roan bukanlah seseorang yang aku kenal dulu.


Dialah Roan yang selalu melangkah penuh percaya diri dan kepastian,auranya yang kharismatik membuat siapapun menatapnya takjub.


Melihat Roan seperti ini malah membuatku semakin terpana,dia terus saja memperlihatkan sisi lainnya di hadapanku.


"Jangan perlihatkan sisi lemahmu di hadapanku"


Ujarku memalingkan wajah tak ingin terus terpana pada Roan


Roan yang mendengar perkataanku itu terdiam tak mengerti menatap wajahku lekat.


"Kamu membuatku lemah juga"


aku mengakui hal itu.


Setidaknya bila Roan tidak serius dengan pernikahan ini dia bisa berhenti membuatku terus menyukainya.


"Lemah?"

__ADS_1


Tanya Roan pelan,membuatku menutup mata sambil menghela nafas.


"Apa mencintai juga termasuk kelemahan?"


tanya Roan lagi mendekatkan wajahnya ke arahku


"Jawab aku"


Meraih daguku hingga aku menatap mata sayunya,Rambutnya yang tanpa pomed sedikit berantakan membuatnya terlihat menggoda.


"Bagiku mencintai bukanlah kelemahan,tapi justru kekuatan"


Ucapnya serius


"Aku..."


tak meneruskan ucapanku dan melempar pandanganku ke arah lainnya,dia mencari bola mataku dengan matanya yang mulai menggelap.


"Aku yang mencintai kamu dulu,sebelum kamu ..."


Ucap Roan mengerjapkan matanya pelan membuat jantungku hampir meledak


"Setelah aku pikirkan ternyata saat aku bersama Rani pun alasan aku berpacaran sama dia,cuma buat memudahkan kamu agar fokus belajar karena sebentar lagi kita ujian kelulusan"


Akunya di hadapanku membuatku terkejut


"Aku yang angkuh menolak menerima kenyataan bahwa hati aku udah tercuri,gerak gerik kamu walaupun cuma ujung mata aku yang melihat bikin aku tersenyum tanpa sadar.Aku yang masih terlalu muda tidak mengakui perasaan aku dengan angkuhnya mendorong kamu menjauh"


Ucapnya penuh penyesalan


"Alasan aku mengirim pesan ke kamu waktu itu juga karena aku dengar kamu juga sedang dekat dengan Sendy,aku marah... aku cemburu! tapi aku yang sombong ini masih gak mau mengakui hal itu,aku merasa kamu sedang bermain dengan perasaanku sekaligus perasaan orang lain.Aku marah karena aku bukan satu - satu nya lagi bagimu"


sedikit meremas lenganku,kesal dengan ucapannya sendiri.


"Hentikan"


Aku tak tahan melihat ekspresi bersalah Roan


"Berhenti merasa bersalah ke aku,aku hanya lihat rasa bersalah di mata kamu.bukan ..."


Roan ******* bibirku membuat nafas kami memburu


"Aku memang masih merasa bersalah,tapi perasaan ini... apa kamu gak merasa Lyr?"


Tanya Roan memejamkan mata di hadapanku


"Atau kamu ingin mendengarkan langsung dariku perasaan apa ini?"


Ujarnya tersenyum


"Aku mencintai kamu Lyr,aku ingin memiliki kamu ... memiliki semuanya ... aku ingin cuma aku yang ada di hati dan pikiran kamu"


Masih memejamkan mata melekatkan dahinya ke dahiku membuatku merasakan hembusan nafasnya


Aku mengecup bibirnya membuatnya membuka mata lebar - lebar ,terkejut karena reaksiku itu.


"Hentikan,jangan bicara lagi."


Ucapku tersipu


Gemas rasanya mendengar Roan menyatakan perasaannya dengan tak sabar seperti itu,jantungku bahkan sudah aritmia sejak tadi.


Sekali hentakan lembut Roan membuat tubuhku terbaring di bawahnya,membuat aku semakin kaget


"Lalu aku harus bagaimana?kamu terlalu menggemaskan,aku bahkan tak bisa memegang janjiku untuk tidak menyentuh kamu sampai kamu setuju."


Ujarnya dengan alis mengerut menahan setiap hasrat yang mengalir di tubuhnya.


"Bahkan kamu tadi menyerangku ..."


Menatapku lagi dengan matanya yang sayu


"Aku tidak akan menyerangmu begitu kalau kamu gak memancing aku dengan pernyataan tadi"


protesku


"Kalau reaksinya seperti itu aku akan menyatakan perasaanku tiap ada kesempatan "


Tersenyum jahil ke arahku membuatku menyebikan bibirku


"Lyra ... I Love you"


Ucapnya dengan wajah yang membuatku seperti mabuk


Dia menciumku lebih dalam,menelusuri tiap jengkal tubuhku meski belum ada perlawanan dariku.Bahkan menyebut namaku di sela aktifitas malam kami,membuatku meraihnya dan mengusap lembut rambutnya


Rambutnya yang berantakan malah membuatnya lebih tampan dari biasanya,lebih sexy dari biasanya dan membuatku lebih liar dari biasanya.


Dia milikku sekarang,dan aku miliknya sekarang.Perasaan saling memiliki ini membuat kami bahagia.

__ADS_1


Roan tersenyum puas menatap wajahku,dia sudah tahu aku sudah tak bisa lari darinya meski sedetik aku hanya akan memikirkannya.


Tak ada celah untukku kabur darinya,aku sudah jatuh padanya jauh lebih dalam dari dulu.


__ADS_2