
Sendy tertunduk lesu mendengar cerita bahwa aku akan segera menikah dengan Roan,menghela nafas berat beberapa kali dan terus meneguk Winenya.
"Tapi,aku terus merasa bersalah sama ibu.Aku ngerasa perasaan aku ke Roan tuh bikin aku jadi anak durhaka banget!"
ujarku sendu
"Itu keinginan terakhir almarhumah,Lyr..."
Sendy memang sahabat yang baik,penampilannya yang seperti bad boy tidak tergambar dari perilakunya.
"Karena itu aku gak bisa nolak nikah sama Roan"
aku meminum kembali segelas wine yang Sendy tuangkan untukku.
"Enak?"
Tanya Sendy menunjuk botol Wine di hadapan kami
"Manis,dan hangat...tumben banget ngasih wine,biasanya kalau gak caramel machiatto ya susu almond"
Ujarku nyengir
"Anggap aja hadiah pernikahan"
Lagi,ekspresi Sendy menjadi sendu
"Kaya mau pisah aja kita,pake acara buka wine segala"
Ujarku terkekeh
"Tadinya,aku pikir kamu udah gak punya rasa apapun sama Roan ... aku berniat mengutarakan isi hati aku ke kamu,Lyr"
Sendy menuang wine di gelasnya sendiri dan meminumnya
"Isi hati?"
aku menatap penuh tanda tanya
"Dari dulu,orang yang aku suka itu kamu.Tapi setiap aku mau bilang ke kamu,kamu selalu menceritakan Roan dengan mata berbinar.Aku gak punya kesempatan sedikitpun, bahkan sekarang"
Ucapan Sendy mengagetkanku membuat aku membeku menatapnya.
"Kayanya emang aku gak ada di daftar hati kamu,Lyr"
Mendengar itu hatiku sedih
"Kamu selalu jadi sahabat aku satu - satunya,Sen..."
Aku menyeka air mata yang sudah menggenang di sudut mataku
"Kok jadi sedih sih?!"
Sendy tersenyum padaku
"Aku gak mau kamu pergi karena aku gak bisa balas perasaan kamu,Sen...aku harap kamu bisa berjodoh sama perempuan yang lebih baik segalanya di banding aku"
Pecah sudah tangisanku di hadapan Sendy,hanya dia sahabatku.
"Sendy masih di sini buat Lyra... Walaupun sekarang yah... aku belum bisa move on dari kamu,aku masih mau bersahabat sama kamu kok,Lyr"
Ucap Sendy mengisi kembali gelas wineku dan menyodorkannya ke arahku
"Janji ya ! gakan berubah,aku gak punya sahabat lagi selain kamu "
Ucapku terisak sambil kembali meminum wine itu hingga habis
"Pelan aja minumnya,bukan air putih itu!"
Hardik Sendy melihat aku terus menghabiskan wine tanpa bernafas.
__ADS_1
Aku tak mempedulikan ucapan Sendy,malam ini aku hanya ingin larut dalam percakapanku dengan Sendy menumpahkan segala kegelisahan hati yang tak bisa ku ungkap pada Ayah.
Pada Ayah yang sudah terlanjur menyukai Roan, Calon menantunya itu.
Aku menempelkan pipi di meja itu dengan mata setengah terbuka,Sendy beberapa kali mengguncang tubuhku.
"Berisik!aku pengen tidur!!"
Bentakku pada Sendy,dia langsung terdiam menyadariku yang sudah di bawah pengaruh alkohol.
Ponselku berbunyi nyaring,aku meraihnya dan mengangkat panggilan itu tanpa berpikir apapun
"Hai Calon suami"
Ucapku dengan suara yang tak lagi dapat ku kontrol
"Kamu dimana?kenapa suara kamu begitu?"
Ucap Roan dari ujung telepon
"Aku minum wine bersama sahabat tercintaku"
Ucapku menahan tawa,geli dengan ucapan ku sendiri
"Dimana?!"
Nada Roan meninggi hingga aku menjauhkan ponsel dari telingaku
Sendy merebut ponselku
"Jemput dia di Cafe"
Sendy memutus saluran panggilan itu dan menatapku kesal
"Harusnya aku gak ngasih wine ke kamu tadi!"
"Kenapa?Aku gak mabuk kok!"
Bantahku
Sendy terkekeh kesal padaku tak ingin menjawab bantahanku dan memilih bungkam.
Beberapa menit kemudian,seseorang menarik tanganku hingga aku terhuyung berdiri dan memeluknya.
