
Roan
Aku mengacak rambutku kasar dan menatap draf curiculum vitae milik Lyra dengan perasaan tak percaya.
Sebenarnya,saat aku tahu dari temanku yang ternyata kakak kelasnya Lyra itu bahwa Lyra keluar dari sekolah,aku merasa bersalah.
Apalagi setelah mendengar dia di bully oleh Mawar setiap hari karena Mawar cemburu dengannya.
Keputusan untuk mengirim pesan itu begitu saja aku lakukan saat mendengar temanku,Yohan tertawa mengatakan bahwa aku diam-diam berpacaran dengan Lyra,dan Lyra malah mendekati lelaki lain di kelasnya
Aku menganggap Lyra terobsesi dengannya dan semua lelaki,hingga dia membuat gosip itu sendiri agar bisa memilikiku juga
Cara itu sungguh membuatku merasa jijik membayangkan wajah cupu yang terakhir aku ingat sewaktu SMP melakukan hal itu.
Aku juga merasa Lyra tak punya harga diri setelah mendekati lelaki lain dan masih mengaku - ngaku sebagai pacarku.
Tapi aku tak membayangkan pesanku itu bisa membuat Lyra sampai keluar dari sekolahnya.
Aku beberapa kali menanyakan keberadaan Lyra pada Yohan.namun, Yohan tak tahu apapun meski sudah beberapa kali mencari tahu lewat Sendy,lelaki yang katanya di dekati Lyra itu
Lyra lenyap di telan bumi...
Nomor yang di simpan olehku pun sudah tak terdaftar waktu aku mencoba menghubunginya.
Rasa bersalah itu terus menghantuiku hingga aku lebih suka menutup rapat hatiku dengan diam pada setiap wanita yang mendekatiku.
Waktuku aku pakai untuk belajar dan membangun perusahaan Well dengan baik.
Meski terkadang di tengah malamku,aku selalu bermimpi melihat Lyra menangis sambil menjatuhkan dirinya dari sebuah gedung,aku selalu berharap Lyra baik - baik saja di suatu tempat.
Pertemuanku dengan Lyra di wawancara pengganti sekretarisku hari ini,membuat hatiku kacau balau.
Jadi aku yang bodoh mengira dia tidak baik- baik saja,padahal dia tumbuh menjadi seorang gadis yang cantik dengan hebatnya !
Kembali mengacak rambutku kesal.
Aku kembali memandang foto Lyra di pojok kanan kertas itu.
Tapi aku yakin dia keluar sekolah gara - gara tak tahan setelah aku mengirimnya pesan itu,terlebih dari cerita Yohan padaku dulu.
Dan sepertinya dia sudah tidak menyukaiku,ini kan sudah sepuluh tahun sejak saat itu... Aku hanya perlu berpura - pura tidak mengenalnya dan bekerja seperti biasa.Setidaknya dengan dia bekerja disini aku bisa mengobati rasa bersalahku dulu
Aku memutuskan untuk menerima Lyra sebagai sekretarisku,hanya itu yang aku bisa untuk menebus kesalahanku pada Lyra.
****
Lyra
Aku menguatkan hatiku pagi itu,hari pertama aku bekerja dengan Roan harus berjalan dengan baik.
Ada perasaan senang sekaligus takut saa menerima email dari Well Company bahwa aku di terima bekerja disana.
Roan tak mungkin menerimaku kalau dia mengenaliku kan ? dia pasti sangat membenciku hingga tak ingin melihat wajahku selamanya.
Setelah turun dari ojek online aku merapihkan blazer yang ku pakai dan mulai memasuki gedung perusahaan Well itu.
Roan sepertinya memang menggunakan otaknya untuk membangun perusahaan kimia ini.
Setelah seorang front office mengantarku ke pintu ruangan Roan,aku berdiri di hadapan pintu itu sambil menghembuskan nafas beberapa kali
Dia sudah menghancurkanku dulu
__ADS_1
Aku menanamkan kata - kata itu di hati dan pikiranku berkali - kali agar aku tak mulai menyukai Roan lagi.
Aku mengetuk pintu ruangannya dan masuk saat dia menjawab dari dalam,dia tak menatapku hanya sibuk dengan drafnya yang tertumpuk di hadapannya.
"Selamat pagi Pak"
Ucapku berusaha senormal mungkin meski jantungku yang bodoh ini berdebar kencang melihat wajahnya yang bersinar
"Stand by di kursi depan ruangan ini,saya akan telpon kamu kalau saya butuh kamu.Periksa juga file - file ini sambil di pahami "
Dia menyodorkan beberapa draf ke ujung meja,aku meraihnya dan kembali mundur beberapa langkah.
"Baik Pak"
Ucapku sembari berlalu dari hadapannya.
