KARMA CINTA PERTAMA

KARMA CINTA PERTAMA
BERBEDA


__ADS_3

Aku pernah menjadi karyawan,aku tahu rasanya di perlakukan dengan tidak baik oleh atasan.


Hanya dengan kata - kata saja bisa membuatku tidak tidur semalaman,apalagi kalau di tampar?


Aku tahu,fitnah mereka kelewatan.


Tapi aku juga tahu mengapa mereka berpikiran sampai kesana.


Bagiku sebagian yang mereka ucapkan adalah fakta,secara logika mengapa Roan memilihku menjadi istrinya?


sementara Rani ...Fira adalah wanita kelas atas yang derajatnya jauh dariku dna itu membuatku sakit hati.


Kali ini Roan keterlaluan,dia membuat semua orang kena masalah hanya karena mereka bergosip unfaedah itu.


Aku mendekap bantal ke wajah dan berteriak kuat - kuat meredam suaraku agar Pak Yanto maupun Bi Ita tidak mendengarnya.


***


Roan membuka pintu kamar dengan tergesa,meski bukan jam pulang kerja nyatanya dia menyusulku pulang.


"Sayang"


Panggilnya lembut sambil membelai rambutku.


"Dengar!!! Aku gak mau kamu ngelakuin hal - hal merugikan orang lain hanya karena aku! Apalagi masalah gosip gak penting itu!!!"


Mataku sudah terasa bengkak saat mengucapkan itu karena sepanjang perjalanan pulang aku menangis di mobil.


"Tapi itu penting buat aku,kamu bakal ngerasa sakit hati dan kamu jadi sedih !"

__ADS_1


Tak mau kalah dengan keputusannya


"Tapi gak gitu caranya!!!"


Aku berbalik dan duduk di hadapannya masih dengan air mata yang mengalir deras


"Kamu cuma punya dua tangan,aku juga ! kamu gak bisa gunain dua tangan kamu buat nutup mulut orang - orang itu!Yang kamu dan aku bisa hanya menutup kedua telinga kita!!! Cukup!!!itu saja!"


penuh emosi


Bagi Roan mungkin risih di bicarakan seperti itu,tapi bagiku sedari dulu itu sudah hal biasa tak perlu sampai melakukan kekerasan pada orang lain apalagi karyawan.


"Aku berharga buat kamu,kamu juga berharga buat aku,aku mengerti! Tapi mereka juga berharga buat keluarga mereka!!!"


Roan melihatku dengan khawatir


"Ok...ok.. aku ngerti... iya aku gakan nyuruh hal seperti itu lagi"


"Udah jangan nangis lagi"


Roan mengusap sisa air mata di pipiku


"Aku gak nyangka kamu kejam banget"


ujarku tajam masih teringat wajah para karyawannya yang ketakutan


"Aku bukan kejam,aku cuma gak suka orang - orang yang bergosip"


menyangkal perkataanku

__ADS_1


"Udah,aku capek berdebat sama kamu.Kamu kerja lagi aja!dan intropeksi diri kamu!"


Ujarku menyuruh Roan pergi seraya menutupi seluruh tubuhku dengan selimut.


Aku tahu Roan mengucapkan itu supaya aku berhenti menangis,bukan karena dia tulus.


Roan memilih pergi,dia tak ingin memperpanjang perdebatan ini.


****


Roan mungkin di karuniai otak yang cerdas sejak kecil,dia juga lahir dari keluarga berada.


Meski orang tuanya meninggal,Roan bisa terus berkuliah hingga tamat dan membangun Well Company dengan modal warisan orang tuanya.


Berbeda denganku yang hidup dengan hal - hal berat yang menimpaku.


Wajar saja Roan kurang peka bila sehubungan dengan perasaan para karyawannya,dan itu membuatku merasa ada di posisi mereka.


Di negara ini semua orang bebas berbicara,bergosip tentang atasan selalu jadi topik menarik saat berada di kantor.


Harusnya Roan mengerti hal itu dan tak membuat peraturan mengerikan atau bahkan menyuruh Raka menghukum para karyawannya karena mereka bergosip tentang aku atau dia.


Kejadian siang itu membuat aku merasa bersalah.


Kekesalanku membuatku ingin sejenak menenangkan pikiran di suatu tempat.


Dan aku memutuskan untuk pergi sendiri tanpa pengawalan Pak Yanto.


Tentu saja Pak Yanto berusaha melarangku,tapi dia tak meneruskan hal itu saat aku sudah menatapnya penuh ancaman.

__ADS_1


Aku tidak suka di ganggu di saat seperti ini...


***


__ADS_2