"Lain kali jangan dia kasih dia wine!"
Roan melirik kesal pada Sendy yang mulai bangkit berdiri.
"Jaga dia baik-baik,atau aku akan merebutnya!"
Sendy memperingatkan Roan.
"Dia akan segera jadi istriku,jangan pernah mencoba mendekatinya"
Roan dengan dingin menjawab Sendy
Aku mendorong Roan menjauh
"Dia sahabat aku,kamu gak berhak bilang gitu ke dia!"
Roan tidak menggubrisku dan kembali merengkuhku dan sedikit menarikku keluar dari cafe yang sudah tak ada pengunjung itu.
Aku melambaikan tangan beberapa kali ke arah Sendy yang menatapku sendu.
Roan menutup pintu mobil dengan hati - hati setelah menggiringku untuk duduk dalam mobilnya,dia segera duduk di balik kemudi dan mengeluarkan ponselnya.
"Maaf,Pak hari ini Saya dan Lyra ada pekerjaan di luar kota.Kami akan pulang besok"
Ujar Roan pada seseorang di telepon
__ADS_1
Samar mendengar suara Ayah mulutku hendak memanggil Ayah namun dengan sigap Roan menutup mulutku dengan tangannya.
"Baik,Pak ...tak perlu khawatir"
Roan menutup saluran telepon dan melepaskan tangannya dari mulutku
"Terus kalau aku gak pulang,dimana aku tidur ?? disini???"
Protesku pada Roan yang segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang
"Ke rumahku"
Jawabnya datar
Aku melotot ke arahnya dan menarik rambutnya hingga dia menghentikan mobilnya mendadak.
"Apaan sih?!Kalau celaka gimana?!".
Dia membentakku membuatku melepaskan tanganku dari rambutnya.
Dia mendekatiku dan memasangkan seat bell untukku hingga aku menahan nafas karena wajah Roan sangat dekat dengan wajahku
"Tidur di rumahku,dan jangan mikir macem - macem!Kalau kamu pulang keadaan kaya gini mungkin kita langsung di nikahin malem ini juga!"
Ancamnya setengah berbisik ke telingaku membuatku membeku tak menjawab lagi.
Kami pun tiba di kediamannya di sebuah cluster dengan pengamanan ketat dan suasana malam yang sudah sepi.
Dia membukakan pintu berniat untuk memapahku tapi aku menepis tangannya dan turun sendri dari mobil meski aku sedikit terhuyung dan menahan tubuhku di mobil.
"Ayo masuk!"
Kembali meraih lenganku lembut,namun kembali aku menepisnya dan berjalan ke arah pintu semampuku.
Dia membuka pintu dengan sidik jarinya lalu menekan beberapa tombol,meraih tanganku dan menempelkan ibu jariku di sana.
"Kamu masuk pake sidik jari kalau kesini"
Ujarnya membuka pintu dan berjalan masuk lebih dulu.
Aku di sambut dengan ruang tamu minimalis yang penuh nuansa hitam dan putih,Roan sudah naik ke arah tangga dan melihatku di belakangnya.
Aku terdiam menatapnya,dia kembali turun dan menarik tanganku menyusuri anak tangga yang memutar menuju lantai dua.
Sebuah ruangan keluarga kecil lengkap dengan televisi besar dan kursi bersantai di sudut ruangan membuat rumah itu nampak mewah.
"Sebelah kanan ini kamar utama,kamarku.Kamu mau tidur dimana?di kiri sana ada dua kamar yang berhadapan langsung ke kamar mandi,dibawah ada satu kamar sebelah ruang tamu,di belakang ada kamar pembantu"
Ucapnya menjelaskan denah rumahnya sendiri
"Buat apa kamu beli rumah dengan lima kamar kalau kamu tinggal sendirian?"
Ucapku sinis
"Untuk aku tinggali bersama istri dan tiga anakku nanti"
Ucapnya datar
"Aku tidur di sana saja"
Aku menunjuk kamar di sebelah kiri pojok tak ingin memperpanjang cita - cita Roan tentang tiga orang anak itu dan segera meninggalkannya.
Aku merebahkan diri ke tempat tidur berukuran single bed itu,dan melihat ke sekeliling.
Nampaknya kamar ini lebih cocok untuk anak -anak bila melihat dari lemari dan meja belajar yang sudah di siapkan rapi.
Entah kapan aku tertidur tanpa menutup pintu kamar,tak kuasa menahan kantukku yang sudah bercampur dengan pengaruh alkohol.
****
__ADS_1