KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
Keadaan yang membuat tak nyaman


__ADS_3

Roan menatapku tanpa berkedip,mulutnya sedikit terbuka melihat gaun pengantin yang melekat di tubuhku.


Kami memilih resepsi dengan gaya internasional agar lebih simple,yang jelas Roan tak ingin aku kelelahan hanya karena mengikuti setiap langkah adat istiadat.


Yang terpenting baginya,semua orang tahu aku dan dia sudah menikah.


Sejak undangan di sebar semua orang di kantor bahkan yang tak ku kenal menyapaku,yes... the power of CEO !


Aku sebenarnya tahu,di belakangku mereka berdesas desus tentang aku yang tiba - tiba saja akan menikahi pemimpin perusahaan mereka.


Tapi Roan nampak tak tinggal diam,di briefing pagi itu dia menekankan untuk tidak membuat gosip atau issue berkaitan dengan pernikahannya.


Roan menambah pengamanan di sekitar gedung perusahaan,bahkan tak membiarkanku sendirian.


Aku merasa sedang di pingit oleh suamiku sendiri...


Ayah? tentu saja dia bahagia melihatku yang sudah bisa menerima pernikahan ini seutuhnya.


Setidaknya melihat senyum Ayah,aku merasa ibu juga sedang tersenyum padaku ...


****


"Lepasin...malu"


Bisikku penuh rasa gemas berusaha menyingkirkan tangannya di pinggangku


"Kenapa? toh kita bentar lagi resepsi,mereka udah tau kamu milik aku sekarang"


Aku menatapnya tajam tapi Roan tak bergeming sedikitpun membuatku frustasi.


Perhatian semua orang tertuju di pintu masuk utama,sepertinya sedang terjadi keributan besar.


Aku menatap Roan yang mengeratkan pelukannya di pinggangku seakan tahu apa yang sedang terjadi.


"Ada apa?"


Tanyaku melihat aura tak senang di wajahnya


Sebelum Roan menjawab,Rani menerobos masuk ke dalam dengan keadaan berantakan.


Aku merasa kasihan melihatnya yang sudah tak lagi menghargai dirinya sendiri,dia bahkan terus meronta saat security mencoba menariknya keluar


"Hentikan"


Ucapku membuat semua orang membeku


"Ayo bicara di tempat yang tepat"


Maju selangkah membuat Roan kembali menghalangiku dengan tubuhnya


"Gak...gak ada yang harus dibicarain sama dia"


Mulai gelisah


Rani merapihkan rambutnya dan seperti biasa berlagak sombong bahkan melangkah masuk dengan langkah lenggak lenggoknya.


****


Roan menggenggam tanganku erat - erat sambil menatap tajam Rani


"Dukun mana ? sampai bikin Roan bucin ke kamu?"


Pertanyaan di bumbui dengan fitnah menggelikan


"Hentikan,Ran!"


Bentak Roan kesal

__ADS_1


"Pikirkan apapun sesuka kamu Ran..."


Ujarku dengan nada dingin membuatnya terkekeh


"Dipikir secara logika,mana mungkin Roan mau nikah sama cewek yang pernah dia tolak dan ... dari keluarga miskin"


Aku menatap Rani tajam kali ini


"Setidaknya kami yang miskin ini,bersyukur dengan pemberian Tuhan!"


Tersenyum sinis ke arahnya yang langsung nampak marah besar


"Apa maksud kamu?!"


Ujarnya mulai memperlihatkan kemarahannya


"Kamu tahu persis maksud aku"


Jawabku ambigu


"Hey! kamu tuh yang gak pernah merhatiin Hidung dan dagu aku tuh dari dulu kaya gini!"


Kemarahannya menelan seluruh dirinya


"Ran... aku gak bilang kamu rubah wajah kamu"


Tersenyum penuh kemenangan


"Arghh!!!Liat aja nanti!!! bakal aku balas kamu Lyra!!!"