Aku terduduk di kursi sambil terus mengutuki jantungku yang berdebar itu,otak dan jantungku benar - benar tidak sinkron sekarang.
Tak lama telepon di meja berbunyi,dengan cepat aku mengangkatnya
"Dengan Lyra"
Ucapku cepat
"Ucapkan salam dengan benar,baru perkenalkan diri"
Ucap Roan di ujung telepon,aku menutup mulutku kaget
"Selamat pagi dengan Lyra ada yang bisa saya bantu?"
Ucapku senormal mungkin
"Belikan Kopi espresso tanpa gula.Cafenya di seberang perusahaan,pakai kartu kredit perusahaan"
Aku segera berjalan menuju lift setelah meraih kartu kredit perusahaan di atas meja,dan menjernihkan pikiranku yang mulai kacau balau lagi mendengar suaranya.
Cafe itu nampak asri dengan pemandangan perkotaan yang ramai,aku memasuki cafe itu dan segera berada di depan kasirnya.
"Lyra ! Kamu Lyra kan???"
Aku yang sedang memandang menu cafe itu terperanjat saat melihat orang yang ada di balik mesin kasir.
"Sendy?!"
Sendy tersenyum senang mendengar namanya ku sebut lantang
"Benar Lyra !!!! Kamu kemana aja tiba - tiba keluar sekolah waktu dulu Lyr"
Matanya berkaca - kaca mengucapkan hal itu,aku tak kalah haru menemukan Sendy disini.
Aku memang tak pernah cerita tentang pembullyan pada Sendy lagi semenjak Sendy mengamuk pada Mawar,apalagi tentang pesan dari Roan.
Malu rasanya saat itu
"Aku gak bisa cerita sekarang Sen... aku lagi kerja,boss minta tolong belikan espresso tanpa gula"
Aku tersenyum kecut padanya
"OK! Kamu kerja di mana emang?aku siapin sekarang ya!"
Ujarnya sambil berlalu ke mesin kopi.
__ADS_1
"Di Well Company,Sen... baru hari pertama"
Ucapku melihatnya yang sedang menyiapkan satu cup espresso.
Dia melirikku sekilas dan kembali berkutat dengan mesin kopinya
"Kamu tambah cantik Lyr"
Ucapnya tak menatapku,aku hanya tertawa terbahak mendengar pujiannya
"Kalau ngebohong juga ada batasnya kali Sen!"
Dia ikut terkekeh dan menyodorkan satu cup espresso
"Pulang kerja kita ngobrol disini ya !"
Ajaknya,aku menganggukan kepala dan berlalu dari hadapannya.
Sendy adalah salah satu orang yang ingin aku temui semenjak menghilang,dia pasti bingung denganku yang tiba - tiba menghilang saat itu.
Setidaknya dia harus tahu kebenarannya dan bisa kembali menjadi temanku lagi.
Aku menyimpan cup itu di depan Roan dengan sopan dan kembali mundur beberapa langkah dari hadapannya
"Ada lagi yang bisa saya bantu,Pak?"
Tanyaku lagi.
Benar aku harus profesional,apapun yang dia suruh aku harus mengerjakannya dengan baik.
Setidaknya bila suatu saat dia mengingatku dia tidak akan mencapku sebagai wanita yang terobsesi dengannya hingga menguntitnya dan menjadi sekretarisnya.
Roan tak menjawab,hanya meraih esspresonya dan menatapku tajam.
"Entah kenapa melihat kamu selalu membuat aku merasa mengenal kamu!"
Glek
Aku tertawa kaku di hadapannya menutupi kegugupanku
"Mungkin karena nama dan wajah saya pasaran Pak!"
Dia meletakan kembali cup espresso yang dia sudah minum beberapa teguk,dan kembali menatapku.
"Kamu gak merasa familiar gitu sama saya ?"
Seakan mengetahui sesuatu dan sedang memancingku,aku menyeka cepat keringat dingin di dahiku yang mengalir karena gugup
"Enggak Pak,saya baru kali ini mendengar nama Bapak dan saya baru ketemu bapak di wawancara kemaren"
Aku menggaruk kepalaku dengan jemari karena gatal sesaat.
"Oh ...mungkin perasaan saya aja kali ya ..."
Ucap Roan masih menatap tajam ke arahku
"Kalau tidak ada yang bisa saya bantu saya kembali ke depan ya Pak"
Ucapku cepat sambil menundukan kepala sopan dan segera berlalu tanpa menunggu jawabannya
Jangan ingat aku! Jangan ingat aku! hiduplah dengan tenang,aku juga ingin hidup tenang!
__ADS_1
gumanku dalam hati sambil menatap nanar ke arah layar komputerku.