Mencak - mencak meninggalkan ruangan dengan wajah merah padam,antara malu dan marah.


"Dari mana kamu belajar hal kaya tadi?"


Roan menatapku kagum


Jawabku polos.


Benar,Roan adalah orang yang sangat terkendali secara emosional di hadapan siapapun namun permainan kata - katanya kadang membuat seseorang marah hingga tak bisa makan dan tidur.


****


Aku sebenarnya merasa terganggu dengan kehadiran Rani apalagi di perusahaan,kalau saja mitos tentang telinga akan panas kalau di bicarakan orang lain mungkin telingaku sudah terbakar sekarang


Semua orang di perusahaan membicarakanku,meski mereka tak berani mengucapkan langsung kurang lebih pemikiran mereka sama seperti Rani yang menganggap aku pergi ke dukun dan bikin Roan mau menikahiku.


Aku mengaduk makanan di hadapanku,tak satu suap pun masuk ke dalam mulutku


Roan menatapku,dan menyimpan sendoknya di piring


"Kamu masih kepikiran ya?"


Aku menatapnya sedikit terkesiap karena aku larut dalam pikiranku


"Kayanya aku ... aku mau berenti aja kerja "


Ucapku berat


perusahaan Roan adalah pertama kali bagiku menjadi sekretaris dan aku sangat menyukainya,selain bisa berada di dekat Roan sepanjang waktu pekerjaan itu membuatku banyak bertemu orang lain dan mempelajari banyak hal pula.


Namun,kondisi saat ini membuatku tak nyaman.


"Kamu gak nyaman ya?"


Tanya Roan dengan nada sabar


"Aku gak nyaman,omongan Rani ... mungkin juga sama seperti yang orang kantor pikir tentang aku"

__ADS_1


Ujarku sendu


"Aku tahu... "


berusaha memahami apa yang kurasakan


"Tapi ... sejujurnya aku masih mau kerja"


berusaha jujur pada Roan


"Kamu tetap kerja kok... kamu bakal kerja Mengurus rumah tangga"


Senyum Roan mengembang


"Tapi kan..."


Roan mendekatiku dan membelai rambutku lembut


"Pekerjaan mengurus rumah tangga itu paling sibuk dan capek lho..."


berusaha membuat pilihan itu ada di hatiku


"Aku bakal bosan ..."


Cemberut menatapnya


"Aku mau tidur aja"


Aku beranjak pergi meninggalkan Roan yang nampak menghela nafas panjang


Roan menyusulku ke kamar,dia memeluk tubuhku dari belakang dengan lembut.


"Kamu bisa telepon atau video call aku kalau kamu bosan"


Dia belum selesai membujukku


"Aku mau kerja di tempat lain aja!"


Putusku merasa tidak setuju dengan ide Roan


"Dimana? jadi apa? sekretaris?"


Cecarnya


"Iya ... aku mau coba lamar kerja ke kantor lain"


Ucapku masih tak menatapnya meski dia sudah sedikit bangun dan menatap wajahku


"Gak boleh !"


Larangnya membuatku menatapnya tajam


"Gak boleh ,nanti kalau bossnya cowok terus suka sama kamu ? terus kamu di suruh - suruh gitu sama orang lain ?! gak aku gak bolehin !"


Aku menghela nafas kesal


"Dengerin! gak semua bossnya cowok,gak semuanya suka sama aku dan yang namanya kerja ya pasti di suruh ini itu!kamu juga masih nyuruh aku ini itu kan?!"


Debatku mulai sengit


"Enggak!pokoknya engga !"


Mulai menaikan nada bicaranya


Aku lelah,aku tak ingin berdebat aku beranjak dari tempat tidur dan membawa bantal menuju ruang tv meninggalkan Roan sendirian di kamar.


Roan pun nampak kesal,dia tak mendekatiku lagi hingga aku terlelap

__ADS_1


__ADS_2